bab 30

1596 Kata
Malam itu, suasana di ruang makan rumah Mirna terasa hangat meski masih ada sedikit kecanggungan. Danisa dan Ethan duduk di meja makan bersama Mirna, menikmati makanan sederhana yang telah disiapkan oleh ibu Danisa itu. Meski perjalanan panjang membuat mereka lelah, mereka tetap makan dengan lahap. Mirna tak banyak bicara, tapi sesekali memperhatikan pasangan di depannya. Danisa terlihat bahagia, senyum tak pernah lepas dari wajahnya setelah sang ibu meminta Ethan kembali dan makan malam bersama. Sementara itu, Ethan sesekali menatap Danisa dengan penuh kasih sayang, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Pemandangan itu membuat hati Mirna terasa campur aduk. Ia senang melihat Danisa kembali tersenyum seperti itu, tapi bayangan masa lalu Danisa yang menangis saat rumah tangganya berantakan membuat Mirna tak bisa sepenuhnya lega. Setelah makan malam selesai, Danisa segera membawa piring-piring kotor ke dapur. Ethan tak tinggal diam, ia membantu membersihkan meja. Sesekali keduanya bertukar candaan kecil, membuat suasana rumah yang biasanya sepi menjadi terasa lebih hidup. Mirna yang sedang menyimpan sisa lauk di lemari pendingin mencuri pandang ke arah mereka. Pasangan itu tampak serasi. Mirna melihat betapa tulusnya Ethan memperlakukan Danisa, dan bagaimana Danisa terlihat nyaman di dekat pria itu. Dalam hati, Mirna bertanya-tanya, "Apakah aku harus merestui cinta mereka? Tapi bagaimana kalau nanti Danisa tak bahagia dan malah berakhir dengan perceraian lagi? Apakah aku sanggup melihat anakku terluka seperti dulu?" Setelah selesai dengan semua pekerjaan dapur, Mirna menghela napas panjang dan memutuskan untuk tidak menunda pembicaraan lagi. Ia meminta Danisa dan Ethan duduk kembali di meja makan yang kini sudah kosong. “Ada yang ingin ibu bicarakan,” kata Mirna dengan nada serius. Danisa dan Ethan saling bertatapan sebelum akhirnya duduk dengan tenang, menunggu Mirna melanjutkan. “Ibu mau minta maaf dulu,” ucap Mirna, menatap Ethan dengan wajah penuh penyesalan. “Tadi ibu mungkin bersikap kurang sopan. Ethan, ibu nggak bermaksud kasar.” Ethan tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Bu. Saya yang seharusnya minta maaf karena datang mendadak seperti ini, tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Apalagi langsung meminta restu seperti ini. Itu pasti membuat Ibu terkejut, saya tahu itu nggak mudah, saya minta maaf.” Mirna mengangguk pelan, matanya bergantian menatap Danisa dan Ethan. “Tapi, Ethan, ibu cuma takut kalau nanti pernikahan ini nggak berjalan lancar. Kamu tahu kan, restu orang tua itu penting. Apalagi kalau orang tuamu sendiri belum merestui kalian. Ibu nggak mau Danisa nanti dipandang sebelah mata, dianggap mengejar materi.” Danisa menunduk, wajahnya murung. Sementara Ethan mengambil napas dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum menjawab. “Saya mengerti, Bu,” kata Ethan dengan nada tegas tapi sopan. “Karena itu, izinkan saya memperkenalkan diri lebih jelas. Nama saya Ethan Raharjo. Saya memang dari keluarga berada, dan saya adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Saat ini, saya menjabat sebagai CEO di perusahaan cabang keluarga kami.” Mirna tampak terkejut mendengar pengakuan itu. Dia memang bisa menebak Ethan adalah orang kaya, tapi dia tidak menyangka Ethan adalah seorang CEO. Walau dia tidak sepenuhnya paham, ibunda Danisa tahu pangkat Ethan adalah pemimpin perusahaan. “Sejujurnya saya tidak pernah membicarakan latar belakang saya ke Danisa di awal hubungan kami,” lanjut Ethan. “Karena saya ingin dia mengenal saya sebagai pribadi, bukan karena status atau materi saya. Danisa baru tahu setelah semuanya terbuka dengan sendirinya, belum lama ini. Kalau Bu Mirna khawatir soal itu, saya ingin meminta maaf. Tapi saya ingin Ibu tahu bahwa perasaan saya ke Danisa tulus, dan saya sangat ingin menikahinya.” Ethan menatap Mirna dengan penuh keyakinan. “Mengenai restu dari orang tua saya, seperti yang sudah saya bilang tadi, saya tidak akan menyerah. Saya akan terus berusaha meyakinkan mereka sampai mereka menerima Danisa. Yang saya harap sekarang hanya restu dari Ibu. Itu saja sudah berarti banyak bagi kami. Karena jujur saja, Danisa mau menikah tanpa restu orang tua saya, tapi dia tidak akan mau menerima pinangan saya tanpa restu Ibu." Mirna terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang diucapkan Ethan. Ia melirik Danisa yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu jelas berusaha keras menahan emosinya. “Ibu ...” Danisa berkata pelan. “Aku tahu Ibu takut aku terluka lagi. Tapi aku benar-benar sayang sama Ethan, dan aku yakin dia juga tulus. Tolong beri kami kesempatan, Bu.” Dalam hati Danisa, dia amat takut jika ibunya tak memberi restu. Selain takut harus berpisah dengan pria yang dicintainya, dia juga takut Ethan akan nekat mengurungnya lagi dan mengancam akan menghamilinya lagi. Membayangkan 2 kemungkinan itu, membuat Danisa merasa takut dan cemas. Mirna menghela napas panjang, mencoba mencari jawaban yang tepat di tengah pergulatan hatinya. Meskipun rasa khawatir masih mengganjal, ia tahu bahwa kebahagiaan Danisa ada di depan matanya. Tapi apakah ia sanggup mengambil risiko itu? Ibunda Danisa itu lalu menatap Ethan dengan tajam tapi lembut. Setelah beberapa saat keheningan, ia bertanya, “Ethan, ibu mau tanya sesuatu. Kamu sudah benar-benar yakin dengan keputusan ini? Apa kamu benar-benar mencintai Danisa? Kamu berani terima resiko di mana kamu akan berada di garis yang bertentangan sama orang tua kamu? Bagaimana pun, mereka adalah orang tua kamu, keluarga terdekat kamu." Ethan mengangguk tanpa ragu. “Iya, Bu. Saya sangat yakin. Saya mencintai Danisa dengan tulus, dan saya ingin menghabiskan sisa hidup saya dengannya. Tidak ada keraguan sedikit pun di hati saya. Saya juga siap dengan segala resikonya." Mirna mengangguk pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke Danisa, menatapnya penuh kasih. “Danisa, bagaimana dengan kamu? Apa kamu yakin dengan ini? Apa kamu benar-benar mencintainya? Kamu mau menikah tanpa restu orang tuanya? Kamu siap dengan resiko kamu akan dimusuhi oleh orang tuanya?" Danisa menatap ibunya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, tapi ia tersenyum. “Iya, Bu. Aku yakin. Aku sayang Ethan. Dia orang yang bikin aku merasa hidup lagi. Ibu tahu bagaimana aku jatuh setelah bercerai dari Mas Agus, dan Ethan lah yang buat aku merasa hidup ini sangat berarti, Bu. Jadi, aku akan terima segala resikonya." Mirna memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan dirinya. Setelah beberapa detik, ia membuka matanya dan berkata dengan suara bergetar, “Kalau kalian berdua sudah yakin, sudah mengambil keputusan dengan bulat, Ibu pun nggak bisa berbuat banyak. Ibu hanya seorang ibu yang ingin anaknya bahagia. Itu saja.” Ia menatap Ethan dengan sorot mata penuh harapan. “Ethan, Ibu nggak peduli kamu siapa, berapa umurmu, atau berapa banyak uang yang kamu punya di rekeningmu. Yang ibu peduli hanya satu, yaitu apakah kamu bisa membuat Danisa bahagia selama sisa umurnya?” Ethan menatap Mirna dengan tegas. “Itu janji saya, Bu. Saya akan melakukan apa pun untuk membahagiakan Danisa. Dia adalah prioritas utama saya.” Mirna tersenyum tipis, meski matanya tampak berkaca-kaca. “Kalau begitu, ibu hanya bisa bersyukur. Tapi ingat, Ethan, tanggung jawab kamu besar. Jangan pernah kecewakan Danisa. Kalau sampai dia terluka lagi, ibu nggak tahu apa ibu bisa memaafkan kamu.” Ethan mengangguk, menerima peringatan itu dengan lapang d**a. Sementara Danisa tersenyum bahagia, ia menggenggam tangan ibunya erat dan berbisik pelan, “Terima kasih, Bu.” Malam itu, meski belum sepenuhnya lega, Mirna akhirnya memutuskan untuk memberikan restunya, berharap keputusan ini akan membawa kebahagiaan untuk anak bungsunya. Mirna kemudian menatap Ethan dan Danisa dengan tatapan penuh tanda tanya. “Jadi, Ethan, Danisa, ibu mau tanya lagi. Kalau kalian memang mau menikah, apa rencana kalian? Mau diadakan di mana? Bagaimana dengan acaranya?” Danisa melirik Ethan, dan pria itu langsung menjawab, “Kami rencananya hanya mau menikah di KUA, Bu. Cukup keluarga inti saja yang hadir. Tanpa pesta, tanpa perayaan.” Danisa mengangguk menguatkan. “Iya, Bu. Sebenernya itu aku yang minta. Aku nggak mau repot-repot. Aku juga nggak minta apa-apa. Yang penting sah secara agama dan hukum. Itu sudah cukup buatku.” Mirna mengerutkan alis, tampak kurang setuju. “Tapi, Nak, walaupun sederhana, masak nggak ada syukuran sama sekali? Minimal ibu mau kita adakan acara kecil-kecilan di rumah ini. Ngundang tetangga dekat dan saudara, nggak banyak, cuma untuk berbagi kebahagiaan dan doa. Ibu nggak bisa kalau semuanya dilangsungkan diam-diam begitu saja. Seperti pernikahan kamu ini nggak ada istimewanya." Ethan tersenyum menenangkan, tapi dia sedikit tersinggung. “Kalau Ibu ingin syukuran kecil, saya nggak keberatan sama sekali. Itu ide yang baik. Kita bisa melakukannya setelah menikah, biar semuanya tetap sederhana tapi bermakna.” Danisa tampak ragu, tapi Ethan menggenggam tangannya di bawah meja. “Nggak apa-apa, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Kita lakukan ini untuk menghormati ibu kamu juga.” Mirna mengangguk lega, meski raut wajahnya masih penuh pikiran. “Baiklah, kalau kalian setuju begitu. Sekarang ibu mau tahu, kapan kalian rencana menikah?” Ethan dan Danisa saling bertatapan sejenak, kemudian menjawab serempak, “Secepatnya. Kalau bisa, besok.” Mirna terkejut, tubuhnya sedikit tersentak, dan ia melotot tak percaya. “Apa? Besok?!” Danisa menunduk dengan ekspresi malu-malu, sementara Ethan tetap tenang dan menjelaskan, “Kami ingin semuanya segera selesai, Bu. Semakin lama kami menunggu, semakin besar kemungkinan ada hambatan lain. Saya dan Danisa sudah sepakat bahwa kami ingin melangkah ke jenjang ini tanpa menunda-nunda lagi. Selain itu, saya juga tidak bisa lama-lama cuti kerja. Ada banyak pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya." Mirna menatap mereka berdua bergantian, lalu menghela napas panjang. “Kalian ini benar-benar bikin jantung ibu mau copot. Tapi ... baiklah. Kalau itu yang kalian mau, ibu akan coba bantu semampu ibu.” Danisa tersenyum lega, meskipun hatinya masih sedikit cemas. Ethan menatap Mirna dengan penuh rasa hormat dan berterima kasih. “Terima kasih, Bu. Saya janji, saya akan menjaga Danisa dengan baik.” Mirna mengangguk perlahan, meski pikirannya masih penuh kekhawatiran tentang keputusan besar yang diambil begitu cepat. Namun, ia memutuskan untuk percaya pada pilihan anaknya kali ini. Rasanya ia sedang bermimpi, dalam satu malam, dia sudah banyak dikejutkan oleh anak bungsunya yang berstatus janda itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN