Kak Afrizal duduk di kursi. Memandang Yuno yang memakai masker oksigen, layar di monitor menunjukkan kondisi vitalnya stabil. "Aku sudah menikah, sekarang aku punya seseorang yang harus dibahagiakan. Cepatlah bangun dan beri hadiah honey moon." Orang yang diajak bicara hanya diam saja, tidak yakin mendengar semua ucapan Kak Afrizal barusan. Mata Kak Afrizal berkaca-kaca, meremas jemari. Kini aku tahu bahwa dia tidak mengunjungi Yuno karena tidak kuat, sahabat terbaiknya koma tanpa tahu kapan bisa sadar. Bisa jadi tidak akan kembali seperti semula. Kak Afrizal tidak bisa menerima kenyataan itu. "Hay Yuno, cepat bangun ya supaya Kak Afrizal tidak sedih lagi. Kami akan jagaian Husna dan anak kalian. Tapi jangan tidur terlalu lama, karena kasihan sama orang-orang yang sayang sama kamu."

