[11 ] Demi Keselamatan Bersama?

1586 Kata
         Sinta, dan Anto sedang bermain tebak-tebakan. Sebuah permainan yang oleh keduanya tak pernah sangka akan dimainkan di bawah langit biru, beralaskan tanah, di sebuah gunung yang tingginya 3.676 mdpl. Keduanya baru berhenti bermain saat menyadari rombongan mereka sedang berjalan mendekat. Anto menyambut kedatangan rombongan dengan banyak pertanyaan.  Saat akhirnya rombongan sampai di tempat di mana mereka meninggalkan keduanya bersama barang-barang. Sinta memeluk Indri, dan Tika, sedangkan Anto menepuk pundak Gilang. “Capek, ya?” tanyanya dengan sedikit merasa iri. “Jam berapa sampe puncak?” “Sempet liat sunrise gak?” “Udah ditancepin bendera kita?” “Poto-poto dong? Coba liat.” “Pasti seru, seandainya gue ikut.” “Lo abis nangis, ya, Tik?” Pertanyaan demi pertanyaan ia utarakan dengan hampir tak berjeda, tak membiarkan kawan-kawannya beristirahat barang sejenak. Akan tetapi, justru obrolan langsung saja tercipta, ramai karena semua ingin bercerita. Lalu, Anto menyadari bahwa ada seseorang asing yang mengikuti mereka di belakang. Ia, dibopong Tanto, gadis itu berjalan tertatih dengan satu kaki terangkat. “Siapa itu, Lang?” Anto membisik ingin tahu. “Pendaki yang tersesat, kita ketemu di jalan, dia terperosok, dan ditolong oleh Mas Tanto,” jawab Gilang. “Oh, dia naik sendirian? Masa gak ada yang nemenin, aneh.” “Katanya dia terpisah dengan rekan-rekannya.” “Ohh. Kok bisa gitu?” Belum sempat Anto mendapat jawaban, Tanto telah berada di belakangnya. “Teman-teman, ini Dania. Ia tersesat akibat terpisah dengan rombongannya.” “Hai Dania,” sapa yang lain. “Hai semua. Salam kenal, senang sekali bisa bertemu, dan menjadi teman kalian.” Dania tersenyum dengan mereka semua, wajahnya manis, terlihat pucat, dan kelelahan.  Melihat kondisi gadis itu rasa iba tercipta untuknya. Segera saja Sinta memberinya roti dan minuman. Tanto melihat luka-lukanya, sepertinya kakinya terkilir, karena tidak terlihat luka terbuka di sekujur tubuhnya. Setelah istirahat sebentar mereka pun melanjutkan perjalanan kembali.  Berjalan sedikit lebih lambat karena kini sang guide berada di belakang rombongan. Sepanjang langkah, karena langit masih terang mereka mendapati beberapa plat nama-nama korban Semeru di beberapa tempat, sesekali menyempatkan membaca doa untuk mereka.  “Banyak juga, ya, Kak. Korban meninggal dan hilang di Semeru ini.” Indri kembali mengobrol dengan Zaki.             “Iya, ada juga anak dari Jakarta yang menjadi korban. Keberadaan plat-plat ini secara gak langsung mengingatkan para pendaki, agar lebih mempersiapkan diri sebelum naik gunung. Sebab bukan hanya butuh perlengkapan dan fisik yang kuat aja. Namun, juga mental. Banyak yang meninggal bukan karena ia lelah, tetapi jalan sendirian, sehingga terpisah dari rombongannya,” ujar Zaki panjang lebar. Itu sebabnya ia mempersiapkan diri dan kawan-kawannya sekitar sebulan sebelum hari keberangkatan. Naik gunung amat beresiko, tak bisa hanya dengan modal nekat. “Iya ya, Kak.  Ah, itu ada plat lagi.” Indri menunjuk ke sebuah plat di sisi kanan mereka. Gadis itu berhenti sejenak, membaca nama yang terdapat dalam plat tersebut. “Memeluk gunung dengan damai, di sini beristirahat sahabat kami Dania Agus ....” Indri memandang Zaki, laki-laki itu pun terdiam. Mereka bersamaan memandang Tanto, yang masih tampak sibuk membantu Dania berjalan dalam penglihatan Indri. Akan tetapi, bagi Zaki orang yang ia cari, tidak lagi berada di sisi Tanto. Keduanya merinding meski melihat penampakan yang berbeda. “Mas Tanto,” ucap Indri lirih. “Ya, Ndri. Ada apa?” jawab Tanto. “Ehm, sini, deh. Bentar aja.” Tanto berjalan mendekat setelah sebelumnya mendudukkan Dania atau sosok Dania tepatnya di sebuah batu. Zaki dan Indri memperlihatkan plat yang mereka temukan. Tanto terdiam.  Lalu menatap ke arah kirinya. “Di sini, ya, Dan? Istirahatlah kamu  di sini dengan tenang, ya.” ucap Tanto dengan sedikit bergetar. Lalu, laki-laki itu tersenyum, mendekat kepada sosok yang duduk di atas batu. Ia seolah membantu seseorang untuk berjalan, lalu di depan plat ia bergerak seperti melepaskan rengkuhan pada seseorang yang kini sudah tidak terlihat bak tertiup angin. Setelah itu mereka bertiga berusaha berjalan kembali dengan tenang.  Seperti tidak ada apa-apa, meski bulu kuduk meremang. Untungnya gadis itu, tidak mengikuti, ia duduk dengan patuh di dekat platnya. Seperti menanti seseorang.   Perjalanan rombongan jelas agak lambat tadi, karena Mas Tanto yang sibuk menjaga Dania. Hingga akhirnya, senja telah bergelayut, ketika mereka tiba kembali di Pos Kalimati. Warna jingga langit telah semakin pekat, telah masuk waktu magrib.  Kini mereka sedang beristirahat di Kalimati, belum ada keputusan akankah menginap lagi di sana atau terus jalan menuju Ranu Kumbolo. Para senior dan Tanto sedang terlibat diskusi serius. Zaki, dan Retno bersikeras  melanjutkan perjalanan, sedangkan Tanto tidak mau berjalan dalam gelap. Ragil menjadi penengah, dan memperhatikan mereka berdiskusi. “Semua ini, demi keselamatan bersama, Ki. Saya tidak mau ambil resiko,” ujar Tanto. “Benar, Mas. Kami paham maksud Mas Tanto. Hanya saja kami sudah terlanjur, pesan tiket kereta untuk PP. Menginap di sini, itu berarti kami mungkin akan terlambat untuk naik kereta sesuai jadwal besok,” balas Zaki seraya menatap Retno yang memiliki kendali atas keuangan rombongan. “Kalian semua sudah tahu resiko naik gunung, kalo gak kelelahan, luka, hilang, ya, mati. Jika kita bisa memperkecil resiko, kenapa harus nekat.” Tanto tetap pada pendiriannya. Bertahun-tahun ia menjadi pemandu di sana, ia tak ingin terjadi apa-apa pada rombongan yang menjadi tanggung jawabnya. Melihat diskusi yang alot tersebut, Ragil akhirnya menimpali pembicaraan mereka. “Bener, Ki. Kalo taruhannya adalah keselamatan, kenapa kita memaksakan diri.  Lagian gue betah, kok, di sini.” “Bukan masalah betah atau enggak, Gil.  Ini urusan finansial.” Zaki menatap Ragil dengan tajam. Retno yang sedari tadi bolak-balik, mengotak-atik layar ponsel. Seraya berdiri, lalu jongkok, berdiri lagi, kemudian berjinjit-jinjit, sampai naik ke atas pelataran posko. Semua itu dilakukannya sambil memiringkan, membalik, dan mengangkat tinggi-tinggi gawainya. Beberapa waktu kemudian, akhirnya ia menyerah lalu berjalan kembali dan duduk di samping Zaki dengan pasrah. Ikut menimpali. “Bukan apa-apa, Gil, dana kita mepet banget buat beli tiket lagi. Sedangkan, jaringan provider gak dapet di sini. Jadi, gue gak bisa retur tiket yang sudah terlanjur dibeli.” Zaki kembali angkat bicara. “Bagaimana Mas? Bukannya kalo kita jalan, jarak tempuhnya hanya sekitar 4-6 jam. Lagi pula, jalanan akan menurun bukan lagi mendaki, bisa jadi waktu tempuhnya menjadi lebih pendek.” Retno pun ikut memberikan penilaian. “Itu berarti, kalo kita mulai jalan selepas maghrib, sebelum tengah malam kita sudah sampai di Ranu Kumbolo.”             Tanto masih bergeming, ia menatap Zaki dan Retno bergantian. Lalu berkata cukup keras dan tegas. “Jangan meremehkan jalan menurun dan landai, Ki.  Di gunung, jalan landai dan curam memiliki resikonya sendiri.” Ragil yang memang lebih setuju untuk tinggal, menyetujui pendapat Tanto. “Bener itu, Ki. Gak mungkin abis maghrib langsung jalan. Kita juga harus ngisi perut, kemungkinan baru bisa jalan di atas jam tujuh malam, apa lo yakin?” “Harap diingat juga, Ki. Kita semua lelah, setelah sejak kemarin pagi kita mulai jalan untuk muncak. Jangan samakan kekuatan fisikmu, dengan yang lainnya. Liat Anto dan Sinta, mereka saja rela ditinggal demi keselamatan diri mereka sendiri. Sedangkan, kamu ketua di sini, yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan mereka semua.” Tanto kembali berkata. Masalah keselamatan tidak dapat dijadikan taruhan baginya. Zaki terdiam, matanya menatap anggotanya satu persatu, tatapan akhirnya tertuju pada Indri. Perempuan yang ia sukai sejak gadis itu mengikuti mapala. Dalam hati laki-laki itu berharap akan kembali menjelajah tempat lain bersama gadis berlesung pipi itu. Sebelum ia kemudian membuat keputusan. “No, spare dana kita, masih cukup gak buat beli tiket lagi?” tanyanya cepat pada Retno. “Sebetulnya enggak, Ki. Tapi, bisa pake uang tabungan gue dulu, buat nombokin. Terus terang, Ki, setelah denger omongan Mas tanto, gue jadi ragu buat jalan. Gue sekarang lebih setuju mengutamakan keselamatan dari pada nekat,” jawab Retno segera. “Pendapat elo gimana, Gil?” Zaki berpaling pada kolega seangkatannya itu. “Gue, dari tadi sudah setuju seratus persen dengan Mas Tanto, karena ini semua demi keselamatan bersama. Lagian gak setahun sekali, loh, kita ke Semeru, kita nikmatin aja momennya,” jawab Ragil santai. Zaki kembali terdiam, lalu bertanya pada Tanto. “Mas, kalo misalnya dari sini kita jalan lanjut terus sampe Ranu Pani besok pagi, gimana? Jadi gak mampir di Rakum lagi.” “Nah, itu lebih baik, Ki. Tenaga kita juga sudah di isi ulang. Kalo berdasarkan prediksi, jika selambat-lambatnya jam sembilan kita jalan, insyaallah jam empat sore kita sudah sampai Ranu Pani,” jelas Tanto. Zaki mengangguk-angguk dan berpaling bertanya kepada Retno. “Jam berapa keretanya berangkat, No?” “Jam sembilan malam, Ki.” “Hmmm … kalo perjalanan dari Ranu Pani, sekitar dua sampai tiga jam hingga Stasiun Malang, berarti kita masih sempet naik kereta, ya, Mas?” tanya Zaki pada Tanto demi memantapkan keputusannya. “Tenang, Ki. Saya sendiri yang akan antar kalian dari Ranu Pani langsung ke stasiun, pake mobil pribadi.” Tanto menjawab seraya menepuk dadanya. “Nah! Cocok tuh, Ki. Ya, gak, No?” Ragil menimpali dengan semangat. “Itu mobil pribadinya, Mas Tanto?”  tanya Retno. “Bukan, itu mobil pribadi teman yang standby di pos,“ jawab Tanto enteng. “Ohhh, kirain ... he he he .…” Mereka berempat tertawa, mendapati kondisi yang tadinya cukup tegang akhirnya berlalu. “Oke! Kalo gitu, demi keselamatan bersama dan keputusan yang sudah bulat. Malam ini kita nginep di sini, besok pagi baru kita balik.” Putus Zaki. “Sip!” jawab yang lain. Tanto dan para senior pun tersenyum lega. Anggota lain yang tidak terlalu mendengar pembicaraan mereka, tetapi mendengar tawa mereka. Mengetahui, bahwa keputusan sudah diambil dan suasana tegang telah mencair. Tiba-tiba! “Shhhh ….”   = = = = = = = = = = = = = =
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN