Langit gelap membuat suasana semakin mencekam. Deru angin dan hujan terpaksa diterjang ketujuh anggota Mapala UPKI demi mencari Retno dan Anto yang belum juga kembali. Mereka terpaksa berpisah menjadi tiga kelompok agar pencarian lebih efektif.
“Anto! Retno!” teriak masing-masing anggota keras, mencoba mengalahkan suara alam.
Untungnya, setelah 20 menit mencari-cari dalam derasnya hujan, Indri dan Zaki menemukan mereka berdua. Semua pun segera berkumpul di tempat kejadian. Rupanya Retno dan Anto terperosok di ceruk yang sebenarnya hanya lima meter saja tingginya. Namun, karena terlalu licin akibat hujan, mereka berdua tidak dapat kembali naik.
“Anto, bagaimana keadaanmu?” tanya Tanto, ia berhati-hati agar tak ikut tergelincir seraya menengok keadaan mereka di bawah sana.
“Aku terkilir, Mas. Tapi, Mbak Retno, dia tidak bergerak sejak tadi, aku takut dia kenapa-napa, Mas.” Anto menjawab, suaranya serak akibat sejak tadi berteriak meminta tolong.
“Kami akan segera turun, coba bangunkan Retno, buat dia sadar, Nto.”
“Iya, Mas. Sepertinya tadi kepalanya kena batu.”
Tanto beralih memandang Ragil. “Kalian ambil perlengkapan rafling.”
“Siap, Mas,” sahut Ragil. Ia berbalik diikuti Gilang dan Tika segera kembali ke tenda.
Tanto menatap Zaki. “Ki, lo bisa turun, ‘kan? Sekilas melihat kondisi Retno, sepertinya kita butuh tandu. Kalian harus mencari bantuan di Rakum.” Dengan khawatir laki-laki itu memandang lagi ke arah Anto dan Retno yang masih terdiam.
“Tapi, Mas. Aku gak yakin dengan jalannya. Gimana kalo, Mas aja. Kita perlu orang yang lebih mengenal medan, aku usul, Mas, aja yang turun. Biar aku yang rafling ke bawah dengan Ragil.”
Tanto terdiam seraya berpikir. “Baiklah. Setelah ngecek kondisi mereka, bersabarlah hingga bantuan datang. Oke!”
“Baik, Mas,” sahut Zaki mantap.
“Ayo, Ta. Kita satu kelompok. Kamu harus ikut aku,” ajak Tanto pada Sinta yang sejak tadi terdiam.
“Sinta ikut, Mas?” tanya gadis itu ragu. Tanto mengangguk lalu menarik lengannya. Mereka berdua, meninggalkan Zaki dan Indri, pergi mencari bantuan ke Pos Ranu Kumbolo.
Selagi menunggu Ragil dan yang lain kembali mengambil perlengkapan. Keduanya menunggu di sisi ceruk seraya berusaha mengajak ngobrol Anto yang tampak kedinginan. Bajunya basah kuyup sebab tak memakai jas hujan.
“Kak, Zaki!” panggil Anto dengan suara bergetar.
“Ada apa, Nto?” sahut Zaki.
“Mbak Retno, denyut nadinya gak ada, Kak. Kayak mana ini, Kak,” suara laki-laki berpipi tembam itu terdengar panik.
Indri dan Zaki terkesiap. Mencoba mengesampingkan kondisi terburuk.
“Rasakan napasnya, Nto, lo udah pernah belajar P3K, ’kan?”
Anto segera mendekatkan telinganya ke hidung Retno, lalu mencoba merasakan napasnya lewat punggung tangannya yang bergetar sebab kedinginan.
“Gak ada, Kak,” suara laki-laki itu kini terdengar seperti menahan tangis.
Indri dan Zaki saling bertatapan. Lalu terdengar suara Anto yang mulai menangis.
Indri pun mencoba menenangkan. “Nto, coba lo liat pergerakan perutnya.”
“Gak bergerak, Ndri. Mbak Retno udah gak ada.”
“Gak mungkin!” Zaki berkata keras. Dengan panik ia berdiri lalu mencari-cari sesuatu yang bisa dipakainya untuk turun.
Indri menahan tangannya yang hendak turun menggunakan sulur dan akar pohon. “Kak!”
“Tenang aja, Ndri. Sebentar lagi si Ragil datang bawa alat, jangan khawatir. Kamu bantu pegang, ya, hanya lima meteran, kok, jauhnya.” Zaki memegang bahu gadis yang tampak tegang itu.
Namun, mau tak mau meski dengan tangan yang gemetar, ia terpaksa memegang sulur dan akar pohon yang telah dipilin laki-laki itu menjadi tali sekadarnya. Zaki pun turun perlahan. Sempat beberapa kali ia terpeleset sampai akhirnya tali yang tidak sampai bawah itu dilepas laki-laki itu. Indri melihat dengan ngeri, untung Zaki tidak apa-apa, ia segera sampai di depan Anto. Memeriksa keadaannya sejenak lalu mendekati tubuh Retno.
Indri mendengar sayup-sayup di kejauhan suara Tika memanggil mereka berdua. “Indri! Kak Zaki!” gadis itu melihat sekeliling, tetapi ia tak melihat apa pun.
Lalu terdengar di kejauhan suara Ragil yang berteriak, “Tika! Gilang! Jangan ke sana!”
Kemudian senyap.
***
Sebelumnya, Ragil, Gilang, dan Tika, yang diperintahkan untuk kembali ke tenda mengambil alat rafling, berjalan dengan tergesa-gesa. Sesampainya di depan tenda dengan segera Gilang memasukinya diikuti Ragil dan Tika.
“Buka carrier-nya Zaki, Lang! Alatnya di tas dia,” perintah Ragil sedang ia sendiri mengambil dua jas hujan untuk Anto dan Retno.
“Iya, Kak.” Gilang segera membuka tas carrier berwarna cokelat, di sebelah kanannya. Sedangkan Ragil keluar tenda setelah mengambil juga dua lampu badai dan mencoba menghidupkannya.
“Perlengkapan P3K sudah siap, Kak,” ujar Tika seraya menepuk-nepuk tas punggungnya. Ia baru saja keluar dari tenda di sebelah mereka. Ragil mengangguk, lalu kembali berusaha menghidupkan lampu kedua.
“Alatnya sudah semua, Kak?” lapor Gilang seraya keluar dari tenda.
“Sudah semua? Kalo gitu, ayo!”
Grrr … grrhhh ….
“Suara apa itu, Lang?” tanya Tika dengan segera ia langsung bersembunyi di balik punggung pacarnya itu. Ragil menatap sekeliling, ia berharap suara itu bukan suara hewan yang ia pikirkan.
Dengan berbisik ia memberi komando kepada keduanya. “Kalian tenang, ya, jangan buat gerakan mendadak.”
Tika dan gilang mengikuti intruksi Ragil. Mereka langsung terdiam, bahkan bernapas pun mereka tidak berani.
“Suara apa itu, Kak?” Tika bertanya dalam bisikan serak, hampir menangis karena ketakutan.
“Sepertinya, Macan tutul. Shht … sekarang, kalian jongkok, perlahan, merunduk dengan tenang,” ujar Ragil memberi instruksi lainnya. Dadanya bergemuruh. Ia berharap kedua juniornya tida panik.
“Kak Ragil,” panggil Gilang dengan pelan.
“Jangan ngomong dulu, Lang, diam.”
“T-tapi, Kak. I-itu macan tutulnya. Di sana.” Gilang menunjuk ke arah pepohonan yang gelap, di situ ada dua kilat sepasang mata, dan siluet hewan besar berkaki empat.
Tika, tidak tahan lagi. Instingnya berkata untuk lari dan menyelamatkan diri lebih kuat, dibandingkan dengan tenang dan diam menunggu diterkam. Gilang yang terkejut melihat Tika yang lari begitu saja, malah mengejarnya.
“TIKA!” panggil Gilang.
Ragil terkesiap. “Tika! Gilang! JANGAN KE SANA!”
“Aish! Sh*t!” Dia pun lari mengejar mereka.
= = = = = = = = = = = = = = = =