bab 22

1408 Kata
Wajah Danisa memucat seketika begitu mendengar ancaman Ethan. Ancaman yang kali ini membuatnya benar-benar merasa terpojok. Dia tidak menyangka Ethan akan sekeji itu, menggunakan foto dirinya yang diambil saat ia sedang terlelap tidur, foto yang cukup untuk menghancurkan reputasinya jika sampai tersebar. Dan Ethan malah mengancamnya akan mengirimnya ke ibunda Danisa. Bagaimana itu mungkin? Rasa amarah Danisa membuncah, mengguncang hatinya yang kini penuh dengan perasaan muak dan dikhianati. Danisa mengepalkan tangannya setelah menampar Ethan, matanya menatap Ethan penuh kebencian, bibirnya bergetar menahan segala kemarahan yang memuncak. “Kamu benar-benar pria terendah yang pernah kutemui!” makinya, suaranya bergetar namun tetap tajam. “Mengancamku dengan cara sekotor ini? Apa kamu benar-benar sebegitu putus asanya untuk menahan aku di sini? Kamu nggak lebih dari seorang pengecut, Ethan! Apa kamu pikir semua ini akan membuatku bahagia bersamamu? Justru semua ini hanya membuatku semakin membenci kamu!” Setiap kata yang keluar dari mulut Danisa seolah mencabik-cabik harga diri Ethan, namun kali ini Danisa tak peduli. Tamparan Danisa tadi begitu keras hingga meninggalkan bekas merah di pipi Ethan. Namun, bukannya marah atau membalas, Ethan hanya berdiri diam, menahan perih di pipi dan di hatinya. Justru kata-kata Danisa yang penuh kemarahan dan caci maki menghujam jauh lebih dalam daripada tamparan fisik apa pun. Ethan menatap Danisa dengan sorot mata yang kelam namun terisi keteguhan. “Aku sudah bilang, Danisa,” suaranya terdengar serak tapi tegas, “Aku rela jadi pria jahat kalau itu satu-satunya cara untuk membuat kamu tetap di sisiku. Kamu pikir aku nggak sadar kalau begitu aku biarkan kamu keluar dari apartemen ini, aku akan kehilangan kamu untuk selamanya? Kamu nggak cuma mau pergi dari sini, kamu mau pergi dari hidupku, kan?” Ethan menghela napas panjang, menahan emosinya yang membara. “Kamu benar-benar mengira aku akan diam saja melihat kamu pergi?” Danisa memandang Ethan dengan amarah yang menyala di matanya, suaranya gemetar namun penuh kekuatan. "Kamu sudah menikmati tubuhku. Itu perjanjian awal kita, Ethan. Tapi sekarang, kamu mau mengancamku, mau kirim foto itu ke ibuku?" Dia mengatupkan rahangnya, kemarahannya tak bisa lagi ditahan. "b******n kamu, Ethan! Aku nggak menyangka kamu bisa sekejam ini." Ethan menatap Danisa dengan dingin, matanya menyiratkan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Kamu cuma minta aku pakai pengaman, dan aku ikuti itu. Tapi kamu nggak pernah bilang soal foto. Harusnya kamu nggak masalah dengan itu," ucapnya sambil menyunggingkan senyum sinis. "Aku capek, Danisa. Kita nggak perlu terus berdebat seperti ini tanpa akhir." Dia melangkah mendekat, suaranya menurun tapi penuh penekanan. "Kita bisa hidup bahagia, aku pastikan itu. Cuma kamu satu-satunya wanita di hidupku. Jadi, terima saja nasibmu." Ethan menghela napas, seolah mencoba meredam emosinya. "Aku nggak akan mengurungmu selamanya di sini. Hanya sampai kamu sadar bahwa aku memang cinta sama kamu, bukan sekadar nafsu. Apa yang terjadi semalam bukan cuma keinginan sesaat, Danisa. Aku tulus, dan aku ingin kamu ada di sini bersamaku. Selamanya." Danisa menunduk, air matanya mengalir deras. Perasaannya bercampur aduk, penuh dengan amarah, kesedihan, dan frustrasi. "Bukan begini, Ethan. Mau kamu paksakan bagaimana pun, hubungan kita itu mustahil!" Suaranya parau, tapi penuh keyakinan. "Kamu yakin cuma aku satu-satunya di hidup kamu?" Ia menarik napas panjang, menahan isak yang hampir pecah. "Bagaimana dengan orang tuamu? Sampai kapan kamu mau menyembunyikan aku di sini? Mereka pasti mau kamu menikah dengan wanita yang sepadan, yang pantas buat kamu." Ia menggelengkan kepala, matanya menyiratkan keteguhan. "Kamu pikir aku sanggup hidup dengan itu? Nggak akan, Ethan! Aku nggak mau berbagi suami dengan wanita mana pun! Kalau aku mau, aku nggak akan pernah jadi janda, aku mungkin masih bersama mantan suamiku sekarang, sebagai istri tua yang bertahan meski tersakiti!" Kata-katanya menyayat, mencerminkan perasaan yang ia pendam. Lukanya tentang dikhianati kembali menyelimutinya. Ethan merasa sedih, terpukul oleh kata-kata Danisa yang begitu tajam namun tak bisa dia sangkal. Dalam hatinya, dia bergumam, "Bukan cuma itu masalahnya, Danisa. Andai kamu tahu apa yang sebenarnya aku rasakan, mungkin kamu nggak akan seperti ini. Tapi bagaimana aku menjelaskan semua ini?" tanyanya dalam hati. Ethan akhirnya mundur, meredam emosi yang berkecamuk di dadanya, dan duduk di tepi ranjang, menatap lantai dengan sorot mata sendu. Dengan suara yang nyaris berbisik, ia berkata, “Kamu tenang saja, Danisa. Pegang ucapanku, aku nggak akan menikah dengan wanita lain. Dan seandainya itu terjadi, kamu boleh pergi ninggalin aku. Selamanya.” Danisa tertawa getir, suara tawanya sarat kekecewaan. "Kamu itu munafik, Ethan. Pembohong yang lihai. Kamu pikir aku bisa percaya dengan semua kata-kata manismu setelah semua yang kamu lakukan? Aku nggak sebodoh itu!" Ethan, yang sudah kehabisan kesabaran, berdiri tegak dan berteriak, suaranya bergetar antara marah dan cemas. "Berhenti mendebat aku, Danisa! Apa kamu nggak peduli sama kesehatanmu? Apa kamu masih berpikir untuk mengakhiri hidupmu? Kalau kamu benar-benar nggak mau ibumu melihat foto-foto itu, apa kamu mau dia menangis karena melihat kamu mati di usia muda? Ibu mana yang mau melihat anaknya mati? Semua ibu pasti mau dia mati lebih dulu! Sekarang, berhenti berdebat dan ayo makan." Ethan sudah tidak tahu lagi bagaimana mengahadapi Danisa. Dia terlalu cinta, dia cemas wanita yang dia cintai itu sakit. Sementara Danisa, dia terus menangis dan kini terisak. Di tempat lain, Mei tampak gelisah, matanya bengkak karena kurang tidur. Pikirannya terus terbayang pada Danisa, sahabat yang sudah sejak kemarin tak ada kabar. Rasa bersalah menggerogoti hatinya. Mei tidak bisa mengabaikan perasaan cemas yang semakin mendalam. Pagi itu, dia kembali ke kantor Methan, berharap bisa menemukan jawaban atas keresahannya. Namun, seperti kemarin, jawabannya tetap nihil. Tidak ada yang tahu ke mana Danisa pergi. Namun, semakin lama ia menunggu di lobi, ada sesuatu yang mulai menyusup ke dalam pikirannya. Ethan belum juga muncul. Itu aneh, karena seharusnya dia muncul. Bagaimana pun Ethan adalah CEO Methan, sesibuk apa pun tentu harus ke kantor, kecuali jika ada jadwal di luar kota. Mei mulai menduga, apakah mungkin Danisa berada bersama Ethan? Perasaan curiganya semakin kuat seiring berjalannya waktu, dan ia tak bisa mengusir bayangan itu dari pikirannya. Erwin melihat Mei berkeliaran di lobi, dia tak tinggal diam. Erwin menghubungi Ethan setelah melihat Mei yang masih setia menunggu di lobi kantor Methan hingga siang hari. Mendengar hal tersebut, Ethan langsung memberi perintah kepada Erwin untuk menyampaikan pesan bahwa Danisa berada bersamanya dan dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan, Ethan meminta Danisa untuk menelepon Mei menggunakan ponselnya yang terhubung dengan telepon Erwin. Dengan hati yang berat, Danisa akhirnya mengambil ponsel dan menelepon Mei. Begitu suara Mei terdengar, terasa jelas kekhawatiran yang menguasai sahabatnya itu. "Danisa, di mana kamu? Kenapa hapemu mati? Aku telepon dari kemarin, tapi nggak aktif," suara Mei penuh kecemasan. Danisa menarik napas panjang, berusaha tetap tenang meskipun hati terasa berat. Setelah kemarahan Ethan tadi pagi, dia menangis lama dan lalu diam lama. Lalu Ethan merayunya untuk makan, dia menurut begitu saja. Kini, dia terlihat baik-baik saja walau masih ingin pergi dari sana. "Maaf, Mei. Hapeku kehabisan baterai. Tapi kamu nggak perlu khawatir, aku baik-baik aja," jawabnya, berusaha meyakinkan, meskipun ada kekosongan yang tak bisa ia tutupi. Namun, Mei yang tak mudah dibohongi tetap curiga. "Kamu di mana? Jawab. Kenapa nggak jawab? Aku khawatir banget, Danisa! Ada apa ini sebenernya? Aku harus tahu!" Danisa menatap ponsel dengan hati yang hancur, merasa bersalah atas kebohongannya. Tapi ia tahu, ia tak ingin Mei terlibat lebih jauh dalam masalahnya. "Mei, aku... aku nggak bisa memberitahumu sekarang. Aku baik-baik saja, tolong jangan khawatir. Aku bisa mengurusnya sendiri," jawab Danisa dengan suara pelan, berusaha menjaga jarak agar sahabatnya tak terlalu khawatir. Danisa tidak mau Mei merasa bersalah dan akhirnya terlibat lagi. Menurut Danisa, hanya dirinya yang diinginkan Ethan, maka hanya dirinya yang harusnya berurusan dengan pria itu. Jangan melibatkan siapa pun. Mei terdiam sesaat, tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya. "Danisa, jangan seperti ini. Aku nggak bisa diam saja. Aku takut kamu dalam bahaya. Kenapa kamu nggak ngasih tahu aku apa yang sebenarnya terjadi?" Danisa merasakan hatinya tertekan, ingin menangis namun menahannya. "Mei, ini bukan salahmu. Aku nggak mau kamu terlibat lebih jauh. Aku akan baik-baik saja. Tolong, pulanglah dan tenanglah. Jangan khawatirkan aku," ujarnya dengan suara yang hampir tak terdengar, berusaha menenangkan sahabatnya meskipun dirinya sendiri tak bisa menenangkan perasaannya. Setelah beberapa detik yang penuh keheningan, Mei akhirnya mengalah, meskipun jelas rasa khawatir masih menyelimutinya. "Aku harap kamu benar-benar baik-baik saja, Danisa. Aku merasa bersalah sama kamu, kamu pergi karena aku. Tapi kalau itu yang kamu mau, aku akan pergi." Danisa menutup percakapan dengan perasaan hancur, berusaha menahan air matanya. Ia tahu, meskipun ia ingin bebas dari Ethan, ia tak bisa membiarkan Mei terjebak dalam masalah yang lebih besar. Namun, beban itu terasa semakin berat seiring berjalannya waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN