[ 02 ] Mimpi yang Terabai

1668 Kata
“Hari Keberangkatan, 5 Mei 2016, 08.10 WIB”   Kamar itu masih gelap, padahal sinar mentari telah mengintip malu-malu melalui sela-sela jendela dan lubang angin. Di sisi tempat tidur, terdapat tas carrier berwarna merah yang masih belum terkancing sempurna. Sedang sang pemilik kamar, masih mendengkur pelan di atas kasur dengan seprai polos berembos bunga warna biru muda. Suara getar gawai yang terdengar terus-menerus, membuat Indri terbangun dari perjalanannya di alam mimpi. Dengan malas ia meraihnya. Mata dengan pelupuk setengah terpejam itu melirik ke arah layar. Melihat nama Tika—sahabatnya tertera di sana, gadis itu pun menggeser telunjuknya di atas layar. “Halo ...  ada apa, Tik?” sapa gadis manis itu parau.  “Woiii! Indri Arkadewi, busyet! Lo masih molor lagi. Inget! Jam sembilan kita kumpul di sekret,” lengking suara di seberang. “Lo kepagian morning call-nya, ini baru jam enam,” sahutnya masih setengah terpejam. “Melek dulu, tuh, mata! Sekarang udah jam delapan lewat,” suara di seberang terdengar gemas. Mata sayu gadis itu, langsung berpaling ke jam weker di atas meja. Ya ampun! Lupa disetel! serunya dalam hati. “Tik, kita ketemu di sekret, ya, bye!” Sambungan telepon segera dimatikan, sebelum Tika sempat menjawab.   Gadis mungil dengan tinggi 168 cm itu, segera bangun secepat kilat. Ketika ia menyampirkan handuk ke bahu, sekelebat sempat teringat mimpinya barusan. Mimpi yang terasa begitu nyata. Bertemu seorang pangeran dari negeri antah-berantah.  —Indri  tengah berdiri di tepi danau. Alam sekitarnya berwarna hijau keperakan. Paduan warna yang terasa mistis itu, akibat pantulan sinar rembulan pada air yang tenang. Gadis itu menyadari, ia tidak sendirian di sana. Ada seorang pria gagah nan rupawan, sedang memandang dari sisi lain danau. Memakai pakaian khas kerajaan bak seorang pangeran, seperti yang biasa ada dalam drama kolosal di televisi.  Laki-laki itu berjalan pelan di atas permukaan danau yang tiba-tiba membeku. Napas Indri tertahan, sebab terpana dengan kejadian yang tak biasa ini. Sang pangeran terus berjalan mendekat, tubuh yang tinggi menjulang ditambah bingkai wajah tampan tampak semakin jelas. Jarak keduanya hanya tinggal beberapa meter saja, Indri sudah dapat menilai. Satu kata yang dapat menggambarkan posturnya, SEMPURNA. Gadis bertubuh mungil itu menganga, ia tak mampu mengatupkan mulut apalagi berkata-kata. Subhanallah, alangkah tampannya makhluk ciptaan-Mu ini, kagum Indri dalam hati. Setelah jarak kian pendek atau hanya sekitar setengah meter saja, gadis itu mundur. Gentar terhadap kharisma sosok itu. Melihat gadis di depannya mundur, sang pangeran segera meraih jemari Indri. Gadis itu jadi tertahan di tempatnya berdiri. Senyum yang menggetarkan jiwa pun terukir di bibir laki-laki di hadapannya. “Aku, Arjuna Birawa,” katanya .... — Ahh! Sudahlah. Gelengan kuat membuat rambut panjang bergelombangnya berayun. Tidak ada waktu buat mengingat hal itu, ingat Indri. Ia pun segera bergegas pergi ke kamar mandi.    Di tempat lain, Tika masih menatap gemas gawai yang digenggamnya. “Yeee! Untung gue nelpon. Kalo gak, lo pasti kita tinggalin,” omelnya di pinggir jalan itu. Meski kesal, gadis itu sudah tahu. Sahabatnya itu memang harus terus diingatkan, karena susah bangun pagi. Seperti merasa telah menyelesaikan tugas, gadis tomboi itu melambaikan tangan pada angkot yang hampir saja melewatinya. Setelah duduk, angkot pun melaju menuju kampus.   ***   Pagi itu, sekretariat Mapala UPKI terlihat sangat sibuk. Hal ini dikarenakan ada delapan orang yang bakal melakukan ekspedisi. Zaki Raditya, sang ketua organisasi, terlihat paling sibuk. Memeriksa dokumen, mengecek perlengkapan, juga berkonsolidasi dengan Oni—wakilnya. Ditambah ia berulang kali menatap jam tangan juga pintu bergantian, seperti ada yang dinanti olehnya. Tika telah duduk dengan nyaman di pojok ruangan, ditemani sang pacar—Gilang. Sedang Ragil, Anto, dan Sinta bersenda gurau di tengah ruangan.   Tak lama kemudian, Zaki berbalik menghadap mereka, mengetuk meja meminta perhatian. “Guys, kita briefing sebentar.” Suasana langsung hening, semua fokus padanya. Zaki melanjutkan berbicara dengan tegas. “Oke, kalian semua sudah tahu. Tujuan ekspedisi kita adalah Gunung Semeru. Gunung ini merupakan gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa yang letaknya di Provinsi Jawa Timur, tepatnya berada di antara Kabupaten Malang dan Lumajang.” Zaki berhenti bicara, memandang ke arah jam tangannya lagi. Setelah menghela napas sebentar, ia membuka mulut untuk kembali bicara.  Gubrak! Tanpa sengaja, Indri membuka pintu terlalu keras. Mendapati pintu yang terbuka, otomatis semua mata memandang ke arahnya. Merasa malu, gadis itu buru-buru menunduk. “Maaf, Kak. Saya kesiangan,” ucapnya segera seraya melirik takut-takut kepada Zaki. Sekilas membayang senyum di bibir Zaki. Namun, sebelum ada yang menyadari hal ini, segera ia mengatur mimik seriusnya. “Duduk, Dri. Lain kali jangan terlambat lagi,” perintah Zaki. Gadis itu mengangguk lalu segera berjalan masuk, mengambil tempat duduk di sebelah Tika. Baru saja menempatkan bokongnya, gadis berambut bob di sisinya berbisik lirih di telinga. “Lo tadi mandi gak?” tanyanya dengan nada mengejek. Indri melotot padanya, sedang Tika tertawa tertahan.  “Ehm!” dehaman dari sang ketua, membuat keduanya langsung terdiam dan duduk tegak.   Ruang sekretariat dengan banyak jendela itu bercat kuning gading. Lemari di tengah ruangan merupakan pemisah antara ruang duduk dan kerja, dengan ruang istirahat juga dapur kecil. Ruangan itu diset sebagai ruang kerja sekaligus istirahat, sebab terkadang banyak kegiatan yang mengharuskan anggotanya mengerjakan hingga larut malam. Zaki yang telah selesai mengecek ulang beberapa dokumen yang disodorkan Oni, berdiri dan lanjut berkata dengan tegas, “Sekarang pukul sembilan lewat lima belas menit, kita akan berangkat dari kampus jam sebelas nanti. Kereta akan berangkat jam tiga sore, jadi kita sholat dan makan siang di dekat stasiun. Untuk tiket sudah dibeli Retno.” Laki-laki berkulit kuning kecokelatan itu, menatap Retno yang mengangguk. Setelah sejawatnya itu menjawab ia pun melanjutkan, “Setelah itu, kita naik angkot menuju Pasar Tumpang, dilanjutkan truk menuju Desa Ranu Pani. Desa ini merupakan titik awal pendakian kita. Oya, kalian gak lupa bawa fotokopi KTP, dan surat keterangan sehat dari dokter,‘kan?” tanyanya sambil mengamati wajah anggotanya satu per satu.             “Siap! Bawa, Kak!” sahut para junior, Indri, Tika, Gilang, Anto, dan Sinta. “Bawa, Ki,” jawab Retno dan Ragil. Zaki mengangguk. “Oke! Sip! Jadi, pesan saya sebelum kita memulai ekpedisi ini, hanya tiga—” “Jangan tinggalkan apa pun kecuali jejak kaki, jangan bawa apa pun kecuali foto, dan jangan menulis di mana pun kecuali di kertas yang kita bawa.” Semuanya menjawab serentak dan bersemangat. Zaki tersenyum melihat tingkah mereka. “Bagus, persis anak TK,” selorohnya sambil tersenyum. Lalu ia lanjut berkata, “Baiklah, itu artinya kalian sudah paham. Sekarang kita absen dulu. Saya akan bertindak sebagai Ketua Tim, Bendahara Retno, Logistik Ragil dibantu Gilang, sisanya Tika, Indri, Sinta, dan Anto adalah anggota, sedangkan guide kita di sana namanya Sutanto.” Semua mengangguk-angguk tanda mengerti. Zaki menatap mereka satu demi satu. Ketika pandangannya berserobok dengan Indri, ia segera berpaling lalu kembali berkata, “Sekarang kalian re-packing. Tinggalkan barang yang gak perlu, bungkus semua pakaian dengan kantong plastik, siapkan beberapa untuk tempat sampah. Terakhir, masukkan semua sesuai urutan kebutuhan, makanan harus diletakkan paling atas agar mudah diambil. Oya, alat logistik seperti panci, sleeping bag, dan lain-lain, gak boleh bergelantungan. Ingat! Kedua tangan kalian harus bebas selama perjalanan,” instruksinya lagi. Semua, kembali menjawab serentak, “Siap!” “Oke, aku kasih waktu satu jam, dimulai sekarang!” perintah pria berambut gondrong itu, ia memang dikenal selalu tepat waktu. Semua anggota pun langsung sibuk tanpa membuat keributan.    Suara yang terdengar selanjutnya, adalah ‘krasek-kresek’ kantong plastik yang terbuka, tertarik, dan robek. Bercampur suara tawa serta cengkerama kecil para anggota. “Nanti, kalo di sana jangan ngelamun, Ndri.” Tika berkata sambil menatap tajam gadis manis di hadapannya yang tengah mengeluarkan seluruh isi tas. “Emang kenapa, Tik?” jawab Indri tanpa menoleh. “Ntar, lo nyasar masuk blank 75, baru tau!” omel sahabatnya itu. “Mending kalo nyasar. Gue khawatir dia bawa ‘oleh-oleh’ aja, Tik.” Gilang ikut menanggapi. “Masa gak boleh beli oleh-oleh? Lagian, Blank 75 itu apa?” Indri menatap keduanya dengan wajah tak berdosa. Tika dan Gilang berpandangan, lalu sama-sama menepuk jidat. “Lo, kan, bisa liat makhluk halus! Setiap pulang dari jalan-jalan ke mana pun, selalu adaaa aja yang nempel. Harusnya oleh-oleh, tuh, makanan khas daerah yang dikunjungi, ini malah bawa pulang hantu. Astaga!” Tika kembali mengomel. “Oh, itu. Mereka memang seneng ada di sekitar gue. Katanya, gue wangi,” sahut Indri masih dengan wajah polos. “Nah! Ini, nih. Indri enteng banget ngomongnya, belum-belum gue udah merinding.” Gilang bergidik. “Itu karena ada yang duduk di sebelah lo, Lang,” cetus Indri tanpa ekspresi. “Indriiii!” Mereka berdua langsung menjitak kepalanya.   Setengah jam kemudian, delapan buah tas carrier sudah tersusun rapi. Zaki, memimpin anggotanya untuk berdiri melingkar. “Guys!”  “And Girls. Lo jangan ngebeda-bedain gender dong, Ki,” sela Retno. Laki-laki itu menarik napas sebentar, menatap kesal kepada gadis di sebelahnya. Selain dia, memang tidak ada yang berani menyelanya. Sebab gadis itu, selain teman seangkatan, juga sekretaris organisasi. “Ya, oke! And Girls. Sebelum berangkat kita doa dulu. Semoga selama perjalanan kita dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa, berdoa mulai,” pimpin Zaki.             Semua otomatis menundukkan kepala, bermunajat sepenuh hati. Berharap keselamatan dan kelancaran dalam perjalanan. Mereka sangat tahu, tujuan ekpedisi kali ini, adalah gunung yang penuh misteri dan berbahaya. Setelah hening beberapa saat, suara sang ketua kembali memecah kesunyian. “Oke, selesai. Sekarang kita—” “Ki, bentar. Gue mau pipis dulu.” Retno kembali menyela, diikuti beberapa anggota lainnya. “Saya juga, Kak. Tiba-tiba perut saya mules.” “Yah! Kak, saya .…” “Ya, ya! Selesaikan urusan kalian secepatnya, yang udah ready jalan duluan,” sahutnya.   Zaki berjalan menuruni tangga gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa, bersama Oni. “Ni, gue titip sekret ya?” “Iya, lo ati-ati. Yang sabar jagain anak-anak, terutama tuh ….” Oni mengarahkan pandangannya ke Indri. Laki-laki itu mengikuti arah mata wakilnya itu, lalu menepuk pundak Oni, seraya tersenyum penuh arti.   = = = = = = = = = = = = = = = =  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN