“Gilang! Sinta!” teriakan Ragil membahana.
Sinta dan Tanto terkesiap mendengarnya. Mereka yang kini sudah berjalan menuju Ranu Kumbolo terdiam di tempat. Mendengarkan dengan saksama suara yang mereka kenali itu.
“Mas.” Sinta menatap tanto dengan ngeri.
Tanto memejamkan mata, menatap gadis di sisinya. “Jalan terus, Ta. Kita harus segera cari bantuan.”
“Tapi, Mas. Jeritan itu, suara Kak Ragil. Apa ada korban lain?”
“Kita berdoa saja, enggak. Aku berharap mereka semua baik-baik saja.”
Sinta menangis tertahan, sedang Tanto tak memiliki pilihan lain selain menggandeng tangannya, mengajaknya mempercepat langkah.
Akibat tangisnya yang tak mau berhenti, membuat Sinta tak fokus dalam melangkah, ia terjatuh. “Kakiku gak kuat, Mas. Dingin dan aku takut sekali.”
“Fokus, Sinta. Nasib teman-teman bergantung pada kita.” Tanto menangkap bahu gadis itu. Ia mendudukkan gadis itu di atas batu besar.
“Maaf, Mas. Tapi, jeritan itu.” bahu gadis itu berguncang, air mata terus menerus keluar membanjiri pipinya yang sudah basah akibat hujan itu.
“Itu artinya kita harus lebih cepat, Ta. Tenanglah. Kuatkan dirimu.” Tanto menghapus air mata Sinta yang menggantung di sudut matanya. Menggenggam tangannya erat mencba menguatkan.
Sinta menatapnya. “Kakiku lemes, Mas.”
“Ayo! Naik ke pundakku. Bismillah. Kita harus secepatnya sampai Rakum.”
Sinta mengangguk, bangun, dan naik ke punggung laki-laki itu. Tanto biasa membawa carrier yang berat, baginya kini gadis itu seperti tas punggung saja. Mengabaikan sentuhan empuk pada punggungnya yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Lalu ia berjalan cepat, ia telah naik Semeru berulang kali, jalan setapak itu telah dihapalnya di luar kepala. Bedanya kini ia membawa tanggung jawab anak gadis orang yang memeluk bahu bidangnya pasrah.
***
Di bibir ceruk sedalam sekitar lima meter itu, Indri menepuk-nepuk telapak tangannya yang terasa perih akibat sekuat tenaga menahan beban Zaki yang menggantung di bawah tadi. Ia yang tadi terkejut mendengar suara sayup-sayup Tika dan teriakan Ragil. Berteriak memanggil laki-laki di bawah sana seraya menggigit bibir bawah yang sedikit membiru akibat kedinginan.
“Kak Zaki!”
Zaki mendongak menatap gadis yang tengah menatapnya penuh ketakutan. “Kenapa, Ndri?”
“Gimana keadaan di sana? Tadi aku dengar suara teriakan.”
“Tunggu, sabar, ya. Aku ngecek kondisi mereka dulu.”
Indri mengangguk, tetapi sorot matanya tampak tak sabar. Gadis itu ketakutan setengah mati. Ia tak mau duduk di situ berlama-lama, sendirian pula.
Laki-laki itu mengalihkan pandangan, menengok kondisi Anto. Meraba sekujur tubuhnya mencari luka lain selain pada kakinya.
“Gak apa-apa, Kak. Aku hanya terkilir, kok. Tolong Mbak Retno dulu, Kak,” ucap laki-laki gempal itu yang tubuhnya menggigil.
“Sebentar, ya, Nto.” Zaki berbalik ke arah Retno, ia berharap gadis yang kini tergolek tak bergerak itu tak apa-apa. Perlahan ia memeriksa kondisinya. Meletakkan dua jari di bagian lehernya, laki-laki itu memejamkan mata saat tidak mereasakan denyut di sana. Lalu ia merunduk mendekatkan telinganya pada mulut dan hidung gadis yang sudah tampak pucat itu, mata Zaki sambil mendeteksi gerakan pada perutnya.
Ia mendesah, Retno terlalu diam, dan Zaki menyadari kondisinya. Tangannya mencengkram bahu gadis yang telah kaku dan dingin itu.
“No! Bangun, No,” panggilnya. “Lo kenapa diem aja? Ayo, julidin gue kayak biasa.” Zaki mencoba menahan tangisnya.
Ia kembali mengguncang bahu itu, walau tahu apa yang dilakukannya tak akan bisa mengubah kenyataan. Gadis itu tetap memejamkan mata, bibirnya telah mengatup untuk selamanya. Tanpa suara laki-laki itu sesenggukan, bahunya berguncang. Sekuat mungkin ia menahan rasa kehilangannya, agar Indri dan Anto tidak panik.
“Kak, Mbak Retno gimana?” tanya Anto dengan suara bergetar.
Zaki mengusap air mata yang mengalir, walau sebetulnya hujan telah menghapusnya.
Lalu ia berbalik dan menepuk punggung Anto. “Nto, gue coba angkat lo ke atas.”
“Mbak Retno dulu aja, Kak. Gue gak apa-apa,” elak Anto ingin melihat seniornya itu lebih dekat.
“Dia akan diangkat pakai tandu, nanti,” jelas Zaki.
Lalu ia kembali berbalik, merapikan pakaian dan posisi Retno. Lengan kanannya di lipat mendekap lengan kirinya. Kemudian laki-laki itu mendongak ke atas, memanggil Indri.
“Ndri! Indri!”
Hening, tak ada suara.
“INDRI!!!”
Indri mendengar panggilan dari ketuanya itu. Namun, ia diam. Sebab, beberapa manusia kerdil kini tengah mendekatinya. Mereka membawa benda-benda yang cukup tajam untuk dijadikan senjata, mengacungkannya dengan tatapan mengancam.
Mereka mencoba menggiring dirinya untuk terus masuk ke lebatnya hutan cemara.
Apa yang mereka inginkan? Indri bertanya dalam hati, satu hal yang ia pastikan. Gadis itu harus menjauhkan mereka dari Zaki, dan yang lain. Ia berjalan mundur dengan perlahan.
Setelah cukup jauh dari ceruk tempat mereka terjatuh, Indri pun berbalik. Ia berlari sekuatnya. Ia tak tahu, ke mana arah tujuan kakinya akan membawa. Namun, yang pasti instingnya berkata, harus segera menjauhi mereka, entah makhluk apa yang mengejarnya itu.
Larinya begitu kencang. Akan tetapi, makhluk-makhluk itu pun bergerak sangat cepat. Gadis itu kehilangan akal, ia hanya tahu harus berlari, tetapi tidak memperhatikan lagi ke mana langkah itu terpijak. Diterabasnya saja apa pun yang menghalangi jalan, beberapa semak berduri diterjang. Perih yang terasa hanya sempat diberi ringisan.kecil. Ia tak berani berhenti meski daun, ranting, dan dahan pohon menggores kulitnya diberbagai tempat. Tak sempat ia menangis, lari, dan lari saja.
Drap, drap, drap.
Sekarang ada suara derap langkah mengejar yang cukup dekat, ia melirik ke belakang. Tampak olehnya sekilas sosok tinggi, besar, ohh tidak! Gadis itu menambah kecepatan, berharap sosok yang mungkin pemimpin para makhluk kerdil itu berhenti mengikuti. Rasa takut membuat Indri limbung, ditambah hujan yang membuat jalan yang dipijak begitu licin hingga beberapa kali saja ia terpeleset.
Gadis yang rambut terkepangnya lepas sebelah itu masih berlari hingga ia merasa langkahnya seperti tak lagi tertapak. Kaki kirinya memijak ruang kosong, ia telah sampai di bibir jurang.
Ya Tuhan, inikah saatnya aku mati? Indri memejamkan mata, pasrah. Yakin, jurang itu akan menjadi kuburannya.
Akan tetapi, jatuhnya begitu lama. Ia tak menyadari apa pun sampai jemarinya mendapati lengan kokoh yang menangkap pinggangnya erat. Dibuka mata dengan bulu mata lentik itu. Ia menatap ke kedalaman jurang yang seperti tidak berdasar. Deru napas memburu, terasa hangat di telinga kanan.
Indri menoleh, merasa bingung. Siapa gerangan malaikat yang menolongku? tanyanya dalam hati.
Rambut sebahu makhluk yang menolong dirinya itu, tersibak disapu angin menggelitik pipi Indri. Indri mendapati sepasang mata yang tengah menatapnya sendu, tatapan yang tak asing, seperti pernah bertemu sebelumnya. Tapi di mana?
Dijelajahi lekuk wajah tampan itu, hidung yang mancung, bibir yang penuh, dan sempurna, rahang tegas, dagu serta pipi yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Laki-laki ini, adalah pangeran dalam mimpinya. Ya benar. Dia … dia pangeranku? Indri tak mempercayai penglihatannya, berpikir bagaimana mungkin sosok itu menjadi nyata di tempat seperti ini.
Mata sang pangeran terus menatapnya lekat, senyum tergambar di bibirnya.
“Indri,” Sapaannya membuat gadis itu terhenyak dari lamunan. Merasa luar biasa heran. Namun, lanjutan ucapannya membuat Indri terpaksa meninggalkan tanya dalam hati.
“Dalam hitungan ketiga, aku akan mendorong tubuh kita mendekati tebing, kamu harus menangkap akar yang menjuntai lainnya, oke,” laki-laki kekar itu memberikan perintahnya.
Mau tidak mau, Indri tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menurut. Bergelantungan pada akar pohon yang menjuntai dengan pemandangan curam di bawahnya membuatnya sadar ia kini masih hidup.
“Iya,” jawabnya.
“Oke, satu … dua … tiga!” Laki-laki itu menganyunkan tubuhnya, setelah mendekati tebing, Indri pun berusaha menangkap akar pohon terdekat. Namun, sayang terlepas.
“Ma-maaf,” ucapnya terbata.
“Tidak apa-apa, kita ulang lagi, ya, satu … dua … tiga!”
Kali ini ia berusaha keras untuk menangkap, dan berhasil. Kaki laki-laki itu menaut pada akar yang menonjol, membuat gadis itu dapat berpijak di tanah padat. Lalu sang pangeran mundur sambil terus mendekap. Indri jelas merasa tidak nyaman dengan dekapannya yang tidak terlepas, meski kini mereka masih berada di pinggir tebing.
Setelah dapat menjejak tanah dengan mantap. Indri pun berbalik mendapati wajahnya hanya berjarak lima senti saja dari d**a laki-laki itu. Setelah merasa aman, barulah ia mengendurkan dekapannya, Indri pun segera mendorong tubuhnya menjauh, tetapi apa yang terjadi membuat lututnya lemas. Indri pun terduduk di atas tanah.
= = = = = = = = = = = = = = = =