bab 28

1530 Kata
Di tempat lain, saat Ethan dan Danisa bersiap untuk kunjungan mereka ke kampung halaman Danisa, ada orang tua Ethan yang mempertanyakan keberadaan anak bungsu mereka. Pagi itu, sinar matahari mengintip malu-malu di balik tirai ruang makan keluarga Raharjo. Budi duduk di kursi khasnya, berhadapan dengan istrinya, Irina, yang tengah menuang teh ke dalam cangkir porselen. Suasana di meja makan terasa hening, hanya terdengar denting sendok beradu dengan piring. Namun, di benak Budi, ada satu pertanyaan yang tak bisa ia tahan lagi. “Ethan belum pulang, Ma?” tanya Budi, membuka percakapan dengan nada pelan namun penuh rasa penasaran. Irina menghentikan sejenak gerakannya, menghela napas panjang sebelum menjawab lirih, “Belum. Sudah lebih dari seminggu, Pa. Dia nggak pernah pulang, bahkan nggak pernah ke kantor. Mama sudah cari tahu, dia kerja, tapi nggak ke kantor." Raut wajah Budi berubah muram. “Anak itu mau jadi apa kalau begini terus? Dia tinggal di mana? Di hotel? Atau dia punya rumah yang dia beli tanpa memberi tahu kita?" Irina mengangkat bahunya dengan sikap frustrasi. “Mama juga nggak tahu, Pa. Ethan terlalu keras kepala. Kalau kita desak, dia malah makin menjauh.” Budi memijat pelipisnya, berusaha meredakan kegelisahannya. Ia menyendok nasi goreng yang telah disiapkan Irina, tapi pikirannya jelas tidak sepenuhnya pada sarapan. “Lalu, bagaimana kabar Aulia?” tanyanya tiba-tiba, mencoba mengalihkan topik. Irina menghela napas lagi, kali ini lebih pelan. “Seperti biasa. Dia sibuk melukis dan menjelajahi toko barang antik. Setiap hari, itu saja yang dia lakukan.” Budi menatap istrinya, alisnya sedikit terangkat. “Menurut Mama, bagaimana kalau papa membuka pameran lukisan untuk Aulia? Mungkin itu bisa membangkitkan semangatnya.” Irina langsung menggeleng dengan tegas. “Tidak. Aulia nggak mau dikenal banyak orang. Dia juga nggak percaya diri dengan lukisannya. Kalau Papa memaksanya, dia pasti akan merasa tertekan.” “Tapi, Ma, karyanya bagus. Orang-orang harus tahu tentang itu.” “Biar saja dia melakukan apa yang dia suka, Pa,” potong Irina lembut namun tegas. “Yang terpenting adalah kebahagiaan Aulia. Selama dia merasa tenang dengan hidupnya, mama nggak mau mengganggu.” Budi mengangguk pelan, menandakan ia mengerti maksud istrinya. Meskipun ia adalah kepala keluarga, ia selalu mengikuti keinginan Irina, terutama dalam hal anak-anak mereka. Ia tahu, di balik kelembutan wanita itu, ada keteguhan yang sulit untuk dilawan. Irina melanjutkan dengan suara lebih lembut, “Kalau soal Ethan, mama tahu Papa khawatir. Tapi untuk saat ini, biarkan dia mencari jalannya sendiri. Anak itu berbeda dari Aulia, dia masih mencari arah. Tapi kalau soal Aulia, mama cuma ingin dia bahagia. Kebahagiaan Ethan pun bisa kita urus nanti. Ethan sehat, nggak seperti Aulia yang sakit setelah kehilangan calon suaminya." Budi menghela napas panjang, menatap piringnya dengan pandangan kosong. “Sepertinya kita memang harus menyerahkan semuanya pada waktu. Papa hanya berharap, kedua anak kita ini menemukan kebahagiaan mereka.” Irina tersenyum tipis, meski di matanya tampak ada kegundahan yang tersisa. “Pa, kita hanya bisa mendukung mereka dari belakang. Sisanya, biarkan mereka yang menentukan.” Budi mengangguk lagi. Ia tahu, dalam segala hal, istrinya selalu memprioritaskan kebahagiaan anak-anak mereka. Dan, seperti biasa, ia pun akan mendukung keputusan Irina sepenuh hati. *** Langit pagi yang cerah mengiringi perjalanan panjang Ethan dan Danisa. Mobil Ethan meluncur mulus di jalan raya yang dipenuhi kendaraan lain yang bergegas menuju tujuan masing-masing. Di dalam kabin mobil yang nyaman itu, suasana terasa sunyi. Hanya alunan musik lembut dari radio yang sesekali memecah keheningan. Danisa duduk diam di kursi penumpang, pandangannya tertuju ke luar jendela. Meski wajahnya terlihat tenang, jelas ada kegelisahan yang mengintai di matanya. Sesekali, dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ethan melirik ke arahnya dari balik kemudi, menyadari perubahan sikap wanita itu sejak mereka meninggalkan apartemen. Setelah beberapa saat membiarkan Danisa terlarut dalam pikirannya, Ethan akhirnya membuka suara. “Kamu kelihatan tegang. Ada apa?” tanyanya lembut, sambil menggenggam tangan Danisa yang terkulai di pangkuannya. Danisa menoleh, matanya bertemu dengan tatapan Ethan yang penuh perhatian. Dia mencoba tersenyum, meski senyuman itu tidak sepenuhnya tulus. “Aku masih aja ngerasa takut. Takut ibu nggak setuju. Takut dia kecewa karena aku nggak cerita apa-apa selama ini.” Ethan mengusap punggung tangan Danisa dengan ibu jarinya, memberikan rasa hangat yang menenangkan. “Kamu nggak perlu khawatir. Kita hadapi ini sama-sama. Aku janji, aku akan bicara baik-baik dengan ibumu dan meyakinkan ibumu. Lagipula, kamu tahu kan, aku nggak akan menyerah.” Danisa mengangguk pelan, tapi rasa cemasnya belum sepenuhnya hilang. “Iya, aku tahu. Tapi tetap saja, Ethan, Ibu itu satu-satunya orang yang aku punya. Aku nggak mau dia kecewa atau ngerasa aku nyembunyiin sesuatu darinya.” Ethan tersenyum tipis, lalu menepuk tangan Danisa sebelum kembali fokus ke jalan. “Danisa, dengar. Aku nggak minta ibu kamu setuju setelah satu pertemuan. Aku cuma ingin ibu kamu tahu niatku baik. Kita ambil langkah kecil dulu, oke? Satu langkah pada satu waktu.” Wanita itu menghela napas panjang, lalu bersandar ke kursi. “Kamu yakin bisa menghadapi Ibu? Dia itu keras kepala, Ethan.” “Dia ibu kamu. Dan kamu itu segalanya buat dia. Kalau aku bisa membuktikan kalau aku serius dan niatku baik, aku yakin dia akan luluh. Tapi, aku harus minta satu hal dari kamu.” Danisa menoleh, alisnya terangkat sedikit. “Apa?” “Percaya sama aku. Jangan terlalu memikirkan kemungkinan buruk. Aku di sini, dan aku nggak akan ninggalin kamu,” jawab Ethan dengan suara mantap. Mata Danisa sedikit berkaca-kaca mendengar ucapan itu, tapi dia berusaha menyembunyikannya. Dengan perlahan, dia menggenggam tangan Ethan yang masih memegang setir, memberi balasan atas keyakinan yang pria itu berikan. “Baiklah,” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan. Ethan tersenyum puas. Ia tahu, perjalanan ini bukan hanya tentang bertemu dengan ibu Danisa, tetapi juga membuktikan bahwa ia siap menghadapi segala rintangan demi wanita yang ia cintai. Di balik kecemasannya, ia juga merasa gugup, tapi ia yakin, bersama Danisa, semua akan baik-baik saja. Langit malam menyelimuti desa kecil tempat tinggal Mirna, ibu Danisa. Hawa dingin merasuk ke dalam tubuh, namun suasana di dalam rumah sederhana itu hangat dengan kehadiran dua tamu istimewa. Setelah perjalanan panjang, Ethan dan Danisa akhirnya tiba. Pintu rumah yang sederhana itu terbuka lebar, memperlihatkan wajah Mirna yang sumringah menyambut putri bungsunya yang sudah lama tidak pulang. “Danisa!” Mirna langsung memeluk erat putrinya, seperti seorang ibu yang telah lama merindukan anaknya. Ia mengusap lembut punggung Danisa, nyaris menangis karena haru. Namun, pelukan itu tiba-tiba terhenti saat matanya menangkap sosok pria tampan yang berdiri di belakang Danisa. Mirna langsung tertegun. “Ini siapa, Nak?” tanyanya sambil melirik Ethan dengan penuh rasa ingin tahu, tapi juga sedikit canggung. Danisa tersenyum kecil, melirik Ethan sebelum menjawab, “Bu, kenalkan, ini Ethan. Dia ... pacar aku.” Mata Mirna membesar. Kata-kata itu langsung membuatnya terdiam sesaat, seakan berusaha mencerna informasi yang baru saja didengar. Ia kemudian mengamati Ethan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Penampilannya yang rapi, wajahnya tampan, dan aura kelas atas membuat Mirna merasa segan. “Oh, oh, pacar,” gumamnya, suaranya terdengar ragu. “Iya, Bu. Aku ke sini sama Ethan karena ada hal penting yang mau kami bicarakan,” tambah Danisa, mencoba menenangkan ibunya yang jelas-jelas terkejut. Sementara dia sendiri gugup dan sedikit gemetar. Mirna akhirnya mengangguk pelan. Ia mengajak mereka masuk dan mempersilakan duduk di ruang tamu kecilnya. Meski rumahnya sederhana, Mirna berusaha menunjukkan keramahan yang tulus. Setelah beberapa menit, ia kembali dari dapur membawa dua gelas teh hangat yang disuguhkan dengan hati-hati kepada Ethan dan Danisa. “Silakan diminum, Nak Ethan,” katanya lembut, namun canggung. “Terima kasih, Bu,” jawab Ethan sopan sambil tersenyum. Setelah semuanya duduk, suasana sedikit hening. Mirna akhirnya membuka percakapan. “Jadi, kalian mau bicara soal apa? Tumben Danisa pulang bawa tamu, sampai sejauh ini.” Danisa melirik Ethan, memberi isyarat agar pria itu mulai bicara. Ethan mengangguk kecil dan meletakkan gelas teh yang dipegangnya. Wajahnya berubah serius, namun tetap tenang. “Ibu Mirna,” katanya dengan suara mantap. “Nama saya Ethan. Saya … pacarnya Danisa, seperti yang tadi dia bilang. Saya ke sini untuk memperkenalkan diri, dan sekaligus meminta izin dari Ibu.” “Izin?” Mirna mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kunjungan biasa. “Iya, Bu,” lanjut Ethan. “Saya ingin mempersunting Danisa. Saya mencintainya dan ingin dia menjadi istri saya.” Kata-kata itu membuat Mirna langsung membeku. Ia tidak langsung merespons. Matanya bergantian memandang Ethan dan Danisa, seakan mencari kepastian dari apa yang baru saja didengarnya. Danisa merasa gugup. “Bu, Ethan benar. Kami sudah cukup lama pacaran, dan kami ingin menikah. Itu sebabnya kami ke sini. Kami butuh restu dari Ibu.” Namun, Mirna tetap terdiam. Ekspresinya sulit ditebak, dan hening yang tiba-tiba menyelimuti ruangan itu terasa mencekam. Ethan berusaha tetap tenang, tapi dalam hatinya ada kekhawatiran. “Bu ...” Danisa akhirnya memecah keheningan. “Tolong beri jawaban, Bu. Apa Ibu akan merestui kami? Atau ....” Tapi Mirna tetap tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memainkan ujung kain yang ia pegang, seolah sedang berpikir keras. Suasana jadi semakin berat, dan Danisa mulai takut akan kemungkinan terburuk. Ya, apalagi kalau bukan ibunya yang tidak merestui hubungan mereka. Padahal, Danisa bahkan belum mengatakan kalau hubungannya dengan Ethan tak mendapatkan restu orang tua Ethan. Lalu, bagaimana nasib hubungan mereka?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN