Danisa berdiri di depan kaca besar di apartemen mewah itu, menatap kerlip lampu kota malam yang memantul di matanya yang mulai berkaca-kaca. Tempat itu terlalu luas, terlalu sepi. Keheningannya terasa asing, tak seperti saat dia tinggal di apartemen lamanya. Meski dulu juga sendiri, kesendirian itu terasa lebih wajar, lebih bisa diterima dia. Kini, kesunyian itu menggigit. Rasanya seperti ruang kosong yang menekan dadanya, mengingatkannya bahwa dia hanya seorang diri di sana. Tangannya melipat di depan d**a, berusaha mencari kehangatan dalam kehampaan yang tak bisa diisi. Kepergian Ethan ke rumah orang tuanya membuat kekosongan itu semakin menyakitkan. Sedih? Jangan tanyakan lagi. Rasanya seperti ada lubang besar yang tak bisa ditambal. "Kenapa aku merasa seperti ini?" bisiknya pelan, se

