[ 02 ] Berangkat Ke Mahameru

1609 Kata
“Menurut kitab kuno yang ditulis pada abad ke-15. Konon Pulau Jawa dulunya mengambang di lautan dan terombang-ambing. Karena keadaan tersebut, dewa memutuskan untuk memaku Pulau Jawa dengan Gunung Meru. Gunung tersebut dibawa dari India oleh Dewa Wishnu dan Brahma. Menariknya, Gunung Meru awalnya diletakkan di ujung barat. Namun, posisi tersebut menjadikan pulau ini timpang sebelah. Itu  sebabnya, Gunung Meru kemudian dipindahkan ke timur Pulau Jawa. Saat proses pemindahan, serpihan-serpihan gunung jatuh ke daratan hingga membentuk jajaran pegunungan sepanjang pulau. Saat Gunung Meru ditancapkan di bagian timur, Pulau Jawa masih juga belum stabil. Akhirnya, dibagi dualah gunung tersebut menjadi Gunung Penanggungan yang berlokasi di sisi barat, dan Gunung Semeru berada di sisi timur.” (1)   ***   Di Stasiun Senen, keberangkatan menuju Malang tertunda satu jam dari perkiraan, kereta baru bertolak dari stasiun pukul 16.15 WIB. Di sana, rombongan UPKI bertemu beberapa pendaki dari mapala universitas lain. Ternyata, Gunung Semeru cukup populer di kalangan mahasiswa. Apalagi sejak diluncurkannya film 5CM, yang berlatar belakang pemandangan gunung ini.  Kebetulan, beberapa dari mereka ada yang satu gerbong dengan Indri dan kawan-kawan. Sehingga selama dalam perjalanan mereka pun lanjut berkenalan. Indri menatap mereka satu per satu sambil melamun. Kami semua datang dari universitas dan latar belakang berbeda. Akan tetapi, disatukan oleh keinginan hati menjelajah tempat-tempat eksotis di Indonesia, yang tidak kalah indah dari tempat lain di luar negeri.   “Indri,” panggil Gilang, membuat lamunan gadis itu buyar seketika.  “Kenapa, Lang?” jawabnya sedikit kesal karena merasa terganggu. “Tukeran tempat duduk, dong. Pengen ngobrol sama Tika, nih.” Gilang menatapnya penuh permohonan. “Ogah!” tukas Indri sembari melengos, menatap ruang kosong. “Please, Dri. Entar gue kasih cokelat, deh. Tapi, bagi dua, ya?” rayu gilang. “Males! Kalo satu batang, baru mau.” Gilang tersenyum, umpannya termakan. Indri memang tidak pernah bisa menolak camilan satu itu. “Oke! Nih, cokelat Gold King untuk lo,” ujar Gilang masih tersenyum senang. Indri tak dapat mengelak lagi. Ia segera bangkit hendak memberikan kursi pada sahabatnya itu, tetapi kemudian teringat sesuatu. Lengannya tertahan di tengah udara. Seketika ia merasa menyesal, setelah ingat teman sebangku Gilang, adalah Zaki. Itu artinya, duduk di sampingnya, gak bakal bisa ketawa ngakak apalagi ngerumpi, pikir gadis itu. Gilang sepertinya menyadari keragu-raguan di mata Indri. Segera ia mengangsurkan cokelat ke genggaman gadis itu, seraya menarik tubuh mungilnya hingga berdiri. Kemudian, secepat kilat ia duduk sekenanya. Indri yang masih terkaget-kaget menatap pacar sahabatnya itu, sudah duduk miring tak nyaman di bangku yang tadi merupakan miliknya.  Indri pun pasrah dan mengalihkan pandangan ke sisi lain. Mendapati kelopak mata Zaki yang terpejam. Apakah dia tidur? tanyanya dalam hati, sebab sepasang earphone terpasang di telinga pria beralis tebal itu. Indri berjalan mendekat, berusaha duduk sepelan mungkin di sampingnya. Namun, rupanya kesialan gadis itu belum habis. Tiba-tiba, kereta berguncang keras, dan .... Bruk! Indri kehilangan keseimbangan. Maksud hati ingin duduk di kursi, akibat guncangan malah terdorong ke belakang, dan terduduk di pangkuan Zaki. “Akhh!” teriak keduanya. Mereka sama-sama terkejut dengan kejadian tidak terduga ini. Indri sampai terlonjak dan hampir jatuh tersungkur. Untung, Zaki dengan cepat berdiri dan menangkap pinggangnya. Guncangan pun berhenti. Mata hampir seluruh penghuni gerbong menatap mereka berdua yang tanpa sengaja justru jadi posisi tidak pantas, bagi anak di bawah umur. Indri segera berdiri tegak dan berbalik. Zaki melepas pelan pegangannya. Dengan mengabaikan rasa malu serta pandangan orang segerbong. Gadis itu buru-buru merunduk dan meminta maaf. “Maaf, Kak. Gak sengaja ...  tadi ...  ehm. Itu, Gilang, minta tukeran tempat duduk, terus ....” Ia tidak lagi berani meneruskan, netra dengan iris hitamnya menatap pasrah pada mata elang yang juga tengah memandang dirinya. Indri tertunduk malu, merasakan hawa panas menjalar di pipi.              “Ya, aku tau. Udah, sekarang duduklah,” pinta Zaki dengan nada pelan. Indri menengadah tak percaya, seniornya itu tidak marah. Laki-laki itu malah bergeser ke luar, lalu mempersilakannya untuk duduk di dekat jendela. Gadis itu pun duduk dengan resah, sambil berpura-pura menikmati pemandangan di luar jendela. Akan tetapi, sh*t! Ia lupa. Sekarang sudah lewat waktu magrib, bahkan warna oranye senja pada langit telah luruh berganti gelap. Laki-laki di sebelahnya menyadari kecanggungan di antara mereka, ia pun berusaha memecah keheningan yang terjadi. “Kamu, suka lagu-lagunya Muse?” tanya Zaki. “Eh, iya, Kak. Suka,” jawab Indri tanpa berani memandang wajahnya. “Mau denger bareng?” tanyanya lagi. Tanpa menunggu jawaban, ia memasukkan penyuara telinga miliknya ke telinga kiri gadis itu. Segera saja, musik khas Muse terdengar memenuhi kepala. Indri memperlihatkan senyum termanisnya kepada Zaki. “Thanks, Kak.” Lelaki itu balas tersenyum, meski sedikit kaku. Tak lama kemudian lirik Neutron Star Collision pun mereka senandungkan. ♫ ♪ I was searching You were on a mission Then our hearts combined like A neutron star collision   I have nothing left to lose You took your time to choose Then we told each other With no trace of fear that   Our love, would be forever And if we die, we die together And lie, I said never 'Cause our love would be forever   The world is broken Halos fail to glisten You try to make a difference But no one wants to listen ♫♪   Untungnya, rasa tak nyaman itu hanya sebentar. Setelah dua lagu berikutnya, suasana akhirnya mencair, dan obrolan pun mengalir begitu saja. “Ini pendakian pertama kamu, Dri?” tanya Zaki, seraya menatap wajah gadis berhidung mancung itu. Wajah mereka kini hanya berjarak satu jengkal saja. Indri jelas merasa malu dan memalingkan wajah, tidak berani terlalu lama menatap mata pria yang bertanya sambil memandangnya hangat itu.  “Ini yang ke-dua, Kak. Waktu SMA, aku pernah naik Gunung Betung, di Lampung.” “Oya?  Jadi, kamu dari SMA sudah ikut PA?” “Bukan, Kak. Aku dulu ikut PMR. Sekali-kali kami hiking atau naik gunung untuk latihan fisik.” “Oh. Begitu, ya.” Zaki mengangguk tanda mengerti. “Jadi, kamu berasal dari Lampung?” lanjutnya lagi. Ia senang mendapat kesempatan mengenal gadis itu lebih jauh. Indri pun mengangguk, mengiakan.    Semenit kemudian, pembicaraan semakin intens. Penyesalan dan rasa malu berlalu begitu saja. Zaki ternyata sangat menyenangkan untuk diajak ngobrol, apalagi pengalaman pendakiannya sudah cukup banyak. Mereka tidak berhenti mengobrol membahas banyak hal. Dimulai dari tempat-tempat wisata unik di Lampung, ekspedisi-ekpsedisi yang sudah pernah dilakukan, sampai masalah sepele yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan travelling. Semakin lama, obrolan semakin seru. Hingga malam merambat kian larut, dan rasa kantuk tak lagi dapat ditahan. Keduanya pun tertidur saling menyandarkan kepala. Tidak terasa, perjalanan telah 13 jam lamanya. Akhirnya, kereta memasuki Kabupaten Malang. Hari baru telah datang.  Sekali lagi kereta berguncang agak keras, membuat Indri terbangun. Ia mendapati dirinya yang semalaman tertidur berbantalkan pundak bidang seseorang.  “Pagi, Indri,” sapa Zaki. Astaga, sudah sejak kapan aku bersandar di bahunya? Kira-kira, tadi malam gue ngorok, gak ya? Atau, jangan-jangan malah ngiler? Gadis yang disapa, berpikir panik. Lalu, ia menggeleng kuat, seraya mengusap mata serta mulut. Berusaha menghilangkan jejak belek dan iler yang mungkin saja masih menggantung. “Kenapa Dri, kamu pusing? Atau masih ngantuk?” tanya Zaki penuh perhatian. Indri kembali menggeleng, lalu menatap ke luar jendela. Langit masih sedikit gelap. Semburat kebiruan di ufuk timur baru saja mengintip malu menyapa Bumi. “Masih lama perjalanan kita, kalo masih ngantuk tidur lagi aja. Nanti, kalo udah sampe aku bangunin.” “Eh, gak, kok, Kak. Udah gak ngantuk lagi,” elak Indri. “Ehm, kalo gitu, aku titip tas, ya. Mau ke toilet.” “Iya, Kak.” Zaki dengan segera memberikan tas kecilnya. Ia berjalan dengan sedikit terburu-buru menuju ke ujung gerbong. Sekilas, terlihat ia meregangkan bahu kanannya yang sempat kram akibat tak digerakkan semalaman. Indri menatapnya geli, dan bergumam pelan, “Sudah berapa lama dia menahannya?” Gadis itu tak pernah menyangka, sang ketua ternyata memiliki sisi romantis di balik sikap tegasnya selama ini. Ups! Apa yang aku pikirkan?  Gadis itu ikut meregangkan tubuh, berharap ototnya yang sedikit kaku karena duduk lama kembali rileks. Setelah itu, ia memejamkan matanya lagi, sebab masih ada sisa kantuk di sana. “Indri,”panggil seseorang. Suara itu? Suara yang dalam. Terdengar mirip seseorang yang pernah dikenalnya, tetapi entah di mana. Gadis itu berdiri, mengedarkan pandangan guna mencari sumbernya. Namun, penumpang lainnya masih tidur, lalu siapakah yang memanggilnya barusan? Indri mengalihkan pandangan ke ujung gerbong yang lain. Sebuah sosok diam di dekat pintu kini tengah memandangnya dengan mata kosong. Sungguh-sungguh kosong, tak berbola-mata. Gadis itu bergidik ngeri, lalu meringkuk di sudut.  “Kenapa, Dri? Dingin?” tanya Zaki heran melihat tingkah gadis mungil itu, ia bingung sekembalinya dari tolilet mendapati kondisi ini. Sedang yang ditanya hanya dapat menjawab dalam diam.  Di sana, ada yang melihat. Indri menunjuk dengan sudut matanya ke ujung gerbong, di mana sosok mengerikan yang masih berada di sana masih memperhatikannya. Sedang laki-laki di depannya abai takmengerti, ia malah sibuk mengatur AC agar menghadap ke tempat lain mengira gadis itu benar-benar kedinginan. Kemudian, ia memberikan jaketnya guna menutupi tubuh Indri yang menggigil. Setelah mereka saling bertukar pandang, barulah kemudian pria itu menyadari. Mata Indri yang memintanya menatap ke satu arah. Ia segera menghalangi pandangan gadis itu dengan telapak tangannya. “Indri, apa yang kamu lihat? Abaikan saja, kamu lihat aku saja,” pintanya lembut berusaha mengalihkan pandangan gadis itu. Indri berkedip lalu memandangnya lekat, kemudian ia memejamkan mata, dan mulai menggumamkan doa dari bibirnya yang bergetar. Setengah jam kemudian. Dari balik jendela kaca kereta, semburat mentari akhirnya muncul.  Memamerkan warna keemasannya yang mulai mewarnai langit.  Syukurlah, pagi akhirnya tiba.   = = = = = = = = = = = = = = = =  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN