[ 12 ] Pergi Tak Kembali

1367 Kata
Suasana kelam malam sudah sejak tadi menyapa rombongan. Di depan tempat mereka hendak mendirikan tenda adalah hutan cemara yang rapat. Membuat buku kuduk berdiri tanpa sebab ketika kita sengaja menatap ke kedalaman hutan. Indri yang mendengar suara berdesis yang sama saat di Watu Rejeng membuatnya sontak berdiri. Zaki dan teman-teman yang lain tentu saja terkejut melihat tingkah lakunya yang tiba-tiba itu. Mereka melihat sekeliling, seraya berharap tak menemukan penampakan apa pun. Tika menarik lengan gadis itu dengan perasaan takut. “Indri!” panggilnya. Indri balas menatap matanya, ia mengerti sahabatnya kini ketakutan melihat tingkahnya yang merasakan ada sesuatu selain manusia di sekitar mereka. Sayangnya, entah mengapa gadis itu sama sekali tak melihat apa-apa meski hatinya yakin ada sesuatu yang berada di dekat situ. Ia pun memperhatikan teman-temannya yang lain, mereka kini memandang dirinya keheranan. “Ahhh, iya. Gak apa-apa, kok, Tik. Cuma ....” Gadis dengan rambut yang masih terkepang itu pun kembali duduk. Zaki langsung mendekatinya dan bertanya. “Apa ... suara yang sama?” tanya laki-laki itu. “Iya, Kak,” lirih gadis itu, ia tak ingin jawabannya membuat panik seluruh rombongan. “Suara apa?” Anto yang berada paling dekat dengan mereka, turut bertanya dengan mimik serius. “Suara bisikan, shhh, ... seperti itu,” jawab Indri masih dengan pelan. “Seperti suara ular yang mendesis?” Tanto menimpali, rupanya ia juga mendengarnya. Indri menatapnya, berpikir mungkin perasaan laki-laki itu semakin peka setelah pertemuannya dengan Dania. “Iya. Mirip, Mas,” jawab gadis itu. Tak seperti sebelumnya, rupanya suara tadi terdengar oleh seluruh rombongan. Membuat hati Indri sedikit lebih tenang. “Jangan khawatir. Mungkin, itu suara salah satu penunggu gunung ini, Ndri.  Sosok itu sepertinya sedang menjaga kita. Atau dalam hal ini, karena hanya kamu yang tadinya mendengar suaranya, maka kemungkinan ia menjagamu,” ujar Tanto. “Menjagaku? Dari apa, siapa?” tanyanya bingung. Ia masih tidak habis pikir, darimana dan mengapa ia mendapatkan kemampuan melihat atau mendengar makhluk halus. Terkadang ia benci terhadap kemampuannya itu. “Ya, saya ndak tau persis, Ndri. Kamu sepertinya memang memiliki kemampuan supranatural. Seharusnya kamu yang lebih paham,” jelas Tanto. “Kenapa harus ular? Bukankah ular itu penjelmaan dari setan.” Ragil menanggapi sekenanya, membuat yang lain mengeluh atas perkataannya. “Entahlah, tapi menurut legenda. Dewa Jaga, penunggu gunung ini memang sering menjelma sebagai ular. Ia hanya menampakkan diri pada pendatang yang hendak mengganggu ekosistem gunung. Tapi, beberapa hari ini sepertinya ular itu berada di sekeliling Indri,” jawab Tanto, ia tak yakin dengan kesimpulannya. Namun, melihat kejadian akhir-akhir ini, ia yakin Indri bukan perempuan biasa. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat para makhluk halus terus mendekatinya. “Kok, Mas, tau?” Ragil masih bertanya penasaran. “Saya juga bisa merasakan meski tidak dapat berkomunikasi atau melihat langsung seperti Indri. Keberadaan Indri di sini sepertinya menarik banyak lelembut. Saya juga bingung, sejak naik hingga saat ini, sudah berbagai makhluk yang ingin mengganggunya. Namun, Dewa Jaga sepertinya menghalau beberapa di antaranya agar tak lebih dekat.” Tanto menatap gadis yang kini menatap dirinya.   “Aduh!” Tiba-tiba Retno mengaduh, seraya memegang perutnya. Semua orang menatapnya ngeri. “Kenapa, No?”  Zaki kebingungan, ia bertambah khawatir. “Gue kebelet Ki. Anterin gue, dong,” ujar gadis itu cuek. “Kirain gue kenapa. Lo ngagetin aja. Ditemenin Anto, noh.”             “Ish, kok Anto, sih.” “Kalo gitu, Ragil?” Zaki memberikan pilihan lain. Sebab ia enggan untuk menjauh dari Indri. “Gak, deh. Ntar gue dia intip lagi,” tolak Retno. “Huuu! Rugi ngintip lo, No. Biar playboy juga gue milih-milih kali.” Keduanya kini saling menatap sengit, bersiap menyerang satu sama lain dengan canda sarkas lainnya. Zaki kesal dengan dua koleganya yang tidak pernah akur itu, apalagi kondisi yang sedang tegang tadi. “Udah deh, masa gak malu sama juniornya, sih. Sekali-kali kompak ngapa?” “Sampe mati, kayaknya gue gak bisa kompak sama playboy kayak dia, Ki,” sungut Retno seraya mencibir. “Astagfirullah, ngomong apa, sih, No,” sela Zaki. Retno masih keras kepala, tetapi akhirnya ia mengalah dan menghardik Anto. “Ya udah! Anto, temenin Mbak. Buruan, jangan lelet!” Anto segera bangkit, lalu mengambil senter, dan pergi bersama Retno. Mereka memandang keduanya hingga menghilang dalam gelap.               Setelah kepergian mereka, Zaki segera mengkomando anggotanya, untuk membuka tenda dan mempersiapkan makan malam. Setengah jam kemudian, persiapan mereka untuk bermalam telah selesai. Tak lama hujan pun turun, membuat cuaca menjadi semakin dingin. Setelah menunaikan sholat isya, mereka pun duduk merapat dan melingkar, demi menghangatkan badan. Menunggu Retno dan Anto yang belum juga kembali. “Boker di mana si Retno? Kok, belum balik juga.” lirih Zaki khawatir.               Tak ada satu pun yang menyadari. Di dalam kegelapan hutan, kini beberapa langkah kecil berderap beraturan, mereka menyebar ke sekeliling Kalimati sepelan mungkin, berusaha menghindari Jaga yang bergelung tak terlihat di dekat tenda. Sabdo Palon bersama dua orang manusia kerdil yang selama ini memantau keberadaan Indri, berdiri di sisi tebing, menatap tenda dari kejauhan. “Hmm, purnama biru akan segera terbit, seharusnya mereka sudah bertemu agar aku secepatnya dapat memasuki negeri itu. Atau ... haruskah aku mempercepat pertemuan mereka? Sehingga mereka dapat menuntunku untuk menemukan jalan menuju Sukma Hilang?” Sabdo Palon berkata kepada dirinya sendiri seraya berpikir untuk melanjutkan langkah selanjutnya. “Bisakah, Tuan? Jaga selalu berada di dekat gadis itu, sedang Arjuna terlihat tenang-tenang saja,” tanya salah satu manusia kerdil yang menggunakan ikat kepala. “Mereka memang tidak diburu waktu sebab mencari waktu yang tepat, semua itu demi menjaga perasaan gadis itu agar apat jatuh cinta secara alami dengan Arjuna. Tapi, aku ingin member gadis itu pertunjukan, betapa tidak enaknya berurusan dengan dunia tak kasat mata. Pelajaran juga bagi sang pangeran, tak seharusnya negeri itu bertahan begitu lama.” Sabdo Palon berjalan mondar-mandir. Sedetik kemudian, ia berhenti lalu memerintahkan instruksi kepada bawahannya, “Persiapkan peliharaan kita! Sudah waktunya memberi makan.” “Baik Tuanku,” jawab mereka serempak. “Ah, tunggu. Sekalian sampaikan pada Jene, maukah ia kuberi hadiah seorang hamba lagi.”             “Daulat Tuanku.” Kedua manusia kerdil itu langsung berbalik dan menghilang dalam gelap.   ***   “Akhhhh!!!!” Suara jeritan tiba-tiba terdengar di kejauhan. Para anggota langsung waspada. “Tolong-tolong!” suara lain sayup terdengar di antara hujan dan desau angin yang cukup hebat. Mereka yang berada dalam satu tenda, memang tidak ada yang bisa tidur sebab anggota mereka masih ada yang belum kembali, semua duduk merapat dalam tenda putri yang lebih luas. “Kak.”  Indri menegur Zaki, yang hampir tertidur sambil duduk. “Ya, ada apa?” sahut laki-laki itu gelagapan. “Perasaanku gak enak, Mbak Retno dan Anto belum juga balik?” “Iya, aku juga. Rencananya aku dan Mas Tanto akan mengecek setelah hujan reda, tak kusangka hujan begini lebat.”             “Aku tadi mendengar suara jeritan, tapi aku gak yakin ini nyata atau hanya makhluk yang hendak mengganggu.” Zaki segera membangunkan Tanto yang meringkuk di sudut tenda. Setelah itu mereka semua kembali fokus mendengarkan suara-suara dari luar. “Tolong-tolong!” Zaki terkesiap, kini ia mendengar suara itu, meski sayup dan hampir kalah dengan suara derasnya hujan.   “Ki, ada baiknya kita bagi kelompok. Para cewek tinggal di tenda, kami para cowok akan mencari mereka,” ujar Tanto memberi saran. Para perempuan bertatapan tak yakin. Tika menarik lengan Gilang dengan takut, ia tak mau ditinggal.             “Kak. Mungkin ada baiknya kita ikut semua saja, lebih banyak yang mencari, kan, lebih baik.  Kami gak mau ditinggal di sini.” Sinta yang pendiam pun angkat suara. Indri menatap Zaki penuh permohonan. Ia pun tak ingin berada di tenda hanya bertiga saja. Laki-laki itu menatap Tanto, ia juga berpikir hal yang sama. “Bagaimana, Mas. rasanya ada benarnya juga.” “Baik, kita bagi seperti ini, saya dengan Sinta. Ragil, Tika, dan Gilang. Sedangkan kamu dengan Indri. Kita sweeping, dengan jarak masing-masing sepuluh meter, panggil nama mereka dengan keras. Jika sudah ketemu, saling panggil. Ingat jangan terpisah terlalu jauh, hujan begini jarak pandang semakin pendek, jangan gegabah, Oke!” instruksi Tanto sangat jelas, mereka mengangguk, menatap satu sama lain. Lalu per kelompok berjalan keluar. Menembus malam dan hujan, mencari anggota yang hilang.   = = = = = = = = = = = = = = = =  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN