[ 04 ] Negeri Sukma Hilang

1634 Kata
“Prabu Brawijaya V, adalah raja terakhir Kerajaan Majapahit. Ia menghilang setelah memeluk Agama Islam. Menghilangnya Sang Prabu masih diperdebatkan hingga saat ini. Ada yang bilang beliau berguru dengan Sunan Ampel dan menutupi identitasnya hingga akhir hayat. Banyak pula yang mengira beliau moksa bersama rakyat dan kerajaannya.” (2)   ***   Laki-laki gagah dengan pakaian kebesaran seorang pangeran itu, berjalan mantap menuju balairung yang berada di tengah kerajaan. Setelah melewati lorong dengan banyak pilar. Sampailah ia di depan pintu berukir dari kayu jati berwarna merah, yang terbuka seketika bak menyambutnya. Dengan percaya diri, ia melangkah lebar memasuki ruangan paling indah dalam istana tersebut. Membuat kain putih yang tersampir pada pundaknya melayang terhempas udara akibat gerakannya yang mantap juga ringan, menandakan tingginya ilmu kanuragan yang dimiliki. Di tengah ruangan, terdapat kubah besar yang menambah kesan megah ruangan yang dipenuhi dengan ukiran emas dipadu polesan batu alam berwarna biru. Di ujung ruangan, dalam undak tertinggi terdapat singasana dari kayu jati berukir. Di sana, duduklah seorang laki-laki lain yang sama gagahnya. Hanya saja, pria itu telah berjanggut panjang dengan wajah yang tampan bersahaja. Sang pangeran menatap pria yang tengah duduk dengan tegak. Di kedua sisinya, dua orang dayang tengah mengipasi dengan bulu burung merak yang dirangkai menyerupai kipas besar. Dengan hanya mengayunkan tangan lembut, keduanya segera beranjak mundur ke luar ruangan. “Anakku, Arjuna Birawa,” panggil laki-laki yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi negeri yang bak dalam dongeng itu. Bibirnya tersungging senyum bangga akan keberadaan sang pangeran yang tumbuh diluar ekspektasinya sebagai raja. “Ya, Ayahanda,” sahut sang pangeran seraya mengangguk patuh, menanti perintah selanjutnya. Suara beratnya menggema seantero ruangan. “Tak terasa, usiamu kini sudah sepantasnya untuk menikah.” Mata Prabu Brawijaya yang merupakan pemimpin Negeri Sukma Hilang itu, menatap putra satu-satunya. “Menikah? Apa gunanya? Bukankah negeri kita tak lagi dapat memiliki keturunan?” balas sang pangeran, heran dengan perkataan ayahnya tersebut. “Aku sudah semakin tua, tampuk kepemimpinan akan segera diserahkan kepadamu dalam waktu dekat. Sebab, sudah saatnya aku lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Untuk itu, kau harus segera memiliki istri sebagai pendamping dan memiliki keturunan bersamanya.” “Dengan siapa? Bukankah seluruh penduduk negeri memiliki masalah yang sama? Bagaimana mungkin?” tanya Arjuna Birawa. “Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini,” sahut sang prabu.   Di sisi lain, tepatnya di lokasi yang cukup jauh dari Kerajaan Negeri Sukma Hilang. Dua sosok yang dipercaya penduduk sekitar sebagai penjaga Gunung Semeru sedang duduk di ketinggian bukit. Pemandangan alam di sekitarnya sangat luar biasa. Danau itu, di kelilingi hutan hujan tropis luas menghijau bak Zamrud. Permukaanya bagai cermin yang memantulkan baayangan indah di sekelilingnya. Cipta, adalah dewa yang menjaga Gunung Semeru. Penampakannya adalah pria tua, gemuk, dengan wajah arif yang dihiasi jenggot putih panjang. Ia selalu memakai pakaian serba putih seperti petapa dan di kepalanya terdapat mahkota bentuk stupa bertingkat tiga. Ia kini sedang bermandi matahari pagi bersama pria lainnya, yaitu Jaga. Pria itu merupakan koleganya dalam menjaga keseimbangan alam gunung.  Jaga tidak berjanggut, rambut sebahunya pun belum memutih. Wajah tampannya selalu tersenyum ramah. Ia sangat menyukai bunga, serta selalu membawa seruling di tangan kiri. Seperti Cipta, ia juga memakai pakaian serba putih, mahkotanya pun berbentuk stupa bertingkat, tetapi dihiasi bulu merak di sisi kanannya.  Angin sejuk menerpa janggut Cipta dan rambut Jaga. Keduanya tengah asyik berbicara seraya menatap danau dari kejauhan.  “Arjuna kini sedang dalam perjalanan dari Lawu. Sepertinya, ia telah menerima perintah ayahnya, untuk memboyong gadis yang terpilih itu,” ujar Cipta. “Memang sudah seharusnya. Jika ingin Negeri Sukma Hilang bertahan, Brawijaya sebagai raja tak memiliki jalan lain. Selain menitipkan benih padanya,” sambung Jaga. “Itulah kendala yang terjadi pada negeri itu. Juga tidak bisa sembarang manusia, mereka hanya dapat memiliki pewaris melalui titisan Dewi Amarawati saja.” “Ya, dan memang sudah waktunya bagi Arjuna sebagai pangeran. Sebab prosesi pernikahan dua dunia ini hanya dapat dilangsungkan ketika Purnama Biru terbit. Seperti saat Brawijaya meminang Widyadari 38 tahun yang lalu.” “Arjuna harus bergerak cepat, jika ingin memenangkan hati gadis itu sebelum pernikahan. Sebab purnama itu akan terjadi dua minggu lagi.” Cipta dan Jaga mengangguk-angguk.    ***   “6 Mei 2016, 06.20 WIB”   Akhirnya, sampailah rombongan Mapala UPKI di Stasiun Malang. Namun, perjalanan belumlah usai. Mereka masih harus melanjutkan dengan naik angkot menuju Pasar Tumpang. Setelah itu, menumpang truk yang khusus menuju Desa Ranu Pani. Perjalanan yang cukup lama itu diisi dengan bernyanyi bersama diiringi gitar salah satu pendaki.  Setelah dua jam terlonjak-lonjak dalam truk, sampailah mereka di sana. Satu-satunya cara menuju pintu gerbang Gunung Semeru, adalah dengan berjalan kaki menuju resort. Setelah mendaftarkan diri dan menyerahkan dokumen, mereka duduk mengaso di bawah rindangnya pohon, seraya mengagumi keindahan danau. Tak lama kemudian. Seorang pria gagah, berkulit cokelat gelap, berusia 30 tahunan menghampiri dengan langkah mantap. Pria tersebut bertanya dengan logat Jawa yang notok. “Rombongan dari UPKI Jakarta, ya?” Zaki pun segera berdiri dan menjabat tangan laki-laki tersebut. “Benar, Mas Tanto, ya?” “Iya, sampeyan, Mas Zaki? Kenalkan, saya yang akan menjadi guide pendakian kalian,” jelasnya. “Zaki aja, Mas. Kami memang sudah menunggu Mas Tanto,” sahutnya sambil merentangkan tangan kanan menunjukkan teman-temannya. Tanto tersenyum dan menyapa, “Salam kenal semuanya, sebelum naik kita ngobrol-ngobrol dulu, ya?” Zaki mengangguk lalu menatap timnya, seraya memperkenalkan Tanto. “Teman-teman, mas ini namanya Sutanto.” Zaki menatap Tanto, yang dipandang pun mengangguk membenarkan. Ia pun meneruskan perkenalannya, “Mohon kalian betul-betul memperhatikan setiap kata-katanya, ya. Monggo, Mas.” Tanto pun duduk bersila di antara Zaki dan Ragil. Lalu mulai berbicara, “Hai, semuanya. Saya Tanto.” Ia menatap satu per satu kawan-kawan barunya. “Sebagai guide, saya berhak memutuskan. Kita akan terus naik atau berhenti, sesuai dengan kondisi alam yang ada,” lanjutnya, “karena seperti yang kalian ketahui, Gunung Semeru adalah gunung berapi aktif. Jika kondisinya sedang tidak stabil, maka kita hanya dapat mendaki hingga Pos Kalimati saja.” Laki-laki itu berhenti dan menatap mereka semua. Anggukan tanda mengerti serentak dilakukan. Tanto pun kembali melanjutkan, “Demi keselamatan kita bersama. Saya mengimbau, agar kalian mengikuti semua peraturan, baik yang tertulis maupun tidak. Karena gunung ini cukup berbahaya.” Mereka berdelapan kembali mengangguk-angguk mendengar penuturan laki-laki tegap itu. Mimik Tanto yang serius, menandakan perkataannya bukanlah omong kosong. “Selain itu, demi keselamatan kita bersama. Saya meminta kalian dengan sangat untuk tetap berjalan dalam kelompok, tidak berpisah-pisah apalagi jalan sendirian.” Zaki dan yang lain saling menatap satu sama lain, dan lagi-lagi mengangguk patuh. Tanto pun melanjutkan bercerita tentang kejadian-kejadian tragis, yang disinyalir akibat para pendaki yang tidak menuruti rambu-rambu pendakian.   “Oleh sebab itu, demi keselamatan kita bersama. Semua pendaki diperingatkan seperti ini sebelum naik. Oya, saya juga berharap kalian mematuhi peraturan lainnya, seperti jangan memetik bunga, juga dilarang memindahkan apalagi mengambil tanda atau rambu, atau bahkan bebatuan kecil sekalipun.” Tanto berhenti berbicara sejenak guna mengambil napas. Ragil tiba-tiba bertanya, “Kalo bunga desa, boleh dipetik gak, Mas?” celetukannya, membuat suasana tegang sedikit mencair. “Kalo itu saya juga nyari, Mas.” jawab Tanto dengan cengiran. “Panggil aja Ragil, Mas. Kalo mau nyari, bareng ya. Kan, katanya gak boleh jalan sendiri.” Semua tertawa mendengar selorohan tersebut. Tanto tertawa terbahak, “Kamu ini bisa aja. Oya, jadi ingat. Ada lagi, nih. Kalian juga dilarang keras mandi, buang air besar, maupun kecil sembarangan. Apalagi, sampai membawa narkoba atau minuman keras, termasuk melakukan zina. Nah, semua ini adalah aturan umum di sini, bagaimana? Apakah ada pertanyaan?” Tanto kembali memandang mereka satu persatu.    Tidak ada yang menjawab, sehingga laki-laki itu pun melanjutkan. “Mengapa naik gunung aja seribet ini? Banyak aturannya? Mungkin itu yang sekarang ada di kepala kalian sekarang. Saya hanya memiliki satu jawaban. Sebab, selain manusia juga ada makhluk lain yang tinggal bersama di tempat ini. Jadi, kita sebagai sesama makhluk Tuhan, harus saling menghargai dan menghormati. Tidak boleh sombong baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.” Terdengar desahan dari beberapa sudut, meski tak ada satu pun yang menyanggah. Mereka tahu, mereka semua adalah tamu di gunung ini.  Sebagai tamu tentu saja kita wajib bertingkah laku sopan.   Setelah beberapa waktu, Tanto pun mengakhiri wejangannya, “Demikian informasi dari saya dan sebelum kita mulai, demi keselamatan bersama sebaiknya kita berdoa dulu.” Zaki, otomatis kembali memimpin untuk berdiri melingkar. Indri, merasa sedikit gentar. Akan tetapi, untuk berhenti di sini, itu tidak mungkin. Sehingga tidak ada hal lain yang bisa dilakukan, selain memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta perlindungan dari-Nya. “Doa mulai,” seru Zaki. Semua serentak menundukkan kepala, menguatkan hati, dan berserah. “Doa selesai.” Zaki kemudian meletakkan tangan kanannya di tengah-tengah. Anggota lain termasuk Tanto menuruti, satu per satu meletakkan tangan kanan di atas tangan ketuanya itu. Setelah semua meletakkan tangan, tangan kiri Zaki menutup tumpukan tangan, dan meneriakkan yel-yel. “MAPALA UPKI!” “Cinta Tuhan, Cinta Alam, dan Cinta Diri Sendiri!”   Setelah rehat sebentar, guna makan siang, dan salat. Ekspedisi pun dimulai. Dengan pundak menggendong carrier masing-masing, mereka berjalan mantap menuju ke arah ketinggian Mahameru. Gunung yang gagah, layaknya paku bumi yang menancap. Tegak, menopang bumi pertiwi. Sekarang tidak boleh ada penyesalan, pantang pulang, sebelum menatap salah satu bukti kebesaran Tuhan, yaitu keindahan Danau Ranu Kumbolo, dan Tanjakan Cinta-nya yang fenomenal. Indri pun menegakkan tubuh, bertekad. Zaki menepuk pundaknya. “Sudah siap, Dri?” tanyanya. “Siap, Kak,” jawab Indri bersemangat. Mereka saling melemparkan senyum, dan berjalan beriringan. Seandainya kemarin, Indri mengingat mimpinya dengan jelas. Pasti ia akan mengurungkan niat untuk melanjutkan ekpedisi ini. Sebab ketika menjabat tangannya, pangeran dalam mimpi berkata, “Pintu istanaku telah terbuka untukmu. Jangan datang bila ragu, karena yang datang adalah pilihan, dan yang terpilih tidak akan bisa kembali. Indri Arkadewi, aku memilihmu menjadi ratuku.”   = = = = = = = = = = = = = = = =
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN