Semburat keunguan menyelimuti langit Ranu Kumbolo di jam lima pagi. Cuaca dingin yang menusuk tulang menyerang. Membuat beberapa pasang mata tak mungkin lagi dapat dipejamkan, rasa kantuk perlahan menghilang berganti menggigil.
Indri meraba-raba dalam gelap, mencari jaket, dan kaus kaki tambahan. Setelah yakin tubuhnya telah terbungkus rapat, ia pun keluar tenda. Di luar udara terasa lebih dingin. Ia mencoba meregangkan kaki, dan tangan, melompat-lompat, juga berlari di tempat.
Beberapa tenda lain terlihat bergerak-gerak pelan, lalu satu persatu penghuninya keluar. Tidak terkecuali tenda di sisi kiri. Zaki keluar dari sana, ia melihat sekeliling, lalu memandangi Indri yang sedang berolahraga.
“Sudah bangun, Dri,” sapanya.
Gadis yang sedang sibuk menghangatkan tubuh itu menghentikan kegiatannya, ia balas menatap laki-laki itu. “Iya Kak, dingin banget, gak bisa tidur lagi.”
Angin berhembus, Indri bergidik, lalu berusaha menghangatkan jemarinya, dengan menggosok-gosokkan kedua telapak tangan. Zaki berjalan perlahan mendekati sambil memperhatikan dengan saksama.
“Kamu gak bawa sarung tangan?” tanyanya.
“Lupa, Kak, kemarin sepertinya ketinggalan di atas meja sekret,” jawab gadis itu.
Zaki meraih tangan Indri. Menempelkan di kedua pipi, merasakan suhunya. “Tangan kamu hampir beku begini.” Laki-laki itu kemudian melepaskan sarung tangan, dan memakaikannya pada Indri yang tertegun. Seraya berkata berkata pelan. “Pake punyaku. Lain kali, diingat-ingat lagi sebelum berangkat. Suhu di gunung sangat berbeda dengan di pantai. Di Semeru, suhu bisa mencapai minus lima derajat celcius, bahkan embun pagi di sini bisa menjadi es saking dinginnya,” jelas Zaki sambil menatap dalam mata bulat di depannya.
Indri sedikit merasa jengah. “Tapi, Kak, nanti … tangan Kakak?”
“Tanganku masih hangat, semalam aku tidur menggunakan sarung tangan ini,” kilah laki-laki itu, ia tak ingin Indri menolak perhatiannya.
Zaki lalu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, kemudian menempelkan di pipi gadis itu. Rasa hangat langsung menjalar, untungnya matahari belum muncul, jika tidak semburat jingga bukan lagi berada di langit, melainkan di kedua pipi Indri. Belum lagi, laki-laki itu kini menatapnya lekat. Gadis itu sungguh tak menyangka, ia berani melakukan hal tersebut. Perlakuannya membuat Indri terpaku, dan tak dapat berkata apa-apa.
Di kejauhan seseorang merasa kesal dan marah merasakan kejadian ini. Ia menendang batu yang berada tepat di depannya, suara berdebam menggema se antero lembah. Beberapa kelelawar yang bersiap untuk tidur di pepohonan terdekat, segera beterbangan menghindarinya. Mereka terbang, menjauhi tempat tersebut. Akibat kuatnya tendangan tersebut, membuat beberapa pohon tumbang, dan pohon-pohon besar di sekitarnya menggugurkan daun-daunnya. Batu besar yang malang itu membentur dinding tebing, lalu hancur berkeping-keping. Meninggalkan debu tipis di sekitarnya.
Beberapa pendaki yang mendengar suara dentuman di kejauhan itu, sedikit terkejut. Namun, tak ada seorang pun yang menyadari arti dari kejadian ini. Tak terkecuali Indri dan Zaki yang sempat terkesima. Akan tetapi, suara selanjutnya lebih mengagetkan keduanya.
“Ehm, ehm ....” Tanto keluar dari tenda, Zaki segera melepaskan tangan yang masih menempel di pipi gadis di depannya.
“Ki, ayo siap-siap sholat subuh.”
“Eh, iya Mas. Ayo, Dri,” ajak Zaki pada gadis yang termenung itu.
“I-iya Kak.” Mereka berdua berlari kecil mengikuti Tanto menuju danau untuk berwudhu.
Setengah jam kemudian semua anggota akhirnya bangun, dan bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya. Setelah semua perlengkapan ter-packing rapi, mereka pun menikmati sarapan untuk mengisi stamina, sebelum menuju destinasi kedua, yaitu Pos Kalimati.
Indri menggendong carrier, menegakkan tubuh serta meluruskan pinggang. Ia tidak menyadari, Zaki yang berdiri di sebelahnya, dengan tiba-tiba membalik tubuh mungilnya agar menghadap ke arah danau. Ia tak sempat protes, tetapi ketika pandangannya terpaku di depan hamparan telaga, mulutnya membuka, melongo.
“Sunrise!” seru Indri, penuh kekaguman dengan lukisan alam ini.
Zaki menyahuti, “Indah ‘kan?”
Indri mengangguk setuju, pemandangan ini sungguh luar biasa, matahari muncul di antara dua bukit. Persis seperti gambar waktu TK-nya dulu, ia tak pernah menyangka gambaran masa kecil itu, akan terealisasi di sini dengan seribu kali lebih indah tentunya.
“Subhanallah ...,” ucapnya penuh kekaguman.
Setelah puas mengagumi lukisan alam yang sempurna milik Sang Khalik, akhirnya mereka pun berjalan menuju Tanjakan Cinta. Setelah sampai di tepi bukit tersebut, Tanto berbalik menghadap rombongan, dan berkata setengah bercanda. “Siapa yang masih jomblo, hayo nunjuk?”
“Emang kenapa, Mas?” Sinta menanggapi.
“Di depan kita ini, adalah Tanjakan Cinta, bukit yang cukup terjal namun pendek. Mitosnya, bagi siapa saja yang masih jomblo, tapi berhasil melewati tanjakan ini, tanpa melihat ke belakang sambil memikirkan orang yang disukainya, maka cintanya akan kesampaian.”
“Oya? Wah gue enaknya mikirin siapa, ya?” Ragil menyambung perkataan Tanto.
Retno yang sejak semalam kesal dengan Ragil, berkata ketus, “Elo sih playboy, Gil! Kebanyakan mikirin cewek, akhirnya malah bingung mikirin siapa, kayak Fatin dong, AKU MEMILIH SETIA.”
“Atau kayak Tante KD, COBALAH UNTUK SETIA, Kak Ragil.” Sinta menanggapi.
Anto pun ikut-ikutan. “Kak Ragil mah, ‘ngikutin Bunda Melly Goeslaw ajah, SETIA PADA 1000 KEKASIH.”
“Suka-suka gue dongggg ... bilang aja pada mau dipikirin ama gue, ya ‘kan No? Ta? Nto? Ehh, kecuali lo, Nto! Maaf.”
“Yeee, saya juga masih normal kali, Kak.”
Ragil cuek dengan perkataan mereka yang julid, malah membalas berkata dengan semangat. “Udah-udah, kalo gitu gue mikirin artis idola gue aja, deh, biar gak ada yang sakit hati.”
“Huuuu …,” sungut yang lain.
“Siapa, Kak?” tanya Anto.
“Luna Maya,” jawab Ragil santai dan langsung berjalan.
Semua langsung berseru tanda protes, dengan pernyataan tersebut. Namun, Ragil memang seperti itu sehingga Tanto dan yang lain, kecuali Retno tentunya, tertawa-tawa mendengar perkataan Ragil yang nyeleneh itu.
Di saat semuanya masih diliputi keceriaan. Indri tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia memikirkan senyum seseorang, tetapi itu bukan senyum Zaki atau seseorang yang dikenal. Senyum itu milik seorang pangeran misterius, yang telah kembali mendatangi mimpinya semalam. Dalam hati ia bertanya, Siapa dia? Mengapa terus hadir dalam mimpiku?
Namun, pikirannya segera saja buyar ketika Zaki menepuk pundak gadis itu. “Kenapa ngelamun, Dri? Ayo cepat naik, jangan lupa, pikirin aku, ya.” Pria itu berkata sambil tersenyum penuh arti.
Belum sepenuhnya tersadar dengan kata-kata barusan, ia kemudian berjalan melewatinya. Setelah satu menit, Indri terperangah. Ketika akhirnya mengerti makna perkataan tersebut. Pikiran gadis itu melayang pada kejadian subuh tadi. Ia pun menggeleng kuat, dan kembali wajah sang pangeran membayang. Indri mendesah, merasa lelah dengan isi kepalanya. Kini, ia tak dapat menghindari wajah keduanya, bagai siluet yang saling tumpang tindih. Desahan keluar dari mulutnya dan terasa begitu berat.
Zaki yang melihat tingkah laku gadis di belakangnya menoleh, lalu menarik jemarinya demi memintanya untuk mempercepat langkah. “Ayo, Dri!” Indri tak mampu menolak, pesona kakak seniornya itu cukup membius, sampai wajah pangeran kembali menari-nari.
Setelah Indri berjuang mendaki tanpa bisa membuang dua wajah pria dalam pikirannya. Akhirnya, mereka semua tiba di Oro-oro Ombo, di depan mereka kini terhampar luas padang sabana, yang sangat memikat sepanjang mata memandang. Verbena Brasiliensis Vell tumbuh subur di tempat ini, mereka pun berfoto-foto sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Setelah berjalan lambat sepanjang padang sabana, tibalah mereka di Pos Cemoro Kandang.
“Istirahat sepuluh menit.” Tanto berkata, dan mereka tanpa komando langsung menjatuhkan diri untuk duduk. Sembari bersandar pada carrier masing-masing, Tanto kembali memberi wejangan. “Teman-teman, setelah pos ini stamina kita akan benar-benar teruji. Karena tanjakan demi tanjakan, akan terus kita temui, sampai pos berikutnya,” jelas Tanto sambil menilai kondisi masing-masing anggota.
Anto mendesah mendengar kata sepuluh menit kembali terlontar. Sedang, anggota lain hanya mengangguk pasrah. Indri mengamati area tempat beristirahat kali ini, sesuai dengan namanya area ini dipenuhi vegetasi Pohon Cemara, beberapa pohon terlihat tumbang dengan pucuk yang menghitam.
Di sini, kadang angin tiba-tiba berhembus, membuat mereka bergidik kedinginan. Walau hari sudah siang, kabut yang turun membuat cuaca tetap pada suhu dingin, dan lembab.
Shhhhh ….
Kembali suara itu terdengar, suara desisan asing yang seolah-olah berada di belakang Indri. Dengan panic, kembali mata gadis itu menyapu area sekitar. Tak ada yang terlihat, sebab hutan cemara itu berkabut, membuat suasana sedikit mencekam.
Zaki melihat keresahan gadis di sisinya. “Kenapa, Dri,” tanyanya waspada.
“Suara itu lagi, Kak,” jawab Indri sembari terus mengawsi sekitarnya.
“Suara apa?”
“Suara itu sepertinya mengikuti kita sejak di Watu Rejeng.”
Tanto yang intens memperhatikan mereka berdua, berjalan mendekat. Ia memaksa Indri untuk menatap matanya. “Jangan terbawa suasana, Dri. Gunung ini banyak penunggunya. Hanya karena beda dimensi, maka kita tidak bisa melihat mereka, jadi tolong abaikan saja, oke.”
“Iya, Mas.” Indri mengangguk patuh.
Tanto berganti memandang Zaki, dan laki-laki itu membalas dengan anggukan sekilas. Indri berusaha keras untuk tidak kembali menengok-nengok ke sana-sini lagi. Sampai akhirnya, sepuluh menit pun berlalu. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Indri dengan sekuat tenaga menghalau rasa takut, dan dinginnya udara dengan terus bergerak. Zaki terus menatap gadis itu dengan pandangan khawatir.
Di balik pepohonan yang rimbun, kedua penjaga gunung mengikuti rombongan dengan mata terfokus pada Indri.
“Jaga, mengapa kau mengikuti gadis itu terus?” tegur Cipta.
“Ada sesuatu di dalam diri gadis itu, yang menarik banyak lelembut mendekatinya.” Jaga menjawab sambil mengawasi sekeliling.
“Kau mengusir mereka dengan menurunkan kabut pekat, membuat suasana jadi terlalu dingin.”
“Maaf, aku harus menghalau mereka, dan juga penglihatan Indri. Kau tahu dia dapat melihat mereka dan kita, ia telah menyadarinya sejak kemarin.”
“Hmmm … dan di mana Arjuna sekarang?”
“Entah apa yang membuatnya tertahan, kabarnya ia masih dalam perjalanan.”
“Semakin cepat ia datang, maka gadis itu akan aman.”
“Cipta, mengenai Arjuna dan gadis ini, apakah kau yakin mereka dapat bersatu?”
“Tidak ada pilihan lain, ini semua demi menyeimbangkan semesta, kau tahu, kan, Jaga. Kita hanya dapat menjaganya hingga Arjuna datang.”
“Dengan keistimewaannya, aku harap gadis ini akan selamat sampai hari pernikahan.”
“Ya, jika tidak sekarang, dan titisan Amarawati baru akan ada sekitar dua hingga tiga tahun lagi, jadi … sekarang adalah waktu yang tepat.”
Jaga membalas pandangan koleganya dengan anggukan. Tangannya bergerak menepis udara kosong, dan beberapa meter dari tempatnya berdiri sosok tak bermata menumbur pohon, lalu kabur.
= = = = = = = = = = = = = =