[ 09 ] Misteri Arcopodo

1645 Kata
“Dri, Indri … Indri!” panggil Tika seraya menggoyang-goyangkan tubuh gadis yang masih meringkuk di dalam sleeping bag-nya Gadis yang dipanggil itu membuka mata dengan kaget, ia mendapati Tika yang menatap dirinya dengan pandangan khawatir. “Kenapa, Tik?” tanyanya heran. “Lo kenapa, mimpi buruk?” tanya sahabatnya itu. Dengan masih setengah tersadar, Indri berusaha duduk dan menjawab, “Gak tau Tik, mungkin akibat beberapa kejadian terakhir, tidur gue jadi gak tenang.” “Ya udah, ayo kita siap-siap. Udah mau jam dua belas.”   Satu persatu, anggota Mapala UPKI yang sudah bangun mulai packing membereskan semua perlengkapan dan barang bawaan. Malam itu masih sangat dingin, bahkan lebih dingin dari malam sebelumnya, tetapi mereka sudah harus siap dan bergegas untuk muncak malam ini. Menghalau rasa malas sebab hembusan angin yang menampar wajah dengan rasa sejuk berlebihan, mereka memaksakan diri terus bergerak agar tak membeku.  Hingga setengah jam kemudian, carrier telah tersandang di bahu masing-masing. “Oke sudah siap!” Zaki menatap anggotanya satu-persatu. “Siap!” sahut mereka. Mendengar jawaban serentak itu, Zaki beralih menatap Tanto, ia mengangguk penuh arti. Lalu, Tanto mengambil alih komando, “Bismillah, ayo!” Mereka pun berjalan mengikuti langkah mantapnya, berusaha menegakkan tubuh meski kantuk masih menggantung.  “Kak Zaki, tangannya gak dingin?” tanya Indri pada pria di sebelahnya, setelah mereka berjalan beberapa waktu. “Lumayan,” jawabnya sambil meniupkan napas pada telapak tangan. “Kalo gitu ini sarung tangannya.” Gadis yang menggunakan kupluk merah itu hendak melepas sarung tangan pinjamannya. “Gau usah! Kamu pakai saja, aku gak apa-apa, kok,” tolak Zaki. “Tapi ....” Gadis itu sedikit merasa tak enak hati. Zaki memandang gadis itu lekat, lalu mendesah. Napasnya kini mengeluarkan asap menandakan kalau sebenarnya ia pun kedinginan. “Kalo gitu, gini aja.” Zaki mengamit tangan kanan Indri, menarik sarung tangan yang terpakai dengan lembut, lalu memakainya pada tangan kanannya. Setelah itu, ia menggenggam jemari gadis itu, dan memasukkannya ke dalam saku kiri jaketnya.  Indri terperanjat. “Kak.” “Kalo gini, gak apa-apa, ‘kan?” Tatapannya saat itu terasa membakar wajah gadis manis di depannya. “Iya, Kak. Gak apa-apa,” jawab Indri memalingkan wajahnya karena malu. “Perjalanan masih akan melelahkan, jangan sampai suasana dingin ini, mengendurkan tenaga kita.” “Baik, Kak.”   Dua jam kemudian mereka sampai di Arcopodo. Tanto memperhatikan wajah mereka satu-persatu saat beristirahat. “Bagaimana? Setelah ini kita akan melewati Cemoro Tunggal, hingga akhirnya Puncak. Sebelum itu, saya ingin menanyakan ini kepada kalian semua. Apakah masih kuat?” “Masih, Mas.” Mereka menjawab satu-persatu, tidak kompak seperti biasanya. Hanya dua orang yang tidak menjawab, Anto dan Sinta. “Anto, kamu dan Sinta sepertinya tidak usah meneruskan perjalanan.” Tanto berkata tegas, memutuskan. Anto menimpali dengan lemah. “Kenapa, Mas? Aku udah sampai sini, masa gak muncak, sih.” Tanto mengabaikan Anto yang menjawab dengan napas sesak, ia masih kesulitan mengatur napas. Pandangan laki-laki bertubuh tegap itu terkunci pada Sinta yang wajahnya tampak pucat. “Aku perhatikan kamu kurang sehat, apa kamu baik-baik saja?” tanyanya perhatian. Gadis yang ditanya menatap pria gagah di depannya, lalu berkata jujur. “Iya, Mas, aku gak kuat, deh, kayaknya.” “Oke! Anto. Sinta tidak dapat meneruskan perjalanan. Kita butuh orang untuk menemaninya, dan menjaga barang bawaan kita. Karena, demi keselamatan kita bersama, barang-barang ini sebaiknya tidak dibawa, cukup dengan membawa tas kecil aja untuk ke puncak.” “Tapi, Mas.”  Anto masih berkeras.             “Pikirkan lagi, setelah ini adalah perjalanan terberat dalam pendakian. Kondisimu sepertinya tidak memungkinkan, Nto.” “Iya, Nto, kamu sebaiknya temani Sinta, dan beristirahat, jangan memaksakan diri.” Zaki menengahi. Mau tak mau, Anto tak lagi membantah setelah ketuanya itu berkata.   Laki-laki bertubuh gempal itu, menunduk lalu memandang Sinta yang bersandar dengan lemah pada Indri. Dengan masih mengatur napas, ia pun menjawab beberapa saat kemudian. “Baiklah, untuk kebaikan kita semua. Gue akan tinggal.” Zaki menepuk pundak Anto, pria gempal itu masih menunduk. Tanto kembali mengkomando. “Oke! Kalau begitu keluarkan saja tas kecil kalian, cukup bawa barang yang penting seperti kamera, snack, dan air minum.” Mereka pun mulai membongkar, dan menyusun tas di sekitar tempat Sinta duduk sebagai tempat ia bersandar, juga berlindung dari angin dingin. Tanto mendekati mereka berdua dan berkata dengan mimik serius. “Selama beristirahat di sini, kalian juga harus tetap bergerak, supaya gak kena Hipotermia.” “Iya, Mas,” jawab mereka berdua. “Oh iya, hampir saya lupa. Kalian jangan ada yang melamun, ada baiknya tetap ngobrol satu sama lain, supaya pikiran ndak kosong. Paham?” “Emang kenapa, Mas?” tanya Sinta. “Di sini, disebut Wilayah Kelik, banyak pendaki yang meninggal tepat di wilayah ini. Jadi, … kalian mengerti maksudnya, ‘kan?” “Ahh, baik, Mas.” Sinta mengangguk tanda mengerti.   Beberapa saat kemudian, mereka yang masih kuat sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. “Oke, sudah siap?” tanya Tanto. “Siap!” jawab mereka kembali serempak. Rombongan pun kembali berjalan, Tanto berjalan lebih dahulu, dan Retno berganti pasangan dengan Ragil. Sedang Gilang dan Indri masih berjalan di bagian paling belakang.   “Memang di sini beneran angker, ya, Kak? Kok pikiran gak boleh kosong?” Indri bertanya pada Zaki seraya melangkah pelan di sisi laki-laki yang kali ini menggandengnya. Zaki pun memandang gadis itu. “Seperti yang Mas tanto bilang. Di sini adalah area Kelik, di mana sudah banyak pendaki yang berpulang akibat kelelahan, atau Hipotermia. Mereka gugur dengan ‘memeluk’ Semeru. Nah, karena banyaknya pendaki yang meninggal di area ini, maka tersebarlah rumor tersebut. Sehingga dipercaya jika pikiran kita kosong ketika berada di sini, maka akan kesurupan.” Indri bergidik, mendengar penjelasan Zaki.    Sedetik kemudian, gadis yang sengaja mengepang rambutnya itu, tertarik dengan sebuah bentuk di sebelah kanannya, ia memandang melewati punggung Zaki, sekitar dua meter jauhnya. Tanpa sadar ia berhenti berjalan, dan terdiam. Pria itu kaget, sebab Indri yang tiba-tiba berhenti berjalan. “Kenapa Dri?” tanyanya heran. “Itu, Kak. Arca itu yang dibilang Arcopodo bukan?” Indri menunjuk jauh ke arah kanan dengan jari kiri, mata Zaki mengikuti telunjuknya. Lalu terkesiap. “Masyaallah, iya benar. Itu Arca Arcopodo.” “Arca itu sepasang suami istri, ya, Kak?” “Entahlah, tapi menurut legenda itu adalah Prajurit Majapahit.” “Prajurit? Tapi, kok, aku melihatnya beda, ya.” “Berdasarkan mitosnya, arca ini tidak selalu terlihat oleh para pendaki, hanya orang-orang yang beruntung seperti kita, yang dapat menemukannya. Lihat aja, kita berjalan paling belakang, tapi mereka yang berjalan di depan gak ada satupun yang menyadari kalau telah melewatinya.” “Iya ya, Kak.” Indri mengangguk-angguk setuju.    Karena rasa penasaran mereka berjalan mendekat, agar dapat melihat dengan lebih saksama. “Berdasarkan mitosnya juga, setiap pendaki yang melihatnya juga akan memiliki penafsiran yang berbeda-beda akan bentuknya. Paling banyak, selalu mengira arca tersebut adalah Prajurit Majapahit atau anak-anak, tapi kalau suami istri, aku baru mendengarnya darimu, Dri,” ucap Zaki yang menatap arca tersebut mencoba menatapnya dari sisi Indri. Mereka berdua terus berjalan mendekati arca. Setelah sampai di depannya, Indri kembali memperhatikan dengan lebih saksama. “Lihat, deh, Kak. Coba diperhatikan lagi, arca yang satu ini seperti perempuan menggunakan kain batik. Akan tetapi, sayang, bagian pinggang hingga kepalanya sudah hilang. Sedangkan ini suaminya, ia seperti memakai pakaian perang memakai penutup kepala dari kulit hewan.” “Iya juga.” Zaki baru mengerti setelah mendengar analisis gadis di sebelahnya. “Tapi … anehnya, kenapa mereka tidak sama tinggi, ya? Jika, si istri setengah bagian atas hilang. Sedangkan, si suami setengah bagian bawah yang tertutup tanah, mereka seperti sedang berdiri di anak tangga, atau jangan-jangan .…” Indri penasaran untuk menelusuri lebih jauh, ia mulai berjalan semakin mendekati arca, tetapi Zaki menarik lengannya kuat. “Indri!” Gadis itu menoleh, ingin melepaskan genggaman tangan laki-laki itu, yang terasa sedikit menyakitinya. “Sebentar, Kak. Aku ingin melihat lebih ke belakang, arca itu mungkin aja sedang duduk bertumpu pada lututnya, seperti seorang Ksatria yang sedang merayu atau melamar kekasihnya.” “Indri! Sudah! Ayo! Kita pergi dari sini, ingat kita tidak boleh terpisah terlalu jauh dari rombongan.” Ada rasa takut memancar dari suara laki-laki itu.   Tersadar dengan keadaan, gadis itu mulai meringis akibat genggaman tangan pria di sebelahnya yang bertambah kencang. Zaki menyadari kesakitan yang ia sebabkan. Ia sedikit mengendurkan genggamannya, dan mengajak Indri menjauh dari situ, serta mengejar ketertinggalan.    Di tempat sebelumnya, Anto berusaha terus bergerak, meski perut gembulnya menghalangi gerakan untuk lebih aktif. “Sinta! Jangan tidur, di sini terlalu dingin. Lo bisa kena Hipotermia,” tegurnya pada gadis yang kelelahan di sebelahnya. “Iya, Nto. Tapi, gue capek banget.” “Gue juga, tapi lo inget kata Mas Tanto tadi, ‘kan?”             “Iya, sih.” Sinta mencoba bangkit dengan bantuan Anto.   Setelah mereka sama-sama berdiri, Anto memandang sekitarnya. Matanya menerawang seperti membayangkan sesuatu. “Ta, mereka yang meninggal di gunung ini bahagia kali, ya?” “Kok lo nanya gitu?” “Bagi gue, mati di gunung, dalam pelukan alam. Untuk ukuran anak pecinta alam, pasti mereka akan bahagia.” “Lo ngomong apa sih, Nto. Jangan bikin gue takut dong. Lagian kalo mo mati jangan ajak gue, gue belom nikah, nih.” “He he he, lo pikir gue udah. Kalo gitu, ayo! Kita senam.” “Senam?” tanya Sinta keheranan. “Iya, senam. Supaya badan gak kaku dan menghalau dingin, Ta.” “Mager, loh, Nto.” “Ayo cepet!” Anto setengah memaksa gadis itu, ia memegang kedua tangannya, lalu mengayunkan kedua tangan Sinta, sambil menyenandungkan pelan sebuah lagu.             “♪♫ Naik-naik ke puncak gunung … ♪♫ Tinggi-tinggi sekali ♪♫“ Sinta tersenyum melihat tingkah Anto. Lalu ia pun mulai mengikutinya. Mereka mulai bersenandung bersama. “♪♫ Kiri kanan kulihat saja ♪♫  banyak pohon cemaraaaa …. ♪♫“   = = = = = = = = = = = = = =
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN