Tepat satu jam yang lalu aku masih berada dipelukkannya.
Tepat satu jam lalu kami berdua telah bersatu dan tepat satu jam lalu aku meninggalkannya yang masih tertidur lelap.
Farion Guitama, nama itu akan selamanya ada dalam hatiku. Terlepas dari semua perasaan yang kumiliki, karena dia pernah ada di dalam diriku.
Tubuhnya pernah kumiliki, hatinya yang penuh cinta pernah ku rasakan. Walaupun begitu aku tetap harus pergi. Tidak mungkin bagiku merusak segalanya untuk terlalu nyata meskipun sebenarnya aku sudah merusak semuanya.
Selamat tinggal. Tidak perlu mengucapkan sampai jumpa karena mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi.
Mari menganggap kalau tidak pernah ada kisah diantara kita karena memang seperti itu faktanya. Kisahmu yang sesungguhnya adalah bersama sahabatku Claira Dwixika.
***
Saat ini aku berada tepat di depan gerbang rumah sahabatku yang selama ini tempat aku bernaung. Aku sebenarnya malu karena aku begitu tidak tahu diri sudah menikmati milik Ira lebih dulu.
Aku sebenarnya tidak berani bertemu dengan Ira bahkan hanya sekedar untuk berpamitan. Namun aku tetap melangkah masuk ke dalam dan harus menemuinya. Hal pertama yang harus ku lakukan adalah menjelaskan padanya kenapa tiba-tiba aku tidak jadi pulang ketika sudah diperjalanan bahkan di dalam kompleks perumahan ini.
Ku buka pintu rumah Ira dan memanggil namanya. Seperti kataku, keluarga Ira sudah menganggapku bagian dari keluarga tapi mengenai kejujuran keluarga ini tentang pertunangan Ira membuatku sedikit kecewa. Andai saja mereka jujur padaku dari awal, mungkin kejadian satu jam yang lalu tidak terjadi namun bukan berarti aku balas dendam sehingga melakukan itu dengan Ion. Jujur, karena aku juga menginginkannya. Itu adalah kado perpisahan dariku untuknya. Aku janji tidak akan merebut Ion dari Ira.
"Ra..Ira. Kamu di mana, Ra?" teriakku.
"Di kamar Fan." Teriak Ira dari lantai atas tepatnya di dalam kamarnya.
Aku berlarian menuju kamarnya yang tepat berada di samping kamarku. Ku buka pintu dan ku hampiri dia yang sedang tengkurap di atas kasur.
"Ra," Aku panggil namanya karena sejak aku masuk Ira tidak membalikkan badan juga.
"Ada yang mau kamu jelasin ke aku?" tanyanya dengan nada seperti biasanya. Dia pun sudah menghadap padaku. Aku jadi sedikit bernafas lega karena sepertinya Ira tidak tahu apa yang sudah terjadi. Dan dia tidak marah ataupun curiga ketika aku tidak jadi pulang ke rumah.
"Aku tadi pergi lagi sama Ion, Ra," Ucapku. Biarlah Ra, biarkan kita berdua tetap seperti biasa. Kamu dengan rahasiamu dan aku dengan rahasiaku. Karena aku tahu kita berdua punya alasan yang sama yaitu sama-sama tidak ingin saling menyakiti, meskipun pada kenyataanya kita berdua sudah saling menyakiti.
"Ohhh jadi gimana? Kalian ada perkembangan?" Ira bertanya.
Aku berdehem, "seperti biasa. Dia tetap dingin. Mau diajak jalan pun karena dia bersyukur aku pergi jauh." Aku berusaha terkekeh. Kali ini aku tidak berbohong. Ion memang mengatakan kalimat itu.
Ira mendudukan dirinya. "Ohhh. Fan.." aku melihat Ira ragu mengatakannya.
Keningku berkerut "Kenapa Ra?" tanyaku.
"Apa kalian berpegangan tangan?" aku tersenyum. Ira cemburu, aku tahu itu. Bagaimana jika ku bilang kami tidur bersama? Tapi aku tidak sejahat itu walaupun aku memang jahat.
Aku menggeleng. "Itu tidak mungkin." Tanpa sadar Ira diam-diam menghela nafas. Boleh aku juga bertanya, Ra?
Apa kalian juga pernah bergandengan?
Apa Ion pernah menciummu?
Ingin sekali ku tanyakan semua itu pada Ira tapi akal sehatku masih berfungsi. Kembali ku ingatkan tujuan diriku berada di sini adalah untuk berpamitan dengan Ira dan keluarganya.
"Ra sebenarnya aku ingin berpamitan sekarang ini. Jadwal penerbanganku dimajukan malam nanti."
Ira diam.
"Yah, aku tahu ini mendadak." Seharusnya aku pergi dua hari lagi namun aku takut akan ada yang berubah jika aku menunda pergi saat ini juga.
Sejujurnya, aku masih menunggu kejujuran Ira, karena sejak pertama kali aku tahu pertunagan itu, aku sangat terluka karena Ira lebih memilih bersembunyi dari pada mengatakan yang sebenarnya padaku meskipun tujuannya adalah untuk menjaga perasaan ini. Entahlah, apa Ira tahu apa yang ku pikirkan ketika sampai saat ini hatinya tidak ingin terbuka padaku.
Ira tidak ingin aku muncul lagi karena dengan begitu aku tidak akan pernah tahu mengenai hubungannya dengan Ion.
Begitulah pemikiranku tentangnya saat ini, selain hatiku masih percaya bahwa Ira hanya ingin menjaga perasaanku.
Ira masih menatapku tidak percaya. "Ini benar-benar mendadak Fan, aku nggak percaya kamu pergi secepat ini. Maaf karena aku nggak bisa ikut .melanjutkan kuliah keluar negeri," ucap Ira.
Aku mengerti Ra. Aku paham alasannya. "Karena kamu akan segera menikah dengan Farionku,"
Tidak ada yang ingin Ira katakan lagi. Mulutnya bukam sejak aku menganggukan kepala. Lalu aku lah yang memecah keheningan kami.
"Nggak apa-apa, aku harap suatu saat nanti aku bisa membalas budi padamu dan kedua orang tuamu, Ra!" Ira menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan apa yang aku katakan.
"Kamu sudah banyak berkorban Fan, bahkan tanpa kamu sadari." Balas Ira.
Sejenak aku mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti namun setelah itu aku memaksa diriku sendiri untuk paham bahwa yang dimaksud Ira adalah mengorbankan hatiku dan mengikhlaskan Ion untuknya.
Seandainya aku punya pilihan lain maka yang ku inginkan adalah bersama Farion dan mengabaikan pertunangan Ira tapi sekali lagi siapa aku? Ah betapa tidak beruntungnya hidup ini. Aku hanya gadis malang yang ditampung oleh keluarga Ira dan naasnya mencintai tunangan sahabat sendiri.
"Nggak Ra, apapun itu aku rasa belum cukup. Keluarga ini sudah banyak sekali bantu aku." Aku tersenyum padanya, senyum yang tulus. Aku sadar sekalipun aku ingin bersama Farion itu sangatlah tidak mungkin, terlalu banyak hati yang harus dijaga - Ira serta keluarganya.
Hatiku berteriak memberi perintah untuk tetap tenang, tugasku hanya pergi dan menghilang. Itu saja. "Terimaksih, Ra. Mau bantu aku membereskan koper?" aku sengaja mengalihkan pembicaraan yang teramat menyesakkan ini.
Kami meninggalkan kamar Ira menuju ke kamarku.
"Kenapa Fan?" tanya Ira saat aku tidak bergerak dan memilih memandangi satu persatu pakaian yang ada di dalam lemari sana.
Aku menggeleng dan memberikan senyum termanis untuk gadis itu meskipun pada kenyataanya aku masih merasa dilema dan bertanya-tanya haruskah aku membawa semua pakaian ini sementara aku tahu sebagian besar isi lemariku milik keluarga Ira karena merekalah yang membelikan pakaian-pakaian itu untukku.
Sampai akhirnya ku putuskan untuk membawa beberapa pakaian saja, baju yang ku beli dengan uangku sendiri dan baju yang pernah dibelikan Ira untukku.
"Kamu yakin Fan bawa baju segini?" tanya Ira untuk yang kesekian kalinya setelah koperku terisi penuh barang-barang yang akan ku bawa.
"Iya Ra. Lagi pula koperku terlalu kecil untuk semua baju-baju itu!" tegasku padanya. Ini adalah alasan yang pas mengingat koperku memang sedikit kecil sebelum Ira keluar dan kembali lagi dengan membawa koper miliknya. Aku terperangah.
"Bawa semua baju itu! Aku takut kamu kehabisan uang saku hanya karena membeli pakaian di sana, kamu harus berhemat di sana!" Ira mendelik padaku.
Mau tidak mau aku menganggukkan kepala. Dia akan kecewa ketika aku tidak menuruti keinginannya yang sayangnya tidak merugikan sama sekali untuk diriku. "Ayo bantu aku menyusunnya lagi!"
"Semangatttttt!!!" Kata Ira yang ku sambut dengan gelak tawa untuk terakhir kalinya sore itu sebelum aku berpamitan dengan seluruh keluarganya.
Ira,
Claira Dwixika. Anak kedua dari tiga bersaudara. Terimakasih untuk memori yang selamanya akan ku kenang dalam setiap perjalananku.
Kamu adalah malaikat yang membuat hidupku lebih berwarna sekaligus memberi luka yang kamu tahu pasti sebesar apa luka itu.
Kamu adalah sahabat yang ku sayang sekaligus musuh yang tak bisa ku benci.
Aku pergi Ra, pergi untuk memberikan kebahagian padamu.
Pergi untuk waktu yang aku tak tahu sampai kapan.
Sama seperti aku memperlakukan lelaki yang kelak akan menjadi suamimu, aku tidak akan pernah mengucapkan sampai jumpa sebab aku tak yakin kita akan kembali bertemu namun bukan berarti aku akan berpaling ketika suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kita kembali.
Ra, kamu sahabat dan keluarga terbaikku.. selamat tinggal.
_Queenarefani your bestfriend.
Itu surat yang ku tinggalkan untuk Iraku, sahabatku dan calon istri Ionku. Semua berakhir.. Selamat tinggal.
Tbc.