Sudah seminggu lamanya Danisa terkurung di apartemen Ethan. Meski kini ia bisa menggunakan ponselnya untuk tetap bekerja sebagai penulis lepas dan berkomunikasi dengan Mei dan ibunya, rasa bosan dan jenuh mulai menyesak di dadanya. Setiap hari, ia mencoba membujuk Ethan agar mengajaknya keluar, sekadar menyusuri kota atau menikmati angin malam di atas motor seperti dulu. Namun, Ethan selalu mengabaikannya, tak tergoda sedikit pun oleh rengekan Danisa.
Malam itu, Danisa kembali mencoba meyakinkannya. "Apa aku ingkar janji? Kamu minta aku nggak pergi, aku nggak pergi. Kamu minta aku di sini, aku di sini. Aku cuma minta jalan-jalan aja, Ethan. Bukan minta pulang."
Ethan menghela napas panjang, tetap menjaga nada tegas. "Aku juga nggak ingkar janji, kan? Selama seminggu ini, ada aku minta kamu layani aku urusan ranjang? Nggak, kan? Aku bahkan nggak bahas soal itu. Aku beneran nggak nyentuh kamu lagi. Jadi bukan cuma kamu yang nggak ingkar janji."
“Tapi aku bosan, Ethan. Aku stres. Rasanya aku mau gila,” ucap Danisa dengan suara parau, tatapan kosongnya tertuju pada kaca besar yang menghadap ke jalanan kota malam. Wajahnya mencerminkan rasa lelah dan kerinduan untuk merasakan kebebasan di luar sana.
Ethan terdiam, tatapannya mengikuti arah pandang Danisa yang menyedihkan di depan kaca itu. Dalam hatinya, Ethan tahu bahwa ini bukan hanya sulit bagi Danisa. Dia pun merasa tertekan, harus mengorbankan waktu dan pekerjaannya hanya untuk memastikan Danisa tetap di sini bersamanya. Banyak proyek yang berantakan, dan ia sendiri merasa terperangkap dalam situasi itu.
Akhirnya, dengan setengah menghela napas, ia menyerah. "Baiklah, kita keluar. Tapi kita pakai mobil."
Danisa tak mampu menyembunyikan senyum kecilnya. Walaupun ia berharap bisa naik motor seperti dulu, ia tak mau lagi mendebat keputusan Ethan. Mereka pun masuk ke mobil, namun Ethan mengunci pintu dan memastikan semuanya aman. Ia menatap Danisa dengan penuh ketegasan.
“Jangan ada pikiran untuk kabur. Kalau ada niat sedikit pun, kita langsung pulang. Aku juga akan menyita hape kamu lagi," ucapnya mengingatkan.
Danisa mengangguk patuh, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Mobil melaju pelan menyusuri kota, dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia bisa merasakan udara luar yang sejuk, melihat gemerlap lampu kota, dan merasakan sedikit kebebasan, walau terbatas di balik kaca mobil yang terkunci rapat.
Akhirnya, malam itu Danisa merasakan udara bebas yang sudah seminggu penuh hanya menjadi angan. Duduk di kursi penumpang mobil Ethan yang begitu mewah, ia menyaksikan dunia luar seolah melihat pemandangan dari dimensi yang lain. Lampu-lampu kota bersinar gemerlap, memantul di kaca-kaca gedung yang tinggi dan berjajar rapat. Jalanan malam yang sepi membuat cahaya kota itu terasa tenang, seakan mengajak siapa pun yang melihatnya untuk larut dalam pesona dan keheningan yang damai.
Angin malam menyusup halus dari celah kecil jendela, membawa aroma khas kota yang selama ini ia rindukan. Mobil Ethan melaju perlahan, memberi Danisa cukup waktu untuk menikmati setiap sudut kota yang tampak asing tapi akrab di hati. Di balik kaca jendela, ia melihat kerlip cahaya dari kedai-kedai kecil, deretan pohon di sepanjang jalan, dan sesekali, siluet pasangan yang berjalan bergandengan di trotoar, mengingatkannya pada kebersamaan sederhana yang dulu sering ia alami bersama Ethan.
Di dalam mobil ini, ia menyadari betapa segalanya terasa berbeda. Mobil ini begitu sempurna, mengkilap, dan nyaman, jauh dari kesederhanaan yang dulu mereka miliki. Namun, dalam keindahan malam dan kilauan lampu kota, ada keheningan di hatinya yang tak dapat terucap. Di sampingnya, Ethan tetap memegang kendali dengan tenang, tak banyak berkata-kata. Danisa memandangi wajah pria itu sekilas, menyadari betapa jaraknya kini terasa begitu dekat namun juga begitu jauh.
Dalam hening itu, ia bersyukur bisa berada di luar dan menikmati kembali setiap desah kehidupan di luar sana, seolah mengisi kembali jiwanya yang hampir kering. Ia menutup mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam membawa rasa kebebasan yang sudah lama ia rindukan. Bagi Danisa, malam itu bukan sekadar perjalanan di kota, itu adalah momen untuk menemukan kembali rasa nyaman di dunia yang begitu asing namun penuh keindahan.
Danisa duduk dengan senyum lebar yang tak kunjung pudar, merasa seperti anak kecil yang akhirnya dibebaskan dari kamar. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini, segera merengek pada Ethan, meminta berbagai camilan, es krim, popcorn, dan segala kudapan ringan yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dalam bayang-bayang. Melihatnya begitu ceria, Ethan hanya bisa menggeleng pelan, lalu berkata, “Tapi dengan syarat, kamu nggak ke mana-mana. Tetap di dekatku.”
Danisa mengangguk bersemangat, matanya berbinar seperti anak kecil yang diberi permen. Tanpa banyak pikir panjang, Ethan menuruti semua keinginannya. Mereka berhenti di beberapa toko, membeli semua yang diminta Danisa. Wajahnya yang berseri-seri, dengan es krim di satu tangan dan popcorn di tangan lain, adalah pemandangan yang jarang Ethan lihat akhir-akhir ini. Meski terpaksa harus berkeliling malam demi memenuhi semua permintaannya, Ethan merasa ada kehangatan tersendiri dalam suasana itu.
Danisa menikmati setiap gigitannya, sementara mereka terus menyusuri jalanan kota yang tenang. Kebahagiaan sederhana itu membuat Ethan, untuk pertama kalinya dalam seminggu, tersenyum tipis. Di balik sikap cueknya, ia merasakan kepuasan saat melihat Danisa begitu bahagia, bahkan itu hanya karena camilan-camilan kecil yang ia minta.
Ethan menatap Danisa yang tersenyum bahagia, tak henti-hentinya menikmati es krim dan popcorn di tangannya. Dalam diam, ia merasakan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia merenung dalam hati, seolah berbicara pada dirinya sendiri dan juga pada Danisa yang tak mendengarnya.
“Minta apa pun ke aku, Danisa. Jangankan camilan yang nggak berharga ini, rumah, mobil, apa pun itu, akan aku kasih. Aku cuma mau kamu, tapi aku juga mau lihat kamu bahagia. Aku mau kita hidup bahagia.”
Perasaan itu menyesakkan dadanya, memaksa Ethan untuk menatap lebih lama pada sosok Danisa yang sedang tertawa kecil dengan pipi yang sedikit belepotan es krim. Ia ingin meraih kebahagiaan yang sederhana dan tulus seperti ini, sesuatu yang tak bisa ia beli dengan kekayaan yang dimilikinya.
Bagi Ethan, melihat Danisa tersenyum dengan tulus sudah lebih dari cukup. Di dalam hati, ia berjanji untuk melakukan apa pun demi menjaga senyuman itu tetap ada, apa pun harganya.
Di dalam mobil yang kini kembali hening, Danisa merasa sebuah ketegangan menggantung di udara. Senyumnya yang tadi merekah kini memudar, berganti dengan kecemasan. Ia takut, jika kembali terkurung di dalam apartemen itu, kebosanan dan kekangannya akan kembali datang. Namun, dia tidak berani merengek lagi, merasa bahwa semua yang Ethan lakukan tadi sudah lebih dari cukup.
Tiba-tiba, Ethan memutuskan untuk membuka mulut, memecah keheningan yang mulai terasa menekan. "Kamu mau apa lagi?"
Danisa mengendikkan bahunya, mencoba terdengar santai, meski hatinya bergejolak. "Aku cuma nggak mau dikurung. Pasti enak bisa keluar sesuka hati."
Ethan terdiam, dan itu membuat Danisa merasa sedikit kesal. Dia sudah mencoba berbicara dengan baik, tapi Ethan malah memilih diam, seolah tak peduli. Hatinya mulai mendidih, dan pikirannya mulai mencari cara untuk memecahkan kebuntuan ini. Hingga akhirnya, sebuah ide gila melintas di benaknya.
"Ethan," ucapnya dengan nada yang tak bisa disembunyikan dari rasa gelisah, "Ayo kita menikah."
Ethan melirik sekilas, tidak mengerti. "Apa? Menikah?"
Danisa melanjutkan dengan penuh keyakinan, meskipun jantungnya berdegup kencang. "Kamu nggak dapat restu dari orangtua kamu, kan? Aku nggak masalah. Tapi kamu tetap harus temuin ibu aku. Nggak usah ada pesta, kita menikah di KUA aja. Asal udah sah. Itu udah cukup. Bukannya itu yang selama ini kita cari? Kamu mau aku jadi milik kamu dan aku mau kita menikah? Sembunyiin aja pernikahan kita dari orang tua kamu dan semua orang. Aku nggak masalah. Asal ... bebasin aku, aku nggak mau dikurung lagi. Bukannya status pernikahan kita udah lebih dari cukup sebagai jaminan? Aku nggak akan pergi, dan aku dapet status pernikahan yang selama ini aku mau."
Danisa menatap Ethan, mencoba membaca ekspresinya, berharap dia bisa melihat bahwa ini bukan sekadar lelucon. Hatinya berdebar hebat, seolah melompat keluar dari dadanya. Ini adalah langkah besar, mungkin lebih besar dari yang pernah ia bayangkan, tapi dalam pikirannya, inilah cara untuk mengakhiri rasa terjebak dan akhirnya mendapatkan kebebasan yang diinginkannya.
Sekali lagi Danisa bicara. "Ayo menikah, Ethan. Jadiin aku istri simpanan kamu, itu lebih baik. Dari pada seperti sekarang, status kita bukan siapa-siapa. Kamu cuma nggak mau orang tua kamu tahu, kan? Itu saja, kan? Atau ada wanita lain yang kamu jaga hatinya?"