Tatapannya serius, setuju dan mendukung keinginanku. Membuat bibir ini tersenyum lebar. Aku berhamburan memeluknya, memang hanya dia yang selalu mengerti. Telingaku mendengar detak jantungnya yang berdetak kencang. Usapan lembut datang di pucuk kepalaku. "Ajarin aku main ML, soalnya kemarin kalah terus." "Making love?" Aku memukul dadanya, membuat dia mengaduh pelan. Lalu melepaskan pelukan kami. Bibirku cemberut. "Mobile legend lah." "Aku sendiri juga nggak pernah main, tapi nanti aku coba. Suamimu ini kan pintar." Kedua tangannya mencubit pipiku gemas, sikap manja kami seperti anak yang baru pacaran. Tidak ada yang menyangka bahwa kami sudah memiliki anak berusia 4 tahun. Aku kembali memeluknya, sangat manja hingga Kak Afrizal menciumi pucuk kepalaku. Perlahan dia menidurkan

