Malam semakin larut, tetapi Danisa belum bisa memejamkan mata. Di depan kaca besar yang membentang di ruang apartemen Ethan, dia memandang gemerlap kota yang tampak jauh dan tak terjangkau. Lampu-lampu kota berpendar indah, tapi bagi Danisa, keindahan itu terasa dingin, asing.
Di belakangnya, Ethan duduk di depan laptop, fokus pada pekerjaannya. Jarinya menari di atas keyboard, tanpa jeda, tanpa sadar bahwa Danisa sedang mengamatinya dengan perasaan campur aduk. Ethan yang kini berada di hadapannya bukan lagi sosok yang dikenalnya dulu, pemuda sederhana yang selalu punya waktu untuknya, yang malam-malamnya dipenuhi tawa dan cerita di apartemen kecil Danisa. Saat itu, dunia terasa hangat dan dekat.
Namun sekarang, berada di apartemen mewah, bersama Ethan yang kini seorang CEO kaya raya, Danisa merasa terpisah oleh dinding yang tak terlihat. Mewahnya ruangan itu, pemandangan kota yang mahal, semuanya tampak seperti mimpi, tapi bukan mimpi yang nyaman. Ada jarak yang terbentang, membuat hatinya bimbang, seolah-olah ia sedang berada di dunia orang lain, dunia yang penuh kemewahan tapi dingin dan tak berjiwa.
Di tengah kerinduan pada sosok Ethan yang sederhana, Danisa hanya bisa berharap, masih ada bagian dari dirinya yang mampu menjangkau hati Ethan yang kini terasa begitu jauh.
Dalam diam, Danisa meresapi kesepian yang perlahan menyelimuti hatinya. Gemerlap kota di luar sana tidak mampu menghilangkan kerinduannya akan apartemen kecilnya yang sederhana. Dia rindu suasana hangat di tempat yang ia sebut rumah itu, di mana dia bisa bebas menjadi dirinya sendiri. Ia juga rindu suara ibunya yang selalu mengisi hari-harinya dengan cerita-cerita, meski hanya melalui telepon.
Tiba-tiba, dorongan untuk berbicara dengan sang ibu begitu kuat. Danisa menoleh, menatap Ethan dengan sorot mata yang jujur dan dalam. “Aku pengen telepon ibu,” katanya pelan.
Perkataan itu membuat Ethan berhenti bekerja, dan ia menatap Danisa. Terlihat jelas di wajah Ethan, kebingungan yang bercampur keraguan. Ia memahami perasaan Danisa yang kesepian, tapi bayang-bayang ketakutannya sendiri membuatnya enggan menyerahkan ponsel Danisa begitu saja. Pikiran buruk menghantui, bagaimana jika Danisa menggunakan kesempatan itu untuk mencari bantuan atau mencoba kabur?
Danisa, yang mampu membaca kekhawatiran Ethan dari bahasa tubuhnya, menghela napas panjang. “Kamu nggak perlu khawatir,” katanya tenang, mencoba meyakinkan Ethan. “Aku nggak akan kabur, aku cuma pengen ngobrol sama ibuku. Itu saja.”
Tatapan tulus Danisa berhasil menembus benteng hati Ethan yang penuh kecurigaan. Akhirnya, perlahan Ethan mengangguk. Ia beranjak, menuju lemari tempat ia menyimpan ponsel Danisa, lalu memberikannya. Melihat ponselnya yang ternyata tersimpan rapi di dalam sana, Danisa sedikit kesal, ia sama sekali tidak menyangka Ethan menyembunyikannya di tempat sesederhana itu. Jika tahu, pasti dari tadi dia sudah menemukannya.
Namun, perasaan itu cepat terganti dengan kelegaan. Akhirnya, ia bisa mendengar suara ibunya yang dirindukan, meskipun hanya sebentar.
Setelah menutup telepon, perasaan Danisa sedikit lebih tenang. Mendengar suara ibunya mengurangi sebagian besar kerinduan yang sejak tadi menggantung di hatinya. Ia menoleh pada Ethan yang masih terdiam di tempatnya, hanya mengamatinya dari jauh. Sekalipun tak ada kata yang terucap, Danisa tahu, dalam sikap diam Ethan tersimpan rasa peduli yang coba ia sembunyikan.
“Terima kasih, ya, kamu udah kasih hape aku,” ucap Danisa tulus. Ia tersenyum kecil, mencoba mengurangi kekakuan di antara mereka. “Aku nggak akan kabur, jadi nggak usah disita lagi, ya. Aku juga mau kerja. Bosan rasanya nggak ngapa-ngapain, apalagi aku masih ada tugas yang harus aku selesaiin.”
Ethan menatapnya beberapa saat, seolah mempertimbangkan kata-kata Danisa. Setelah hening sejenak, ia akhirnya membuka suara, dengan nada yang terdengar tegas namun juga lembut, “Lakuin apa pun yang kamu mau. Asal kamu nggak pergi dari sini.”
Mendengar jawabannya, Danisa mengangguk pelan. Meski kata-kata Ethan terkesan mengurung, Danisa bisa merasakan ketulusan di baliknya. Ia tahu bahwa rasa takut Ethan untuk kehilangannya membuat pria itu bertindak seperti ini. Baginya, meski terasa mengekang, ia memilih memahami bahwa itu mungkin hanya cara Ethan menunjukkan rasa peduli dengan caranya sendiri.
Danisa merasa sangat tenang malam itu, mungkin untuk pertama kalinya sejak berada di apartemen Ethan. Ia terlelap dengan perasaan lega setelah mendengar suara ibunya, dan dalam sekejap, ia sudah tertidur pulas. Di sebelahnya, Ethan menyelesaikan pekerjaannya dengan tekun, baru beristirahat setelah lewat tengah malam. Ketika akhirnya dia berbaring di sisi Danisa, ia ingat janjinya untuk tidak menyentuhnya. Namun, sebelum memejamkan mata, tanpa sadar Ethan mendekat, mengecup lembut kepala Danisa. Dalam bisikan yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri, ia berkata lirih, “Aku mencintaimu, Danisa.”
Sayangnya, Danisa terlalu pulas untuk menyadarinya. Namun, dalam tidurnya yang nyenyak, ia bermimpi tentang Ethan mengucapkan kata-kata itu padanya, meski ia mengira itu hanyalah khayalan di alam bawah sadarnya.
Saat pagi tiba, Danisa membuka mata dan menemukan bahwa Ethan sudah terjaga lebih dulu, tenggelam lagi dalam pekerjaannya. Ia memilih untuk tetap bermalas-malasan di atas kasur yang empuk, menikmati momen itu tanpa terburu-buru.
“Pagi,” sapa Danisa dengan suara lembut, masih setengah mengantuk.
Ethan menoleh dan tersenyum. “Pagi menjelang siang, tepatnya. Sepertinya kamu tidur lelap. Sampai bangun jam segini, apa ini tanda kamu mulai betah di sini?”
Danisa tersenyum kecil, menggeleng pelan. “Bukan betah, cuma nggak tahu mau ngapain. Tidur aja enak, toh kamu sibuk kerja.”
Ethan mendengar jawaban itu tanpa banyak bereaksi. Ia kembali fokus pada laptopnya, sibuk memeriksa dokumen dan angka yang membutuhkan perhatiannya. Meski begitu, senyum tipis di wajahnya tak sepenuhnya hilang, tanda bahwa keberadaan Danisa di sampingnya memang berarti, meskipun kata-kata itu mungkin belum siap ia ungkapkan dengan lantang.
Sikap Ethan yang tak merespon membuat Danisa cemberut. Ia mulai mencari-cari ponselnya, mengobrak-abrik selimut dan bantal di kasur, namun tetap tak menemukannya. Kecurigaannya muncul, jangan-jangan Ethan menyembunyikannya lagi.
"Mana hapeku?" tanyanya, tatapannya menyelidik.
Ethan menoleh dengan senyum santai. "Masih aku cas. Kamu nggak perlu khawatir, aku nggak akan menyitanya lagi. Kan sudah aku bilang, selama kamu nggak pergi, kamu bebas ngelakuin apa aja."
Danisa melangkah ke meja dan menemukan ponselnya memang sedang diisi baterai, seperti yang dikatakan Ethan. Ia menghela napas lega, lalu mengambilnya dan memeriksa pesan serta panggilan yang masuk. Di sana, hanya ada satu orang yang terus menghubunginya tanpa henti—Mei. Teman dekatnya itu tak berhenti mengirim pesan, menanyakan keberadaannya, memastikan apakah Danisa baik-baik saja.
Melihat perhatian Mei, Danisa tersenyum hangat. Tak ada rasa marah atau kecewa pada sahabatnya itu, meskipun pada akhirnya ia “terjebak” dalam situasi yang membuatnya harus menyerahkan kebebasannya kepada Ethan demi menyelamatkan Tim Pena dari tuntutan Methan. Mei sudah seperti keluarganya sendiri, sejak ia pindah ke kota ini, Mei yang selalu ada untuknya, membantu dan mendukungnya dalam segala situasi. Bagi Danisa, sahabatnya itu adalah sosok yang tak tergantikan, seseorang yang selalu ia hargai dan cintai layaknya saudara sendiri.
Perasaan hangat itu sedikit menenangkan hatinya. Meski kini ia berada di dunia Ethan yang penuh tekanan, setidaknya ia tahu bahwa ada orang seperti Mei yang benar-benar peduli, yang selalu mengingatnya dan menunggunya di sisi lain dari dunia yang asing ini.
Usai mandi dan berganti pakaian, Danisa duduk di meja makan, bersiap untuk sarapan bersama Ethan. Sepanjang makan, pandangannya beberapa kali mencuri-curi melihat Ethan, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, setiap kali ia membuka mulut, keraguannya mengurungkan niatnya. Ethan, yang menyadari tatapan canggung itu, akhirnya bersuara dengan nada jengkel.
“Kalau mau ngomong, ngomong aja. Nggak usah kayak orang aneh gitu,” ucapnya tegas.
Danisa menelan ludah, kemudian memberanikan diri bertanya, “Kamu nggak pergi ke kantor?”
“Nggak,” jawab Ethan singkat.
“Kok nggak? Kan aku udah janji nggak akan kabur,” balas Danisa, menahan nada kesalnya sendiri.
Ethan hanya terdiam, seolah enggan membahasnya lebih jauh. Jawaban singkat tanpa penjelasan itu membuat Danisa merasa frustrasi. Dalam hati, ia mulai mencari cara agar bisa keluar sejenak dari apartemen itu. Bukan untuk kabur dan melarikan diri dari Ethan, tapi hanya untuk menghirup udara segar demi menyegarkan pikiran yang terasa penuh. Terlalu lama berada di apartemen itu membuatnya merasa sesak dan terkekang.
“Bukannya kamu banyak kerjaan?” tanyanya lagi, mencoba membujuk Ethan untuk pergi ke kantor.
Ethan mengangguk tanpa menatapnya.
“Ke kantor aja,” ucap Danisa, berharap Ethan akan mengerti maksudnya.
Namun Ethan hanya menatapnya sekilas, sebelum berkata dengan nada datar, “Sudahlah, aku nggak akan ke kantor untuk sementara waktu. Jangan bahas ini lagi.”
Danisa menatapnya dengan penuh ketegasan. “Aku tahu kamu banyak kerjaan sekarang. Kamu bisa pergi kerja, kok. Aku kan udah janji nggak akan kabur.”
“Aku bosnya,” Ethan menjawab dengan nada tegas dan dingin. “Terserah aku mau masuk kantor atau kerja dari rumah. Kalau kamu masih banyak bicara, aku akan sita hapemu lagi.”
Mendengar ancaman itu, Danisa hanya bisa menyerah. Ia merasa kalah total dalam percakapan ini, tak punya alasan lagi untuk membujuk Ethan. Kesal, ia menggigit sendoknya, menahan perasaan campur aduk dalam hatinya. Ethan kembali fokus pada sarapannya, sementara Danisa duduk di sana dengan rasa frustrasi yang menumpuk, tak tahu apa lagi yang bisa ia lakukan di situasi seperti ini.
Danisa benar-benar ingin keluar dari apartemen mewah itu.