[ 15 ] Danau Lus

1299 Kata
  Ranu Tompe, sebuah danau di kaki Gunung Semeru, seluas 0,7 hektare dengan kedalaman sekitar 4,8 meter. Menjadi danau eksotik dan terlindungi, karena tak pernah dijamah manusia. Suku Tengger di sekitar lokasi juga mengenalnya sebagai Ranu Lus. Lus kependekan dari kata halus. Menurut kepercayaan Suku Tengger, Ranu Lus menjadi tempat tinggal makhluk halus. (3) *** Zaki dan Anto berusaha kembali naik, menggunakan alat sederhana yang mereka temukan di sekitar ceruk dan membuat pijakan dari tanah yang dibolongi. Setelah bersusah payah kembali ke atas. Ia tidak mendapati Indri lagi di sana, kalau saja Anto tidak lebih butuh pertolongannya ia pasti sudah akan berlari mengikuti jejak gadis itu yang tampaknya masuk ke dalam hutan cemara. Dengan tali sederhana yang dipilin dari akar pohon di sekitar situ, laki-laki itu berusaha membantu Anto naik dari dalam ceruk. Seraya berjalan kembali menuju tenda Zaki berusaha mencari Indri dengan matanya. Anehnya gadis itu seperti hilang di telan bumi. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaaannya sepanjang laki-laki itu berjalan sambil membopong Anto. Sesampainya di tenda, Anto didudukkan di dalam tenda. Zaki mencoba merawat luka-lukanya kembali dengan alat sederhana, sebab kotak P3K tidak ia temukan.  “Kita harus balik ke Rakum buat cari pertolongan, Nto. Kayaknya kaki lo bukan sekedar keseleo,” ucap Zaki seraya menggerakkan pergelangan kaki Anto yang membengkak. “Iya, Kak. Tapi aku gak kuat jalan, tadi aja sakit banget.” Anto meringis saat Zaki membaluri kakinya dengan minyak oles yang ia temukan di tas berwarna ungu. “Iya, kaki lo bengkak banget gini. Duh, gini aja, deh. Mas Tanto dan Sinta, kan, lagi nyari pertolongan. Gue yakin mereka akan segera balik. Sedangkan gue harus nyari Indri dan anak-anak yang lain.” “Iya, Kak, tinggalin aja. Aku takut ada apa-apa sama yang lain.” Anto mengangguk ia merasa dirinya baik-baik saja, meski merasa kedinginan. Zaki menatap wajah juniornya itu, memastikan laki-laki gempal di depannya akan baik-baik saja. Ia mendapati wajah Anto yang pucat, selain itu dia juga menggigil. Akan tetapi, pikirannya tak bisa lepas pada keselamatan Indri juga teman yang lain. Akhirnya setelah beberapa saat ia memutuskan dengan berat hati. “Oke, gue siapin logistik seadanya, dan lo juga harus ganti baju.” Zaki segera sibuk menyiapkan perlengkapan di sekitar Anto. “Pergilah Kak, temuin Indri dan yang lain, gue di sini aja.” Zaki sedikit enggan dan berjalan lambat keluar tenda, merasa berat meninggalkan Anto sendiri. Namun, yang lain pun anggotanya, dan Indri, ke mana gadis itu?   ***   Tika dan Gilang berlari terus, mereka masih di kejar macan tutul. Gilang terantuk akar yang menonjol lalu terjatuh. Pegangan tangannya pada Tika terlepas. “Lari, Tik! Selamatkan diri lo!” teriak Gilang pada kekasihnya. “Gak mau! Ayo bangun, Lang.” Gadis itu berusaha menarik laki-laki itu agar kembali berdiri. Gilang mendengar derap langkah hewan itu semakin mendekat. Laki-laki itu mendorong Tika agar menjauh. “Please, Tik. Gue gak mau lo mati konyol bareng gue.” “Gue gak mau lo mati. Kaki gue juga udah gak kuat, Lang.” Gilang melihat berkeliling, mencari jalan aman. Akan tetapi, hutan begitu lebat, yang ia lihat hanya pohon dan semak. “Ah, kalo gitu kita naik. Panjat pohonnya, Tik.” Gilang menunjuk pohon di dekat mereka. Mereka pun bangkit dengan kekuatan yang masih tersisa. Menaiki pohon tersebut. Tika telah sampai pada dahan besar terdekat. Ia berusaha membantu Gilang untuk naik, tetapi …. Grr… grrhh …. Macan tutul itu sudah semakin dekat. “Lo terus naik dan tunggu di sini, gue coba alihkan hewan itu.” Gilang berbalik badan dan berjalan menjauhi pohon. “Lang! Jangan, Lang!” teriak gadis itu panik. Setelah sosok hewan buas itu tampak, Gilang kembali berlari sambil menepuk-nepukkan tangannya. Macan tutul itu mengikutinya lalu keduanya menghilang dalam kabut. “Gilang!!!”   Grr … grrhh …. Suara macan tutul itu terdengar lagi. Tika gemetar, macan tutul itu ternyata tidak sendiri. Di bawah pohon yang ia naiki, macan tutul lain menatapnya. Gadis itu menjerit ketakutan, berusaha sekuat tenaga naik semakin tinggi. Sampai ia lupa, macan tutul pandai memanjat.   ***   Sinta dan Tanto akhirnya sampai di Ranu Kumbolo, mereka tak sempat menikmati pemandangan menakjubkan surga tersembunyi itu. Padahal bulan terang memantul pada air gelap bagaikan cermin raksasa. Tanto berjalan dengan terburu-buru dan melaporkan kejadian, memohon bantuan secepatnya. Namun, sudah seperti apa yang diperkirakan Tanto, cuaca yang tidak mendukung, ditambah hari sudah hampir larut malam, mereka tidak ada yang berani melakukan pencarian.             “Besok pagi, Mas. Gak mungkin sekarang, kita gak mau ikut nganter nyawa,” ucap koleganya. “Tapi, teman-teman saya bagaimana Kak, Bang, tolong mereka,” Sinta mendekat seraya memohon dengan sangat. “Maaf, Mbak. Tapi Mbak juga tau situasinya. Tunggu saja. Besok pagi-pagi sekali kita akan mulai mencari.” Sinta masih memohon dengan matanya. Namun, apapun yang ia lakukan tidak membuat mereka menggubrisnya. Memang terlalu riskan. Sebab seorang penolong harus yakin dirinya aman sebelum membantu orang lain. “Mas, gimana ini?” tanya Sinta kebingungan. “Maaf, Ta. Demi keselematan bersama, saya rasa kita memang harus menunggu hingga besok. Kami juga sudah mengirimkan berita ke Pos Ranu Pani, besok pagi, bantuan akan dating, bersabarlah.” Sinta disuruh beristirahat di salah satu tenda. Bersama dengan rombongan mapala lain dari Jakarta yang kebetulan mereka temui di kereta. Sinta bertambah gelisah saat salah satu dari mereka bercerita. “Gue pernah denger dari penduduk sekitar, tentang adanya Negeri di Atas Awan, di Gunung Semeru ini. Katanya, negeri itu memiliki kerajaan magis yang terletak di area gunung, tak terjamah oleh manusia. Selama ini sudah ada beberapa penduduk yang dinyatakan hilang dan tidak pernah ditemukan jasadnya. Menurut mitos, mereka ditangkap oleh prajurit kerajaan magis tersebut karena telah melanggar atau memasuki area terlarang.” Sinta mendengarkan dengan tekun. Sebab cerita itu membuatnya penasaran. “Katanya lagi, negeri mereka itu tidak kasat mata. Akibat dari perlindungan yang dibuat oleh kesaktian rajanya. Mereka hanya memiliki satu pantangan, yaitu dilarang menghidupkan api setelah malam datang.” “Kenapa begitu?” tanya Sinta segera. “Karena asapnya akan membuat negeri tersebut terlihat oleh manusia, membuat mereka penasaran, dan mencari jalan masuk menuju negeri tersebut.”             “Pintu? Seperti gerbang begitu?” tanya Sinta lagi. “Ya. Pintu menuju kerajaan tersebut dikatakan berada di area Ranu Tompe, yang disebut juga Danau Lus. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut. Apabila ada manusia yang tanpa sengaja memasuki area tersebut maka mereka akan ditangkap, lalu dijadikan b***k oleh makhluk negeri tersebut, dan dipastikan tidak akan pernah kembali.”             “Sungguh? Jadi gerbang itu hanya bisa dimasuki saja?” Sinta tak tahan untuk tidak berkomentar. “Ya. Tapi, ada satu-satunya saksi hidup keberadaan negeri itu. Ia adalah seorang kakek yang pernah kembali dari sana. Namun, masyarakat tidak ada yang percaya dan mengatakan dirinya gila. Sebab, menurut beliau negeri tersebut memang ada, dan di perintah oleh seorang raja. Dia bilang, mereka tidak pernah bermaksud jahat, menangkap manusia yang berkeliaran di sekitar pintu hanya sebagai tindakan perlindungan bagi negerinya. Maka manusia yang masuk ke negerinya akan ditahan, dan tidak akan pernah bisa kembali.” “Kalau begitu, bagaimana si kakek dapat keluar dari negeri tersebut?” tanya yang lain utur penasaran. “Ia meminta untuk menghadap raja, berharap agar dapat kembali ke rumah sebab ia ta sengaja masuk area terlarang karena ingin mencari tanaman obat untuk anaknya. Sang raja pun mengabulkan permintaan si kakek dibebaskan dengan syarat harus menjaga pintu masuk ke negeri tersebut. Menjadi seorang juru kunci sebuah negeri, yang di beri nama ‘Sukma Hilang’.” “Maksudnya, ada kemungkinan teman-temanku di tahan oleh orang-orang dari Negeri Sukma Hilang. Mereka tidak mati, hanya tertahan, dan tidak bisa kembali, begitu?” Sinta menarik kesimpulan. “Bisa jadi.” Sinta semakin khawatir. Ia tak sabar menunggu pagi datang. Gadis itu ingin segera bertemu dengan kawan-kawannya lagi.   = = = = = = = = = = = = = = = =
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN