Sesampainya di depan gerbang rumah Ira, kecanggungan diantara kami semakin ketara. Aku ingin memulai pembicaraan namun ternyata Ion sudah mendahuluinya, "terimakasih untuk waktu yang luar biasa ini, Fani. Dari monas, planetarium dan setu babakan, kamu menambah warna paforit dalam hidupku," Ion menatap mataku dengan tatapan yang entah apa.
"Meskipun waktu yang kita lewati teramat singkat tapi kamu harus tau kalau aku bahagia," ucapan Ion membuatku ingin menangis saat itu juga. Aku tidak mengerti perasaan seperti apa yang dimilikinya untukku tapi aku tidak boleh berharap karena pada akhirnya dia akan menikah dengan sahabatku sendiri.
"Aku yang berterimakasih karena kamu udah mau memenuhi permintaan terakhirku," balasku sambil berusaha tersenyum.
"Aku nggak akan bilang sampai jumpa Ion karena mungkin kita nggak bisa ketemu lagi setelah ini. Sulit bagi aku menemuimu setelah Ira menjadi nyonya Guitama." Isak tangisku lolos begitu saja. Aku tidak bisa menahannya lagi.
Ku usap deraian air mata yang jatuh di pipiku itu dengan telapak tanganku, "sumpah demi apapun aku berusaha kuat ikut berbahagia demi kalian tapi aku takut nggak bisa menahan perasaanku sendiri." Ion seakan ingin protes tapi aku menahannya dengan permintaanku, "Boleh aku peluk kamu untuk yang pertama dan terakhir kali?" tanyaku dan yang terjadi selanjutnya adalah Ion menarikku dengan cepat dan memelukku sangat erat sampai aku merasa napasku akan habis.
Di waktu yang sama, aku semakin terisak. Aku tidak ingin berpisah darinya namun tidak ada jalan selain melepasnya. Aku tidak mungkin menggila dan merebutnya dari Ira.
Kami larut dalam pikiran masing-masing bersamaan dengan pelukkan yang semakin erat ketika yang menyadarkan kami adalah suara handphoneku yang menampilkan nama Ira pada layar yang berkedip-kedip.
Buru-buru aku melepaskan diri dari pelukkan Ion untuk mengangkat telpon dari Ira, "Halo Ra," sapaku padanya.
"Kamu di mana, Fan?" aku mengernyit saat mendengar suara Ira yang sedikit aneh. Ia terkesan memburu.
"Aku sebentar lagi sampai rumah Ra. Kamu di mana?" tanyaku berusaha santai meskipun jantungku berdegub amat kencang.
"Ohh aku kira kamu belum pulang, tadinya mau nitip pitza." Jawaban Ira sedikit membuatku merasa rileks karena jujur sejak melihat nama Ira dilayar hpku, aku merasa Ira tengah melihat kami dari suatu tempat namun ternyata aku salah.
Aku melepaskan napas lega, "maaf Ra tapi aku sudah masuk kompleks nih. Gimana kalau kita pergi berdua aja setelah aku sampai rumah?" tanyaku memberi usulan. Ira mengiyakan dan aku segera menutup telpon setelah itu.
Aku mengalihkan tatapanku dari handphone yang berada dalam genggamanku pada Ion. Aku sadar sedari tadi dia menatapku seakan ada kata-kata yang ingin dia ucapkan. Namun sampai detik aku kembali membuka suara tak ada satupun kata yang keluar dari mulut Ion.
"Oke, sepertinya aku harus masuk dan kamu harus kembali ke rumahmu. Kita sampai di sini aja ya Ion! Terimakasih dan semoga kamu bahagia," ucapku tanpa mengalihkan tatapanku darinya.
Hanya ada suara deru napas yang terdengar hingga tanpa sadar bibirku dan bibir Ion telah kembali bersatu. Aku terengah, membuat Ion memutuskan pergulatan bibir kami. Aku manatapnya, dia pun begitu.
Hanya lewat tatapan mata sebagai cara kami berkomunikasi, Ion telah kembali membawa mobilnya dan aku masih duduk di sampingnya. Kami berdua meninggalkan kediaman Ira dan keluarganya.
Ferarri Ion membawaku ke rumah mewahnya yang aku tahu tidak berpenghuni kecuali Ion sendiri karena kedua orangtua Ion sibuk bekerja di luar negeri. Mobil Ion telah terparkir pada tempatnya. Ion membukakan pintu mobil untukku sehingga aku bisa keluar dari dalam sana. Ion menarik tanganku dan membawaku ke dalam kamarnya.
Ini salah. "Ion," aku menggumamkan namanya. Dia memelukku dari belakang saat pintu sudah tertutup rapat.
Di sana, di dinding kamarnya aku melihat potongan foto yang aku kenali. Di foto itu hanya ada senyum di bibir sebelah kanan, pipi kanan dan mata sebelah kanan milik seorang gadis yang aku tahu betul siapa itu. Disebelahnya terdapat potongan foto lain. Dia adalah orang yang sedang memelukku dari belakang saat ini. Disatukan sehingga membentuk sebuah wajah.
Jantungku berdetak dua kali lipat dari biasanya. "My love in silent, Queenarefani.." Di bawah foto itu jelas tertulis namaku. Bahkan nama itu dicetak dengan huruf yang tebal. Aku membalikkan badanku dan menatap Ion secara langsung. Mataku mencari matanya.
"Apa maksudnya ini Ion?" tanyaku padanya.
Ion sama bergetarnya denganku. Ia tak pernah berhenti menatap seluruh wajahku. "Seperti yang kamu lihat, aku cinta kamu dalam diam." Jawabnya.
"Kamu cinta aku??" aku mengulang pertanyaan Ion. Aku tahu ini buang-buang waktu namun aku hanya ingin jawaban yang jelas dari lelaki yang kini sedang menatapku dengan rona merah di pipinya. Ia terlihat lucu.
"Kamu!" Jawab Ion dengan tegas meskipun semburat merah itu masih terlihat sangat jelas di pipinya. Kini giliran aku yang ikut tersipu. Jawabannya membuat perasaanku semakin jelas dan aku sulit berpaling. Ternyata selama ini kami memiliki perasaan yang sama namun karena sebuah alasan cinta itu sampai kapan pun tidak akan pernah berlabuh dan bersatu untuk sebuah ikatan.
Ion menatapku dengan sedikit aneh, matanya berkabut. Kami berciuman lagi. Tubuhnya semakin bergetar, saat itu juga aku tahu dia ingin lebih.
Aku sadar ini adalah dosa termanis yang mungkin akan ku sesali seumur hidupku. Tapi aku menginginkannya. Tidak peduli seberapa banyak orang akan menghakimiku. Tidak peduli apa yang akan terjadi padaku suatu hari nanti atas apa yang aku lakukan ini. Aku tidak peduli.
Aku bahagia meskipun itu hanya sementara. Ion melepas ciumannya dengan napas yang menderu. Dia terkekeh. Perlahan tapi pasti wajah Ion kembali mendekat pada wajahku. Dia melumat bibirku dengan penuh kasih, kali ini iramanya begitu lembut seolah takut jika bibirku akan tersakiti karena teramat rapuh.
"Aku menginginkanmu, Fan." Aku tahu Ion, bahkan suaramu sudah berubah serak.
"Lakukan Ion, aku milikmu!" ucapanku membuatnya segera membawaku ke tempat tidurnya yang terlihat empuk. Kami berguling, saling menatap dan meyakinkan satu sama lain.
Dalam waktu sesingkat itu aku telah menjadi miliknya. Dia yang pertama dan tidak mungkin jadi yang terakhir karena ketika Ion menikahi Ira, maka aku juga ingin menikah dengan orang lain suatu hari nanti. Ya, suatu hari nanti aku ingin jatuh cinta lagi dan melupakan Ion untuk selamanya.
Tetapi kalau aku boleh meminta, aku ingin waktu berhenti sekali ini saja agar aku dan dia bersatu dalam ikatan yang manis, meskipun hanya sesaat. Aku, sungguh tidak ada penyesalan sebab dia yang ku inginkan. Meskipun nyatanya aku telah berkhianat pada sahabatku. Namun biarkan ini menjadi pengkhianatan yang pertama sekaligus yang terakhir untukku.