Sore itu, Danisa melangkahkan kakinya kembali ke apartemen lamanya. Hatinya terasa lebih tenang ketika berada di sana, meskipun suasana apartemen itu sederhana dan jauh dari kesan mewah seperti apartemen yang diberikan Ethan. Sesampainya, ia segera membuka koper berisi barang-barangnya yang sebelumnya telah ia kemas. Selimut, sprei, dan beberapa pakaian ganti dikeluarkannya lagi. Keputusannya untuk bermalam di sana terasa tepat, karena di apartemen baru, yang begitu megah dan luas, ia merasa terlalu sepi. Ethan sebelumnya telah memberi tahu bahwa ia tidak bisa menemuinya malam itu karena sibuk dengan pekerjaan dan harus pulang larut ke rumah orang tuanya. Danisa menerima alasan itu dengan tenang, meski ada sedikit rasa hampa. Baginya, berada di apartemen lamanya terasa seperti memeluk kem

