Kak Afrizal duduk di ranjang, mengelus rambutku dengan lembut sampai aku bisa tidur. Dia memutar lagu relaksasi hingga membuatku ngantuk. Setelah makan dan minum obat, Kak Afrizal selalu menemani. Mengabaikan hal lain, fokus hanya padaku. Aku merasa sangat dicintai. Meskipun kehamilan ini jauh lebih berat dari pada sebelumnya, lewat Kak Afrizal aku merasa bahagia. Menikmati sisi romantis dari suami yang menjaga istrinya. Aku merasa semua penderitaan telah dibayar lunas. Terkadang aku kasihan dengan Husna, dia merawat bayinya seorang diri. Tanpa suami. Kak Afrizal memang memperhatikan Husna selama kehamilan, tetapi tidak sama ketika bersamaku. Menjadi suami yang siap siaga ketika kandungan memasuki usia ke sembilan, dia melarangku bermain game. Harus fokus kepada janin. Mengurus Cheri

