Menarik lebih jauh

1382 Kata
Agatha menuruni tangga menuju dapur karena perutnya kembali meronta, padahal tadi Agatha sudah makan bakso bersama dengan Zidan sebelum pulang ke rumah, memang dasarnya perut karet jam segini kembali meminta makan. Meski Agatha masih tidak ingin bertemu dengan Rian mau tak mau Agatha harus berjalan ke dapur agar perutnya berhenti meronta-ronta. Agatha mengembuskan napas lega melihat tidak ada tanda-tanda keberadaan Rian di manapun, mungkin Kak Rian sedang berada di kamar, begitu pikirnya.  Agatha membuka lemari penyimpanan bahan makanan dan mengambil satu bungkus mie rasa soto, sepertinya sore begini lebih enak makan mie saja untuk mengganjal dulu perut sebelum nanti kembali makan malam dan sebagai perempuan Agatha juga tidak ingin kan kalau sampai di bilang gendut. Memangnya perempuan mana sih yang tidak sensi dengan kata sakral itu. Agatha mulai mengambil panci dan mengisi air kemudian meletakan di atas kompor, tapi setelah itu dia malah terdiam dan ragu untuk menyalakan kompor. Bukan apa-apa hanya saja Agatha selalu membayangkan hal yang tidak-tidak seperti gas yang bocor dan meledak. Agatha bergidik ngeri, perutnya lapar tetapi takut menyalakan kompor. “Kalau gini sih tadi panggil kak Bian aja,” gumamnya. Sibuk dengan pikirannya sendiri Agatha tak menyadari keberadaan Rian yang berjalan ke arah dapur. Rian memang baru selesai mandi dan berniat untuk menonton tv tetapi saat matanya tak sengaja melihat ke arah dapur, Rian akhirnya menghampiri adiknya yang tengah berdiri di depan kompor tanpa melakukan apapun, hanya memandangi saja seperti tengah berkontak batin dengan kompor di hadapannya. “Lagi apa?” suara Rian membuat Agatha tersentak, gadis itu kemudian membalikkan badannya menatap Rian yang tengah bersandar di dekat kulkas. “Ah ... Kak Rian, aku lagi ini ...”Agatha tersenyum menggaruk kepalanya yang tak gatal. Seolah tahu dengan apa yang di maksud adiknya, Rian mulai menyalakan kompor tersebut. “Duduk! Biar kakak aja yang bikin,” ucap Rian membuat Agatha mundur dan membiarkan Rian mengambil alih tugasnya di dapur. Agatha duduk di meja makan dan merutuki dirinya sendiri dalam hati, harusnya tadi Agatha langsung saja berlari ke kamar Bian dan menyuruh kakak keduanya itu untuk menyalakan kompor daripada seperti ini berada di tempat yang sama dengan Rian saat situasinya tak mendukung akibat pulang dari sekolah tadi.  Kalau sudah begini kan Rian pasti akan membicarakan tentang Zidan. Siap-siap saja kupingnya panas karena ceramah dari Rian, meski itu demi kebaikan Agatha juga tetapi tetap saja malas. “Udah berapa lama kenal sama cowok tadi?”  Kan apa Agatha bilang benar, Rian pasti to the point bahkan belum semenit saja Agatha bergumam dalam hati pertanyaan itu meluncur dari mulut Rian. “Tiga atau empat bulan,” balas Agatha asal.  Agatha sendiri tidak pernah menghitung berapa lama mengenal dan dekat dengan Zidan karena selama ini Agatha lebih fokus pada kedekatan dia dan Zidan juga perkembangan hubungan mereka meski sampai sekarang pun masih tetap sama saja, tidak ada kejelasan dan mungkin hanya sebatas teman. “Pacar kamu?” tanya Rian berhasil membuat Agatha melotot. “Hah?! Bukan temen doang kak,” Agatha sedikit gelagapan karena tak menyangka Rian akan bertanya seperti itu. Pacara katanya?  Kalau iya Agatha sudah pasti sujud syukur karena bisa pacaran dengan Zidan yang merupakan kapten basket di sekolah, tampan dan populer Agatha pasti sangat beruntung tapi sayangnya itu hanya bayangan dia saja.  Agatha tidak pernah tahu bagaimana perasaan Zidan kepadanya, laki-laki itu hanya memberikan perhatian saja tanpa menjelaskan perasaannya. “Bagus kalau gitu, inget ya belajar dulu jangan mikirin pacaran,” ucap Rian, Agatha hanya mengangguk saja sudah pasti akan seperti ini ujungnya dan Agatha sudah tahu itu. Agatha memang mengangguk dan tahu akhirnya akan seperti ini tetapi tetap saja hatinya menggerutu masa sekolah begini kan identik dengan masa cinta remaja tapi malah harus sibuk dengan buku pelajaran meski bermanfaat tetap saja Agatha juga ini kan merasakan pacaran semasa sekolah, di masa putih abunya. “Widih ... masak mie, mau dong gue.”  Bian baru saja bergabung dengan Agatha dan Rian, tadi saat menuruni tangga laki-laki itu mencium wangi mie dari arah dapur membuat penasaran dan akhirnya belok ke arah dapur padahal tujuannya adalah ruangan tengah. Bian duduk di samping Agatha yang saat ini tengah menopang dagunya sementara Rian masih sibuk memasak mie untuk Agatha. Dahi Bian mengernyit melihat sang adik dengan wajah yang begitu suram -menurutnya, lihat saja wajah Agatha yang di tekuk sudah seperti kanebo kering. Bian mengusap rambut Agatha, “Kenapa?” tanya Bian. Agatha hanya menggeleng menjawab pertanyaan dari Bian, malas menjawab karena ujungnya akan ada perdebatan antara Bian dan Rian, meski mereka sama-sama laki-laki tetapi sifat mereka sungguh bertolak belakang.  Di saat Rian yang keberatan jika Agatha dekat dengan laki-laki selain Rian dan Bian, berbading terbalik dengan Bian yang terlihat santai menanggapinya karena Bian tahu kalau Agatha bisa menjaga diri dan memilih yang mana baik dan tidak untuk dirinya sendiri, lagipula bagus kan jika menambah teman begitu kata Bian. Bian membiarkan Agatha mungkin nanti adiknya akan bercerita, karena kalau sudah begini akan susah untuk membujuk Agatha agar berkata yang sebenarnya. “Gue mana?” tanya Bian saat melihat Rian yang menyimpan satu mangkuk mie di atas meja tepat di hadapan Agatha. “Bikin sendiri,” balas Rian membuat Bian berdecak kesal, sudah tahu punya dua adik kenapa hanya Agatha saja yang di kasih mie, dia juga mau kalau di buatkan oleh kakaknya, jarang sekali kan melihat Rian masak seperti ini meski hanya sebatas mie saja. Bian akhirnya berjalan ke arah dapur kemudian mengambil lagi satu bungkus mie dan mulai memasaknya. “Makan, nanti dingin.” Agatha mulai menyantap mie buatan Rian, perutnya lapar dan dia juga butuh tenaga untuk menghadapi Rian yang keras. Tetapi satu suapan saja sudah membuat dia kenyang ini karena ucapan Rian tadi membuat napsu makannya hilang seketika.  Perkataan Rian benar-benar pedas sampai melarang Agatha untuk pacaran padahal Rian itu termasuk laki-laki cuek tetapi memang jika sudah berurusan dengan adiknya apalagi menyangkut Agatha laki-laki itu akan berubah 180 derajat. ** Zidan menatap adiknya yang baru saja memasuki rumah,  ZIdan heran sendiri dengan adik bungsunya ini. Mereka memang bersekolah di sekolah yang sama tapi jarang sekali melihat adiknya di sekolah bukan karena tukang bolos tapi memang sudah seperti itu lah adik bungsunya, menyendiri mungkin lebih dia nikmati kalau pun dengan teman, hanya bersama dengan Alka dan juga Algi. “Jam segini lo baru di rumah, dari mana?” tanya Zidan saat adiknya malah terus berjalan melewatinya. Ars –begitu lah panggilannya- menghentikan langkah saat suara sang kakak kembali terdengar di telinganya. “Dari rumah Alka,” balasnya kemudian kembali berjalan ke arah kamar di lantai dua. Zidan hanya menatap kepergian adiknya sambil menggelengkan kepala, hanya seperti itu jawaban singkat, padat dan jelas. Benar-benar mencerminkan seorang Arsyah, si adik bungsu yang memiliki karakter berbeda dengan dirinya dan juga Elvan.  Ars lebih pendiam dan tak banyak bicara sampai terkadang sulit untuk mengetahui bagaimana perasaan Ars atau menebak apa yang adiknya inginkan. Ars sudah tak lagi ada di hadapannya dan Zidan kembali menatap layar tv namun Zidan tiba-tiba saja mengingat pertemuannya tadi bersama dengan Rian tadi saat mengantarkan Agatha sampai rumahnya. Hal yang tak terduga memang apalagi saat Rian bertanya tentang seberapa lama Zidan kenal dengan Agatha.  Zidan tak mengerti kenapa kakak pertama Agatha itu begitu berbeda sekali dengan Bian yang merupakan kakak kedua Agatha juga, Rian begitu kaku bahkan cara dia berbicara pun memakai kata “Saya” membuat Zidan merasa gugup seketika karena merasa bertemu dengan orang tua Agatha. Tentang Agatha dan kedekatan mereka berdua sampai sekarang Zidan merasa nyaman saja bersama dengan gadis itu, bahkan Agatha sangat berbeda dengan perempuan lain diluaran sana yang terkadang begitu menjaga image berbeda dengan Agatha yang apa adanya dan Zidan menyukai hal itu. Sudah masuk empat bulan lebih mereka dekat namun sejujurnya Zidan tak memiliki perasaan lebih kepada Agatha, Zidan hanya merasa Agatha asyik untuk di ajak berteman, meski tak menutupi kalau dia juga tertarik dengan Agatha namun untuk tahap ingin memiliki rasanya belum sampai di situ. Zidan hanya ingin menjalani semua dengan biasa saja mengalir apa adanya dan ini lebih membuat dia nyaman mungkin juga dengan Agatha. Lagipula akan aneh rasanya kalau sampai mereka berdua pacaran kan? menurutnya begitu. Sampai Zidan tak menyadari bagaimana perasaan Agatha kepadanya, karena perempuan itu mudah sekali terbawa perasaan apalagi jika laki-laki memberikan perhatian lebih dan Zidan sudah melakukan itu kepada Agatha tanpa Zidan sadari, menarik Agatha sampai jatuh hati pada dirinya tanpa pernah dia ketahui.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN