bab 26

1689 Kata
Ethan duduk di sofa, tubuhnya bersandar dengan kedua tangan bertumpu di lutut. Wajahnya serius, sorot matanya tajam memandang Danisa yang duduk di seberangnya. Di sisi lain, Danisa menyandarkan tubuhnya dengan sikap santai yang pura-pura. Namun, jemarinya yang terus meremas ujung bajunya mengungkapkan kegelisahan yang berusaha ia sembunyikan. Kedua orang itu duduk dan terlibat pembicaraan serius setelah kembali ke apartemen lagi. “Kamu benar-benar serius soal tadi? Kamu yakin dengan keinginan kamu? Menikah tanpa restu orang tuaku, kamu siap jadi istri simpananku?” Ethan akhirnya membuka pembicaraan, suaranya rendah tapi tegas. Danisa menoleh, mencoba terlihat yakin meskipun jantungnya berdegup kencang. “Ya, aku serius. Aku nggak masalah kalau orangtuamu nggak setuju. Aku cuma mau kita menikah. Tapi, kamu tetap harus temuin ibu aku di kampung. Aku nggak masalah jadi istri simpanan, kalau itu soal restu orang tuamu. Asal nggak ada wanita lain yang hadir di hidup kita." Alis Ethan terangkat sedikit. “Terus, bagaimana dengan ibu kamu? Apa yang kamu mau aku lakuin? Menceritakan soal orang tuaku dengan jujur? Apa ibu kamu akan terima kalau kita nggak dapet restu? Sebelum aku setuju untuk menikah, aku harus yakin dengan jalan yang akan kita lalui." "Bilang saja kalau kamu ... nggak punya orang tua," ucap Danisa pelan dan ragu. "Apa? Kamu mau aku bilang apa ke ibu kamu? Kalau aku nggak punya orang tua? Danisa, aku nggak bisa. Aku nggak mau bohong ke ibu kamu.” Danisa menghela napas panjang, menatap lurus ke lantai sebelum menjawab, “Kalau kamu bilang yang sebenarnya, tentang orangtua kamu yang nggak setuju, ibu aku pasti nggak suka dengar itu. Kamu mau bilang apa lagi? Apa ibu aku akan terima kalau tahu orangtuamu nggak merestui? Ibu mana yang mau anaknya digituin?" Ethan mengusap wajahnya dengan tangan, mencoba meredam rasa frustrasi. “Aku nggak mau mulai hubungan kita dengan kebohongan, Danisa. Kalau kita mau menikah, semuanya harus jujur, apapun risikonya.” Mendengar itu, Danisa hanya terdiam. Wajahnya kesal, tapi ia tahu Ethan tidak sepenuhnya salah. Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajah dan berkata dengan nada yang lebih tegas, “Kalau begitu, kita jujur saja ke ibu aku. Kita bilang yang sebenarnya. Nggak usah ada pesta, nggak usah ada yang tahu. Kita menikah di KUA saja. Itu cukup, Ethan. Aku cuma ingin kita sah. Bukannya itu yang kamu cari juga? Bukannya itu jaminan yang kamu mau?” Ethan memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, “Danisa, bagaimana kalau ibu kamu juga nggak setuju? Kalau ibu kamu menolak, apa yang akan kita lakuin?” Mendengar itu, Danisa kehilangan kata-kata. Tubuhnya terhempas ke sofa, ia memalingkan wajah, kedua tangannya menutupi wajahnya dengan frustasi. “Aku nggak tahu, Ethan. Aku benar-benar nggak tahu. Aku cuma ingin ini selesai. Aku ingin kita menikah, aku ingin bebas, aku ingin hidup tanpa perasaan terkekang seperti ini.” Suaranya bergetar, mencerminkan emosi yang selama ini ia tahan. Ethan memandangnya dengan perasaan bersalah yang sulit ia ungkapkan. Ia tahu betapa berat bagi Danisa menjalani semua ini, tapi ia juga tidak ingin mengambil langkah yang salah. “Aku tahu kamu merasa terjebak,” katanya pelan, suaranya penuh pengertian. “Tapi aku nggak mau kita memulai semuanya dengan cara yang salah. Aku mau kita menikah dengan restu ibu kamu. Kalau kita jujur, kita mungkin akan dapat restu. Tapi, kalau pun tidak, kita akan hadapi itu bersama.” Danisa menatap Ethan dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak menangis, tapi ada kepedihan yang terpancar jelas. “Kalau begitu, kamu harus temui ibu aku,” katanya dengan suara pelan tapi pasti. “Katakan yang sebenarnya. Kalau dia nggak setuju, aku nggak tahu lagi harus bagaimana, Ethan. Coba kamu pikirkan cara lain, cara bagaimana biar ibu aku setuju dengan kondisi kita yang seperti ini." Ethan mengangguk, berusaha memberikan ketenangan di tengah badai keraguan Danisa. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Danisa dengan lembut. “Aku akan temui ibu kamu. Kita akan jujur. Dan apapun yang terjadi, aku nggak akan ke mana-mana. Kita hadapi semuanya bersama.” Danisa mengangguk kecil, senyumnya samar tapi penuh makna. Ia tahu ini tidak akan mudah, tapi ia merasa sedikit lebih kuat dengan Ethan di sisinya. “Terima kasih,” bisiknya lirih. Dalam hatinya, ia berharap semua ini akan berakhir dengan kebahagiaan yang layak mereka dapatkan. Ethan diam cukup lama, dia memikirkan cara agar mendapatkan restu ibu Danisa. Sampai akhirnya ide yang tak kalah gila muncul. "Kamu bilang kamu mau solusi, kan?" Ethan membuka pembicaraan lagi setelah keduanya diam cukup lama, nadanya tenang namun penuh intensitas. Danisa mengangguk kecil, meski ada keraguan di matanya. "Iya, kamu ada solusi?" Ethan tampak percaya diri. "Kalau begitu, dengarkan aku baik-baik. Ada satu cara yang bisa kita coba." "Apa itu, Ethan? Cepat katakan!" "Kita bilang saja kalau kamu sedang hamil. Kalau kamu hamil, mungkin ibu kamu akan lebih mudah merestui kita." Pernyataan itu membuat Danisa terdiam sejenak, tapi tak lama kemudian, ia menyeringai. “Hamil? Jadi, aku harus bohong? Kita bilang aku hamil, padahal nggak? Apa bedanya sama saranku yang tadi? Kamu bilang nggak mau memulai hubungan kita dengan kebohongan. Terus sekarang apa?" Ethan menghela napas, duduk di sisi sofa yang lain. "Bukan begitu maksudku. Kita nggak harus bohong. Kita bisa ... mencoba." Danisa langsung bangkit dari duduknya, matanya melebar. "Mencoba? Maksud kamu ... kamu mau bilang kita bisa mencoba ... kamu mau nyentuh aku lagi?" Ethan mengangkat bahu dengan santai, tapi matanya serius. "Kalau itu satu-satunya cara agar ibu kamu setuju, aku nggak keberatan mencoba menghamilimu." Sontak, Danisa meraih bantal sofa dan melemparkannya ke wajah Ethan. "Kamu gila! Sudah cukup kita melakukan itu! Jangan pernah berpikir kamu bisa nyentuh aku lagi sebelum kita menikah!" Ethan tertawa kecil, meski bantal tadi berhasil mengenai bahunya. "Aku cuma kasih saran, Danisa. Kamu sendiri yang bilang mau solusi, kan?" Danisa menatap Ethan tajam. "Saranmu nggak masuk akal. Bagaimana kalau kita sudah lama ‘kumpul kebo’ dan aku tetap nggak hamil? Bagaimana kalau aku ... mandul?" Kata-kata itu membuat ruangan menjadi hening sejenak. Ethan menatap Danisa dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan, seperti sedang memikirkan jawaban yang tepat. "Kalau kamu khawatir soal itu," katanya akhirnya, "kita bisa periksa ke dokter. Biar kita tahu masalahnya di mana." Danisa langsung menggeleng, ekspresi keras kepala muncul di wajahnya. "Aku nggak mau. Aku nggak mau tahu." Ethan mengerutkan kening, bingung dengan penolakannya. "Kenapa? Kalau memang ada sesuatu, kita bisa cari solusinya." Danisa memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai muncul di matanya. "Aku cuma nggak mau, Ethan. Itu saja. Aku nggak perlu tahu." Ethan memandangi Danisa, mencoba membaca pikirannya. Dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita itu, tapi dia memilih untuk tidak memaksanya. "Baiklah," katanya pelan. "Kalau itu yang kamu mau. Tapi kamu harus tahu, aku nggak masalah kalau kamu mandul, Danisa. Aku mencintaimu apa adanya." Danisa tersentuh, dia memandang Ethan dengan penuh kasih sayang. "Terima kasih." "Nggak perlu, aku cuma mau kamu. Cuma kamu. Kalau kita punya anak, itu bonus." Danisa mengangguk kecil, lalu duduk kembali di sofa. Dalam hatinya, ia masih dihantui oleh ketakutan yang tak ia ungkapkan. Ia takut, sangat takut, jika kemungkinan terburuk itu benar-benar terjadi. Pasalnya mantan suaminya sudah memiliki anak dari istri barunya, sementara dulu dia tak pernah hamil. Tapi untuk sekarang, ia hanya ingin menikmati momen tanpa memikirkan hal-hal yang lebih menyakitkan. Ethan dan Danisa kembali diselimuti keheningan, keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Keheningan di antara mereka terpecah oleh suara Ethan yang tiba-tiba terdengar tegas dan penuh keberanian. “Kalau begitu, kita akan menikah. Sudah sepakat kan dengan jalan yang akan kita lalui nanti? Kita tetap harus bersama, Danisa. Kamu jangan pergi lagi dari hidupku, apa pun yang terjadi nanti.” Danisa tertegun, matanya membulat, ia senang dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia menatap Ethan yang kini duduk di hadapannya, dengan tatapan yang tak lagi ragu. “Kamu serius kita akan menikah? Kamu siap menemui ibuku?” tanya Danisa dengan suara pelan. Ethan mengangguk, keyakinan terpancar dari setiap gerakannya. “Iya. Kamu benar. Menemui ibu kamu dan meminta restunya adalah hal yang harus aku lakukan. Aku nggak bisa terus begini, mengurung kamu di sini seperti tahanan. Itu nggak adil buat kamu. Lagipula ...” Ethan berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “menikah adalah solusi terbaik. Kita mendapatkan kemauan kita. Aku bisa memiliki kamu dan kamu juga nggak merasa aku permainkan, karena kita diikat oleh hubungan sakral, yaitu pernikahan." Danisa menundukkan kepala, mencoba memahami kata-kata Ethan. Ia tak menyangka pria itu akhirnya mau mengambil langkah besar ini. “Tapi bagaimana dengan orang tua kamu? Kamu yakin bisa menghadapi mereka?” tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran. “Kamu sepakat untuk menjalani pernikahan rahasia kita, bukan? Aku akan melakukan yang terbaik, asal kamu juga membantu merahasiakan hubungan kita dari siapa pun," jawab Ethan tegas. “Mereka nggak setuju atau apa pun itu, aku akan tetap menikahi kamu. Kamu nggak minta apa-apa dari aku, Danisa. Kamu cuma minta restu ibu kamu. Dan aku bersyukur untuk itu. Aku tahu kamu nggak seperti wanita lain yang hanya melihat aku dari apa yang aku punya.” Danisa tersenyum kecil, hatinya sedikit lega mendengar pengakuan Ethan. Tapi keraguan masih ada. “Kalau ibu tetap aku nggak setuju, bagaimana?” Ethan menatap Danisa dalam-dalam, seperti mencoba meyakinkannya melalui pandangan matanya. “Aku akan berusaha. Aku akan bicara baik-baik. Aku akan meyakinkan beliau kalau aku benar-benar mencintai kamu dan aku mau menjadikan kamu istri aku, Danisa. Apa pun yang terjadi, aku nggak akan menyerah.” Danisa menghela napas panjang. Kata-kata Ethan terdengar tulus, dan untuk pertama kalinya ia merasa bahwa pria ini benar-benar siap untuk memperjuangkannya. “Kamu yakin nggak akan mundur?” “Aku nggak pernah seyakin ini,” jawab Ethan, dengan senyuman tipis di wajahnya. “Dan aku janji, aku akan berikan yang terbaik buat kita.” Mata Danisa berkaca-kaca, tapi ia cepat-cepat menyeka air matanya sebelum Ethan sempat menyadarinya. “Baiklah. Kalau kamu sudah siap, aku juga akan siap. Aku percaya kamu, Ethan.” Ethan mendekat, meraih tangan Danisa, menggenggamnya dengan lembut. “Terima kasih, Danisa. Terima kasih sudah mau percaya sama aku.” Di dalam hati, Ethan merasa lega. Ia akhirnya menemukan jalan keluar dari kebuntuan yang selama ini mereka alami. Dan bagi Danisa, meskipun jalan ini tak mudah, ia merasa lebih tenang karena tahu Ethan akan ada di sisinya, memperjuangkan masa depan mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN