Milena mengambil satu. "Sudah agak baikan. Hanya saja rasa berdenyut itu kadang datang dan punggungku tiba-tiba terasa sakit dan nyeri." Dokter Ames merenung sejenak, di tangannya tergenggam polpen yang siap mencatat keluhan Milena. "Apa kau tak ingat pernah jatuh? Diganggu mungkin?" Milena mendengus, lalu duduk di pinggiran meja kerja sang dokter. "Aku yang mengganggu mereka. Bukan sebaliknya." "Ok." katanya singkat. Mencatat hal-hal yang dianggapnya penting. "Apa aku tak akan mengingat hal yang terjadi padaku? Selamanya?" tanyanya ragu-ragu, ia menatap ujung kakinya yang bergoyang. "Aku tak bisa memberikan jaminan apapun. Tapi, jika kau mengikuti terapi secara rutin, besar kemungkinan kau akan ingat beberapa hal—" "Seperti kembang api, contohnya?" Milena memotong perkataan dr. A

