bab 42

1633 Kata

Danisa duduk di meja makan, sendirian. Sepiring roti di depan, setengah didekap oleh jemarinya, sementara secangkir kopi panas mengepul di sisi lain. Sarapan seperti itu sudah menjadi rutinitas sejak lama. Tidak mewah, tetapi cukup menghangatkan pagi. Saat gigitan kecil dari rotinya nyaris sampai di bibir, suara pintu terbuka mendadak memecah keheningan. Danisa mengangkat alis, sedikit terkejut. Siapa yang datang? Dia meletakkan roti ke piring dan hendak bangkit. Tapi, belum sampai dia berjalan, sudah muncul sang suami. "Ethan?" Danisa senang menyambut kedatangan Ethan pagi itu. Senyumnya merekah sempurna. Namun, berbeda dari biasanya, wajah Ethan kali ini tidak menunjukkan ketenangan atau kebahagiaan. Sorot matanya redup, dagunya tampak tegang, dan bahunya sedikit merosot seolah menaha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN