Pertandingan Basket

1886 Kata
Pertandingan basket antara sekolah Agatha dan Zidan hari ini di mulai, Agatha sudah duduk bersama kedua sahabatnya di bangku paling depan untuk menyaksikan pertandingan yang akan di mulai beberapa menit lagi.  Sudah terlihat kedua team basket dari sekolah Agatha dan juga Zidan berada di lapangan sedang mendiskusikan strategi mereka dalam permainan bersama pelatih masing-masing.  Sesekali Zidan melihat ke arah bangku penonton di mana Agatha duduk, ia tersenyum kecil melihat keberadaaan Agatha bersama dengan teman-temannya. Ia pikir gadis itu tak akan melihat dirinya tanding siang ini seperti sebelumnya, ternyata Agatha ada di sini. Peluit tanda permainan di mulai, kedua team tengah sama-sama memertahankan bola basket yang mereka pegang. Beberapa kali Agatha melihat Zidan yang berhasil mencuri bola dari lawannya dan kemudian sorak sorai memeriahkan lapangan saat satu point di dapat oleh team Zidan.  Agatha tersenyum lebar melihat Zidan yang mencetak point tetapi ia tak bisa berteriak menyemangati Zidan, selain karena ia tak terbiasa seperti itu ia juga tak mungkin memberikan semangat kepada Zidan yang tak lain adalah lawan dari sekolahannya. Bisa di amuk siswa lain kalau sampai dia seperti itu, bukannya mendukung basket sekolahannya sendiri malah mendukung sekolahan lain. Pertandingan antar sekolah ini selain melibatkan kedua team basket sekolah yang berbeda, ini juga melibatkan persaingan antara adik dan kakak yang tak lain adalah Zidan dengan Elvan.  Benar ... Zidan adalah kapten team basket sekolahanya dan Elvan juga memegang posisi sebagai kapten team basket di sekolahan.  Tak ada yang tahu tentang hubungan mereka sebagai saudara karena setiap kali team mereka bertanding maka Zidan dan Elvan akan sama-sama profesional dan melakukan yang terbaik untuk team mereka masing-masing. Babak pertama sudah selesai, hasilnya team Zidan memimpin dengan selisih dua point saja membuat team lawan yang tak lain adalah Elvan sebagai kapten harus berpikir bagaimana menyusul point tersebut karena dua point saja begitu berarti bagi mereka. Agatha dan Karin memilih untuk ke kantin lebih dulu selagi jeda pertandingan basket sementara Rania menghampiri Elvan yang berada di lapangan basket.  Agatha mengambil dua botol minuman dingin, pun Karin sudah memilih makanan ringan untuk teman nonton basketnya setelah itu mereka sama-sama membayarnya dan kembali ke lapangan basket.  Rania sudah kembali di kursinya saat Agatha dan Karin baru saja sampai dan duduk di kursi masing-masing, lima menit lagi pertandingan kembali di mulai dan mereka kembali fokus pada pertandingan. ** “Selamat ya Kak,” ucap Agatha mengulurkan tangannya di hadapan Zidan. Pertandingan basket sudah selesai sepuluh menit yang lalu dan team Zidan pemenangnya. Agatha pun menghampiri Zidan yang masih berada di pinggir lapangan bersama teman-temannya. Itu pun karena desakan Karin yang menyuruh Agatha untuk memberikan selamat secara langsung kepada Zidan, hitung-hitung pendekatan, begitu yang di katakan Karin pada Agatha tadi. “Makasih karena kamu udah nonton juga.” Zidan tersenyum membalas uluran tangan Agatha, “Nanti aku traktir buat rayain kemenangan ini,” lanjut Zidan. Agatha mengangguk semangat, “Siap, aku tunggu Kak.” “Sekarang kamu langsung pulang?” tanya Zidan. “Iya kak, kan udah selesai juga acaranya dan gak ada pelajaran di kelas juga.” “Kalau gitu kita pulang bareng, aku anterin kamu sambil makan terserah kamu mau apa.” “Emmh ... boleh deh, aku ambil tas dulu ya Kak,” ucap Agatha dan di angguki oleh Zidan kemudian setelah itu Agatha pun berjalan ke arah kelasnya untuk mengambil tas. ** Agatha memasuki kelas dan ternyata masih ada Karin bersama dengan Rania di sana yang juga tengah membereskan buku mereka ke dalam tas masing-masing. “Lo pulang sama siapa, Ta?” tanya Rania saat melihat Agatha sudah berada di mejanya. “Ya pasti sama si pangeran basket,” celetuk Karin membuat Agatha yang hendak menjawab pertanyaan Rania menatap Karin dengan tatapan tajam. “Hehehe ... sorry deh Ta,” ucap Karin saat melihat tatapan Agatha, tapi hal itu malam membuat Karin tertawa pelan. “Kebiasaan lo, nyela ucapan orang aja.” “Abisnya nanya itu yang bener, udah tau jawabannya ada di depan mata dan gak butuh pemikiran yang panjang.” Karin membela diri. “Iya-iya, udah kalian gak usah ribut malu kembaran juga,” ucap Agatha. “Siapa juga yang ribut, Ta.” “Ya kali aja, kalau gitu gue duluan ya soalnya Kak Zidan udah nungguin,” pamit Agatha yang diangguki dengan kompak oleh Karin dan Rania.  Agatha bergegas keluar kelas dan berjalan ke arah parkiran di mana Zidan yang memang sudah menunggunya. “Maaf ya kak lama,” ucap Agatha tak enak pada Zidan yang sudah menunggunya sambil duduk di atas motor. “Gapapa, tapi kita naik motor ni tadi aku emang bawa motor gak masalah kan?” tanya Zidan. “Gak Kak,” balas Agatha.  Setelah itu Agatha menaiki motor dan Zidan melajukan motornya meninggalkan parkiran sekolahan Agatha. Tanpa mereka sadari Elvan melihat hal itu, ia baru tahu kalau kakaknya dekat dengan Agatha yang tak lain adalah sahabat dari Rania, kekasihnya. Elvan akan memastikan hal itu nanti pada kakaknya nanti. ** Agatha dan Zidan berada di penjual bakso tak jauh dari rumah Agatha. Gadis itu memang meminta untuk di traktir di sini saat Zidan menyuruhnya untuk memilih tempat makan mereka akhirnya Agatha lebih memilih makan bakso karena sudah lama sekali ia tak makan bakso dan Zidan sendiri tak masalah dengan itu. “Kak Zidan udah lama main basket?” tanya Agatha di sela-sela makan mereka. Zidan mengangguk,”Lumayan, suka dari sekolah smp terus adik yang satu juga main jadi ada lawan deh,” balas Zidan. “Seru dong, jadi bisa main barengan.” “Iya, malah jadi lawan kaya tadi.” “Hah? Maksudnya?” “Iya tadi, dia kan sekolah di sekolahan kamu juga dan kapten team basket.” Perkataan Zidan membuat Agatha terkejut, tapi ia masih belum menyadari siapa adik Zidan yang merupakan kapten team. “Bentar deh, aku inget-inget dulu soalnya aku bener-bener gak tau sama kapten team basket. Eh iya ... kan aku baru inget jadi adiknya Kak Zidan itu Kak Elvan pacarnya Rania temen aku kan?” “Pacar? Jadi El udah punya pacar,” ucap Zidan dan dia baru mengetahui hal tersebut. “Lho Kakak gak tau?” Zidan menggeleng. “Aku malah baru tau dari kamu ini, wah kayanya aku harus introgasi El masa punya pacar gak bilang-bilang sama aku,” ucap Zidan protes mengingat hal tersebut. Agatha terkekeh melihat Zidan yang seolah tak menerima kalau adiknya diam-diam memiliki pacar, “Jangan galak lho kak, masa pacaran aja gak boleh,” ucap Agatha. “Ya boleh sih, cuma biasanya kalau ada apa-apa dia suka bilang. Tumben banget ini gak bilang.” “Ya kan gak semuanya harus di kasih tau lah, urusan pribadi kalau ini masa sampe bilang-bilang, mungkin Kak El gak suka aja umbar-umbar lagian di sekolah juga gak kelihatan kalau Kak El pacaran sama Rania.” “Iya sih, udah kebiasaan dari kecil apa-apa di ceritain sama aku. Sekarang kayanya harus biasa kalau ada hal yang gak selalu di ceritain sama aku.” “Iya kak, lagian udah dewasa juga.” Zidan mengangguk tetapi meski begitu nanti dia akan tetap bertanya kepada Elvan dan ingin mendengar langsung dari mulut adiknya. Selesai makan bakso Zidan mengantar Agatha sampai rumahnya dan saat sampai di depan rumah Rian yang kebetulan baru sampai keluar dari mobil dan melihat kedatangan adiknya bersama dengan laki-laki yang memakai seragam berbeda dengan adiknya. Agatha menghampiri Rian bersama dengan Zidan yang berjalan mengikuti Agatha dari belakang, mungkin menyapa sebentar saja begitu pikir Zidan karena memang ia belum bertemu dengan Kakak pertama Agatha ini, ia lebih sering bertemu dengan Bian dan Kakak kedua Agatha itu sangat ramah berbeda dengan Rian yang menurutnya sedikit kaku. “Baru pulang kak,” ucap Agatha hanya mencoba untuk bersikap biasa namun Rian hanya mengangguk sebagai jawaban. “Masuk!” Rian menyuruh Agatha untuk masuk ke dalam rumah dan dengan cepat gadis itu mematuhi perintah kakaknya meski harus meninggalkan Zidan sendirian. Setelah melihat Agatha benar-benar masuk ke dalam rumah, Rian memerhatikan Zidan yang masih berdiri di hadapannya.  Rian sudah seperti seorang Ayah yang akan mengintrogasi laki-laki yang dekat dengan anak perempuannya. Merasa di pandangi terus menerus oleh Rian membuat Zidan menjadi tak enak hati, tapi ia tak melakukan kesalahan apapun kan jadi dia akan aman, begitu ucapnya dalam hati meski tak bisa di pungkiri di hadapan Rian membuat Zidan tegang karena tatapan matanya yang terkesan menusuk. “Udah berapa lama kenal sama adik saya?” tanya Rian setelah lama dalam keheningan. “Belum lama, Kak.” “Sebulan? Dua bulan? Atau lebih?” tanya Rian lagi. “Kayanya empat bulan lebih dikit,” balas Zidan. Rian mengangguk-anggukkan kepalanya,”Kalau begitu kamu boleh pulang, terima kasih sudah mengantar adik saya,” ucap Rian. Zidan akhirnya berjalan ke arah motornya berada dan pergi dari halaman rumah Agatha. Ia bernapas lega karena Rian tak bertanya macam-macam atau memintanya untuk menjauhi Agatha tetapi Zidan tahu kalau Rian tak ingin ia terlalu dekat dengan Agatha, atau mungkin hanya perasaannya saja. Agatha yang berada di dalam rumah melihat Rian dan Zidan dari dalam jendela, tak lama mereka mengobrol dan setelah itu ia melihat Zidan pulang dengan motornya kemudian Rian yang melangkah menuju ke dalam rumah.  Agatha bergegas menjauh dari jendela dan berjalan agak cepat menuju kamarnya, ia tak ingin di tanyai apapun oleh Rian karena ia tahu akan ada banyak pertanyaan dari kakak pertamanya itu kepada dirinya dan pasti tentang kedekatan dia dengan Zidan.  Kenapa juga harus hari ini Rian pulang lebih cepat jadi Agatha ketahuan kan di antar oleh Zidan sampai rumah padahal selama ini Rian tak pernah tahu tentang ini. Rian masuk ke dalam rumah dan melihat Agatha yang berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, ia menggeleng pelan sudah pasti adiknya itu menghindari dirinya.  Rian bukan tak suka jika Agatha dekat dengan laki-laki hanya saja ia ingin adiknya fokus pada sekolah saja dari pada harus berdekatan dengan laki-laki atau malah pacaran, kecuali kalau memang Agatha sudah masuk universitas Rian akan sedikit memberikan kelonggaran, tapi jika masih sekolah seperti ini dia akan tetap ketat pada Agatha.  Agatha itu adik perempuan satu-satunya dan dia bertanggung jawab menjaga Agatha dan Rian ingin yang terbaik untuk adiknya. ** Zidan baru saja sampai di rumah dan ia langsung berjalan ke arah kamar adiknya, Elvan. Zidan tak lupa dengan yang tadi di katakan oleh Agatha tentang Elvan yang memiliki pacar, ia ingin mendengar secara langsung dari Elvan. Cklek. Pintu kamar Elvan terbuka membuat sang pemilik kamar yang sedang asyik dengan game di handphonennya menatap ke arah pintu. Elvan melihat Zidan masuk ke dalam kamar namun kemudian ia kembali fokus pada gamenya. “El,” panggil Zidan yang hanya di balas dengan gumaman. Zidan menarik handphone adiknya membuat Elvan berdecak kesal karena Zidan mengganggu dirinya. Elvan menatap Zidan heran saat tatapan mata Zidan menunjukkan keseriuasan. “Kenapa?” tanya Elvan akhirnya. “Lo punya pacar?” Zidan balik bertanya membuat tubuh Elvan kaku. “Tau dari mana lo?” “Tau aja, jadi beneran punya pacar?” “Iya, kenapa?” “Nggak gue memastikan aja,” ucap Zidan.  Setelah itu mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing, tak ada lagi respon dari Elvan membuat Zidan juga diam dan ia tahu kalau itu urusan pribadi adiknya mulai sekarang ia tak mungkin selalu ingin tahu apa yang di lakukan oleh adiknya selagi itu tak melanggar batasan dan bukan hal negatif apapun bisa di lakukan oleh adiknya, begitu juga dengan adik bungsunya yang bahkan terlalu asyik dengan dirinya sendiri dan juga dengan hobinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN