[ 05 ] Menuju Surga Tersembunyi

1455 Kata
Tepat pukul satu siang, rombongan didampingi Tanto memulai perjalanan menuju Basecamp Danau Ranu Kumbolo. Setelah satu jam mendaki, mereka tiba di pos pertama pendakian, yaitu Area Landengan Dowo. Pria itu menyuruh mereka untuk beristirahat sejenak, rombongan pun duduk di bawah salah satu Pohon Akasia yang banyak tumbuh di area tersebut.  Tanto mengecek kondisi sekilas. Lalu tersenyum dan bertanya, “Bagaimana? Belum capek, dong? Ini baru pos pertama, loh.” Dengan wajah yang diceria-ceriakan mereka menjawab, “Belum, Mas.” Tanto pun tersenyum. “Sip! Kalo gitu kita istirahat sepuluh menit.” Anto, yang terlihat paling lelah di antara mereka, langsung berkomentar, “Hanya sepuluh menit, ya, Mas? Gak bisa lamaan dikit?” “Gak bisa, Nto. Ini semua demi keselamatan kita bersama. Kalau tidak cepat kita akan berjalan dalam gelap. Semakin malam, maka perjalanan akan semakin membahayakan. Sebab biasanya pendakian menuju Ranu Kumbolo memakan waktu lima sampai enam jam. Itu pun baru prediksi, bisa jadi lebih lama tergantung situasi dan kondisi.” Tanto menatap Anto yang menunduk lesu, lalu melanjutkan dengan lembut. “Makanya, di setiap pos peristirahatan kita tidak boleh berlama-lama.” Anto mengangguk pasrah. “Baik, Mas.” “Oya, sebagai tambahan. Ini juga demi keselamatan kita bersama. Setelah melewati pos ini, saya akan berjalan di depan. Kalian akan dibagi berpasangan, dan untuk sweeper tolong, ya, Zaki.” Nama yang disebut pun mengangguk. Ragil merasa senang mendengar kata berpasangan, lalu menyela dengan girang. “Asyik! Kita jalannya boleh sambil gandengan tangan, ya, Mas?” Mendengar hal ini, Gilang melirik Tika dengan semangat, yang lain terlihat sebal mendengar perkataan Ragil. Namun, Tanto setengah membela. “Benar sekali, demi keselamatan kita bersama. Selama dalam perjalanan, para cowok wajib menjaga satu orang cewek. Bagi yang berpacaran atau sedang PDKT tentu boleh berpasangan. Tapi, kalo bosen, boleh, deh, tukeran. Soalnya saya masih jomlo, nih.” Tanto berkata sambil cengar-cengir, yang lain tertawa mendengar candanya tersebut. “Oke, sekarang saya bagi pasangannya.” Tanto menunjuk satu demi satu anggota. “Tika dengan Gilang, Anto dengan Retno, Ragil dengan Sinta, dan Indri dengan Zaki.” Mereka yang ditunjuk langsung mendekat kepada pasangan masing-masing. “Inget, ya! Kalian para cowok harus bertanggung jawab penuh dengan cewek-cewek ini?” ia kembali mengingatkan. Kali ini semua mengangguk setuju, kecuali Retno. “Mas, bisa tuker dengan Zaki gak, sih? Anto tuh letoy, ada juga nanti aku yang bakal jagain dia, bukan sebaliknya.” Zaki yang mendengar protes koleganya itu pun berusaha menengahi. “Justru itu, No.  Gue tau kapasitas lo yang emang strong. Makanya, gue sama Mas Tanto udah nentuin lo sama dia, supaya sepadan. Soalnya cewek yang lain gak ada yang segagah elo.” Retno mendelik kesal pada Zaki. “Sial lo, Ki!” timpalnya kesal, ia membuka mulut masih ingin menyumpah serapah. Tanto langsung memotong. “Hush! Tolong Retno, demi keselamatan kita bersama. Selama pendakian, jangan berbicara yang tidak baik, ya. Omongan, kan, doa, sebaiknya bicara yang baik-baik saja, dan ini berlaku untuk kita semua.” Zaki tersenyum penuh kemenangan. Sedang Retno merengut. “Denger, tuh, No. Bicara yang baik-baik, supaya dapat hal yang baik-baik juga.” Retno melengos mendengar perkataan Zaki. “Tauk ah!” Semuanya tersenyum melihat pertengkaran dua sejawat ini. Hingga waktu sepuluh menit berlalu begitu saja, mereka sudah harus beranjak dari Landengan Dowo dan mulai berjalan kembali.    Sekitar satu setengah jam kemudian, setelah melalui tebing yang cukup curam, mereka tiba di pos ke-dua, yaitu Watu Rejeng. Mereka kembali berhenti untuk mengatur napas. Hari telah beranjak sore, semburat mentari semakin berusaha keras menembus kepekatan hutan. Krosak! Tiba-tiba, terdengar suara asing dalam suasana hening dan kelelahan. “Kak, sepertinya ada yang jatuh atau apa gitu,” ucap Anto pada Ragil yang duduk di sebelahnya. Semua terdiam seraya menatap tajam sekeliling. Suasana yang sunyi setelahnya, justru membuat bulu kuduk merinding. Indri melihat lengan berbulunya yang kini meremang.  “Ada yang mendekat,” sahutnya lirih tanpa ekspresi. Tanto pun mendekati Zaki lalu berbicara pelan. “Sebaiknya kita tidak berlama-lama di sini.” Zaki memperhatikan anggotanya satu per satu, ia memandang Indri lebih lama.  Lalu menatap Tanto, ada anggukan kecil yang samar. Namun, mereka berdua sama sekali tidak bicara. “Oke, cukup istirahatnya. Ayo move … move ...,” perintah keduanya. Kali ini tidak ada yang protes, kejadian ganjil tadi membuat semuanya tak ada yang mau berlama-lama di tempat itu.   Indri segera beranjak mengikuti instruksi. Ia mentap teman-temannya yang sepertinya juga merasakan hal yang tidak mengenakkan. Tika berbisik sebelum mulai berjalan. “Suasananya aneh, ya, Dri? Gue merinding.” “Iya, terus terang gue merasa enggak nyaman,” jawab Indri. “Lo gak liat sesuatu, ‘kan?” tanya Tika khawatir. “Gue merasakan banyak yang mendekat, tapi kali ini gak ada yang gue liat,” jawab Indri masih tanpa ekspresi. Tika menatapnya ngeri. Gilang segera mengamit lengan Tika, untuk mempercepat langkahnya. “Ayo!”   Satu menit setelah berjalan dengan sedikit tergesa. Tiba-tiba Indri berpaling, sebab mendengar suara desis janggal di belakangnya.  “Shhhhh ….” Indri menghentikan langkah dan terpaku. Memandang sekitar, merasa ada yang mengawasi. “Kenapa, Dri?” tanya Zaki yang merasakan keanehan pada diri gadis itu. “Gak apa-apa, Kak, hanya saja ... tadi …  Kakak denger gak?” “Dengar apa?” “Suara … ehh, ya, ... yang...,” suara gadis itu menjadi bergetar. Dengan panik ia berbalik, ketika suara desis yang sama masih menggangunya. Zaki segera menutup kedua mata Indri dengan tangan kanannya. “Gak ada yang mesti dilihat! Abaikan saja apapun itu. Ayo!” Indri mengikuti arahan ketuanya itu, lalu membalik tubuhnya. Namun, entah mengapa, kepala Indri rasanya seperti ingin kembali menengok ke belakang, Zaki menghentak lengannya, agar menahan gadis itu untuk tidak kembali berpaling, ia menatapnya dengan tajam. “Fokus, Dri!” Indri terkesiap dan menatap mata laki-laki di depannya. Sedetik kemudian, ia mengangguk perlahan, menahan diri untuk tidak berpaling lagi. Zaki pun segera menggenggam jemarinya, mengajak untuk mempercepat langkah.   Suasana yang sedikit mencekam tadi, terhapus dengan beratnya medan yang harus ditempuh selanjutnya. Untungnya rombongan jumlahnya sedikit, membuat mereka lebih cepat dalam mendaki. Mungkin, inilah sebabnya pengelola TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru), tidak membolehkan rombongan besar yang berjumlah lebih dari 25 orang, untuk naik ke Semeru. Karena, jelas akan sulit dalam mengkoordinir anggota. Terutama, dikarenakan kondisi alam pegunungan yang tidak menentu.   Setelah lebih dari tiga jam pendakian, akhirnya mereka pun sampai di tujuan. Tanto melirik ke jam tangan, senyum puas tersungging di bibirnya. Ia berbalik dan menatap rombongan. Seraya merentangkan tangan, ia berkata dengan bangga. “Welcome to Ranu Kumbolo, surga tersembunyi di Gunung Semeru.” Tahu telah sampai pada tujuan, rasa lelah yang mendera sejak siang tadi hilang begitu saja. Semuanya berdecak kagum, menyebut asma-Nya. Mata mereka memandang berkeliling tanpa berkedip. Semburat senja terlihat sangat indah, memantul dari permukaan danau yang tenang. Perpaduan warna oranye matahari yang semakin redup, berpadu harmonis dengan birunya air danau. Rasanya pendakian panjang, selama lebih kurang enam jam itu, terbayar sudah.    ***   Batu besar itu terletak di tepi Sabana Pangonan Cilik yang luas, di atasnya seorang pria bertubuh pendek dan gemuk sedang bersemadi. Ia memakai pakaian layaknya seorang brahmana, berwarna kuning keemasan. Rambutnya berwarna putih keabu-abuan, diikat membentuk cepol di atas kepala. Wajahnya dipenuhi keriput, menandakan ia telah lama hidup, mungkin lebih dari seribu tahun. Kelopak dan kantung matanya tebal, setengah menutupi tatapan dinginnya pada sosok yang mendekat. Sosok itu merunduk rendah di hadapannya. “Mereka telah memasuki area Ranu Kumbolo, Tuanku,” lapor makhluk kerdil itu pada junjungannya, Sabdo Palon. “Awasi terus! Gadis itu kini dapat bertemu Arjuna kapan saja. Aku harus menemukan jalan masuk Negeri Sukma Hilang melalui mereka,” tukas Sabdo Palon, senyum sinisnya mengembang. “Brawijaya, mau lari ke mana kau kali ini.” “Tapi, Tuanku ...,” lirih si makhluk yang sedikit ketakutan. “Ada apa?” tanyanya. “Dewa Jaga dan Cipta selalu berada di sekitarnya, seperti melindungi gadis itu. Kami, tidak berani mendekat,” sahutnya segera.             “Hmm, harum tubuh gadis titisan Dewi Amarawati memang beda. Tentu saja, mereka harus melindunginya dari mahkluk lain. Sedang tubuh bernyawanya saja begitu menggiurkan, apalagi matinya. Darah yang mengalir dalam tubuhnya begitu berharga.” Sabdo Palon berkata sambil menerawang, lalu menatap tajam pada makhluk itu lagi. “Kalian tetap awasi! Ingat! Jangan sampai kedua dewa itu tahu keberadaan kalian dengan tidak mampu menahan diri. Aku masih membutuhkannya sampai gerbang negeri itu terbuka.” “Baik, Tuanku.” jawab makhluk itu, seraya mundur dan berbalik pergi setelah menerima perintah. Ia berjalan menembus hutan dan menemui banyak makhluk bertampang serupa di balik pepohonan. Mereka, adalah Manusia Kerdil Ayek-ayek yang berperawakan hampir sama dengan majikannya. Namun, lebih pendek dan berparas buruk rupa, selain itu mereka hanya mengenakan pakaian dari daun-daunan yang menutupi tubuh bagian bawahnya.   = = = = = = = = = = = = = = = =  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN