Sandra sangat prihatin memperhatikan Anya yang selalu bersikap seperti ini,membuat dirinya bosan,terus terang dia sangat merindukan anya yang dulu.
namun,sebagai sahabat yang baik,Sandra mencoba bicara dari hati ke hati pada sahabatnya itu,
dia menyarankan Anya untuk tidak kalut memikirkan segala kerisauan hatinya,sedikit saja mengingat kan Anya untuk tetap memperhatikan Gaza,agar kondisi rumah tangga mereka membaik,dimulai dari perhatian kecil misalnya.
meski sifat Sandra yang kurang waras ,dia cukup waras untuk menasihati Anya tersayangnya itu.
seperti saat ini,Anya sudah berdiri di dapurnya dengan menggunakan apron,siap untuk mengeksekusi semua bahan yang dibelinya supermarket,siapa lagi yang memiliki ide cemerlang ini,tentu saja Sandra ,agar mood Anya tidak seburuk biasanya.
sepulang kampus tadi siang, Sandra mengajaknya belanja,Anya bertanya tanya untuk apa repot repot belanja banyak bahan ,biasanya juga pesan makanan di aplikasi tanpa perlu repot memasak ,atau bisa makan diluar.
tentu saja Sandra menyuruh Anya untuk repot repot memasak demi makan siang Gaza,katanya sedikit perhatian seorang istri terhadap suaminya agar Gaza tidak lagi bersikap dingin,tidak salah bukan?
tidak buruk juga,pikirnya.
lebih dari satu jam,Anya berkutat di dapurnya,makanan yang dia masak kini siap di hidangkan,hasilnya sedikit memuaskan meski dia tidak tahu apakah Gaza menyukai nya atau tidak.
semoga,Gaza suka.
"astaga..Anya" Anya terlonjak kaget,mendengar suara Sandra yang tiba tiba berada di belakangnya.
"lo masak,apa main perang perangan?berantakan banget dapurnya"Sandra menunjuk bahan bahan yang berceceran,sambil geleng geleng kepala.
"ya,lo maklumin aja lah ya,namanya juga baru pertama kali,udah mending lo bantuin beresin ,jangan protes aja!" mendengar perintah Anya,Sandra berdecak sebal,sambil mengambil sapu.
"iya,ini gue bantu beresin,lo buruan mandi sana!biar wangi ketemu sama suami"Sandra mendorong tubuh Anya menjauh dari dapur.
tiga puluh menit kemudian
"wah..ini lo ?cantik banget ,Anya!" puji Sandra sambil memutari tubuh Anya,mengagumi penampilan Anya hari ini,ya ...dia memakai dress,bukan celana sobek seperti biasa,penampilan kali ini luar biasa.
"gue yakin,om Gaza bakal terpesona"Sandra mengerling genit.
"hahah...kayak kuyang aja lo,bisa ngeramal" canda Anya.
"eh..ralat tu,cenayang keles bukan kuyang"dengus Sandra,matanya membola.
"haha..iya nggak usah ngambek gitu dong,nanti babang Marvel enek liatnya"sahut Anya tertawa renyah.
"Anya...."kali ini Sandra yang digoda Anya mencubit pelan lengan gadis itu.
Anya pun terkekeh "lo mau ikut nggak?"tawar Anya.
"nggak usah ,gue disini aja,gue tunggu kabar baiknya ya! udah buruan berangkat udah jam satu , waktunya jam makan siang,nih!"
"ck,ini rumah gue ,tapi berasa gue yang diusir"
"hehe..nggak gitu,maksudnya tu biar cepet ketemu sama suami gitu!"jawabnya sambil mengusap tengkuknya
"ya udah..gue berangkat ya,eh yaampun San...gue nervous banget"
"aissshh...kenapa pakai gugup segala sih,kayak mau kontes aja,lo!"
***
"Saya tahu pak,anda masih mencintai mendiang Reva,karna dia sungguh berarti untuk anda"ucap Livia saat mereka berada diruang yang sama.
"...."
"anda masih susah move-on,makanya itu anda menikahi Anya,saya yakin sekali pernikahan ini hanya sebuah pelampiasan saja,bukan begitu?"
"tidak usah sok tahu!"jawab nya datar
"saya tahu pak,kalau anda lupa,saya ingatkan kembali,bahwa saya adalah sepupu Reva,jadi saya tahu semua tentang anda karna Reva selalu menceritakannya"
"ya..kamu sepupu sekaligus musuh dalam selimut,berusaha merebut laki laki yang Reva cintai"
Livia gusar ,baru saja mendengar jawaban Gaza yang sedikit menyentil hatinya.
"kenapa tidak boleh saya lakukan,pak?kalau saya juga mencintai lelaki itu,maka saya akan berjuang mendapatkannya,sekalipun pria itu sudah menikah,saya akan menunggu status dudanya,menunggu laki laki itu mencerai kan istrinya"
"saya tidak akan menceraikan Anya"
"jangan menyiksa diri anda,jika hanya dibebani tugas menjaga Anya ,tidak perlu sampai menikahinya,cukup menjaganya dengan baik,seperti menjaga Sandra"
"kamu tidak tahu apapun,jadi lebih baik tidak ikut campur terlalu jauh!"
"saya tahu semuanya,tentang pernikahan anda yang sekedar pura pura karna pada faktanya anda tidak mencintai Anya,begitu bukan pak Gaza ?"belum sempat Gaza menjawab ucapan Livia,tiba tiba suara teriakan seseorang menggema dari ambang pintu.
"CUKUP!"teriak Anya.
Gaza dan Livia sontak menoleh ke sumber suara, disitu Anya berdiri ,serta telah mendengar semua.
kenyataan yang baru saja di terimanya berhasil memporak porandakan perasaannya.
tidak
Anya tidak sedikitpun mengeluarkan air matanya,dia berbalik dan pergi dari sana,langkahnya gontai dengan wajah yang pucat pasi,dia berjalan menyusuri lorong menahan amarah yang meluap.
Livia menyeringai lebar karna akhirnya Anya mengetahui kenyataan itu ,dan sebentar lagi Anya menggugat cerai Gaza,lalu Gaza akan dimiliki nya dan tidak akan pernah dia lepaskan seperti dia merelakan Gaza pada Reva dulu.
"mau kemana pak?sebentar lagi meeting dimulai"Livia menahan tangan Gaza.
"batalkan!persetan dengan meeting,Anya lebih penting saat ini!"
"kalau bapak membatalkannya,berarti harus siap menerima konsekuensi buruk,yang tentunya merugikan perusahaan bapak"
Gaza membeku ditempatnya.
.
.
.
Suara deru mobil terdengar ,Sandra menutup majalah yang di bacanya,kemudian mengintip dari jendela melihat siapa yang datang,
"Anya?kok cepet banget"tanya Sandra ,saat Anya memasuki rumahnya.
namun pertanyaan itu di abaikan,dia bungkam berlalu menuju kamarnya.
Sandra merasa sesuatu terjadi, Sandra mengejar Anya dan membuka pintu kamar mendorongnya pelan.
"An"Sandra duduk dihadapan Anya yeng duduk meringkuk ditepian ranjang,tubuhnya bergetar hebat ,Sandra yakin terjadi sesuatu pada Anya dan Gaza.
"An,please look at me!"Sandra memegang kedua pipi Anya yang banjir oleh air mata,air mata kesedihan ,sakit dan kecewa berpadu jadi satu.
"om Gaza ,tidak pernah mencintai gue,Sandra..aggggrhhh....sial,hidup gue sialan"Anya memukul kepalanya.
"husstss..."Sandra menarik kepala Anya kedalam pelukannya,berusaha agar Anya berhenti menyakiti dirinya sendiri,Sandra merasakan betapa hancurnya hati gadis itu sekarang,
'maaf An,sebenernya gue udah tau semuanya' batin Sandra
"om tau kan?Anya berarti banget buat aku?jadi jawab dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi antara kalian" nada itu persis sebuah intimidasi kepada pelaku kejahatan.
"sebenarnya,om tidak mencintai Anya,kami menikah semua atas kesepakan Om dengan pak Roni"
"...."
"pak Roni,dia sedang berada di Swiss ,karna hanya om yang dia dipercaya,maka om diminta untuk mengelola perusahaan sekaligus menjaga Anya,dengan menikahinya!"
"tolong kamu jaga rahasia ini!"pinta Gaza dengan harap.
"astaga....om! kenapa melakukan ini?"Sandra memegang kepalanya,dia tidak ingin kedua orang yang berarti dalam hidupnya,menderita setelah ini.
"om juga bingung ,kenapa bisa menerima tawaran ini"jawabnya frustasi
"om tau kan?aku sangat kenal Anya,dia mencintai om sangat besar,jika suatu hari dia tahu om menyakitinya, dia akan membenci om lebih besar,om nggak takut?"
dan yang ditakutkan Sandra menjadi kenyataan,sebentar lagi,Anya akan membenci Gaza lebih dari rasa cintanya.
****
"Anya...Anya..kamu dimana?" malam ini,Gaza baru kembali dari kantor langsung mencari keberadaan Anya diseluruh penjuru ruangan,Gaza sangat panik,takut sesuatu buruk menimpa gadis itu,takut bila dia berbuat sesuatu.
Gaza mengerang frustasi saat membuka satu persatu pintu di seluruh ruangan,namun tak menemukan sosok gadis itu.
"Anya?"akhirnya dia menemukan Anya yang berdiri menatap hujan turun dengan deras di taman belakang yang terbuka .
Anya berada dibawah guyuran air hujan, yang membasahi tubuhnya, membawa serta segala duka yang menyelimuti hatinya hari ini,berharap luka dalam hati nya segera terobati dan tertutup kembali.
kedua tangannya terulur kesamping,merasakan tetesan hujan jatuh ke telapak tangan yang mulai berkerut kedinginan.
"Anya,berhenti!" Gaza menarik lengan Anya untuk tidak hujan hujanan lagi.
"Lepas!"Anya menepis kasar,tubuhnya gemetar akibat air hujan mengguyur tubuhnya sejak tadi ,membuat nya terasa dingin,bibir dan kulitnya pun memucat.
"tolong ..jangan begini!nanti kamu sakit"Gaza berusaha meraih tangan dingin itu,namun lagi lagi ditepis.
"Sakit? peduli apa kamu?kamu lupa,sumber sakit ini adalah kamu sendiri!" Anya dengan nada tegas dan marah menekan telunjuk nya ke d**a bidang Gaza,
dada yang Anya harapkan untuk tempat sandaran nya,kini dia membencinya.
"aku minta maaf,aku tidak bermaksud_"
"apa?tidak bermaksud menyakitiku?begitu?"
hahahaha...Anya tertawa memecah kesunyian malam.
"bahkan kamu sendiri yang punya maksud untuk memperdalam luka ini dengan cara menikahi ku.
Kamu tahu bukan?,aku mencintai kamu selama sepuluh tahun,disaat aku mengalami titik lelah,aku ingin berhenti. tapi apa?kamu menarik ku kembali dalam ikatan pernikahan konyol ini" kemarahan nya kian memuncak
"...."
"apa salahku?hah?sampai hati kamu mempermainkan aku"dadanya benar benar sesak,hingga tak kuasa menahan tangisnya hingga meledakkan air mata yang dia tahan.
Gaza mencoba memeluk untuk menenangkan nya,namun Anya menolaknya,padahal dulu Anya sering mencuri pelukan itu dari Gaza.
"jangan sentuh!"
"Anya"ucap Gaza dengan nada memohon.
"ku peringatkan ,JANGAN SENTUH AKU!"
Anya pergi menjauh dari Gaza,sebelum benar benar pergi dia mengatakan sesuatu pada Gaza
"segera ceraikan aku,maka urusan kita selesai"
blamm...
Anya menutup pintu kamarnya dengan kasar,hingga menimbulkan bunyi nyaring.
Gaza hanya mampu memandang kepergian Anya tanpa mampu mencegahnya lagi,rasa bersalah mulai menjalar ke relung hatinya.