Aku menggendong Cheril sampai rumah sakit, air mataku terus mengalir. Ketakutan memenuhi d**a, aku menandatangani surat pernyataan setuju atas operasi yang akan berlangsung. Berharap Kak Afrizal baik-baik saja. Memeluk Cheril di depan ruang operasi dengan air mata yang terus mengalir. Sepertinya Tuhan tidak ada habisnya menguji, kebahagiaan yang sudah didepan mata hilang hanya dengan sekejap. "Yah ana, Bu?" tanya Cheril. Masih belum paham bahwa ayahnya sedang dioperasi. Berjuang antara hidup dan mati. "Ayah sedang berjuang di dalam sana. Cheril doain Ayah, ya?" Aku menghapus air mata, tidak sanggup jika harus membayangkan Cheril akan kehilangan ayahnya. Bocah itu mengangguk, setuju mendoakan ayahnya. Bahkan tangan kecil itu menghapus air mataku yang tidak bisa berhenti menetes, C

