[ 08 ] Malam Berkabut di Kalimati

1561 Kata
Setelah melalui Cemoro Kandang. Tiga jam kemudian, akhirnya rombongan pun tiba di Pos Jambangan. Vegetasi cantigi, dan edelweis, mewarnai alam pos itu. Dari tempat ini, jalan mendatar yang ditunggu akhirnya terlihat. Bahkan Puncak Semeru, tampak begitu jelas dari tempat mereka kini berdiri. Rasa lelah yang sedari tadi bergelayut dikeluhkan, tiba-tiba menguap entah ke mana. Segera saja satu persatu rombongan berfoto ria dengan berbagai macam gaya. Senyum semringah, tergambar jelas di wajah mereka semua. Seakan tak ada lagi hal paling membahagiakan selain berada di sana, tak terpikir akan rindu orang terdekat. Satu yang terpenting, jarak mereka dengan langit biru kini semakin dekat saja. Jika sudah sampai di pos ini, jarak tempuh menuju puncak semkain dekat. Bahkan hanya tinggal setengah jam perjalanan lagi hingga Basecamp Pos Kalimati. Dari Jambangan, rombongan berjalan santai sembari menikmati alam Semeru, yang tak mungkin setiap hari dapat didatangi. Tak ada duanya. Sesuai waktu perkiraan, akhirnya mereka tiba juga di Pos Kalimati. Tepat pukul setengah lima sore mereka membuka tenda dan kembali mempersiapkan diri menyambut malam. Sambil menikmati makan malam mie rebus dengan campuran telur, Zaki memberi pengumuman, “Guys—“ Zaki berhenti, seperti memikirkan sesuatu. “—And girls, mohon perhatiannya!” Laki-laki itu lega kini Retno tak lagi mengkomentari masalah gender setelah ia mengingat untuk menyebut para gadis kali ini. Semua anggota pun otomatis fokus memandang Zaki yang berada di tengah lingkaran. “Ada kabar gembira nih. Mas Tanto, baru aja dapat kabar bahwa kondisi puncak akan aman, bila kita summit attack besok pagi.” Seketika, suasana langsung bergemuruh, dengan suara decak gembira, tawa, dan obrolan penuh semangat. Zaki melanjutkan, “Sebentar, sebentar, tahan dulu. Jadi … tengah malam nanti, kita akan melanjutkan perjalanan menuju Arcopodo.” Suasana riang berganti menjadi gumaman penuh kecewa. Tanto pun menengahi suasana ini. “Perjalanan menuju puncak itu lebih sulit, kita harus memulai lebih awal jika ingin sampai tepat waktu di puncak, itu sebabnya kita mulai lebih awal.” Indri akhirnya mulai memahami situasi, dan mengangguk-angguk. Ia memperhatikan, yang lain pun melakukan hal yang sama. Entah mengangguk karena mengerti, mengangguk kebingungan, atau karena mereka tak dapat berkata selain pasrah dengan keadaan. “Besok, setelah turun dari puncak kita akan istirahat sebentar di sini, lalu akan nge-camp lagi di Ranu Kumbolo, jadi besok sore kita sudah di kereta.” Zaki menyambung informasi. “Duh, jadi gak sabar, Kak. Jantung gue sampai berdetak cepet banget, nih, pegang, deh, Tik.” Gilang berkata seraya mengangsurkan d**a bidangnya ke arah kekasihnya. Pernyataanya yang lebih mirip gombalan itu, disambut seruan tak setuju dari yang lain. “Huu!” “Gombal Tik, jangan percaya, anaknya banyak,” sahut Ragil. “Kemaren, kucing gue yang janda aja dirayu sama Gilang,” tukas Anto tanpa ekspresi. Lanjut hujatan demi hujatan terlontar tanpa belas kasihan. Gilang jelas membela diri. “Yee, kalian pada iri, ya? Kita berdua, kan, sehidup-semati, ya, Tik.” Gilang mengerling kepada gadis di samping kanannya, disambut anggukan lugu Tika yang matanya menatap laki-laki itu dengan pandangan penuh ke-bucin-an. Melihat situasi ini, jelas yang lain mengeluarkan ekspresi sebal yang terang-terangan. Maklum saja selain mereka berdua yang lain terhitung jomlo akut. Zaki dengan senyum pasrah, akhirnya melerai. “Sudah-sudah! Kalian ini, ya. Daripada ribut, mending segera istirahat, gih!” Mereka pun akhirnya membubarkan diri, langsung masuk ke tenda masing-masing.    Di dalam tenda, Indri berusaha memejamkan mata. Namun, ia terlalu tegang untuk bisa tidur. “Dri, lo udah tidur?” tanya Tika. Gadis yang dipanggil otomatis menoleh mendengar suara sahabatnya. “Kenapa, Tik?” jawab Indri dengan suara berbisik. Tika terdiam, ragu untuk bertanya lebih lanjut. Namun, akhirnya memutuskan untuk bertanya juga. “Lo kenapa, sih? Kayaknya selama perjalanan selalu gelisah.” “Gak tau juga, Tik. Gue ngerasa gak nyaman aja. Rasanya seperti ada yang mengikuti. Tapi, herannya kali ini gak ada yang gue liat.” “Serius lo, Dri? Tapi … lo sekarang sadar, ‘kan? Lo, gak kerasukan, ‘kan?” Mata Tika menatap gadis itu tajam. Indri menggeleng, meski hatinya setengah tidak yakin. “Gaklah, gue sadar kok. Mungkin hanya perasaan aja kali, Tik. Tapi … lo inget gak? Gue pernah bilang, kalo denger suara “krosak” gitu, di Watu Rejeng?” gadis itu melanjutkan mengeluarkan keresahan hatinya sejak awal perjalanan. “Iya, emang … apa ada yang lo lihat di sana?” “Gak begitu jelas, sih. Tapi, gue kayak liat bayangan anak-anak berlarian di sekitar situ.” Bulu kuduk Indri meremang saat berkata, ia membayangkan kembali apa yang dilihatnya saat itu.   “Itu mungkin … penampakan manusia kerdil, Dri.” Tiba-tiba, Retno menyahuti. Indri segera berbalik, sebab Retno berbaring di sebelah kanannya. “Manusia kerdil?” Tika, berganti bertanya pada Retno. Sinta yang tadinya sudah memejamkan mata malah akhirnya duduk tegak. “Ahhh, aku juga jadi gak bisa tidur. Takut, nih, Mbak.” Retno yang sempat terdiam, akhirnya mulai buka suara. “Yah, memang aku pikir juga gak mungkin, tapi …  mitosnya, manusia kerdil di sinyalir ada dan tinggal di Semeru. Namun, …,” jelasnya menggantung. Para gadis lainnya menahan napas karena tegang. Penasaran akan kata-kata yang akan diucapkan senior mereka selanjutnya. “Namun, apa, Mbak?” tanya mereka hampir bersamaan. Retno menghela napas, dan melanjutkan. “Aku setiap mau naik gunung biasanya biasanya googling dulu tentang kondisi alam dan sebagainya sebagai persiapan. Nah, anehnya, yang disebut manusia kerdil itu, biasanya hanya terlihat oleh pendaki, jika melewati Jalur Ayek-ayek saja. Tetapi, kemarin kita berada di track yang berbeda dan mereka tetap memperlihatkan diri. Ini yang menurutku sangat aneh.” Gadis itu menatap para juniornya satu-persatu. “Jangan-jangan, populasi mereka bertambah. Sehingga mereka sekarang menguasai Semeru. Menurut kalian bagaimana?” timpal Tika menarik analoginya sendiri. “Mereka itu manusia beneran, atau makhluk halus, Mbak?” Sinta tak tahan untuk tak bertanya. “Itu juga masih menjadi misteri, mereka tidak pernah menampakkan wujud aslinya. Biasanya hanya sekelebatan saja, seperti yang Indri mungkin lihat. Satu-satunya yang bisa dipastikan hanya, mereka bertubuh pendek dan gempal. Namun, dapat bergerak sangat cepat. Konon juga perilaku, dan bentuk tubuhnya mirip dengan Uhak Pandak di Riau, dan beberapa daerah lain yang memiliki mitos serupa.” Retno kembali menjelaskan perihal mitos manusia kerdil yang ada di Indonesia itu. “Ooh, mungkin itu sebabnya Indri tidak dapat melihat dengan jelas, ya, Mbak, karena mereka bergerak dengan cepat apalagi dengan tubuhnya yang pendek.” Tika kembali menarik kesimpulan lainnya. Indri mengangguk setuju. “Hmmm …  mungkin aja. Sebab keberadaan manusia kerdil di Indonesia memang sedikit misterius,” sahut Retno. “Mbak, ehm ... selain itu aku juga mendengar suara bisikan.” Indri berkata lirih, tak ingin menakut-nakuti. “Bisikan? Apa Maksudmu, Dri?” tanya Retno. “Shhh ... seperti itu suaranya, entah itu suara desau angin atau suara desisan ular, aku sepenuhnya gak yakin, tapi ….” “Desisan?” Retno memastikan, sebab dirinya kini bertambah penasaran. “Ahhh! Udah donggg, ngeriii, nih .…” Sinta memeluk Tika dengan erat. Retno pun memahami situasi, dan menghentikan obrolan. “Ah iya, besok kita bahas lagi, malam ini kita harus segera beristirahat, supaya bisa bangun tepat waktu. Gak lucu, kan, udah jauh-jauh ke sini, malah gak jadi muncak gara-gara kesiangan.” “Iya, Mbak,” sahut ketiga juniornya. “Tidur, ayo tidur. Jangan lupa berdoa.” Retno mengingatkan sebelum ia juga menutup matanya.   Para gadis pun kembali rebah dan meringkuk di dalam Sleeping Bag masing-masing. Meski ada gentar di hati mereka, tetapi ternyata tak butuh waktu lama, sebab lelah mengalahkan ketakutan, mereka akhirnya tertidur pulas. Kecuali Indri, pikiran gadis itu melayang-layang tak menentu hingga akhirnya ia pun ikut tertidur dengan masih gelisah. Ia kembali bermimpi, kali ini mimpinya ini tak beraturan, manusia kerdil, Sang Pangeran, Zaki, seorang perempuan cantik berkebaya, dan seekor ular. Semuanya membentuk slide saling tumpang tindih. Indri bergerak-gerak tak tenang dalam tidurnya.   Pekatnya kabut di area Kalimati, mengaburkan keberadaan dua makluk kecil yang melangkah hati-hati di sekeliling tenda. Suasana di sekitar tenda sangat hening. Para penghuni di dalamnya telah terlelap akibat kelelahan. Hanya suara dengkuran pelan yang keluar, terdengar syahdu mengalun bak lagu Nina Bobo. Langkah-langkah kecil itu terhenti di depan tenda biru, tempat para gadis beristirahat. Tampak samar dua sosok pendek, yang hanya memakai penutup tubuh dari kain usang berwarna kecokelatan.  Keduanya memegang senjata berupa tombak dan kapak. “Ini tenda gadis itu?” tanya salah satu makhluk yang memakai ikat kepala hitam. “Ya,” jawab temannya yang berambut keriting sebahu. “Mau kita apakan? Kebetulan, aku lapar.” “Gadis itu, seharusnya bisa jadi santapan yang lezat, tetapi … Tuanku, melarang kita mengganggunya.” “Lalu, apakah kita masih harus terus mengawasinya.”   “Tidak perlu!” sahut sebuah suara lain. Membuat kedua manusia kerdil terlonjak. Arjuna telah berdiri di belakang mereka, menatap mereka dengan sorot tajam. “Apa yang dilakukan Ayek-ayek di sini? Mau apa kalian?” tanya Arjuna lagi, suaranya bergetar menahan marah. Tanpa komando, mereka langsung lari tunggang langgang. Jaga, dari kejauhan bersiap hendak menghentikan langkah mereka. Namun, Cipta menahannya. “Biarkan saja, kita masih belum tahu untuk apa mereka selalu berada di dekat gadis itu.” “Hmm, baiklah.  Lalu, mana Arjuna?” “Di sana.” Cipta menunjuk ke arah salah satu tenda yang berwarna biru. Jaga, yang mengikuti arah telunjuk koleganya, mendapati Arjuna berjalan berkeliling tenda, ia berkomat-komat merapalkan sesuatu. “Apa yang dia lakukan?” “Tentu saja melindungi calon istrinya.”   = = = = = = = = = = = = = =
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN