bab 23

1321 Kata
1 hari yang dihabiskan Danisa di apartemen Ethan terasa begitu panjang dan membosankan. Tanpa ponsel di tangan dan dengan Ethan yang sibuk bekerja, ia hanya duduk di sofa dengan tatapan kosong ke arah layar TV yang terus menyala dari pagi hingga malam. Namun, meski TV itu mengeluarkan suara dan gambar, pikirannya sendiri tak pernah benar-benar fokus pada apa yang ditampilkan. Ia tenggelam dalam pikiran-pikiran lain, yang jauh lebih berat dan mengganggu. Danisa bertanya-tanya bagaimana caranya keluar dari tempat itu. Setiap hari terkurung di apartemen itu membuatnya semakin tertekan. Dia juga memikirkan pekerjaannya yang mungkin terbengkalai, tenggat waktu yang seharusnya ia penuhi, juga bagaimana nasib ibunya yang sama sekali tak bisa dihubunginya. Tanpa ponsel, Danisa merasa terputus dari dunia luar, terkekang tanpa jalan keluar. Di sela-sela itu, pikirannya tak lepas dari Ethan dan perjanjian yang telah mereka buat. Ia merasa terperangkap dalam permainan yang tak adil dan tak tahu kapan ini akan berakhir. Saat malam tiba, ada kegelisahan lain yang mulai muncul dalam pikirannya. Danisa tak bisa berhenti bertanya-tanya apakah Ethan akan kembali menginginkan apa yang terjadi semalam. Ketidakpastian itu membuatnya makin resah dan tak nyaman. Hingga akhirnya, satu hari di sana hanya menjadi rutinitas yang kaku dan dingin, Ethan yang sibuk dengan pekerjaannya, dan Danisa yang duduk, termenung, terjebak dalam kebosanan dan kegelisahan yang tak kunjung hilang. Suara bel apartemen berbunyi, memecah keheningan. Ethan membuka pintu, dan Erwin masuk membawa laporan penting dan beberapa kantong makanan. Saat pandangannya tertuju ke meja makan, Erwin melihat makanan siang yang ia kirim masih utuh, tak tersentuh sedikit pun. Danisa rupanya memang menolak makan siang. Tanpa bicara, Erwin mengangkat wadah makanan yang dingin itu untuk dibuang, lalu melanjutkan laporannya pada Ethan. “Sepertinya Methan akan kehilangan beberapa proyek penting karena banyak klien yang menginginkan pertemuan langsung dengan Pak Ethan,” katanya pelan, tapi Danisa bisa mendengarnya. Ethan mendengarkan dengan ekspresi serius tapi tetap memilih untuk mengabaikan masalah itu. Dia sudah bisa menebak dampaknya, tetapi baginya, Danisa lebih penting saat ini dibandingkan pekerjaannya. “Lakukan saja sesuai perintahku. Kalau mereka ingin mundur, biarkan,” ucapnya singkat. Erwin mengangguk tanda mengerti, lalu segera pamit pergi. Setelah pintu tertutup, Ethan menghela napas dan beralih pada Danisa, yang hanya diam di sofa. “Tadi siang kamu nggak makan,” katanya lembut. “Sekarang, ayo makan malam. Kamu perlu jaga kesehatan kamu.” Danisa menatap Ethan dengan penuh harap dan mengungkapkan rasa jenuh yang tak lagi tertahankan. "Aku mau makan di luar. Aku bosan di sini, aku stres," katanya dengan nada lelah, seolah kehabisan cara untuk mengungkapkan perasaannya. Mendengar itu, Ethan hanya tersenyum tenang. Tak ada amarah atau kekecewaan yang terlihat di wajahnya. "Aku paham," jawabnya lembut. "Kita bisa keluar dan pergi ke mana saja yang kamu mau, tapi setelah kamu hamil anakku." Ia berhenti sejenak, matanya menatap dalam ke arah Danisa. "Jadi, kalau kamu ingin bebas keluar dari sini, pastikan dulu kamu hamil anakku." Kata-katanya yang dingin tapi penuh arti membuat Danisa tercekat, menyadari bahwa kebebasannya ternyata bergantung pada syarat yang tak pernah berubah dari CEO Methan tersebut. Danisa tersenyum sinis, menyadari bahwa Ethan takkan menyerah pada rencana yang dipikirkannya. Ia tahu Ethan tetap bersikeras ingin membuatnya hamil, tak memaksanya secara langsung, tapi mengancam dengan kurungan tanpa akhir di apartemen itu. "Kalau aku mandul, berarti aku nggak akan pernah keluar dari sini, ya?" ucap Danisa dengan nada tajam. Pertanyaan itu membuat Ethan terdiam, menatap Danisa dengan terkejut. Gerakannya berhenti, sendok yang ia pegang perlahan turun ke meja. Dalam benaknya, terpikir fakta bahwa meski Danisa pernah menikah bertahun-tahun, ia belum pernah memiliki anak. Sebuah keraguan muncul dalam dirinya. "Mandul?" Ethan bertanya pelan. "Kamu sudah pernah cek kesehatan?" Danisa menatapnya sesaat, kemudian menggeleng perlahan. "Belum pernah cek, sih. Tapi mantan suami aku aja bisa punya anak dari wanita lain." Ucapan itu menghantam Ethan dengan keras. Tak pernah terlintas dalam pikirannya kemungkinan bahwa Danisa mungkin tak bisa hamil. Bukannya rasa sayangnya berkurang, tapi ketakutan mulai menguasainya. Jika Danisa benar tak bisa hamil, ia merasa kehilangan kendali, karena rencana untuk mengikat Danisa dengan anak tampaknya bisa sirna begitu saja. Ethan bingung, tapi memilih bersikap santai, menyembunyikan kecemasannya yang perlahan merayap. Ia lalu berkata, seolah-olah semua ini hanya permainan kecil, “Bagaimana kalau kita buktiin aja nanti malam? Tanpa pengaman. Siapa tahu, Tuhan memang nggak ngizinin kamu punya anak dari pria berengsek kaya dia. Makanya kamu belum pernah hamil. " Danisa mendengus, lalu terkekeh pahit. “Kamu pikir kamu lebih baik dari mantan suamiku? Kalian sama aja. Kalau itu alasannya, Tuhan pasti juga nggak akan kasih aku hamil dari laki-laki yang nggak lebih baik dari Mas Agus!" Ethan menyeringai, tak mau kalah. “Oh ya? Kalau begitu, nggak ada masalah, kan, kalau kita coba lagi nanti malam? Tanpa pengaman?” tantangnya dengan nada mengejek. Danisa terdiam, kehabisan kata-kata. Jelas, Ethan sudah menguasai percakapan ini sepenuhnya. Ia hanya bisa menahan perasaan gusarnya tanpa mampu memberi balasan apa pun, menyadari bahwa dirinya telah kalah telak. Ethan menghela napas sejenak, berusaha melupakan ketegangan yang barusan terjadi. Ia kembali menyiapkan makanan yang sudah disusun rapi di meja. Dengan suara lembut, ia mengajak Danisa untuk duduk, berharap momen makan malam ini bisa sedikit mencairkan suasana di antara mereka. “Ayo makan, Danisa. Aku udah nyiapin semuanya,” ucapnya, nada suaranya sedikit melunak. “Aku juga laper, seharian sibuk, akhirnya bisa duduk dan makan bareng kamu." Danisa terdiam, memandang Ethan dengan tatapan yang sulit diartikan. Meskipun masih ada bara ketegangan di hatinya, ia melangkah perlahan ke meja makan, duduk tanpa banyak bicara. Sejenak, mereka hanya terdiam, berbagi suasana yang tak sepenuhnya nyaman, namun tak sepenuhnya berjarak. Akhirnya, Danisa makan malam sesuai keinginan Ethan. Sambil menyantap makanannya, Danisa membuka suara, "Aku mau tidur sendiri mulai malam ini, Ethan. Nggak masalah kalau aku tidur di sofa. Kamu bisa tidur di kasur." Ethan berhenti sejenak, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Walaupun ada kilatan kesal di matanya, ia tetap menjaga nada bicara yang tenang. Dengan nada pelan namun tegas, ia berkata, "Danisa, aku cuma mau tidur seranjang sama kamu. Aku nggak pernah mau memaksa. Tapi jangan bersikap seolah aku ini menjijikkan." Ia melanjutkan, suaranya lebih rendah dan penuh peringatan, "Kalau aku mau, aku bisa aja maksa kamu untuk tetap di ranjang, tapi aku nggak akan melakukan itu. Jadi, tolong hargai keinginanku tanpa perlu menolakku seperti ini." Danisa menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya. "Aku cuma mau dihargai, Ethan. Aku juga nggak mau dipaksa terus-terusan seperti ini." Dengan ucapan itu, ia pun meletakkan sendoknya, menyudahi makannya padahal baru beberapa suap. Melihat sikapnya, Ethan menahan kesal. Ia bersandar ke kursi, menatap Danisa dengan senyum tipis. "Apa kamu mau aku yang suapi? Aku bisa menyuapimu dengan tangan atau bahkan dengan mulut," katanya, nada suaranya bermain-main namun ada ketegasan yang tak bisa diabaikan. "Kalau kamu malas mengunyah, aku bisa mengunyahkan untukmu, jadi kamu tinggal telan saja." Danisa menghela napas panjang, lalu mengambil sendoknya lagi dan mulai makan dengan perlahan. Melihatnya menuruti permintaannya, Ethan tersenyum lega. "Bagus, kamu harus makan biar nggak sakit. Dan untuk tidur, aku janji, aku nggak akan maksa kamu lagi. Kamu nggak perlu takut, Danisa." Danisa akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, menatap Ethan dengan sorot mata penuh kelelahan. "Sampai kapan kamu mau mengurung aku di sini, Ethan? Kamu tahu aku sendiri bahkan nggak yakin bisa hamil atau nggak. Terlepas dari itu l, aku nggak mau hidup terkekang begini, walaupun ini sangkar emas." Ethan terdiam sejenak, menatap Danisa dengan ekspresi sulit dibaca. Seolah mempertimbangkan jawabannya dengan hati-hati. "Aku nggak anggep ini mengurung kamu, Danisa. Aku cuma ingin mastiin kamu ada di sampingku," ucapnya dengan nada pelan namun tegas. "Tapi aku tahu aku nggak bisa menahanmu di sini selamanya. Kita lihat saja nanti, tapi aku berharap kamu nggak merasa ini sebuah hukuman. Karena, jujur, yang aku inginkan hanya kamu." Danisa mendesah kecil, merasa semakin sulit meyakinkan Ethan. Bagi dirinya, ini bukan sekadar tentang kehadiran atau perasaan, tetapi soal kebebasan yang ia rindukan, kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. "Aku mau bebas, Ethan," ucap Danisa lagi, dia masih berusaha keluar dari apartemen yang mewah tapi terasa sesak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN