PLND 4 Setu Babakan

1067 Kata
*** "Apa yang membuat kamu suka sama aku, Fan?" tanya Ion ketika perahu yang membawa kami sudah berada ditengah-tengah danau. Aku menatapnya. "Mungkin karena kamu nggak mudah tertarik sama aku, Ion." Jawabanku ternyata benar-benar menyita perhatiannya dari air yang sedari tadi dipandanginya itu. "Nggak masuk akal!!" katanya. Aku mengedikan bahu. "Aku cuma tahu aku suka kamu, untuk alasannya aku benar-benar nggak berpikir suka sama kamu butuh sebuah alasan. Well, kamu keren, disukai banyak orang dan nggak tersentuh." Lanjutku. "Yah aku memang keren." Katanya menanggapi pujianku. Aku terkekeh. "Kamu percaya diri sekali." Bisikku. Tapi apa yang dia katakan memang benar, Ion adalah lelaki pertama yang menawan hatiku. Awalnya ini cuma sebuah rasa kagum dari ketidak sengajaan. Dia hanya sebuah nama yang ku tahu dari Ira. Tiga tahun lalu, karena ingin menghapuskan tuduhan-tuduhan dari teman satu kelas tentang aku yang menyukai Angga-teman sekelas ku-, aku mati-matian berpura-pura mempunyai orang yang ku suka dikelas yang berbeda. Namun ternyata Tuhan memiliki rencana lain. Tuhan membuat aku terjebak dalam mata hitamnya pada saat pertama kali aku menatapnya. "Namanya Farion?" itu adalah pertanyaan Ira kala itu. Aku diam. "Kayaknya sih iya, karena di kelas sebelah cuma dia yang terlihat beda, ya semacam lebih keren dari yang lainlah." "Atau jangan-jangan kamu bohong, Fan? Karena mau nutupin perasaanmu sama Angga, kamu pura-pura suka sama orang lain," aku panik saat Ira mulai curiga. "Nggak gitu! Aku memang suka sama dia!" "Hmmm dia Ion, aku suka dia karena dia terlihat sulit diraih, iyakan, Ra? Kayak yang kamu bilang dia berbeda." Aku mulai mengarang bebas seolah aku benar-benar kenal sama si Ion Ion itu padahal aku tidak mengenalnya sama sekali. Tapi sejak saat itu, bahkan hanya dalam hitungan detik semua berubah. Dia yang ku panggil Ion. Dia yang saat ini ku sebut takdir adalah dia yang tidak bisa ku raih sampai kapanpun. Terkadang takdir itu kejam. Aku yang awalnya hanya menjadikannya perisai sesaat, justru terjatuh padanya dalam waktu yang panjang. "Kenapa melamun, Fan?" pertanyaan Ion membuat aku kembali pada kenyataan. "Aku nggak nyangka hari ini kita bisa kayak gini," "Kita dekat dan.. berciuman?" ada nada menggoda diakhir kalimatnya. Mau tidak mau aku kembali tersipu mengingat adegan di planetarium yang tidak akan pernah terulang lagi. "Right. It's my first kiss. And it's yours." Aku tersenyum, tidak peduli dia menyukainya atau tidak tapi itu memang ciuman pertamaku. Wajahnya berubah dingin, aku menahan napas karena takut kebersamaan yang ku sebut kencan ini akan berakhir lebih cepat. Apa dia marah? Mulutku tidak bisa berkompromi saat ini dan dengan kurang ajarnya mengeluarkan pertanyaan yang menurut akal sehat tidak masuk akal bagi pemilik cinta sepihak sepertiku ini. "Apa kamu suka ciuman kita yang tadi?" itu adalah pertanyaanku dan ku pastikan aku sangat menyesalinya. "Maaf." Kataku. "Aku suka Fan tapi kita nggak bisa lebih dari ini. Aku punya alasan kenapa aku selalu nolak kamu," kata-katanya menusuk relung hatiku. Aku tahu maksudnya. Aku cinta dia, suka lebih dari apapun. Meskipun alasan yang akan ku sebutkan ini akan sangat menyakiti diriku sendiri walaupun aku sudah lama mengetahuinya namun ketika harus mengucapkannya di depan Ion, hatiku lebih merasa patah. Karena dia sudah bertunangan. Mataku sendu. Ku lihat matanya juga sendu. Apa itu berarti dia juga suka aku selama ini? Oh cukup Fani. Jangan membuat diri sendiri semakin tersakiti karena harapan-harapan semumu itu. "Aku tahu Ion. Jangan terbebani oleh perasaanku. Lagi pula sebentar lagi aku menghilang dari pandanganmu dan.." Aku sengaja menggantung kalimatku. "Dan?" tanyanya. Aku tahu dia penasaran padahal aku sengaja tidak mengatakan secara langsung karena aku tahu hatiku akan lebih sakit dari ini. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya dengan perlahan.  "Ira," pada akhirnya terucap sudah rahasia yang selama ini ku simpan sendirian. Ion tersentak. Apa dia berpikir selama ini aku tidak tahu apa-apa? Aku menyeringai. Aku tahu segalanya Ion meskipun secara tidak langsung kamu dan Ira telah membohongi aku habis-habisan tapi siapa aku? Sekali lagi ku tanya siapa aku? Tidak mungkin bagiku untuk membencumu ataupun Ira karena dia penyelamatku sampai saat ini. Aku tidak mau menjadi manusia yang tidak tahu diri ketika harus menyakitinya meskipun pada akhirnya hatikulah yang harus menjadi korban. Yah mungkin itu yang terbaik untuk semua orang. "Dari mana kamu tahu? Jadi selama ini kamu...?" aku mengangguk atas segala pertanyaan yang tidak sempat terselesaikan olehnya. "Ya aku tahu, aku mengetahuinya sejak hari pertama kalian bertunangan, aku ada di sana Ion. Di pojokan dan menangis sendirian. Tapi aku nggak bisa benci kalian, karena aku tahu aku memang bukan siapa-siapa kamu." Jelasku padanya. Tanpa sempat aku prediksi, Ion meraih tanganku. Menggenggamnya dan menatap mataku dalam. "Ira bilang dia nggak ngasih tau kamu, Fan. Tapi kenapa kamu..??" "Aku sahabatnya, mudah bagi aku nyari tau kegelisahannya selama seminggu sebelum kalian bertunangan. Aku tahu Ira juga nggak mau nyakitin aku tapi dia juga nggak bisa apa-apakan?" aku menjelaskan semuanya pada Ion. Aku tahu di setu babakan hanya akan ada kenangan yang menyakitkan untuk kami berdua terutama diriku. "Maaf, Fan. Kamu tahu kami dijodohkan, nggak mudah bagi aku untuk nolak permintaan orang tuaku." Ucap Ion. Aku mengangguk. "Lagi pula kalian cocok. Ira cantik, baik dan kamu pentolan sekolah." Aku berusaha tersenyum. "Aku punya permintaan sama kamu Ion. Tolong jangan katakan pada Ira bahwa aku udah tahu semuanya. Dan hari ini, aku ada di sini bukan berarti Ira nggak suka sama kamu, dia cuma berusaha nggak peduli dengan perasaannya sendiri. Jadi dia ngasih kesempatan buat aku dekat sama kamu. Aku tahu persis dia suka kamu dan mau pertunangan ini sampai pada pernikahan. Jadi pertahankan dia Ion, Ira gadis yang baik." Sekali lagi aku tersenyum. Jujur, ada luka yang teramat perih di hatiku namun aku harus melakukannya. Meskipun ini diluar rencana tapi demi kebahagian semua orang terutama Ira sahabatku dan Ion sebagai seseorang yang aku cintai, aku rela tersakiti. Sejak permintaanku yang terakhir, tidak ada lagi percakapan di antara kami. Aku pun sudah berjanji dalam hati untuk tidak menanyakan apapun lagi. Sepertinya tidak punya kisah dengan Ion adalah jalan terbaik untukku. Aku memang harus melupakan dia. Aku akan mengakhiri kencan kami meskipun masih tersisa Tujuh daftar lagi dan waktu masih panjang namun aku tidak boleh egois. Lagi pula tidak mungkin bagi kami untuk melanjutkan perjalanan saat kami berdua sudah sama-sama tahu apa yang akan terjadi ke depannya. "Ion," tegurku. "Setelah ini sudah nggak ada daftar tempat yang harus kita kunjungi berdua, kita langsung pulang saja." Dia menoleh dan sedikit mengerutkan dahi, setelah itu dia hanya mengangguk. Selama diperjalanan pulang tidak ada satu percakapan pun diantara kami berdua. Ini benar-benar canggung. TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN