Pulang

1220 Kata

Saat marah kemarin aku tidak berpikir sama sekali akan menikah keesokan harinya. Dengan cara apa adanya dan hanya dihadiri oleh beberapa orang. Kak Afrizal tersenyum padaku setelah melepaskan ciuman. Wajahku masih masam, sulit menyalahkan dia karena kemarin aku yang marah. Aku salah karena susah dihubungi. Sekarang hanya bisa mendesah berat membiarkan semua berlalu begitu saja. Tangan Kak Afrizal membuka kancing bajuku, matanya menatap dengan penuh pengharapan. Apa yang ingin dia lakukan? "Kakak mau apa?" tanyaku menghentikan tindakannya. "Kita kan udah sah, gituan sekarang nggak akan ada yang ngelarang." jawabnya. Memang sudah sah, tapi lihat keadaan dong! Kaki dan tangan kanannya digips, kepalanya juga masih ada luka yang belum kering. Masak mau gituan? Yang benar saja. Matanya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN