bc

Vineyard Romance

book_age4+
27
IKUTI
1K
BACA
goodgirl
drama
sweet
genius
female lead
office/work place
small town
feminism
affair
office lady
like
intro-logo
Uraian

Seseorang menyergap Emily. Pandangannya gelap. Tangan hangat itu menutup matanya dari belakang.

"Siapa kamu?" tanya Emily dengan jantung berdegup kencang.

"Kau tak perlu tahu siapa aku. Aku hanya ingin mencium bibir merah cherrymu dan memberi kehangatan seperti biasa," bisik lelaki dengan suara berat itu.

Tak lama kemudian kecupan demi kecupan mendarat di tengkuk Emily. Gadis itu sudah tahu siapa lelaki misterius yang mencumbuinya. Segera ia berbalik dan membalas ciuman dengan mesra.

Semula lelaki itu sudah mengikutinya dari balik pepohonan yang ada di kebun anggur, lalu mereka melakukan sebuah hubungan rahasia. Sama rahasianya dengan skandal-skandal yang terjadi di kebun anggur dan perusahaan wine milik Logan Company.

Tapi tunggu dulu, selain skandal yang memalukan itu, kebun anggur ini juga menyimpan rahasia tentang kerja keras dan perjuangan menuju kesuksesan. Kau mau tahu rahasia apa lagi yang ada di kebun anggur ini? Ikuti saja kisahnya!

chap-preview
Pratinjau gratis
Jatuh Cinta
Gisborne, 1990 Seseorang menyergap Emily. Pandangannya gelap. Tangan hangat itu menutup matanya dari belakang. "Siapa kamu?" tanya Emily dengan jantung berdegup kencang. "Kau tak perlu tahu siapa aku. Aku hanya ingin mencium bibir merah cherrymu dan memberi kehangatan seperti biasa," bisik lelaki dengan suara berat itu. Tak lama kemudian kecupan demi kecupan mendarat di tengkuk Emily. Gadis itu sudah tahu siapa lelaki misterius yang mencumbui dan menutup matanya dari belakang. Segera ia berbalik dan membalas ciuman dengan mesra. Di balik lambaian pepohonan di Hutan Rahasia, dua anak manusia itu memadu kasih. Ini percintaan rahasia, tak seorang pun boleh tahu. Tapi .... *** Setengah jam yang lalu ... Nyonya Clare memperhatikan putrinya yang terus-terusan mematut diri di cermin. "Ayo cepatlah, Emily! Tak perlu terlalu cantik untuk mengantar roti ini kepada ayahmu. Memang kamu berdandan untuk siapa? Jangan bilang kamu lagi naksir salah satu buruh di perkebunan anggur ya," tukas wanita paruh baya bermata biru itu. Emily tersenyum dan menyudahi kegiatannya mematut diri. "Tapi setiap wanita perlu cantik kan, Mom," jawab gadis itu pada ibunya dengan centil. Dia memang sangat cantik di usianya yang ke delapan belas. Ia memiliki mata indah bak telaga, yang mungkin bisa menenggelamkan hati pria yang menatap sorotnya. Rambutnya ikal coklat sebahu. Emily memiliki kulit bersih bak pualam. Bibirnya merah ranum seperti buah cherry. "Sudah, segera bawa roti ini untuk ayahmu!" Perintah Nyonya Clare. Emily mengambil kotak berbungkus kain itu dan membawa keluar rumah, sebelumnya ia mencium pipi ibunya terlebih dulu. Nyonya Clare geleng-geleng kepala sambil menatap kepergian putrinya. Ia tak menyangka anak kesayangannya itu telah tumbuh begitu cepat jadi dewasa. Dulu ia hanyalah Emily, si gadis kecil lusuh yang berlarian t*******g kaki. Sekarang ia telah tumbuh jadi gadis dewasa cantik jelita. Namun, secantik apapun, jika kamu miskin kehidupan tak berpihak padamu, begitu pikir Nyonya Clare. Ia ingin Emily bisa menikah dan hidup bahagia dengan suaminya kelak. Syukur-syukur jika ia menikah dengan orang kaya yang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, tapi pria kaya mana yang ada di desa ini? Yang ada hanyalah para pria buruh di kebun anggur milik Tuan Benigno. Ya, hanya dia satu-satunya orang kaya di sini. Namun, Nyonya Clare sama sekali tak berharap menjalin hubungan kekeluargaan dengan lelaki sombong itu. *** Emily menapakkan kakinya memasuki kebun anggur. Kilau embun di rerumputan membuat jalan setapak yang dipijakinya sedikit licin, tapi Emily telah terbiasa dengan semua itu. Dulu ia justru lincah berlari di antara rerumputan basah yang ada di kebun anggur ini. Itu adalah masa kecil indah yang ia lewati bersama Peter, anak Tuan Benigno. Langit di atas tampak kebiruan dengan awan sirus yang lembut. Ini adalah musim panas yang indah dengan suhu udara tak terlalu menyengat. Musim dengan kondisi ini sangat cocok untuk pertumbuhan anggur. Sauvignon blanc, pinot noir, dan chardonnay, semua varietas anggur itu ada di kebun Tuan Benigno. Tapi sauvignon blanc tampak lebih banyak dan subur dari yang lainnya. Para buruh pemetik anggur sibuk memanen anggur-anggur yang menggantung subur. Beberapa keranjang berisi penuh anggur merah dan hijau berjajar-jajar di bawah pepohonan itu. "Hai Emily cantik!" sapa para buruh lelaki yang ia lewati. "Selamat pagi, Tuan Jack, Tuan William," jawab Emily sopan. "Anda melihat ayahku? Aku membawa bekal untuknya." "Ayahmu ada di deretan sauvignon blanc sebelah sana, Emily. Lihat! Dia kelihatan dari sini," jawab Tuan Jack. "Hai Marcus! Anakmu yang cantik datang!" lelaki itu memanggil ayah Emily. Melihat anaknya datang, lelaki paruh baya berjenggot putih itu menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia mengusap peluh dan menerima bekal yang diberikan Emily. "Aku segera pulang, Ayah," kata Emily setelah memberikan beberapa kerat roti yang ia bawa. "Ya, segeralah pulang dan bantu ibumu di rumah. Jangan mampir kesana kemari seperti waktu kamu kecil dulu, Emily," pesan Tuan Marcus. "Baik, Ayah," jawab Emily. Gadis cantik itu melangkah meninggalkan ayahnya. Ia melewati beberapa lelaki pemetik anggur yang terpesona pada kecantikan sang gadis berbibir merah cherry. Sepasang mata menatap tajam pada Emily dari balik pepohonan anggur, dan si pemilik mata itu diam-diam mengikutinya. *** Cuaca yang cerah, udara yang sejuk, membuat Emily enggan mengikuti pesan orang tuanya untuk segera pulang ke rumah. Ia terus melangkahkan kaki melalui jalan berbatu di pinggir sungai yang tenang. Bunga-bunga lupin ungu bergoyang di tepinya. Di ujung sana bunga-bunga kuning dari pohon kohwai tampak melambai-lambai. Di dekat pohon kohwai itu ada sebuah hutan. Hutan itu tak terlalu menakutkan. Di sana memang tumbuh pohon-pohon besar seperti rimu dan totara, tapi tak ada binatang menakutkan di situ. Bahkan hutan itu jadi tempat favorit Emily kala ingin sendiri. Jarang ada orang yang bisa melihat apa yang ia lakukan di tempat itu, karena tempat itu sangat rahasia. Kaki jenjang Emily melangkah melalui semak yang ditumbuhi bunga-bunga kecil warna putih. Kicau burung-burung hutan menemaninya. Sinar matahari menyusup melalui sela-sela dedaunan. Emily ingin sejenak melepas penatnya di hutan itu. Ia memejamkan mata dan membuka tangan menikmati semilir angin yang berhembus dari sela pepohonan. Tiba-tiba seseorang menyergap dirinya dari belakang. "Siapa kamu?" Emily terkejut. Pandangannya gelap. Orang itu menutup kedua mata Emily. "Kamu tak perlu tahu siapa aku. Aku hanya butuh mengecup bibir merahmu yang seperti cherry, dan memberi kehangatan padamu." Terdengar bisikan di telinga Emily. Tak beberapa lama kecupan demi kecupan mendarat di leher Emily. Gadis itu tersenyum dan membalikkan badan. Ia membalas kecupan pria itu dengan ciuman hangat. Lelaki di depannya memandang wajah Emily penuh cinta. Di bawah lambaian daun pohon totara, keduanya memadu kasih dengan mesra. Bibir mereka bertautan sambil berpelukan erat. "I love you, Sweety. Kamu pemilik bibir terindah yang pernah kutemui," ucap lelaki itu sambil terus mengecup bibir Emily. Emily menyudahi dengan mendorong lembut kepala lelaki di depannya. "Aku juga mencintaimu, Peter. Tapi apa kamu akan benar-benar setia padaku?" ucap gadis itu. "Jangan khawatir, Emily. Aku pasti akan setia padamu. Kamu wanita tercantik yang kukenal. Kita sudah pacaran dari kecil, iya kan?" ucap lelaki tampan berambut pirang itu. "Hahaha, kamu ngawur. Menurutku, kita pacaran baru setahun lalu." Emily tertawa mendengar ucapan kekasihnya. "Ya, tapi kita sudah terbiasa bersama sejak kecil," kata Peter sambil mempererat pelukannya. "Aku pikir itu hanya persahabatan biasa, Peter," jawab Emily sambil menelusuri wajah tampan Sang Kekasih dengan jari lentiknya. "Ya, tapi waktu itu aku sudah naksir kamu, Emily," kata Peter lagi. "Oya? Hahaha." Emily tertawa, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Lalu kenapa tidak bilang kalau kamu naksir aku?" "Aku masih gengsi, takut, dan malu. Tapi ternyata gadis yang kutaksir diam-diam itu tumbuh jadi wanita yang sangat cantik. Aku sudah tak kuat lagi untuk memendam rasa cintaku," jawab Peter dengan tatapan mata yang lembut. "Aku juga mencintaimu, Peter. Hanya saja ...." Emily tak meneruskan kata-katanya. "Hanya saja apa?" desak Peter. "Aku hanyalah Emily, gadis miskin anak buruh di kebun anggurmu. Sedang kamu anak Tuan Benigno yang kaya raya. Mungkinkah kita ...." "Tidak ada yang tidak mungkin, Emily Sayang." Jawab Peter sambil mengecup bibir Emily berulang kali. Emily mendorong lembut kepala kekasihnya untuk menghentikan ciuman yang bertubi-tubi itu. "Tapi aku masih ragu, Peter," katanya. "Ragu untuk apa?" "Apa benar kamu tak akan meninggalkanku?" "Kamu wanita paling cantik yang kukenal Emily. Aku mencintaimu sungguh-sungguh. Rasanya tak mungkin aku meninggalkanmu," jawab Peter sambil kembali mencumbui kekasihnya. "Stop, Peter." Emily menghentikan cumbuan itu dengan menjauhkan wajah Sang Kekasih dari lehernya. "Apakah mungkin kelak kita akan menikah?" "Itu pasti, Sayang," jawab Peter. "Lalu bagaimana kalau Tuan dan Nyonya Benigno tidak menyetujui hubungan kita?" "Pasti mereka akan setuju, Emily." "Kamu yakin? Apa kamu sudah bilang pada orang tuamu tentang hubungan kita?" tanya Emily lagi. "Kamu sendiri bagaimana? Apa sudah bilang pada orang tuamu?" tanya Peter. "Aku belum, Sayang. Aku baru mau bilang kalau orang tuamu sudah setuju dan hubungan kita sudah pasti. Kapan kamu akan membicarakan ini semua pada orang tuamu, Peter?" "Tidak sekarang, Emily. Jangan buru-buru. Kita tunggu saat yang tepat. Biar kudekati dulu orang tuaku pelan-pelan baru aku bicara setelah saatnya tiba," jawab Peter. "Tapi aku takut dipermainkan." "Mana mungkin aku mempermainkanmu Emily. Aku tak hanya mencintaimu, tapi juga menggilaimu. Kamu satu-satunya kekasih yang kucintai, Sayang. Please, percayalah padaku." "Ya, tapi ...." "Apa kamu tak mempercayaiku? Apa jangan-jangan kamu yang tak mencintaiku?" "Aku mencintaimu, Peter." "Kalau kamu mencintaiku, harusnya kamu percaya padaku. Keraguanmu itu membuatku tak enak hati, padahal selama ini aku memperjuangkanmu," gerutu Peter. "Aku hanya butuh kepastian, Sayang." "Semua itu pasti, Emily sayangku." Lelaki itu memeluk erat tubuh ramping kekasihnya dan mendudukkan di atas rerumputan. "Kamu satu-satunya wanita yang kucintai, Sayang. Percayalah padaku. Jangan ragu padaku. Aku pasti setia padamu. Kita akan menikah, tapi bersabarlah menunggu saat yang tepat. Bukan begitu, Sayangku?" rayu Peter. "Tapi kamu benar akan mencintaiku selamanya kan?" "Itu pasti, Sayang. Kau percaya padaku kan?" Emily mengangguk ragu. Peter memegang dagu runcing kekasihnya. "Please, jangan bohong, Sayang. Kau benar mempercayaiku?" "Ya, aku percaya padamu." "Kamu mencintaiku?" "Ya, aku mencintaimu." Peter tersenyum. "Terimakasih, Sayang." ucapnya sambil mencium lembut bibir Emily. Kedua bibir itu saling berpagutan. Sepasang kekasih memadukan rasa yang hangat di atas rerumputan. Emily merasakan cinta yang membuat hatinya berdegup tak beraturan. Perasaannya melayang entah kemana. Ia merasakan kecupan-kecupan hangat dari bibir kekasihnya. Kedua tangan Peter memeluk tubuh ramping Emily dengan erat. Jari-jari tangannya mulai membuka kancing baju kekasihnya satu persatu. Krek! Terdengar suara kaki menginjak ranting. Suara itu mengejutkan sepasang kekasih yang sedang sibuk b******u. Emily dan Peter segera menghentikan aktivitas mereka. Keduanya terduduk waspada. "Sepertinya ada yang mengintip kita, Peter," bisik Emily gelisah. Ia segera membetulkan kancing-kancing baju dan rok nya yang tersingkap. Krek! Krek! Suara itu terdengar lagi. Benar, memang ada yang mengintip mereka, hanya saja Peter maupun Emily tak tahu di mana orang itu. Krek krek krek Tap tap tap Suara itu tampak seperti langkah tergesa yang menjauhi mereka. Gawat, pikir Emily. Seseorang telah mengintip perbuatannya bersama Peter. Siapa dia? Bagaimana kalau orang itu melaporkan hubungan mereka pada Tuan Benigno atau orang tuanya sendiri? Kalau hal itu terjadi, bisa-bisa Tuan Benigno atau Tuan Marcus akan marah besar. Tapi tunggu, bagaimana kalau yang mengintip itu ternyata Tuan Benigno atau orang tuanya sendiri? Hati Emily sangat gusar. Wajahnya pucat pasi. Dia benar-benar takut dan khawatir dengan kejadian yang akan menimpanya. Apa yang akan terjadi padanya setelah kejadian ini? *Bersambung*

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook