Siang ini setelah pulang dari sekolah, Agatha pergi ke toko roti untuk bertemu dengan Zidan, mereka memang sudah berencana untuk bertemu tetapi kali ini Zidan tak bisa menjemput Agatha, akhirnya gadis itu pergi ke toko roti dengan menggunakan sepedanya.
Agatha dengan santai mengayuh sepeda menuju toko roti sambil bersenandung pelan dan sesekali melihat ke arah pinggiran jalan di mana ada taman yang ia lewati. Agatha mengernyit lalu secara refleks menghentikan laju sepeda, ia melihat ada seorang laki-laki berseragam SMA yang tengah berbaring di atas kursi taman dengan tangan yang menutupi wajahnya.
“Emangnya gak panas ya, ini matahari terik banget,” ucap Agatha masih memerhatikan laki-laki tersebut.
“Lama-lama bisa item itu kulit.” Agatha bergidik membayangkan bagaimana kalau ia yang berada di sana dan kulitnya hitam. Agatha memilih untuk mengayuh sepedanya kembali dan mengabaikan laki-laki di taman.
Sementara itu, setelah kepergian Agatha, laki-laki yang tengah tertidur tadi beranjak dari kursi taman ia melihat kepergian gadis dengan sepeda berwarna putihnya sampai gadis itu hilang dari pandangan namun ia seolah tak bisa melepas kedua matanya dari arah gadis itu menghilang.
“Sepeda putih, kayanya tadi dia berhenti,” gumamnya lalu berjalan meninggalkan taman itu.
**
Agatha baru saja sampai di depan toko, ia menyimpan sepeda di sampig motor yang ia ketahui milik Zidan. Setelah mengunci sepedanya dengan gembok berwarna pink Agatha berjalan memasuki toko roti tersebut, sapaan ramah dari pegawai toko sudah biasa ia terima, Agatha membalas dengan senyuman kemudian ia menghampiri seorang perempuan yang memang sudah dekat dengan dia di banding yang lainnya.
“Mbak, Kak Zidan ada?” tanya Agatha, perempuan yang sedang sibuk dengan mesin kasir itu menatap Agatha sambil tersenyum ramah.
“Ada lagi di dalem, paling bantuin bikin roti,” balasnya.
Agatha mengangguk, “Makasih Mbak Hera, aku tunggu di sana ya,” ucap Agatha kemudian pergi ke sudut toko setelah di angguki oleh perempuan yang tadi di panggil Mbak Hera.
Agatha memilih untuk duduk di sudut toko, posisi biasa yang selalu ia dan Zidan tempati saat mereka mengerjakan tugas sekolah atau hanya berbincang berdua. Sebenarnya ini tempat favorite Zidan selama berada di toko sambil mengawasi pergawainya karena dari tempat ini ia bisa melihat ke sekeliling toko.
Agatha duduk dan membuka bungkus roti coklat yang sebelumnya ia ambil sambil menunggu Zidan selesai di dalam ia memilih untuk menikmati roti cokelat sambil memainkan handphone.
Tak berselang lama Zidan keluar dari ruangan pembuatan roti kemudian berjalan menghampiri Agatha yang tengah asyik dengan roti cokelatnya.
Zidan tersenyum kecil, ia suka sekali melihat ekspresi dari wajah Agatha saat memakan roti cokelat. Entah kenapa begitu menggemaskan di matanya.
Zidan berdiri di depan Agatha membuat gadis itu mendongakkan kepala dan tersenyum menunjukkan deretan giginya. “Udah lama ya, tadi bantuin di belakang,” ucap Zidan mengacak rambut Agatha sebelum akhirnya duduk di hadapan gadis itu.
Agatha yang mendapatkan perlakuan seperti itu merasa wajahnya memerah, Zidan selalu berhasil membuat jantungnya berdetak cepat atau mungkin dia saja yang terlalu terbawa perasaan? Tapi memang begitu adanya kan.
Agatha menggeleng pelan, “Nggak baru aja nyampe,” balasnya sembari tersenyum kecil.
“Udah berapa banyak roti cokelat yang kamu makan?” tanya Zidan terkekeh dan lagi-lagi itu membuat pipi Agatha merona hanya dengan melihat tawa Zidan saja.
“Gak usah ngeledek deh, ini satu doang.”
“Siapa yang ngeledek, aku kan cuma nanya aja.”
“Nanya terus tiap kali aku makan roti,” Agatha mengerucutkan bibirnya membuat Zidan kali ini tertawa cukup kencang.
“Bercanda,” ucap Zidan setelah menghentikan tawanya.
“Oh iya, Kak. Kebetulan ni aku inget, kalau nanti pasti lupa. Kak Zidan tanding basket sama sekolahanku?” tanya Agatha kemudian.
“Iya, sekitar seminggu atau dua minggu aku lupa.”
“Pertandingan sendiri masa lupa, aneh.”
“Kenapa? Tumben nanya soal ini.”
“Gapapa, aku baru tau aja kalau Kakak main basket dan kapten teamnya,” ucap Agatha.
“Kok bisa tahu?”
“Ya temen aku yang bilang, padahal aku yang kenal Kakak tapi mereka yang malah tau kalau Kak Zidan main basket.” Agatha menekuk wajahnya, benar-benar tak adil menurutnya karena ia yang mengenal Zidan lebih dulu kan tapi malah ia juga yang baru tahu kalau Zidan adalah kapten team basket.
Zidan tersenyum, “Siapa suruh gak pernah nonton tiap kali sekolahan kita tanding,”
“Gak tertarik aja, lagian aku juga gatau kalau Kak Zidan yang main.”
“Iya juga ya, kita kan baru kenal. Kalau gitu khusus nanti kamu harus nonton buat dukung aku,” pinta Zidan dengan nada memaksa.
“Masa aku dukung team rival,” ucap Agatha tertawa pelan.
“Ya gapapa, kan ada aku.”
Agartha tertawa lagi, mendengar perkataan tersebut membuat ia merasa bahagia. Apa katanya tadi ada aku? Begitu saja sudah membuat ia merasa bahagia sampai rasanya terbang ke langit. Lebay.
“Iya deh nanti aku nonton,” balas Agatha.
**
Zidan baru saja sampai di rumah setelah tadi berada di toko roti milik orang tuanya dan berbincang dengan Agatha. Ia menaiki undakan tangga menuju ke lantai dua di mana kamarnya berada. Ia hendak membuka pintu namun suara seseorang membuatnya menoleh ke arah belakang.
“Gantian, Kak?” tanya seorang laki-laki dengan pakaian basketnya.
“Iya biasa El, lo ke mana? Latihan?” tanya Zidan pada adiknya -Elvan.
“Baru selesai, masa latihan jam segini. Lo lihat Ars nggak, Kak?”
“Ars? Emangnya dia belum pulang?” Zidan balik bertanya.
“Kayanya belum, gue nggak lihat dia tadi di kamar.”
“Biasa paling ke--”
“Gue di sini,” perkataan seseorang membuat Zidan tak menyelesaikan ucapannya, ia dan Elvan sama-sama melihat ke arah suara dan seorang laki-laki berseragam putih-abu baru saja berjalan menghampiri mereka.
“Kebiasaan, kalau mau ke mana-mana ganti dulu baju lo,” ucap Elvan pada laki-laki itu.
“Kaya anak kecil aja,” balasnya membuat Zidan menggeleng melihat tingkah adik bungsunya.
Ya yang baru saja menghampiri mereka adalah adik kedua Zidan _Arsyah- yang bersekolah di satu sekolah yang sama dengannya, berbeda dengan Elvan yang memilih untuk bersekolah di sekolahan berbeda dengan kedua saudaranya, karena ia merasa bosan jika harus bertemu dengan kakak dan juga adiknya setiap saat.
Udah cukup ketemu di rumah aja sampe bosan, begitu yang ia katakan saat kedua orang tuanya bertanya alasan mengapa Elvan memilih sekolahan lain.
“Udah, kalau kaya gini kalian berantem. Ars lo mandi sana, abis itu kita makan bareng. Lo juga El,” ucap Zidan kepada kedua adiknya, mereka berdua mengangguk kompak.
Zidan memilih untuk pergi ke meja makan sambil menunggu kedua adiknya mandi dan berganti pakaian, hal ini sudah biasa ia lakukan karena memang sedari kecil Zidan yang merupakan anak pertama di ajarkan bertanggung jawab untuk kedua adiknya oleh kedua orang tua mereka.
Alhasil sampai sekarang di saat mereka sama-sama beranjak dewasa, semua yang di lakukan sedari kecil masih melekat dan kedua adiknya pun tak merasa keberatan jika ada dalam satu kondisi Zidan lah yang mengatur semuanya termasuk seperti tadi dan makan bersama adalah salah satu yang sering mereka lakukan meski kedua orang tua mereka masih bekerja di toko.
Tak berselang lama, Elvan dan Arsyah menghampiri Kakak mereka yang sudah duduk di meja makan dengan makanan yang sudah di siapkan oleh asisten rumah tangga mereka. Elvan dan Arsyah pun duduk berhadapan dengan Zidan yang tadi menunggu mereka. Setelah semuanya berkumpul akhirnya mereka mulai makan bersama.