"Fan kenalkan ini mama, dan ini papa."
"Pa ma ini Fani yang Sharen ceritakan itu," Sharen mengenalkan aku pada kedua orang tuanya. Aku menyalami satu persatu tangan kedua orang tua Sharen dengan sopan. Mama Sharen bernama Liana Clark dan Papanya bernama Gerald Clark.
"Halo sayang betah di sini?" berbeda dengan suaminya yang terlihat sedikit menakutkan di mataku, aunty Liana justru bertanya santai padaku, saat itu aku langsung tahu bahwa wanita cantik ini baik hati.
"Betah aunty. Senang sekali bisa kenalan sama aunty."
"Sama sayang. Ayo kita ke ruang makan,"
"Oya Sharen tolong telpon kakakmu dan katakan padanya untuk segera pulang atau jika tidak mama akan mogok makan selama seminggu ke depan." Kata Aunty Liana yang langsung diiyakan oleh Sharen.
"Thank you aunty," aku berterimakasih padanya karena dia mempersilakan aku untuk segera duduk di kursi makan.
"Sama-sama sayang, ayo ambil nasimu."
"Iya aunty," aku tersenyum sopan.
Sharen menyusul kami ke ruang makan itu. "Ma, kakak sudah di depan dari tadi tapi dia belum masuk. Sebentar lagi katanya," Sharen mendudukan dirinya di kursi.
"Oya?" hanya itu tanggapan dari aunty Liana.
Setelah piring terisi nasi dan lauk pauk, kami semua siap untuk menyantapnya namun suara berat dan tegas itu mengintrupsi kami. Aku meliriknya dan disaat yang bersamaan dia juga melirikku. "Siapa ini, ma?" dia bertanya pada aunty Liana.
"Hushh bersikaplah sopan sama orang tua! Seharusnya kamu menyapa mama dan papa dulu!" protes aunty Liana.
Aku hanya terkekeh mengikuti Sharen yang juga terkekeh. "Kakak memang suka begitu ma." Sharen menatap kakaknya.
"Kamu benar Sharen. Dia hanya laki-laki yang gila kerja dan tidak tahu sopan santun," kali ini paman Gerald yang bicara. Aunty Liana dan Sharen terkekeh tapi aku hanya diam saja. Tidak sopan rasanya jika aku ikut-ikutan menertawakan kakak Sharen.
"Siapa dia ma?" ulangnya ketika sudah mencium pipi mamanya dan mengatakan hai pada papanya.
"Duh yang nggak sabar mau kenalan," goda mamanya.
"Kakak paling tahu mana wanita cantik." Ucap Sharen sambil mengerling nakal pada kakaknya.
"Sudah-sudah cepat kenalkan saja lelaki gila kerja itu pada temanmu, Sharen." Paman Gerald menengahi. Sharen mengangguk saja. Sementara aku mulai gugup melihat semua orang menatapku.
"Kenalkan, ini Fani sahabat baruku, dan Fan ini kakakku satu-satunya. Namanya Sagana Clark, panggil saja dia Saga." Aku mengangguk.
Ku ulurkan tangan ke aragnya. "Aku Queena Refani, panggil saja Fani ya kak Saga," aku memberikan senyum terbaikku untuk laki-laki yang ku perkirakan umurnya lima tahun di atas ku ini.
"Sagana Clark. Gimana kalau ku panggil kamu, Queena?" tanya Saga sambil menyipitkan matanya. Aku terkekeh, sepertinya lelaki di hadapanku ini cukup baik.
**
"Boleh kak Saga,"
Baru saja aku akan meneruskan kalimatku tapi dia sudah memotongnya. "No, aku nggak mau kamu mengikuti cara Sharen memanggilku. Cukup panggil aku Saga."
"Wah wah wah ada yang baru saja menunjukkan taringnya. Jangan tertipu Fan, lanjutkan makananmu," tegur paman Gerald. Aku semakin menyunggingkan senyum melihat interaksi ini. Yah, aku rindu. Aku berharap mereka akan menjadi keluarga baruku.
"Papa please jangan godain, Quena. Aku suka dia memanggilku Saga!" Entah kenapa melihat Saga merajuk seperti itu membuatku ingin sekali mencubitnya. Dia lucu.
"Kau yang sebaiknya berhenti menggoda sahabatku, kak. Dia harus makan." Sharen mendelik kepada sang kakak.
"Ayo Fan habiskan makananmu! Nanti kita ke kamarku aja. Jangan sampai lelaki work holic ini gangguin kamu."
"Well, pertanyaannya adalah apa Quena memang tergoda?" tanya Saga yang kini telah menatapku. Dia juga sudah duduk di kursinya. Ternyata dia serius mengganti nama panggilanku menjadi Quena yang dia ambil dari nama pangkalku.
"Itu tergantung dirimu Saga," jawabku.
"Waw kali ini aku yang tergoda mam," adunya pada aunty Liana.
"Sudahlah lebih baik kamu isi piringmu dengan nasi dan lauk pauk, Saga!" aunty Liana mendelik.
"Aku pasti bahagia kalau yang mengisi piringku adalah Queena." Maka setelah dia mengucapkan itu, aunty Liana bersikap tidak enak padaku.
"Maafkan kelakuan anak bodoh ini Fani,"
"Nggak apa-apa kok aunty. Lagi pula sangat mudah mengisi piring itu, mau sebanyak apa, Saga?" aku beralih menatap Saga.
"Tambah lagi?" tanyaku.
"Sudah cukup. Kamu sudah sangat cocok menjadi istriku." Kata-katanya sukses membuat seisi ruangan tertawa kecuali aku karena Saga mengucapkan itu sambil melihat ke mataku.
Ruang makan mendadak kembali hening ketika Saga kembali bicara. "Kamu mau jadi bagian dari keluargaku? Keluarga yang sebenar-benarnya. Karena aku percaya jatuh cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada."
Aku yang mendengar itu tiba-tiba ingin tertawa terbahak-bahak. Apa katanya? jatuh cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada? Oh Tuhan. Apa aku baru saja diajak bercanda oleh Saga?
"Baiklah," Kini semua mata tertuju padaku.
"Fani?" mata Sharen hampir saja keluar jika papanya tidak berdehem.
"Jangan bermain-main dengan perasaan. Saat ini bisa saja kalian berdua sedang bermain-main tapi jangan salahkan Tuhan ketika perasaan itu benar-benar dijatuhkanNya pada salah satu hati di antara kalian."
"Maaf paman," aku menyesal mengikuti permainan Saga. Paman Gerald terlihat marah namun aunty Liana menenangkanku.
"Nggak apa-apa sayang. Saga memang suka bercanda. Sekarang kalau kamu sama Sharen sudah selesai makan sebaiknya kalian segera beristirahat di kamar saja," hibur aunty Liana sambil tersenyum.
Kemudian dia beralih menatap Saga. "Anak ini biar aunty yang memarahiny." Tambahnya lagi. Sharen berpamitan pada kedua orang tuanya dan tak lupa pada kakaknya.
"Terima kasih aunty, paman aku permisi." Setelah itu aku mengikuti Sharen yang sudah berjalan lebih dulu tanpa sedikitpun melihat ke arah Saga. Aku malas berbasa-basi padanya mengingat tadi dia hampir saja membuat paman tersinggung karena aku mengikuti permainannya.
"Jadi kak saga gimana menurut kamu?" Sharen tiba-tiba bertanya setelah pintu tertutup rapat.
"Dia humoris," aku mengedikkan bahu.
"Ya itu dia hehee," Sharen terkekeh.
"Selain itu?" tanyanya lagi.
"Seseorang yang suka bekerja, mungkin?" Sharen mengangguk dan bergumam. "Tapi dia jomblo," aku mengernyit heran. Bagaimana mungkin Saga jomblo melihat dari caranya menggodaku tadi?
"Aku yakin kamu nggak percaya kalau aku bilang kakakku nggak pernah berpacaran." Mataku sukses melotot mendengar penjelasan Sharen. Itu kemungkinan yang ku rasa tidak mungkin untuk kesekian kalinya.
"Sebaiknya kita tidur," Sharen memberikan selimut padaku dan kami mulai memejamkan mata tanpa berniat bercerita karena sepertinya Sharen terlihat lelah.
***
Sudah dua minggu aku dekat dengan keluarga baruku. Pasalnya sejak kejadian malam itu, aunty memaksaku untuk memanggilnya mama dan memanggil paman menjadi papa. Aku bahagia, secepat itu aku bisa mendapatkan keluarga yang luar biasa.
Tuhan selalu memberikan hadiah untukku, dan hadiah itu adalah keluarga baruku.
Selama dua minggu ini pula aku dekat dengan Saga. Kami sering pergi bertiga, Sharen selalu memaksa ikut setiap kali Saga mengajakku pergi. Aku tahu Saga sebenarnya sangat keberatan dengan adanya keberadaan Sharen. Hal itu disampaikannya secara langsung padaku sore itu lewat telpon bahwa dia hanya ingin berdua saja denganku tanpa adanya gangguan dari adik kesayangannya itu.
Aku hanya menanggapi ucapan Saga dengan kekehan karena selama dua minggu ini pula posisi Ion tidak bergeser sedikitpun dari pikiran dan hatiku. Dia tetap menjadi yang pertama menempati posisi rindu di hatiku. Hingga memberikan efek yang aku sendiri tidak tahu mengapa separah itu.
Aku jadi malas makan dan suka mual sepanjang hari. Awalnya aku hanya berfikir mungkin maghku kambuh akibat kurang asupan makanan namun keanehan lain menghampiriku.
Jelas sudah sebulan aku berada di Kota New York, dan sudah sebulan pula tamu bulananku tak kunjung datang. Jujur saja ada ketakutan yang luar biasa dalam diriku. Banyak kalimat tanya yang memberikan maksud yang sama.
"Ada apa denganku?"
TBC.