***
Mengabaikan semua rasa mual dan segala isi pikiran, seusai jam mata kuliah terakhir, aku meminta Sharen untuk mengajakku pergi dari asrama untuk menikmati suasana luar. Aku hanya berusaha tidak peduli pada semua yang ku pikirkan, aku lebih suka menganggap semua baik-baik saja.
"Kamu nggak apa-apa, Fan?" Sharen sempat bertanya.
"Aku lihat wajahmu sedikit lebih pucat dari biasanya," dia mulai cemas tapi aku segera menggeleng.
"Aku hanya bosan di kamar," jawabku berusaha meyakinkannya bahwa aku memang baik-baik saja.
"Kita mau kemana?" aku bertanya pada Sharen.
Dia berpikir sejenak. "Gimana kalau kita mengunjungi kantor kakakku? Di sana banyak cowok ganteng loh Fan," ucapnya sambil cekikikan.
"Oya?"
"Kalau begitu ayo kita ke sana. Tapi apa nggak ganggu dia?" aku sedikit ragu.
Sharen menggeleng dan berkata, "kamu cepat hubungi kakakku. Aku yakin kalau yang menghubunginya adalah Queenanya, kakakku pasti nggak bisa nolak,"
Aku terkekeh. "Kamu bisa aja, Sharen."
"Cepat lakukan!" perintah Sharen dan aku iyakan.
Sungguh tak lebih dari dua detik setelah nada terhubung aku sudah mendengar suaranya, suara Saga. "Halo Quena sayang," sapanya.
Aku meringis. "Saga, boleh nggak ya kalau aku sama Sharen datang ke kantormu?" tanyaku hati-hati.
"Sangat boleh. Apa perlu aku jemput?" Jawab lelaki itu. Dia sekaligus bertanya. Namun aku buru-buru mengatakan tidak perlu karena kami sudah berada persis di depan kantornya.
"Sampai ketemu di kantormu Saga." aku tutup telpon itu.
Sharen tergelak. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tertawa. "Sekarang aku nggak yakin kakakku masih mendapat julukkan work holic man." Sharen mengedikkan bahunya. Aku bertanya tanpa mengeluarkan suara.
"Well, karena dia angkat telpon dari kamu. Biasanya kalau masih di jam kerja gini sih boro-boro angkat telpon, lirik-lirik hp aja dia malas. Bahkan telpon mama papa pun diabaikan sama dia." Jelas Sharen padaku.
Matanya menyipit curiga. "Mungkin kakakku serius suka sama kamu, Fan!" kata-kata Sharen benar-benar membuatku merasa bersalah.
"Maafkan aku." Sharen mendesah mendengar jawabanku. "Karena lelaki yang bernama Farion Guitama?" Kami berdua sedang menuju lift, namun perkataan Sharen kali ini berhasil membuatku berhenti melangkah. Dari mana dia tahu tentang Ion? Aku tidak pernah menceritakan tentangnya. Bahkan hari di mana Ion setuju dengan permintaanku waktu itu adalah hari di mana aku masih menyimpan nomornya untuk terakhir kali dan hari terakhir aku memakai kartu yang sama. Karena sejak saat itu aku benar-benar sudah mengganti nomor ponselku. Sehingga tidak ada jejak panggilan dari Ion lagi.
"Masuk!" Sharen menarik tanganku sehingga kini kami berada di dalam lift, dia menekan angka 12.
"Maaf karena aku lancang buka buku diarymu." Sharen menjawab pertanyaanku sebelum sempatku tanya.
"Ya, dia. Nanti akan ku ceritakan tentang dia kalau kamu mau mendengarnya, Sharen.
"Ceritakan kalau kamu nggak keberatan." Ucapnya sambil tersenyum. Suara dentingan tanda pintu lift terbuka membuat kami menghentikan obrolan itu. Sharen langsung menuju sebuah pintu tanpa mau repot menyapa wanita yang bertugas di meja resepsonis. Aku yang mewakilinya untuk tersenyum demi sebuah kesopanan. Setelah itu aku menyusul Sharen yang telah berada di depan pintu dan siap membukanya.
"Halo kakak?" sapa Sharen pada lelaki yang kini sedang fokus memandangi layar laptop. Aku terpaku pada ruang kerja Saga. Dua kata untuk ruangan ini, sederhana namun indah.
"Kalian sudah datang? Ajak Quena duduk di situ, kakak akan segera menyusul setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan." Saga menunjuk kursi yang tak jauh dari meja kerjanya tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
Aku mengikuti Sharen untuk duduk di kursi itu. Kami mengobrol ringan saat pintu ruangan kerja Saga terbuka lebar dan memperlihatkan sekitar tiga sampai empat orang laki-laki yang memakai setelan yang sama seperti Saga.
"Oh my god Taro! Apa yang terjadi sama kamu dan setelan itu? Kamu mau mengikuti jejak kak Saga?" teriak Sharen yang langsung memberikan banyak pertanyaan terhadap laki-laki yang bernama Taro. Entahlah yang mana? Aku pun tak tahu.
"Ohh ayolah Sharen, umurku sudah nggak muda lagi. Memangnya kamu mau nikah sama aku kalau aku nggak ada kerjaan, hem?" tanya lelaki itu. Rupanya dia yang bernama Taro. Laki-laki berambut keriting dan terlihat sangat keren.
Sharen merengut. "Siapa juga yang mau nikah sama kamu?" ketus Sahren. Mereka semua tergelak menertawakan lelaki yang bernama Taro.
"Wooww wait!" semua orang berhenti tertawa.
"Siapa dia?" tanya salah satu dari mereka yang tidak ku ketahui namanya. Mereka semua menatapku tak terkecuali Saga karena saat ini aku tengah menatapnya.
"Dia cantik!" celutuk lelaki yang terlihat paling kurus diantara mereka.
Terdengar decakan kesal dari mulut Saga. "Jangan ganggu dia!" tegur Saga yang saat ini telah menutup laptopnya.
Sharen terkekeh. Dia terlihat menatapku yang kemudian menghampiriku. "Dia bukan perempuan yang sering kalian goda. Jangan ganggu sahabatku." Katanya.
Kini giliranku yang terkekeh. Suasana canggung yang ku ciptakan sendiri tadi menguap entah kemana. Aku merasa mereka semua menerimaku untuk tetap berada di sini.
Mereka menghampiriku dengan secepat kilat karena jarakku dengan mereka memang dekat. Kami semua sudah berada di ruang tamu, Saga duduk tepat di depanku, kami hanya terhalang sebuah meja.
Menyusul Sharen yang menempati kursi panjang disebalah kiriku, Taro disebelah kirinya. Hans, Darrel dan Vano duduk bersamaan di kursi panjang yang sama. Yah kami sudah berkenalan. Mereka mengasyikan.
Tidak sia-sia aku memutuskan untuk pergi kesini bersama Sharen. Setidaknya mual yang kurasakan tadi tidak muncul lagi.
"Jadi kamu datang dari Indonesia?"
"Yang ada pantai balinya?" tanya Hans bertubi-tubi dalama bahasa inggris.
Aku terkekeh. "Apa hanya bali yang kamu tahu?" tanyaku.
"Di Indonesia masih banyak tempat wisata yang menarik," pamerku.
"Kalau gitu ayo kapan-kapan kita pergi ke negerimu Quena." Hans sengaja mengeja namaku dengan menambahkan penekanan. Karena dia tahu Saga akan marah.
"Sudah ku bilang jangan memanggilnya seperti itu. Hanya aku yang boleh memanggilnya dengan nama itu!" Nah belum satu menit berlalu sejak Hans menyebut namaku, Saga sudah menimpali dengan segala protesnya.
Aku senang? Tidak. Aku justru semakin merasa bersalah jika Saga benar-benar menyukaiku karena aku tidak akan pernah bisa menyukainya.
"Kakak! Berhenti bersikap sok protektive pada Fani! Jangan membuatnya tertekan." Tegur Sharen. Matanya bahkan ikut melotot.
Aku hanya berpura-pura bodoh seolah tidak mendengar perdebatan antara adik kakak itu. Jujur saja aku bingung harus bereaksi seperti apa.
Kalau saja aku bisa, ku tegaskan pada Saga bahwa aku tidak ingin membuatnya berharap tapi disisi lain aku nyaman dengannya. Hanya sebatas sebagai kakak. Aku takut dia menghindar kalau aku menolaknya secara tegas.
Saga berdecak. Mungkin bukan hanya aku yang melihat keinginan besar di matanya itu. Dari gelagatnya terlihat sekali bahwa dia ingin merengkuhku sekarang juga. Tapi diantara kami ada jarak.
Bukan hanya sekedar jarak antara satu kursi ke kursi lain atau jarak karena meja di tengah-tengah kami tapi jarak tak kasat mata yang selalu ku ciptakan sendiri. "Saga maaf. Aku nggak bodoh untuk tahu bahwa kamu menginginkan hubungan lebih sama aku selain menganggapku sahabat dari adikmu tapi aku nggak bisa, aku nggak mau tersakiti lagi." Lirihku dalam hati.
"Woii Saga kamu mau tetap diam? Kalau gitu siap-siap aku tikung." Dari sekian banyaknya kalimat apa hanya itu yang bisa dipikirkan oleh Darrel? Aku terkesiap karena sesaat setelah aku bertanya dalam benakku, semua orang yang ada di ruangan itu termasuk Vano yang sedari tadi hanya diam ikut memukul kepala Darrel.
"Otakmu tetap seperti biasa bro. Error disaat yang tidak tepat." Sindir Vano.
"Sudah! Aku bilang Fani bukan perempuan yang bisa kalian goda!! AKu bilang Fani nggak akan tersentuh oleh laki-laki seperti kalian. Standarnya jauh berbeda!" Jelas Sharen.
"Seperti apa?" tanya Taro.
"Aku juga ingin tahu," Darrel menyipitkan matanya.
"Dia.."
"Aduh udah dong. Kenapa kita nggak bahas yang lain aja?" aku memotong ucapan Sharen dan memberi kode untuk membantuku menghentikan topik yang sangat tidak enak ini.
Hening.
Sharen juga seakan tidak peduli dengan kode kerasku. Dia hanya menatapku tajam sebelum mengatakan sesuatu yang sangat inginku hindari. Aku tidak ingin mendengar bahasan tentangnya lagi tapi Sharen dengan sok tahunya mengatakan itu padaku.
"Lupakan saja dia!" tanpa sengaja detik itu juga Sharen merampas senyum tulusku. Karena setelah menjawab kata-katanya yang ku lakukan hanyalah tersenyum palsu.
"Move on nggak semudah itu, Sharen." Awalnya semua orang terdiam hingga Darrel kembali angkat bicara namun kali ini dia menjadi penyelamat bagiku. Dia dengan lihainya membuat typo kalimatku, aku sendiri tidak tahu bagaimana menirukannya, alhasil seisi ruangan tertawa. Entah memang hal itu karena lucu atau hanya berpura-pura sepertiku.
Aku berdehem. "Kamu pelawak yang luar biasa," pujiku pada Darrel yang masih menertawakan dirinya sendiri akibat lelucon yang ia buat.
"See, semua orang merasa lucu karenaku hahahaaa," aku mengikuti gelak tawanya. Terimakasih Darrel.
"Well, gimana kalau kita makan siang bersama?" ajak Saga sambil melihat jam tangannya.
Kami meninggalkan kantor Saga untuk menuju restoran terdekat yang menurut mereka kualitas makanannya tidak bisa dianggap remeh.
TBC.