Hari berganti dan pagi itu dimulai dengan keheningan yang khas. Danisa berdiri di depan kaca besar apartemen Ethan, mengenakan piyama santai setelah mandi. Rambutnya masih sedikit basah, terurai lembut di punggungnya. Di tangannya, secangkir kopi hangat mengepul, mengirimkan aroma yang menenangkan ke udara. Dari kejauhan, terdengar gemericik air dari kamar mandi, Ethan sedang menyelesaikan ritual paginya - mandi.
Danisa menatap keluar jendela, memandang hamparan kota yang mulai menggeliat di bawah sinar matahari pagi. Meski pemandangan itu memukau, pikirannya sibuk dengan kekhawatiran yang tak kunjung reda. Kopi di tangannya bahkan belum disentuh, hanya menjadi pelengkap keheningan pagi itu.
Tak lama, suara pintu kamar mandi terbuka. Ethan keluar, mengenakan kaus putih polos dan celana kasual. Rambutnya masih basah, namun ia terlihat segar. Matanya langsung tertuju pada sosok Danisa yang berdiri di depan kaca, tampak tenggelam dalam pikirannya.
“Kamu lagi mikirin apa?” tanya Ethan, mendekat sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Danisa menoleh sekilas, lalu kembali memandang keluar jendela. “Aku cuma masih takut, Ethan. Kalau nanti ibu nggak setuju sama hubungan kita.” Suaranya terdengar pelan, hampir seperti bisikan.
Ethan meletakkan handuknya di sofa dan berdiri di samping Danisa. Ia menatap wajah wanita itu di pantulan kaca, mencoba membaca setiap emosi yang tersembunyi di baliknya. Tanpa peringatan, ia meraih cangkir kopi dari tangan Danisa, menyesapnya sedikit.
“Hei! Itu kopi aku,” protes Danisa, menoleh dengan tatapan kesal.
Ethan hanya tersenyum kecil, lalu mengembalikan cangkir itu ke tangannya. “Kopi kamu terlalu pahit, cocok buat mood kamu pagi ini,” ujarnya santai, mencoba mencairkan suasana.
Danisa mendengus pelan, tapi ia tak bisa menahan senyumnya.
Ethan menatapnya serius setelah itu. “Aku ngerti kekhawatiran kamu. Tapi kita nggak bisa terlalu lama mikirin hal yang belum tentu terjadi. Kalau memang ibu kamu nggak setuju, kita hadapi. Aku janji nggak akan mundur.”
Danisa mengangguk pelan, meski hatinya masih gelisah. Ia tahu Ethan benar, tapi rasa takut itu tetap membayangi.
Ethan melanjutkan, “Ngomong-ngomong, sebelum kita nikah, ada satu hal lagi yang harus kita pikirin.”
“Apa?” tanya Danisa, menoleh dengan penasaran.
“Kita buat perjanjian dulu,” jawab Ethan, nada suaranya tenang tapi serius.
Danisa mengerutkan kening. “Perjanjian? Maksud kamu?”
Ethan menatapnya, memastikan Danisa benar-benar mendengar setiap kata yang akan ia ucapkan. “Perjanjian pra nikah. Kita bikin aturan supaya nggak ada yang merasa dirugikan nanti. Kalau ada apa-apa, semuanya jelas sejak awal. Aku nggak mau kita masuk ke pernikahan dengan risiko yang nggak perlu.”
Danisa terdiam. Ia mengerti maksud Ethan, tapi ide itu terasa asing baginya. “Kamu pikir kita butuh perjanjian kayak gitu?” tanyanya ragu.
Ethan mengangguk. “Bukan karena aku nggak percaya sama kamu. Ini cuma cara buat melindungi kita berdua. Aku juga nggak mau kamu merasa dirugikan kalau sesuatu yang nggak kita inginkan terjadi di masa depan.”
Danisa menghela napas, menatap kopi di tangannya. “Aku nggak tahu, Ethan. Aku nggak pernah mikirin soal ini sebelumnya. Aku cuma mau menikah. Aku ini janda, apa jadinya kalau orang-orang tahu aku tinggal bareng sama cowok tanpa ikatan resmi."
Ethan menyentuh bahunya, membuat Danisa menoleh. “Kita nggak harus buru-buru. Aku cuma mau kita diskusiin ini dengan kepala dingin. Karena kalau kita serius mau melangkah ke jenjang pernikahan, semuanya harus jelas dari awal.”
Danisa terdiam, membiarkan kata-kata Ethan mengendap di pikirannya. Pria itu memang selalu berpikir jauh ke depan, dan meski ide perjanjian pra nikah terasa aneh baginya, ia tahu Ethan melakukannya demi kebaikan mereka berdua.
“Baiklah,” ujar Danisa akhirnya. “Kalau itu yang bikin kamu nyaman, aku nggak keberatan. Tapi kamu harus janji satu hal.”
“Apa?” tanya Ethan.
“Jangan pernah pakai perjanjian itu buat nyakitin aku,” jawab Danisa dengan mata yang menatapnya penuh keyakinan.
Ethan tersenyum kecil, lalu mengangguk. “Aku janji.”
Danisa membalas senyuman itu, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia merasa sedikit lebih ringan. Mereka masih punya jalan panjang di depan, tapi ia percaya, bersama Ethan, semua akan baik-baik saja.
Suasana apartemen Ethan yang mewah terasa lebih hangat dengan diskusi kecil yang sesekali memanas di antara mereka.
“Aku ada satu permintaan,” kata Danisa, meletakkan cangkir kopinya di meja.
Ethan menatapnya serius. “Apa itu?”
“Setelah kita menikah, aku mau tinggal di apartemenku yang lama.”
Ethan menatap Danisa dengan alis terangkat. “Apa?” tanyanya, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Danisa mengangguk. “Iya, Ethan. Aku mau kita tinggal di apartemenku. Kamu bisa tetap tinggal di rumah orang tuamu kalau mau. Kalau kamu mau menginap di apartemenku sesekali, aku nggak keberatan. Kita nggak akan tinggal serumah selamanya, bukan? Pernikahan kita rahasia, kamu pasti nggak mau orang tua kamu curiga."
Ethan bersandar ke sofa, menatap Danisa seperti wanita itu baru saja mengajukan ide paling konyol yang pernah ia dengar. “Danisa, apartemen itu terlalu kecil, sempit, dan nggak layak untuk kita berdua. Apalagi setelah kita menikah. Kamu pikir apartemen itu bisa dibandingkan dengan yang ini?”
“Itu bukan masalah buat aku,” jawab Danisa tegas. “Aku nyaman di sana. Aku nggak mau tinggal di sini terus, dicap menumpang. Walaupun kita sudah menikah, aku tetap ingin tempat yang benar-benar milikku.”
Ethan menghela napas panjang, jelas kesal. “Aku nggak mau kamu tinggal di tempat yang nggak layak, Danisa. Aku nggak akan izinkan kamu kembali ke apartemen itu.”
Danisa menatap Ethan dengan tatapan penuh tekad. “Itu keputusan aku, Ethan. Aku nggak butuh apartemen mewah ini. Aku cuma butuh tempat di mana aku merasa nyaman, dan apartemenku adalah tempat itu.”
Ethan mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. “Dengar, aku nggak menentang kamu karena ingin mendominasi. Tapi aku nggak mau istri aku tinggal di tempat seperti itu. Kamu pikir aku nggak mikirin kenyamanan kamu? Atau keamanan kamu? Apartemen itu nggak memenuhi standar apa pun.”
“Sejak aku pindah ke sini, aku sudah tinggal di sana, dan nggak pernah ada masalah, Ethan!” balas Danisa.
Keduanya terdiam beberapa saat, suasana terasa tegang. Danisa menyandarkan tubuhnya ke sofa, merasa lelah mempertahankan argumennya.
“Kalau begitu, aku akan balik nama apartemen ini atas nama kamu,” kata Ethan tiba-tiba.
Danisa menoleh dengan kaget. “Apa?”
“Anggap ini hadiah pernikahan. Apartemen ini akan jadi milik kamu. Jadi nggak akan ada lagi pembicaraan soal ‘menumpang’. Kamu nggak perlu merasa seperti tamu di sini,” lanjut Ethan.
Danisa mengerutkan kening, mencoba mencerna ucapan Ethan. “Jadi, maksud kamu, kamu mau serahkan apartemen ini ke aku?”
Ethan mengangguk mantap. “Iya. Aku nggak peduli soal nama pemiliknya. Yang aku peduliin itu kamu nantinya tinggal di tempat yang layak. Aku mau istri aku punya hidup yang nyaman. Jadi, kamu nggak perlu kembali ke apartemen lama itu.”
Danisa terdiam, hatinya berkecamuk. Ia ingin mempertahankan keputusannya, tapi ucapan Ethan membuatnya bimbang. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia mengangguk pelan. Bukan dia mata duitan, tapi dia akan menerima hadiah dari Ethan itu sebagai jaminan. Bagaimana pun, memiliki uang lebih baik dari pada jadi miskin.
“Baiklah,” katanya, nyaris seperti bisikan. “Tapi aku nggak mau kamu jadikan ini alasan untuk mengontrol aku, Ethan.”
Ethan tersenyum kecil. “Aku nggak akan melakukan itu. Aku cuma mau kita punya tempat tinggal yang nyaman untuk memulai hidup baru. Itu saja.”
Danisa akhirnya menghela napas lega. Meski ia masih merasa berat meninggalkan apartemen lamanya, keputusan Ethan membuatnya sedikit lebih tenang. Setidaknya, ia tahu pria itu benar-benar ingin yang terbaik untuknya. Apalagi apartemen mewah itu sangat mahal, bisa dilihat Ethan rela memberi apa saja untuk Danisa demi bisa hidup bersama.
Baru saja merasa sedikit lega, Danisa kembali menegang karena Ethan memintanya berhenti bekerja.
Danisa duduk bersandar di sofa, melipat tangan di depan d**a dengan ekspresi tak kalah serius dari Ethan yang berdiri di depannya. Perdebatan kecil yang baru saja selesai membuat suasana di antara mereka sedikit tegang.
“Aku nggak mau berhenti bekerja, Ethan,” ujar Danisa sekali lagi, menegaskan pendiriannya. “Aku nggak butuh uang bulanan atau fasilitas mewah darimu. Aku cuma mau melakukan apa yang aku suka. Kalau kamu kasih aku apartemen ini demi bisa ngurung aku lagi, lebih baik aku nggak. Aku nggak mau dikurung, aku nggak mau dipenjara lagi, Ethan!"
Ethan memijat pelipisnya, terlihat kesal namun berusaha menahan diri. “Aku nggak bilang kamu nggak boleh punya keinginan, Danisa. Aku cuma nggak mau kamu capek atau terlalu sibuk sampai lupa kalau kamu punya tanggung jawab sebagai istriku nanti.”
Danisa mengangkat alis, matanya menatap Ethan dengan tajam. “Tanggung jawab? Memangnya apa tanggung jawab seorang istri menurut kamu?”
Pertanyaan itu membuat Ethan terdiam. Ia menatap Danisa, seperti mencari jawaban yang tepat di kepalanya.
“Jadi, apa yang harus dilakuin seorang istri?” tanya Danisa lagi, kali ini dengan nada lebih serius.
Ethan melirik ke arah jendela, lalu kembali menatap Danisa. “Ya ... menjaga rumah, menemani suami, memastikan semuanya berjalan baik. Hal-hal seperti itu.”
Danisa mendengus kecil. “Itu bukan jawaban, Ethan. Kamu nggak benar-benar tahu, kan? Pakai sok bilang tanggung jawab istri, padahal kamu cuma mau mengurung aku di sini."
Ethan tampak bingung, seakan pertanyaan itu adalah ujian yang sulit. “Aku cuma nggak mau kamu lupa kalau kamu juga punya peran di rumah tangga kita. Aku nggak bilang kamu harus jadi ibu rumah tangga penuh waktu, tapi ...,” ucapnya menggantung.
“Tapi apa?” potong Danisa.
“Tapi aku cuma mau semuanya seimbang,” jawab Ethan akhirnya. “Aku nggak mau kita terlalu sibuk dengan kehidupan masing-masing sampai lupa kalau kita ini pasangan suami istri. Apalagi status pernikahan kita itu disembunyikan. Kita nggak akan bebas seperti pasangan suami istri pada umumnya."
Danisa terdiam, mencoba mencerna kata-kata Ethan. Ia menghela napas, lalu berkata, “Ethan, aku ngerti maksud kamu. Tapi tolong jangan buat aku merasa seperti burung di dalam sangkar. Aku bukan tipe orang yang bisa diam di rumah tanpa melakukan apa-apa. Kalau kamu mau aku bahagia, biarkan aku tetap bekerja. Itu juga caraku menjaga kewarasan. Kamu tahu, aku meminta pernikahan rahasia ini karena memang aku nggak suka kamu kurung begini."
Ethan mengangguk pelan, meski masih tampak tidak sepenuhnya puas. “Baiklah. Aku akan izinin kamu kerja lagi. Tapi aku punya satu syarat.”
“Apa?”
“Kamu nggak boleh kerja sampai kelelahan. Dan jangan lupa kasih aku kabar setiap hari. Aku mau kita tetap punya waktu bersama, nggak peduli seberapa sibuk kita nanti.”
Danisa tersenyum kecil, akhirnya merasa sedikit lega. “Deal. Tapi kamu juga harus ingat, Ethan, pernikahan itu bukan cuma soal aku menyesuaikan diri dengan kamu. Kita berdua harus belajar kompromi.”
Ethan tertawa kecil, lalu duduk di sebelah Danisa. “Kompromi itu gampang. Asal kamu nggak terlalu keras kepala, aku juga nggak akan memaksa kehendakku. Bagaimana pun aku itu cinta kamu, aku juga mau kamu hidup bahagia sebagai istriku.”
Danisa mendengus, tapi kali ini dengan nada lebih ringan. “Jadi, kita sepakat?”
Ethan mengangguk. “Sepakat. Tapi serius, aku nggak mau lihat kamu terlalu sibuk sampai lupa kalau aku ini suami kamu nanti.”
Danisa menatap Ethan, matanya sedikit melembut. Ia tahu, di balik sikap protektif pria itu, ada ketulusan yang sulit ia abaikan. “Aku nggak akan lupa, Ethan. Tapi aku juga nggak mau kamu lupa kalau aku bukan milikmu sepenuhnya. Aku punya hidupku sendiri, dan aku mau kita saling menghormati itu.”
Ethan menghela napas panjang, tapi kali ini dengan senyuman kecil di wajahnya. “Kamu ini benar-benar keras kepala, ya?”
Danisa tersenyum lebar. “Kamu yang jatuh cinta sama aku, Ethan. Jadi, terima saja.”
“Apa lagi?” tanya Ethan dengan nada lembut, meskipun sorot matanya serius. “Kamu mau minta apa lagi, Danisa?”
Danisa mengalihkan pandangannya sejenak, seakan memikirkan sesuatu yang berat. Kemudian, dengan suara pelan namun tegas, ia menjawab, “Satu hal yang paling penting, Ethan. Aku nggak mau ada wanita lain di rumah tangga kita. Pernikahan kita mungkin akan dirahasiakan, tapi aku tetap istri kamu nantinya. Kalau aku tahu kamu main api di belakangku, aku nggak akan ragu untuk menggugat cerai.”
Kata-katanya tajam seperti belati, namun tidak ada emosi berlebih di baliknya—hanya ketegasan. Ethan terdiam sejenak, menyimak setiap kata yang baru saja diucapkan Danisa. Ia tahu ini bukan sekadar ancaman kosong, melainkan prinsip yang tidak bisa diganggu gugat.