[ 06 ] Malam di Ranu Kumbolo

1569 Kata
Rombongan Mapala UPKI berjalan beriringan, mencari spot untuk membuka tenda. Sepanjang kaki melangkah, terlihat beberapa pendaki yang sudah lebih dulu berada di sana, tengah bersiap menyambut malam. Ada yang sibuk memasak untuk makan malam, ada yang bernyanyi bersama, juga ada yang terlihat baru saja melakukan salat magrib berjamaah. Di pinggir danau, ada yang duduk-duduk dengan santai menikmati keindahan alam malam yang baru saja turun. Benar-benar sebuah surga tersembunyi, yang tak hanya bisa diceritakan dengan kata-kata saja. Setelah mendapatkan tempat, mereka segera membuka dua tenda. Zaki memandori, sambil sesekali membantu. Retno, dibantu Ragil, membuka perlengkapan logistik, sedangkan Anto dan Tika mengambil air. Satu jam kemudian, semua persiapan menyambut malam pertama di Semeru, sudah siap.  Mereka duduk membentuk setengah lingkaran, sambil makan malam.  Di tengah canda setelah makan, Tika bertanya pada Tanto, “Mas, kenapa Ranu Kumbolo disebut sebagai surga tersembunyi? Apa ... tidak ada tempat lain, yang lebih indah dari danau ini?” Mas Tanto pun menjawab, “Pertanyaan ini, sudah berulang kali ditanyakan Tik. Sebetulnya, Semeru memiliki enam danau. Danau-danau ini, memiliki kecantikannya masing-masing. Letaknya, tersebar dibeberapa area di sekitar gunung. Namun, danau-danau tersebut tidak semuanya bisa didatangi, karena ada beberapa danau yang berada di area terlarang, sehingga sulit dijamah.” Semuanya sangat tertarik mendengar cerita Tanto, Sinta pun ikut-ikutan bertanya, “Enam Mas, danau apa aja?” “Pertama, jelas Danau Ranu Pani. Kemudian, yang tadi kita lewati Ranu Regulo, danau itu bisa juga diakses melalui Bromo. Selanjutnya Ranu Kumbolo, basecamp kita sekarang ini. Selain itu, ada Ranu Darungan, yang bisa mengering, dan berair sesuka hati. Mungkin, karena danau ini adalah danau buatan, oya, walaupun danau ini terbuka untuk umum, tapi terletak cukup jauh, jadi agak sulit untuk dicapai. Lalu, ada Ranu Kuning. Beberapa warga sekitar tidak semuanya tahu akan keberadaan danau ini, karena akan mengering bila musim kemarau, dan akan membentuk danau lagi bila musim penghujan tiba. Keberadaannya pun hanya dapat ditemukan melalui satelit, oleh karenanya tidak semua orang dapat ke sana, apalagi akses menuju danau tersebut juga sangat sulit. Terakhir adalah ....” “Danau Ranu Tompe,” sambung Zaki, pandangan setiap orang pun beralih kepadanya, ia pun melanjutkan, “danau ini yang paling sulit untuk dicapai, juga tidak dibuka untuk umum. Padahal, disebut-sebut sebagai danau paling indah di Semeru. Hal ini dipercaya, karena keanekaragaman hayatinya yang sangat melimpah. Namun, ....” “Danau itu juga dikenal sebagai Ranu Lus. Kabarnya merupakan pintu masuk menuju kerajaan lelembut, yang memelihara alam Semeru.” Tanto, kembali menyambung cerita Zaki, semua yang tadinya menatap Zaki berganti menatap Tanto. Bahkan, saking serius mendengarkan cerita keduanya, mereka sampai menahan napas.  “AKHHHHHH!!!!” Tiba-tiba! Retno berteriak, sambil memegang lehernya. Semua yang tadinya serius mendengarkan cerita, beralih memandang dirinya dengan ngeri. Indri menutup mata, Gilang memeluk Anto, Tika, dan Sinta berteriak sambil berlari masuk ke tenda. Keadaan menjadi kacau. Melihat hal ini Tanto, Zaki, dan Retno, tertawa bersama. Rupanya, mereka bertiga sudah merencanakan hal ini. “Ha ha ha ha,” tawa ketiganya membahana di tengah langit danau yang gelap. Mendengar tawa mereka, Indri membuka mata dengan takut-takut. Tika dan Sinta mengintip dengan malu, lalu perlahan keluar tenda. Gilang terkejut, karena menyadari yang dipeluknya ternyata bukan Tika. Segera ia melepas genggaman tangannya, yang kencang di bahu Anto. Anto meringis, menahan takut dan sakit bersamaan. Mereka menatap bahu Guide dan dua orang senior iseng yang berguncang karena tawa, dengan gemas.  Mereka pun kembali duduk di tempat semula, dengan masih memandang sebal pada ketiganya. Tanto pun kembali bicara, “Itu adalah cerita yang beredar di masyarakat sini, boleh percaya, tidak percaya juga tidak apa-apa. Oleh sebab itu, saya kembali mengingatkan. Demi keselamatan kita bersama, untuk tidak pergi sembarangan, keluar dari area basecamp tanpa pengawasan. Selain itu, kalian juga dilarang mandi, BAK, apalagi BAB di danau. Air danau ini sangat jernih, dan bisa langsung diminum jadi jangan sampai tercemar.” Anto, mengangkat tangannya ragu-ragu. Zaki, yang melihat hal ini bertanya padanya, “Mau nanya apa, Nto?” Anto menjawab lirih, “Mas, bener gak? Kalo, ada beberapa kejadian misteri di Semeru? Terutama di danau ini.” Ayla, Tika, Gilang, dan Sinta, otomatis menjitaki kepala Anto, sambil menggerutu. Tanto, Zaki, dan Retno tersenyum dan melerai. Anto meringis, menahan sakit, tetapi tetap kekeh bertanya, “Salah gue apa? Ini semua demi keselamatan kita bersama, iya, kan, Mas?” Tanto pun tersenyum, dan kembali bercerita, “Semua tempat pasti ada hal-hal seperti itu, Nto. Apalagi gunung, pasti memiliki cerita mistisnya sendiri. Semua berpulang kepada niat kita. Asal selama pendakian hati dan pikiran kita bersih, mudah-mudahan Tuhan selalu melindungi. Lagipula, memang tempat ini rumah mereka. Oleh karena itu, demi keselamatan kita bersama, sebagai tamu, ya, harus bersikap sopan.” Semua mengangguk setuju.    Ragil, yang baru saja datang dari tenda sebelah. Menyela sambil duduk sekenanya di samping Sinta. “Mas, aku baru denger nih, katanya di sini ada sosok wanita yang sering muncul gitu.” Mendengar perkataan Ragil, membuat Indri, Tika, Gilang, Anto, dan Sinta, semakin merapatkan duduknya satu sama lain. Tanto pun menjawab pertanyaan Ragil. “Saya sendiri, sih, belum pernah liat, Mas Ragil. Memang, menurut beberapa pendaki, yang kebetulan mendaki tepat saat bulan purnama, pernah melihat sosok tersebut. Rupanya adalah, putri nan cantik jelita. Kecantikannya bahkan mengalahkan Miss Universe. Dikatakan ia selalu menggunakan kebaya berwarna kuning. Itu sebabnya panggilannya adalah Putri Jene Kumbolo, atau Putri Kuning penunggu Ranu Kumbolo.”  Seperti dikomando, mereka semua menatap langit dan melongo. Malam itu langit sangat indah bertabur bintang, tetapi fokus pandangan hanya pada satu benda langit, yang bersinar paling terang. Lalu, dengan menelan ludah, mereka saling pandang tanpa berkedip. Anto, dengan melas berkata sambil menunjuk bulan, yang menggantung di langit. “Tapi Mas, sekarang juga, malam bulan purnama.” Tanto menelan ludah, mengikuti arah telunjuk Anto. Lalu, berkata menenteramkan, meski dari nada bicaranya ia sedikit tak yakin. “Itu kan hanya mitos, Nto. Masyarakat sekitar mengenal sosok tersebut sebagai Dewi Penunggu Danau. Wujud aslinya, adalah Ikan Mas. Makanya ada larangan lain yang menyebutkan kita tidak boleh memancing di sini. Nah, demi keselamatan kita bersama, ya, gak usah mancing. Paling tidak kita berniat, untuk tidak mengganggu keseimbangan alam. Mudah-mudahan Tuhan selalu melindungi, jadi kalian tidak perlu khawatir.” Mereka semua tampak tegang setelah mendengar penuturan Tanto. Kembali menengadah, dan menatap purnama sempurna yang menggelayut di atas langit kelam. Mereka, yang telah duduk dengan rapat, semakin merapatkan diri lagi. Tanpa terlihat oleh yang lain, Retno pun ikut merapatkan duduknya ke Zaki. Namun, dengan sok berani ia berkata nyolot pada Ragil. “Lo, gak bisa liat cewek cakep, sih, Gil. Jangankan manusia, hantu cewek juga lo mo embat.” Semua tertawa setengah hati, mendengar candaan garing tersebut. Zaki, melihat ke arah jam tangannya, tanpa basa-basi langsung berkata tegas. “Sudah-sudah, malam ini kalian segera tidur, besok kita harus mendaki lagi.” Anto menyela, memandang Zaki berharap jawaban yang layak. “Nyubuh, Kak?” “Gak sih, tapi kalo bisa sepagi mungkin. Karena kita harus nge-camp dulu di Pos Kalimati, tengah malam baru kita ke puncak. Sebab, di puncak hanya boleh sampai jam sembilan pagi.” “Kenapa, Kak?” Anto kembali bertanya. “Karena diprediksi, antara jam sembilan sampai sepuluh pagi, asap beracun akan keluar dari kawah.” Tanto menjelaskan kepada Anto, yang lain turut mendengarkan. “Sebetulnya prediksi tersebut bisa saja meleset, hanya berupa perkiraan. Maka setelah naik ke puncak dan foto-foto, kita harus segera turun. Karena ini semua ....” “Demi keselamatan kita bersama.” Mereka menyambung perkataan Tanto, dengan mimik serius. Tanto sedikit kaget mendengar sahutan mereka, kemudian tersenyum puas. “Benar sekali!” Perkataan Tanto pun mengakhiri perbincangan. Malam semakin larut. Sebelum memasuki tenda, Indri memandang jauh ke arah danau. Sinar bulan terbias, di atas permukaannya yang tenang. Tampak indah bak berlian yang tersebar di sepanjang mata memandang. Entah mengapa, semakin lama ia merasakan suasana mistis mulai merebak, bulu kuduknya merinding. Perasaanya mengatakan ada seseorang atau sesuatu yang memperhatikan dari kejauhan. Indri bergidik dan segera menutup ritsleting tenda, buru-buru ia meringkuk di balik sleeping bag. Setelah berdoa dengan khusyuk, tak lama kemudian gadis itu pun tertidur. Dalam tidur, Indri kembali bermimpi tentang pangeran yang sama, sosoknya yang tadinya sedikit kabur kini semakin jelas. Ia memiliki tubuh tinggi nan gagah, terpadu sempurna dengan kulitnya yang kecokelatan. Rambut hitam ikalnya menjuntai hingga bahu, dahinya diikat dengan udeng yang bercorak merah tua, hidungnya mancung, rahang tegasnya sangat serasi dengan bentuk dagu, dan bibirnya yang— Plakk! Indri ngelilir, dan membanting tangan Retno yang mengenai wajahnya. Lalu, berbalik, kembali tertidur. Anehnya mimpi itu bersambung, pandangan Indri kini teralihkan pada alam sekitar. Mereka tengah berdiri di tepi danau, tetapi danau itu ... jelas bukan Ranu Kumbolo, karena tak ada tenda-tenda di sana. Suasana alamnya juga jauh berbeda, airnya berwarna hijau keperakan, sinar rembulan membuat air menjadi seperti butiran Zamrud yang terserak. Vegetasinya pun lebih rapat, hingga banyak dahan-dahan pohon rimbun yang menjuntai. Di bagian kiri danau, terdapat air terjun yang bertingkat-tingkat. Suara air yang bergemericik, membuai Indri semakin jauh dari alam sadar. Walaupun keindahan alam sekitarnya tak tertandingi, tetapi suasananya sangat menyeramkan, dan aura mistisnya terlalu pekat.  Indri bergidik dan mundur selangkah, dari pangeran yang terus menatapnya lekat. Matanya sangat tajam, dan memabukkan. Indri kembali mundur satu langkah. Namun, malang. Gadis itu malah menginjak batu dan limbung. Sang pangeran menangkap lengannya, membantu dirinya untuk kembali tegak.  Ia pun seperti memahami kebingungan Indri, seraya tersenyum ia berkata. “Selamat datang di duniaku, Indri.”   = = = = = = = = = = = = = = = =    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN