PLND 7 Terakhir Kali

1050 Kata
Hingar bingar kota New York menyambutku pagi ini. Aku, untuk pertama kalinya menginjakan kaki di Kota penuh harapan untuk masa depanku. Di Kota ini aku akan membangun kisah hidupku sendiri tanpa masa lalu yang kemarin masih sempat ku tangisi. Tetapi sampai di situ saja. Aku tidak akan mengulangnya lagi, akan ku usahakan.  Ion dan Ira. Mereka berdua adalah bagian dari masa lalu yang akan selalu ku kenang. Cukup ku kenang saja. Semalam aku sampai di asrama tempat ku tinggal selama menjadi mahasiswa nanti. Sejak semalam pula, bukan lebih tepatnya sejak dua hari yang lalu Ion dan Ira silih berganti menelponku namun aku mengabaikannya. Telpon itu baru ku angkat setelah aku sampai di sini. "Halo, Ra?" karena telpon dari Ira lah yang masih bordering hingga siang maka ku putuskan untuk mengangkatnya dan menelpon Ion nanti. "Iya aku sudah di New York sejak dua hari yang lalu," jawabku berbohong atas pertanyaannya. "Maaf aku sangat sibuk mengurus ini dan itu, kenapa Ra?" tanyaku. Dia hanya mendesah. Baiklah sepertinya telah terjadi sesuatu di sana dan itu berhubungan denganku. "Nggak apa-apa. Kamu istirahat aja!" kata Ira dan ku balas dengan anggukan meskipun aku yakin Ira tidak akan melihat anggukkan kepalaku. "Ya udah aku tutup ya." "Fan.." Sebelum aku sempat menutup telpon, ku dengar Ira memanggilku. Aku menggigit bibir bawahku. Takut sesuatu benar-benar sudah terjadi. "Kenapa?" tanyaku padanya namun hening yang ku dapat. Kami hanya berbagi detik yang tak berarti. "Ra?" tegurku.  Dia mendesah lagi sebelum mengatakan potongan kalimatnya. "Aku akan menikah dengan.." "Serius? Wah aku turut bahagia Ra, ku do'akan kamu bahagia. Maafkan aku nggak bisa datang, Ra." Aku telah memotong kalimatnya. Aku tahu, Ira pasti sudah mengetahui semuanya sehingga pada akhirnya dia sendiri yang akan mengungkapkan rahasianya. Dan aku tidak ingin mendengar kelanjutan kalimat itu. Biarlah seperti ini, aku memang terlihat bodoh tapi terkadang lebih baik berpura-pura bodoh daripada semakin tersakiti. Ini pilihanku. "Fan kenapa kamu nggak nanya aku mau nikah sama siapa?" tanya Ira. Kini giliranku yang terdiam. Aku takut Ra, please ngerti. Lirihku dalam hati. Aku menarik napas dengan lirih. "Ra, jawabanku ada pada surat yang ku selipkan diantara lembaran kertas yang ada di kamarmu. Carilah!" "Fani," lirih sekali Ira menyebut namaku. Aku tahu tidak ada yang bisa ku lakukan selain menutup telpon sekarang juga dan aku benar-benar melakukan itu. Ini untuk terakhir kalinya kita berbicara ditelpon Ra karena kamu memilih untuk lebih cepat mengakhiri hubungan kita berdua.  Ya, aku sengaja tidak memberikan surat itu secara langsung kepada Ira dan menyelipkannya diantara lembaran kertas milik Ira yang sudah tidak terpakai lagi. Niatku hanya tidak ingin Ira mengetahui semuanya secepat ini namun ternyata aku salah. Mungkin saja Ion yang telah memberitahu Ira mengingat seberapa sering lelaki itu menelponku dan dari mana dia mendapatkan nomor telpon ku jika bukan dari Ira.  Walaupun sebenarnya aku yakin Ira sudah tahu jawabanku tapi untuk berbicara secara langsung seperti Ira, aku adalah si pengecut. Tidak seberani itu untuk mengungkapkan apa yang telah terjadi antara aku dan Ion. Setelah menimbang-nimbang dan menatap nomor Ion beberapa kali sampai akhirnya aku menekan nomor itu dengan gugup. Tak lebih dari dua kali deringan aku mendengar suaranya. Suara dia yang selama dua hari lebih ini ku rindukan. "Halo?" sapanya. Aku mengernyit, sepertinya Ion baru bangun dari tidurnya. Mungkin dia belum tahu siapa yang menelpon. "Ion?" "Kenapa?" suaranya sedingin es. Kenapa? kini giliranku yang bertanya. "Aku.." suaraku terputus. "Kenapa kamu menghilang?" bentakan itu nyata. Ion tidak menahan sedikitpun emosinya. "Setelah apa yang kita lakukan, kamu menghilang begitu saja Fan? Mungkin sudah seribu kali aku menekan nomormu tapi..." dia menghela napasnya.  Aku tahu dia marah tapi aku berusaha untuk tidak peduli. Aku tidak ingin lagi menjadi perusak rencana Ira yang ingin menikah dengan Ion. "Aku labil," kataku. "Rencanaku adalah benar-benar ingin menghilang setelah sampai di New York tapi aku nggak sanggup lihat kamu nelpon berkali-kali." Jawabku. Ion berdecak. "Kamu nggak bisa pergi gitu aja! Karena aku sudah menemukan di mana kamu sekarang. Tunggu sebulan lagi dan aku akan menyusul!" Air mataku jatuh tak tertahan. "Apa kamu gila? Gimana sama Ira? Jangan lakukan hal bodoh, tolong." Aku memohon padanya. "Kamu bilang itu hal bodoh?" Ion berdecak. "Fani please!" Ion menggeram.  "Jangan seperti ini Ion. Aku nggak mau Ira sedih. Lagi pula dia bilang kalian akan segera menikah." Hening. Hanya ada suara angin yang terdengar sayup-sayup diantara kami berdua. Aku kecewa. Ternyata benar. Dia dan Ira akan menikah. "Cukup Fan apa yang kamu harapkan? Kenapa kamu begitu labil hanya karena perasaan ini. Jangan buat semuanya semakin rumit!" "Itu maunya bukan aku. Aku mau kamu, Fan." Katanya. Aku terkekeh, tidak percaya ternyata seorang Farion ingin memiliki semuanya. Dan aku lebih tidak percaya lagi aku merasa ingin setuju saja dengan usulnya itu. Gila. "Please!!! Aku bersama rencanaku dan kamu dengan perjodohan itu. Kita akan tetap seperti biasa, jangan merubah apapun mekipun sesuatu telah terjadi. Aku cinta kamu bukan untuk merebut kamu dari sahabatku." "Jangan datang ke sini entah itu sebulan lagi atau setahun lagi. Jangan mencariku!" Ion menggertakan giginya hingga terdengar olehku. Aku tahu dia kesal. "Fine!! Kalau itu maumu. Aku nggak akan datang dan akan menikahi Ira secepatnya." Tanpa sadar air mata yang sejak tadi ku tahan perlahan jatuh dikedua pipiku. "Itu lebih baik." Setelah mengucapkan itu aku mengakhiri sambungan telpon kami berdua. Sama seperti Ira, ini akan menjadi yang terakhir kalinya tapi aku berat. Ion, lelaki itu aku harus melepaskannya. *** Senja telah kembali ketika aku membuka mata. Sudah seminggu sejak terakhir kali aku mendengar suara lelaki itu. Selama seminggu pula aku mati-matian untuk tidak kembali mendial nomornya. Dan seminggu lagi aku mulai melakukan rutinitasku sebagai mahasiswa di sini. "Halo Sharen, kamu jadi jemput aku nanti malam?" Sharen adalah teman baruku, dia keturunan Indonesia-amerika. "Tentu saja Fani. Jam 7 aku jemput ya," "Iya." Aku menutup telpon setelah mengatakan itu. Aku bertemu Sharen ketika pertamakali berkeliling di kampus. Gadis itu tinggal di New York bersama kedua orang tuanya dan malam ini Sharen ingin aku menyapa kedua orangtuanya. Sharen sudah tahu aku hidup sebatang kara, dia adalah gadis yang baik sama seperti Ira hanya saja.. "Ah sudahlah. Hidup harus berjalan! Jangan memikirkan masa lalu terus menerus. Mungkin saja saat ini Ira dan Ion sudah resmi menjadi suami istri." Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Untunglah asrama ini memiliki fasilitas yang memadai. Kamar mandi di dalam, ada sebuah tempat tidur, lemari pakaian dan meja belajar. Itu sudah cukup untukku. TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN