bab 29

1736 Kata
Mirna memandangi gelas teh yang mulai mendingin di atas meja. Di depannya, Danisa dan Ethan duduk berdampingan, menunggu jawaban atas permintaan mereka. Namun, dalam hati, Mirna dilanda badai kebingungan. Anak bungsunya yang dulu ia lihat menangis tersedu-sedu saat pernikahannya dengan Agus berakhir kini datang membawa seorang pria tampan. Terlalu tampan, pikir Mirna, untuk seorang wanita sederhana seperti Danisa. Ethan tidak hanya tampan, tetapi juga terlihat begitu berkelas. Pakaian mahal, wangi parfum yang memancarkan aura eksklusivitas, dan sikap tenangnya menunjukkan bahwa pria ini berasal dari dunia yang sangat berbeda dengan mereka. “Benarkah dia mencintai Danisa? Benarkah Danisa juga cinta sama dia?” pikir Mirna. Ia menggigit bibirnya, mengenang masa-masa kelam setelah perceraian Danisa. Tangis pilu putrinya saat itu masih terngiang jelas. Bagaimana jika Ethan hanya pelarian Danisa untuk melupakan luka lamanya? Bagaimana jika cinta ini hanyalah emosi sesaat? Mirna menatap Danisa, yang terlihat penuh harap dan juga sedikit cemas. Ia juga melihat Ethan, yang duduk tenang, menunggu dengan penuh keyakinan. Tapi keyakinan pria itu justru membuat Mirna semakin ragu. Bagaimana jika pria ini tidak sungguh-sungguh? Bagaimana jika Danisa diperlakukan dengan tidak adil di keluarganya nanti? Semua begitu menakutkan. “Bu, kenapa diam aja?” suara Danisa memecah keheningan yang Mirna ciptakan sedari tadi. Mirna tersentak dari lamunannya. Ia menatap putrinya, lalu Ethan. Tangannya sedikit gemetar saat ia akhirnya membuka suara. “Kalau itu memang keputusan kamu, Danisa, restu ibu pasti ada. Kalau kamu mau menikah lagi, dengan laki-laki pilihan kamu, mana mungkin ibu nggak merestui kalian?" Wajah Danisa dan Ethan langsung cerah mendengar kata-kata itu. “Terima kasih, Bu,” ujar Danisa, matanya mulai berkaca-kaca. Ethan mengangguk sopan. Namun, senyuman mereka pudar saat Mirna bertanya dengan nada serius, “Tapi, Ethan, kenapa kamu tidak membawa orang tua kamu ke sini? Atau mereka akan menyusul nanti?” Danisa langsung terdiam. Ethan menghela napas panjang sebelum menjawab dengan jujur, “Bu, orang tua saya tidak merestui hubungan kami.” Mata Mirna melebar. “Apa?” Danisa mencoba menjelaskan, “Bu, aku tahu ini sulit. Tapi aku udah siap jadi istri Ethan, apa pun yang terjadi.” Mirna menggeleng keras. “Danisa, pikirkan lagi baik-baik! Pernikahan tanpa restu orang tua bukan hal yang mudah. Kalau dulu rumah tangga kamu sama Agus hancur karena orang ketiga, apa kamu pikir pernikahan ini akan bertahan kalau dimulai tanpa restu?” Air mata mulai menetes di pipi Danisa. Ia menggenggam erat tangannya sendiri, menahan sesak di dadanya. “Bu, aku sayang Ethan. Aku nggak mau pacaran terlalu lama sama dia, aku mau menikah." Ethan, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. “Bu Mirna, saya tahu situasinya sulit. Tapi saya berjanji, meskipun kami memulai pernikahan ini tanpa restu orang tua saya, saya akan terus meyakinkan mereka. Saya tidak akan berhenti sampai mereka menerima Danisa. Cinta saya tidak main-main, Bu.” Mirna memandang Ethan tajam. “Kamu tahu, kan, kalau Danisa ini janda?” Ethan mengangguk tanpa ragu. “Tentu saja saya tahu, Bu. Dan saya juga tahu masa lalunya. Saya menerima dia apa adanya, karena saya mencintainya. Bagi saya, status, usia, atau apa pun itu tidak penting. Yang penting, dia juga mencintai saya dan bersedia menjadi istri saya.” Mirna terdiam sejenak. Jawaban Ethan terdengar tulus, tapi hatinya masih ragu. “Danisa, hubungi kakakmu. Biar Ethan menginap di sana malam ini. Tidak mungkin dia menginap di rumah kita.” Wanita itu ingin pacar anaknya tidur di desa sebelah bersama anak sulungnya. “Ibu …,” Danisa mencoba protes, tapi Mirna memotongnya. “Kita lanjutkan pembicaraan ini besok. Ibu butuh waktu untuk berpikir. Melepas kamu untuk menikah lagi, apalagi dengan situasi seperti ini, bukan hal yang mudah.” Danisa menunduk. Ia tahu ibunya tidak sedang mencoba melarang, tetapi Mirna hanya ingin memastikan bahwa keputusannya tidak akan membuatnya menderita lagi. Ethan menyentuh tangan Danisa, memberinya dukungan dalam diam. Mirna bangkit dari kursinya. “Kalian istirahat dulu. Besok kita bicara lagi.” Suasana hening kembali mengisi rumah kecil itu, menyisakan pikiran-pikiran yang menggantung di benak masing-masing. Setelah Mirna meninggalkan ruang tamu, Ethan dan Danisa saling bertatapan. Raut wajah Danisa menunjukkan kekhawatirannya yang semakin dalam. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu berbisik dengan nada cemas, “Jadi … apa yang harus kita lakuin sekarang, Ethan?” Ethan memandangnya dengan senyum lembut, mencoba menenangkan perasaan gelisah wanita yang dicintainya. “Lakuin apa yang ibumu minta dulu,” jawabnya dengan nada tenang. “Biarin aku menginap di rumah kakakmu malam ini. Kita lanjutkan pembicaraan dengan ibumu besok setelah pikirannya lebih tenang.” Danisa menghela napas panjang, menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. “Tapi, Ethan, bagaimana kalau Ibu tetap nggak mau merestui kita? Aku nggak mau kita menikah tanpa restu ibuku. Tapi, aku juga nggak mau balik ke situasi di mana aku jadi tawanan kamu." Ethan menggenggam tangan Danisa, menguatkan. “Dengar,” katanya dengan suara rendah namun penuh keyakinan, “sejak awal kita sudah tahu kalau jalan yang akan kita tempuh ini memang nggak mudah, kan? Tapi aku di sini, Danisa. Aku nggak akan menyerah begitu saja. Selama kamu juga mau berjuang bersamaku, kita pasti bisa melewati ini.” Danisa menatap Ethan, dan meskipun hatinya masih penuh keraguan, ada sedikit rasa tenang yang meresap dari kata-katanya. Ia mengangguk pelan, lalu berbisik, “Kamu yakin, Ethan?” “Yakin,” jawab Ethan sambil tersenyum, menggenggam tangannya lebih erat. “Aku tidak akan membiarkan apa pun memisahkan kita. Apalagi hanya karena keraguan yang bisa kita atasi bersama.” Meski masih diliputi kegelisahan, Danisa membalas genggaman tangan Ethan. Ia tahu, dalam perjalanan ini, pria itu adalah tempatnya bersandar. Kini, yang harus ia lakukan hanyalah menjalani langkah demi langkah yang ada, meskipun penuh dengan tantangan. Ethan menghela napas panjang, lalu menatap Danisa dengan lembut. “Kalau begitu, hubungi saja kakakmu,” ujarnya dengan nada tenang. Namun, Danisa menggeleng perlahan. Wajahnya berubah tegang, dan ia menggigit bibir bawahnya. “Aku … aku nggak mau. Aku takut dia juga nggak setuju kita menikah,” katanya lirih. Ethan mengerutkan kening, lalu menghela napas dan berkata, “Kalau kamu nggak mau menghubungi kakakmu, aku nggak akan memaksa kamu. Aku akan mencari hotel atau penginapan saja untuk malam ini.” Danisa langsung menatap Ethan dengan ekspresi khawatir. “Tapi di sini penginapan atau hotel lumayan jauh dari rumah, Ethan. Kamu pasti capek habis perjalanan jauh.” Ethan tersenyum kecil, berusaha menenangkan Danisa. “Nggak masalah, Danisa. Aku nggak mau merepotkan ibumu lebih dari ini. Lagipula, aku laki-laki. Ini sudah jadi tanggung jawabku.” Meski dihantui rasa cemas, Danisa tahu Ethan benar-benar tulus. Namun, kekhawatiran tetap menghantuinya. “Kamu yakin? Itu berarti kamu harus nyetir lagi sendirian, dan nanti balik lagi pagi-pagi.” Ethan mengangguk, menepuk tangan Danisa dengan lembut. “Aku sudah terbiasa menghadapi hal yang lebih melelahkan. Asal kamu tenang dan ibumu nggak merasa terganggu, aku nggak keberatan.” Danisa memandang Ethan, hatinya bercampur antara lega dan bersalah. Ia tahu Ethan hanya ingin membuat segalanya lebih mudah untuk mereka berdua, tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa takut bahwa masalah ini belum selesai. “Kalau begitu …,” Danisa akhirnya berkata pelan, “hati-hati di jalan, Ethan.” Ethan tersenyum menenangkan, lalu mengangguk sebelum berdiri. “Besok pagi aku akan ke sini lagi, dan kita akan menghadapi ini bersama, kamu jangan mikir yang enggak-enggak. Aku nggak akan mundur, Danisa. Aku akan lakuin apa pun demi bisa menikahi kamu." Ethan lalu pergi, setelah Danisa mengangguk paham. Danisa hanya bisa menatap punggung Ethan yang bergerak menuju pintu. Sebuah rasa hangat bercampur dengan kekhawatiran memenuhi dadanya. Ia tahu Ethan adalah pria yang luar biasa, tetapi apakah cinta mereka cukup kuat untuk menghadapi semua rintangan itu? Danisa lalu membuka pintu kamar ibunya perlahan, mendapati Mirna duduk di tepi ranjang dengan wajah murung. Wanita itu memandangi lantai tanpa ekspresi, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Danisa berdiri sejenak di ambang pintu, ragu untuk mendekat. Ia tahu, keputusan soal pernikahannya bukan hal yang mudah untuk ibunya. Awalnya, ia berniat merengek minta restu, tapi melihat ibunya seperti itu, niatnya berubah. Ia mendekat perlahan dan berkata dengan suara pelan, “Bu, aku lapar.” Mirna tersentak mendengar suara anaknya. Ia menoleh cepat, lalu tampak terkejut. “Astaga, Danisa. Maaf ya, Nak. Ibu malah lupa. Kamu habis perjalanan jauh pasti capek banget, kamu juga pasti lapar, tapi tadi cuma dikasih teh saja,” katanya sambil buru-buru berdiri. Danisa tersenyum kecil, berusaha menenangkan ibunya. “Nggak apa-apa, Bu. Aku cuma lapar, nggak perlu minta maaf juga." Mirna tak menggubris ucapan anaknya dan langsung berjalan ke dapur. Ia mulai memanaskan lauk yang ada di lemari. Sambil sibuk, ia bertanya tanpa menoleh, “Ethan mana? Ajak dia makan juga." Danisa mengikuti ibunya ke dapur, bersandar di pintu dengan raut wajah datar. “Ethan cari hotel, Bu. Kan, tadi Ibu bilang dia nggak bisa nginep di sini.” Mirna menghentikan tangannya sejenak, lalu menoleh ke arah Danisa dengan tatapan penuh penyesalan. “Kasihan sekali dia. Sudah jauh-jauh datang, masa disuruh pergi nyari hotel? Udah malam gini, Nak. Gimana kalau dia kelaparan? Kenapa nggak kamu suruh dia ke rumah kakakmu?" Danisa sengaja memasang wajah memelas. “Aku juga nggak tahu dia dapet hotel di mana, Bu. Ethan kan nyetir sendiri, pasti capek banget. Aku tadi nggak tega sih, tapi katanya dia juga nggak mau ngerepotin orang lain, makanya nyari hotel." Mirna menghela napas panjang. Wajahnya tampak semakin sedih, dan sesal jelas terpancar di sana. “Ibu kok malah gini ya? Harusnya tadi Ibu nggak ngomong kayak gitu ke Ethan. Suruh dia balik, Nak. Kita makan sama-sama. Nggak enak kalau dia nginep di hotel sendirian gitu. Dia pasti lelah, bagaimana kalau terjadi sesuatu di jalan? Hotelnya jauh." Danisa menatap ibunya dengan mata berbinar. “Ibu yakin? Ethan boleh balik ke sini? Ethan boleh makan di sini? Ethan boleh menginap di sini?" “Iya, suruh dia kembali sekarang,” ujar Mirna sambil melanjutkan memanaskan makanan. “Ibu mau masak nasi sedikit lagi biar cukup buat kita bertiga. Dia juga boleh menginap di sini, walau keputusan ibu belum pasti. Nggak baik memperlakukan tamu jauh seperti ini." Tanpa pikir panjang, Danisa langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon Ethan. Ia tak bisa menyembunyikan senyum kecil di wajahnya. Sementara itu, Mirna tetap sibuk di dapur, meski raut wajahnya menunjukkan bahwa ia masih memikirkan banyak hal. Namun, setidaknya malam itu ia merasa sedikit lega. Baginya, mengurus tamu, apalagi calon suami anaknya, itu adalah hal yang tak boleh dilewatkan, meski hatinya masih dipenuhi keraguan. Sambil memasak, Mirna masih bertanya-tanya dalam benaknya, tentang apa yang harus dia lakukan. Sebagai ibu, dia mau anaknya bahagia, dia tak mau anaknya gagal lagi dalam berumah tangga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN