"Dora! Bangun!"
Redy terus saja menggedor-gedor pintu kamar Kara dari lima menit yang lalu. Namun sayangnya, si empunya kamar tak sedikit pun menyahut. Ia masih asik terlelap di pulau kapuknya tanpa menghiraukan panggilan Redy dari luar.
Redy menggeram kesal lalu menggedor pintu kamar Kara lebih kencang.
"Pelor! Bangun cepetan!" teriak Redy gemas.
Tiga menit berlalu dan Kara masih bergeming di tempat tidurnya. Redy mengacak-acak rambutnya frustasi. Kenapa Kara itu kebo banget sih?! Padahal cewek itu sendiri yang pertama kali mengajak Redy untuk jogging di Minggu pagi dan mewanti-wanti dirinya supaya tak bangun telat. Tapi nyatanya? Justru Kara lah yang bangunnya telat!
"Aden mau keluar? Mau Bibi siapin sarapan buat pulang nanti?" tanya Si Bibi begitu melihat Redy sudah siap dengan jaket dan celana trainingnya.
Kebetulan, jam tiga tadi pagi Si Bibi baru datang setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu minggu di kampungnya. Beliau juga sempat minta maaf kepada Redy karena pulang terlambat dengan alasan suaminya masih belum sehat.
Redy menggeleng sambil tersenyum kecil. "Enggak usah, Bi. Biar Redy sama Kara cari sarapan di luar."
"Oh, yaudah kalau gitu." Si Bibi manggut-manggut mengerti. Kemudian, matanya melirik pintu kamar Kara sekilas. "Non Karanya masih belum bangun, ya, Den?"
"Iya, Bi. Dia lebih kebo dari Redy ternyata," ujar Redy sembari mendengus dan menatap kesal pintu di depannya.
Si Bibi tertawa. "Yowes, ditunggu aja, Den. Bentar lagi juga Non Karanya bangun. Bibi keluar dulu, ya? Mau beli sayur," pamit Si Bibi kemudian berlalu keluar rumah.
"Oh, iya, Bi. Masak yang enak, ya!" seru Redy sambil melambai dan tersenyum lebar.
Tepat sedetik setelahnya, Redy kembali menggedor-gedor pintu kamar Kara penuh emosi.
"Dora Kebo, bangun!" teriak Redy keras.
Sayangnya, tak ada jawaban dari dalam.
Redy menggertakan giginya lalu berkacak pinggang. "Gue itung sampai tiga. Kalau lo gak bangun juga, gue dobrak pintunya."
Hening.
"Oke. Satu..."
Redy mulai menghitung lalu menggulung lengan jaketnya, bersiap mendobrak pintu kamar Kara.
"Dua..."
Redy mundur dan mulai memasang kuda-kuda.
"Tiga!"
Dengan gerakan cepat, Redy berlari lalu mendobrak pintu kamar Kara, menyebabkan pintu bercat cokelat itu menjeblak terbuka dan membentur bagian sisi dinding yang lain. Ia bersorak senang lalu tertawa kencang.
"Hah! Bangun, Keb--"
Kata-kata Redy langsung terputus seketika begitu melihat Kara tak ada di kamarnya. Cewek itu kemana?
Selimut berwarna peach yang Redy pinjamkan untuk Kara sudah terlipat rapih di atas tempat tidur. Selain itu, tirai berwarna putih yang menutupi jendela pun sudah di buka. Hal itu jelas menandakan bahwa Kara sudah lama terbangun.
"Lo ngapain di kamar gue?"
Mendengar suara barusan, Redy kontan menoleh dan mendapati Kara tengah berdiri di belakangnya, lengkap dengan kaus tipis dan celana training.
Redy menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Abis darimana?" tanyanya linglung.
"Stretching di luar," jawab Kara pendek seraya mengedikkan dagunya ke arah pintu depan. "Habisnya lo kebo banget. Yaudah gue biarin sampe lo bangun sendiri."
Redy melongo.
Kara melirik jam dinding sekilas. "Udah jam delapan. Lo pelor banget sih," gerutu Kara sembari berjalan menghampiri Redy lalu menutup pintu kamarnya yang terbuka. "Harusnya gue ngunci kamar gue supaya lo gak bisa asal masuk," gumamnya kemudian.
Redy menatap Kara tak percaya. "Jadi kamar lo gak di kunci?"
• • •
"Lo itu sebenernya mau jogging atau foto-foto sih?"
Kara menatap Redy risih. Masalahnya, kerjaan cowok itu dari tadi cuma potret sana dan potret sini. Baru lari dikit, udah langsung berhenti dan sibuk sama DSLR. Lagipula, mana ada jogging sambil bawa-bawa DSLR?
"Dua-duanya," jawab Redy pendek seraya mengarahkan kamera pada objek bidikannya.
"Cepetan, dong! Gue laper nih, pengen nyari sarapan," gerutu Kara dengan wajah memelas.
"Bentar," gumam Redy dengan kepala menunduk, sibuk mengotak-atik DSLRnya. Setelah itu, ia kembali mengangkat DSLRnya dan mengarahkannya pada Kara. Cewek itu tengah berdiri beberapa meter di depan Redy dengan tangan mengusap-usap perut.
"Jangan berani-berani foto gue, ya!" ancam Kara galak.
Cklek!
"Dasar ge-er, siapa juga yang mau motret lo." Redy terkekeh geli lalu melihat hasil bidikannya. "Gue motret mobil di belakang lo."
Kara menoleh lalu mendapati sebuah mobil Volkswagen beetle berwarna biru muda terparkir tak jauh di belakangnya. Cewek itu mendumel keras sambil menghentak-hentakan kakinya jengkel. "Cepetan! Mau gue tinggal?" katanya tak sabar.
"Hmm." Redy cuma balas bergumam tak jelas. Cowok itu sibuk cekikikan sambil melihat foto di DSLRnya. Foto seorang cewek diikat satu lengkap dengan jaket dan celana trainingnya sedang mangap sambil mengusap perut.
Cewek itu tak lain tak bukan adalah Kara.
Redy sengaja bilang kalau objek yang barusan dibidiknya adalah sebuah mobil supaya Kara enggak memintanya untuk menghapus foto tersebut. Kalau sampai Kara tahu 'kan gawat!
"Ish, yaudah." Kara mendesis lalu memutar tubuhnya dan mulai berlari, meninggalkan Redy yang masih asik dengan DSLRnya di belakang.
Beberapa detik kemudian, Redy menghentikan aktivitasnya dengan DSLR dan mulai berlari mengejar Kara. Cowok itu tiba-tiba terkikik geli begitu langkah kakinya dengan langkah kaki Kara mulai sejajar. Ia kembali membayangkan foto candid milik Kara tadi.
Kalau saja seandainya Redy dan Kara satu sekolah, mungkin Redy bakalan menempel foto itu di mading dengan bagian wajah Kara yang di zoom. Apalagi saat itu Kara lagi mangap. Pasti bakalan seru banget melihat Kara mencak-mencak sendiri gara-gara foto itu dipajang!
Melihat Redy yang dari tadi asik tertawa sendiri, Kara kontan meliriknya tajam. "Gue tau pikiran kotor lo itu."
Redy langsung terperanjat. Anjrit, kenapa si Dora bisa tau? Batin Redy panik. "Pikiran apa?" tanyanya pura-pura bego.
"Itu." Kara mengedikkan dagunya ke arah seseorang yang sedang jogging berlawanan arah dengannya. "Dasar cowok. Enggak bisa liat cewek bohai bentar apa ya," gumam Kara sambil geleng-geleng kepala.
Redy mengernyit bingung tapi tak urung tetap menoleh. Disana, tampak seorang cewek dengan tank top mini dan celana pendek sedang berlari kecil dengan earphone yang menempel di kedua telinganya.
Redy refleks menghela napas lega. Ternyata, apa yang ada dipikiran Kara dengan apa yang ada dipikirannya sangat jauh berbeda.
"Ciptaan Tuhan itu 'kan harus di kagumi," ujar Redy enteng dengan mata yang menatap lekat si cewek seksi tadi.
Kara mulai memberikan tatapan membunuhnya. "Jangan diliatin. Mau gue colok mata lo?" kata Kara sadis.
Redy tersenyum geli sekilas lalu semakin memandangi cewek ber-tank top mini itu dengan intens. Bahkan ketika keduanya berpapasan, Redy tak segan menyapa dan memberikan senyum ramahnya pada cewek itu.
"Hai?" sapa Redy sok cakep.
Cewek itu menoleh lalu buru-buru memasang senyum manisnya. "Hai juga," balasnya genit.
Melihat adegan barusan, Kara kontan jadi kesetanan sendiri. Cewek itu melotot-lotot dengan hidung kembang-kempis. Ia melemparkan tatapan lasernya pada si cewek bohai, berharap dengan tatapannya itu si cewek bisa tercincang-cincang menjadi potongan-potongan super kecil.
"Ehem, ehem." Kara pura-pura batuk, sukses membuat Redy dan cewek itu serempak menoleh ke arahnya.
Sadar bahwa tatapan Kara kini tak bersahabat, cewek ber-tank top mini itu mendadak keder sendiri. Ia melemparkan senyum kecilnya sekilas lalu buru-buru pergi tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Setelah kepergian cewek tadi, Kara beralih memberikan tatapan lasernya pada Redy. "Heh, cowok macem apa yang sempet-sempetnya lirik cewek lain padahal pacar sendiri ada di sebelah?"
Redy terkekeh geli lalu kembali melanjutkan acara jogging-nya, diikuti oleh Kara. "Cewek itu yang duluan ngelirik gue."
"Terus ngapain lo lirik balik? Pake acara bilang 'hai' segala lagi."
"Kita itu harus ramah sama setiap orang, ngerti? Gue 'kan bukan lo yang selalu jutek nggak jelas," ucap Redy cuek.
Kara mencibir. "Enggak usah sok ganteng, ya! Tau enggak muka lo itu kayak apa?"
"Apa?"
"Katak kebelet boker!"
Redy nyaris melempar Kara ke solokan sebelah kalau aja ia enggak ingat gimana berbahayanya Kara. Jadi sebisa mungkin, cowok itu terus mengatur tekanan darahnya supaya enggak semakin tinggi begitu melihat wajah sewot milik cewek di sebelahnya.
Alih-alih membalas ucapan Kara barusan, Redy malah berbalik lalu berlari santai.
"Gue mau jogging sama cewek tadi aja ah," gumamnya cukup kencang, terdengar jelas di telinga Kara. "Daripada bareng cewek sendiri malah bikin tensi naik mulu," lanjut Redy kemudian.
"IYA, BAGUS!" seru Kara keras. Dengan cepat, cewek itu melepas sepatunya lalu melemparkannya tepat ke kepala Redy.
Tuk
• • •
A. Aldan: Dimana, Kar?
Kara meringis lalu menepuk jidatnya, merasa bersalah. Kara baru ingat kalau jam sepuluh nanti ia harus menemani Aldan ke toko sepatu untuk membeli sepatu futsal Aldan yang baru. Cewek itu melihat jam digital di ponselnya. Pukul 10:45. Duh, telat banget!
Ini semua gara-gara Redy! Coba aja kalau cowok itu bangun lebih awal, pasti saat ini acara jogging mereka sudah selesai. Sambil terus merutuki diri, Kara menggerakan jarinya mengetik pesan balasan untuk Aldan.
Karina Orine: Hehehe, sori, Dan. Kayaknya gue nggak bisa nemenin lo ke toko sepatu, deh. Gue lagi bareng Redy sekarang
Setelah mengirim pesan tersebut, Kara menaruh kembali ponselnya di dekat ponsel dan DSLR Redy beserta kotak berisi sepasang kura-kura yang baru dibelinya tadi. Kara meraih mangkuk buburnya dan melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda.
Saat ini, Kara dan Redy sedang sarapan bubur sambil duduk di rerumputan taman kota. Setelah kurang lebih menghabiskan waktu satu jam untuk jogging dan berkeliling, akhirnya mereka menemukan tukang bubur untuk mengisi perutnya yang belum terisi sejak tadi pagi.
"Kenapa?" tanya Redy sambil menyuapkan buburnya ke dalam mulut.
Kara nyengir. "Hari ini sebenernya ada janji sama Aldan, tapi gue lupa."
"Janji apa?" tanya Redy lagi.
"Nemenin dia beli sepatu," jawab Kara.
Redy manggut-manggut mengerti lalu mencari topik lain. "Kar, kura-kuranya kita kasih nama, yuk?"
Tadi, sewaktu mereka jogging mengelilingi taman kota, ada banyak pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang trotoar, salah satunya adalah penjual kura-kura.
Kara merengek minta dibelikan kura-kura itu. Dia bilang, dari dulu Mamanya enggak pernah mengizinkan Kara untuk memelihara binatang. Alhasil, dengan setengah hati Redy membeli kura-kura tersebut untuk Kara. Lagipula, harganya pun tak seberapa jika dibandingkan dengan harga tas, baju, dan aksesoris lainnya yang biasa diinginkan oleh mantan-mantan Redy terdahulu.
Mendengar usul Redy barusan, Kara kontan tersenyum sumringah dan mengangguk antusias. "Yuk! Mau apa namanya?"
"Mereka cewek atau cowok?"
Kara menaruh mangkuk buburnya di rumput lalu mengangkat kotak berisi kura-kura tadi sambil cengengesan. "Cewek sama cowok, tapi gue enggak tau mana yang cewek dan mana yang cowok."
"Hmm." Redy ikut menaruh mangkuk buburnya dan berpikir. Namun detik berikutnya, cowok itu malah tertawa geli. "Udin dan Ijah?"
Kara melotot lalu menoyor kepala Redy gemas. "Serius, dong! Nggak ada yang lebih bagus apa?"
"Hmm." Redy kembali berpikir lalu menjentikkan jarinya puas. "Williams dan Rebecca?" cetusnya lagi dengan alis naik-turun.
Kali ini, Kara menjambak pelan rambut Redy. "Normal, please?" desis Kara sambil mendelik Redy. Kenapa cowok itu nggak pernah bisa serius dan normal sih?
Redy terkekeh lalu mengusap-ngusap dagunya sebentar. "Rady dan Dyra?" usulnya kemudian.
Kara merengut bingung.
"Itu diambil dari nama kita," jelas Redy dengan senyum lebarnya. "Redy dan Kara. Cocok 'kan? Yang cewek namanya Dyra, sedangkan yang cowok namanya Rady."
Kara sempat mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya memasang seulas senyum. Cewek itu menaruh kembali kotak berisi kura-kura tersebut lalu melanjutkan makannya.
"Kenapa lo ngambil dari nama kita?" tanya Kara penasaran.
"Yang beli kura-kura itu 'kan kita berdua. Lagipula, mereka itu couple, sama kayak kita."
Kara tertawa mendengus. Keduanya pun kembali memakan buburnya sambil berbincang-bincang seru. Sesekali Redy melontarkan candaannya yang dibalas Kara dengan berbagai toyoran, tabokan, jambakan, dan bahkan cubitan. Redy sendiri cuma bisa pasrah diperlakukan seperti itu. Udah kebal, kok.