Air di bajuku terus menetes membasahi lantai rumah sakit. Aku menenggelamkan wajah di antara lutut. Tak menghiraukan orang-orang yang berlalu lalang, juga tidak mengindahkan permintaan suster supaya aku diperiksa. Saat ini yang terpenting adalah Cheril dan Ramaniya yang tengah berjuang antara hidup dan mati. Mereka berdua adalah hidupku, nyawaku dan segalaku. Apa artinya luka di tubuh jika luka sebenarnya adalah mereka. Rasa takut kehilangan mereka melebihi kematian. Tanpa mereka berdua aku tidak bisa bertahan hidup. Mereka adalah segalanya bagiku yang tidak memiliki apapun. Orang tuaku sudah pergi sejak aku masih kecil, paman dan bibi tidak menyayangiku, Kak Afrizal mempermainkanku. Hanya Cheril dan Ramaniya yang benar-benar keluarga dan cinta yang sesungguhnya. Tuhan, apa salahku

