***
"Kita akan ke.." aku menatap dirinya sejenak. Tak sedikitpun aku bosan melihat garis wajahnya yang tegas. Aku begitu jatuh cinta bahkan di saat aku tahu hanya ada perpisahan untuk kami berdua. Iya, sedalam apapun aku mencintainya, sekeras apapun aku menginginkannya tidak akan pernah ada belas dan balas darinya. Lantas kenapa aku harus melakukan ini?? Menghabiskan waktu bersamanya sebagai kenangan terakhir.
Lama aku melamunkan perasaan ini hingga aku melihatnya mengangkat sebelah alisnya. "Planetarium." Bukan aku yang baru saja berucap. Aku menatap tak percaya melihatnya yang tersenyum dengan sangat manis. Aku tidak mungkin salah dengarkan bahwa dirinya merekomendasikan tempat untuk kencan dadakan ini?
Aku semakin bingung ketika dirinya menarik tanganku.
Baiklah, semua orang tahu planetarium adalah tempat yang sangat romantis. Bahkan aku tidak berani hanya untuk sekedar membayangkannya apa lagi mengajak Ion ke sana. Karena aku yakin kami pasti sangat canggung. Namun dia sendiri yang menyarankan itu padaku.
"Kapan kamu bisa berhenti terkejut, Fani? Anggap saja ini adalah hadiah untuk kamu." Ucapnya.
"Sekarang kita pergi ke sana!" Kini aku mengangguk karena tidak ingin membuatnya menunggu dan aku takut dia akan berubah pikiran.
Tidak butuh waktu lama bagi mobil Ion untuk sampai di Planetarium. Sesampainya di sana, seperti yang selama ini diceritakan oleh orang-orang bahwa tempat itu adalah tempat yang romantis. Di mana lagi bisa menemukan tempat seperti ini di Jakarta selain di Planetarium. Setelah membeli tiket, aku dan Ion segera masuk ke dalam untuk mencari tempat duduk tapi sebelum itu aku melihat Ion berbicara dengan seseorang yang ku yakini adalah pekerja di tempat ini.
"Kamu ngomongin apa?" tanyaku saat dia sudah berada di hadapanku.
"Hanya sebuah hadiah kecil untukmu," jawabnya. Aku mengedikkan bahuku berusaha untuk tidak peduli padahal aku sangat penasaran.
"Kenapa cuma kita berdua aja di sini Ion? Kita terlalu cepat datang ke sini ya?" aku bertanya lagi. Ion hanya tersenyum.
Mataku teralihkan saat ruangan yang memang sudah sedikit gelap menjadi semakin gelap. Kemudian ku lihat layar yang berada di depan kami pun mulai dipenuhi bintang-bintang, membuat ku tanpa sengaja menganga. Aku seakan terhipnotis oleh keindahan yang begitu nyata di depanku. "Ini sungguh bintang?" tanyaku padanya.
Lagi, Ion hanya tersenyum.
Aku bisa gila melihat senyumnya itu. Entah sudah berapa kali senyum itu diberikan untukku.
"Kamu suka?"
Aku mengangguk degan antusias. "Iya. Ini sangat indah." Tanpa sengaja aku mengguncang-guncang tangannya.
"Baguslah." Katanya.
"Ion kamu sebenarnya suka aku ya?" entah keberanian dari mana aku bisa bertanya seperti itu.
"Maksudmu? Jangan berpikiran macam-macam." Sudah ku duga. Memangnya jawaban seperti apa yang aku harapkan? Ah sudahlah. Aku mulai berlebihan lagi.
Aku menggeleng dan kembali menatap ke depan untuk menikmati bintang-bintang yang berkedip. Aku tersenyum, mungkin setelah ini setiap kali aku memandang bintang di langit, hal pertama yang ku ingat adalah dirimu Farion.
Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu kalau kamu justru memberikan aku kenangan yang begitu berarti.
Namun aku sama sekali tidak menyesalinya karena aku begitu bahagia duduk berdua di sini denganmu. Bolehkan jika sekali ini saja aku melupakan status kita dan menganggap kamu lebih dari orang lain dan sebutan lain selain pacar? Karena aku menyukainya. Meskipun aku tahu persis bagaimana perasaanmu saat ini, tapi entah kenapa aku tidak bisa berhenti berharap akan dirimu.
Pikiran itu membuatku tersenyum dan mengundang rasa penasaran pada dirinya. "Sedang menertawakan apa?" tanya Ion padaku.
Aku menoleh sesaat padanya dan berkata, "sepertinya aku kembali gagal dalam mempertahankan tekadku." Dia hanya diam. Aku tidak tahu apa dia mengerti maksudku atau malah kebingungan dengan apa yang baru saja ku katakan padanya.
"Payah," perkataannya membuatku segera menoleh untuk menatapnya lagi. Dan di sana, aku melihat sebuah seringai aneh. Boleh aku asumsikan bahwa dia baru saja menjawab rasa penasaranku? Apa dia merasa senang?
Kini giliranku yang bersikap kebingungan. "Ion tatap aku!" perintahku padanya. Dia menoleh. Saat itu apa yang ku lakukan benar-benar di luar nalar. Aku menciumnya. Aku mencium Farion dengan singkat.
Segera ku palingkan wajahku yang sudah seperti kepiting rebus, yang aku lakukan tadi adalah hal gila?
Aku bertanya pada diriku sendiri. Tapi yang dilakukan Ion lebih dari membuatku bertanya-tanya. Apa aku sedang merasakan bibir lembutnya di bibirku? Iya! Dewi bathinku berteriak senang. Dia, Farion Guitama sedang menciumku saat ini. Aku tahu ini bukan mimpi. Aku sedang tidak bermimpi. Dia menciumku dengan lembut seolah takut menyakiti diriku.
Ion apa yang kamu lakukan?
Ini akan semakin membuat aku sulit melupakan kamu. Kamu tahu?
Namun aku tidak bisa melepaskannya. Biarlah seperti ini. Sampai dia sendiri yang melepaskan tautan bibir kami berdua.
Ion menatapku, lama. Aku juga menatapnya dengan perasaan yang tidak bisa ku gambarkan dengan kata-kata.
"Kamu suka, sayang?" tanya Ion. Aku hanya mengangguk tanpa tahu harus menjawab apa. Tapi asal kamu tahu Ion, aku sangat menyukainya. Dan aku sadar ketika hatiku berkata begitu, pipiku sudah bersemu merah apa lagi dia memanggilku 'sayang'. Duniaku rasanya berubah seketika.
"Kamu cantik kalau pipi kamu jadi merah gini. Aku suka!" Ucapan Ion tadi semakin membuatku tidak berani menatap matanya.
Dan sekali lagi, Ion mengangkat daguku.
Cup.
**
Planetarium menjadi saksi ciuman pertamaku dan itu untuk Farion Guitama. Aku masih saja malu bahkan ketika kami sudah berada kembali di dalam mobilnya. Ku lihat dia terkekeh karena tingkahku. "Jangan tertawa!" aku menakutinya dengan delikan mata yang ku tampakan semengerikan mungkin.
Dan apa yang terjadi?
Dia semakin terkekeh. Membuatku semakin mendelik.
"Iya iya," katanya. Ada keseriusan saat dia mengatakan itu padaku.
"Aku yakin kamu nggak akan pernah bisa lupa sama Planetarium, Fan." Aku pikir dia akan berhenti menggodaku namun dia semakin menjadi bahkan dengan sengaja kembali mengingat kejadian tadi. Apa maksdunya?
Dan apa yang terjadi dengan mulutku selanjutnya?
"Apa kamu suka sama aku?" Terulang lagi. Pertanyaan bodoh yang membuatku gila karena jawabannya.
Aku menunggu. Sejak pertanyaan itu keluar dari mulutku yang disampaikan oleh pita suaraku, suasana menjadi begitu mencekam. Kami diam. Namun aku tahu aku harus kembali memecah keheningan karena aku yang meminta Ion pergi denganku hari ini.
Tapi belum sempat aku mengeluarkan suara, dia memotong ucapanku. "Gimana kalau aku tiba-tiba bilang aku suka kamu?" aku membeo mendengar jawabannya.
Hingga bermenit-menit berlalu baru aku berkata, "apa?" hanya kata itu yang mampu ku ucapakan dan tak ada lagi pembicaraan diantara kami berdua sampai dia memutuskan kemana tujuan kami selanjutnya.
"Setu babakan," katanya. Selain memganggukan kepala, apa lagi yang bisa ku lakukan. Lebih baik ku abaikan semua catatan yang ku tulis untuknya hari ini. Ke manapun Ion membawaku, aku akan mengikutinya, bahkan ketika itu membahayakan diriku sendiri. Sungguh, hanya untuk hari ini saja. Tidak masalah jika orang lain benar-benar berpikir aku adalah b***k cinta. Aku sungguh tidak peduli sebab yang ku mau hari ini aku bisa mengukir sejarah bersamanya.
TBC.