Ethan melangkah keluar dari apartemen dengan hati yang berat. Rasa bersalah menyelimutinya saat membayangkan Danisa harus tinggal sendirian malam itu di apartemen yang amat luas itu. Tapi apa daya, ancaman papanya membuat Ethan tak punya pilihan. Kata-kata keras dan ancaman Budi tadi masih terngiang di telinganya. Mobilnya berhenti di depan rumah besar yang sudah tidak lagi terasa seperti rumah. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di sana, dengan emosinya, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ethan masuk ke rumah dengan langkah berat, tapi begitu melewati pintu, amarah menguasai dirinya. Ia melihat papa dan mamanya, Budi dan Irina, sedang duduk santai di ruang keluarga. Pemandangan itu membuat darahnya mendidih. Ia bertanya-tanya, kenapa orang tuanya sampai mengancamn

