07.PENDERITAAN ANYA

770 Kata
Seperti biasa ,Gaza memberi tahu mertuanya kegiatan Anya hari ini,dari mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur,mertuanya pun berkali kali mengucapkan terima kasih pada Gaza karna menjaga tanggung jawabnya yang besar terhadap Anya,mereka berharap Gaza lebih bersabar apabila menghadapi tingkah kekanakan putrinya itu. mereka juga yakin,hanya Gaza yang dapat mengendalikan Anya,mengingat Anya sangat mencintai Gaza,karna keajaiban cinta mampu meluluhkan keras kepalanya gadis itu,namun satu yang mereka tidak sadari bahwa putrinya sangat menderita selama menikah, Gaza kembali menyibukkan diri dengan urusan kantor nya, atensinya bergeser pada tumpukan dokumen disebelah monitornya,dia membuang pikiran kalutnya dengan berjibaku pada pekerjaannya. "pak"Livia tiba tiba masuk kedalam ruangan, tanpa mengetuk pintu membuat Gaza spontan mendongak,namun pria itu tampak acuh lalu kembali pada dokumen digenggamannya, kehadiran Livia seolah tak menarik perhatiannya. "bapak tidak makan siang?kalau ingin,boleh saya temani?" "tidak,kamu bisa makan siang duluan!saya belum lapar"tolak Gaza,dia tidak mungkin menerima tawaran Livia,karna dirinya ingin membatasi diri karna terikat pernikahan,entah mengapa dia harus melakukannya?padahal dia masih tetap sama hanya statusnya yang berubah "tapi bapak belum makan,bagaimana kalau kondisi bapak menurun lalu_" "Livia,tolong jaga batasan kamu,saya sudah punya istri,kamu tahu itu kan?" "aku lelah ,Gaza"kali ini Livia tidak lagi menggunakan bahasa formal. "apa maksud kamu?tolong Livia tinggalkan saya sendiri" "enggak,aku nggak akan pergi,aku lelah bersikap seperti sok profesional sama kamu,bisa nggak kamu melihat aku sedikit saja?" Livia mencoba meraih tangan kekar Gaza,namun ditepis. "tidak bisa,saya sudah punya istri" "baiklah kali ini saya mengalah,jika bapak masih mengabaikan saya kesekian kalinya,namun saya pastikan bapak tidak akan menolak saya kedepannya,have a nice day,bapak Gaza"Livia berbalik meninggalkan ruangan Gaza,menutup pintu perlahan. kepala Gaza berdenyut hebat,seperti dihantam beton,dia terlalu banyak memikul beban. Gaza memejamkan mata sejenak sambil bersandar pada kursi kebesarannya,berharap nyeri kepalanya hilang,namun apa?justru sekilas ciuman nya dengan Anya saat di pelabuhan waktu itu terbesit begitu saja. "astaga...." **** "om?" Gaza tersentak mendengar Sandra memanggilnya. "ngapain om disini?bukannya harus istirahat di rumah Anya,kenapa kelayapan kesini?"tanya Sandra seolah olah tidak mengetahui apapun,padahal Sandra tahu Gaza tiap malam selalu tidur disini. "oh...itu," "kalian ada masalah?" "nggak.,kami baik baik saja,San!" "sungguh?"tanya Sandra. "ya..sungguh!" "ck..ck..ck pembohong,om bisa bilang baik baik saja sementara Anya tidak demikian!" Gaza bergeming,posisinya masih sama seperti sebelumnya,memegang knop pintu yang siap didorong. "om tau kan?Anya berarti banget buat aku?jadi jawab dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi antara kalian" nada itu persis sebuah intimidasi kepada pelaku kejahatan. . . . pagi yang cerah,namun tak secerah hati Anya,seperti biasa di hidup dalam kesepian padahal dia memiliki suami,hatinya mencelos mengingat semua yang dia alami,semakin hari hubungan rumah tangga nya semakin tidak sehat,dia selalu bertanya tanya tentang apa yang terjadi dalam rumah tangganya,namun penjelasan Gaza selalu mampu meluluhkan hatinya. Anya menghela nafas panjang,sebulan menikah namun statusnya masih perawan,dia tersenyum getir. apa gunanya menikah,kalau ternyata menyakitkan seperti ini,lebih baik tidak menikah agar bisa bebas. tiba tiba lamunan buyar ketika didepan matanya datang seseorang yang dia rindukan "ayah?"Anya mengerjapkan mata nya berkali kali,apakah ini sebuah mimpi atau bukan,pasalnya Roni tiba tiba berada di ambang pintu kamarnya. ternyata ini kenyataan,ayahnya datang mengunjunginya seperti janji sebelum berangkat ke Swiss. Anya melompat dari ranjang kemudian berhambur kepelukan Roni "aku rindu ayah,mama mana?"setelah menguraikan pelukannya, "ada didapur,menyiapkan makanan,ayo!"Anya pun mengikuti langkah ayahnya keluar kamar. disana ,ibunya sudah menyiapkan berbagai menu sarapan, "sudah bangun sayang?"tanya Emi, Anya hanya mengangguk atensinya melirik kearah Gaza yang sedang menyesap kopinya di meja makan, "omong omong kalian sejak kapan datang?"tanya Anya sambil menarik kursi disamping Gaza. "pagi tadi jam tiga" "naik apa kesini?" "dijemput menantuku!" jawab Emi menimpali ,sambil menyiapkan piring untuk Roni,sementara Anya tampak acuh ,seolah tida menganggap keberadaan Gaza. "bagaimana kabarmu?"sambung Emi "baik,mama sama ayah gimana?" "kami baik semua"jawabnya sambil tersenyum "tapi ,ada yang tidak baik"ujar Anya dengan nada lesu,tiga orang disana mengernyit bersamaan "apa yang kurang baik?" tanya Emi penasaran "rumah tanggaku ,ma.Suamiku hanya sibuk dan berkencan dengan pekerjaannya sementara aku, di abaikan"cibirnya orang tua nya saling memandang satu sama lain,kemudian memandang Gaza bersamaan,mereka bertiga merasa bersalah ketika melihat Anya bersedih. . . . Setelah sarapan,Anya datang kekampus dengan langkah kurang bersemangat,dia merasa sejak menikah kebahagiaan nya direnggut paksa. Sandra menatap Anya dari jarak jauh,Anya sangat bersedih,pasti gadis itu sangat menderita dengan perasaannya,namun Sandra bisa apa? "Anya!"Sandra duduk di bangku dekat Anya. "hmm" "An,lo kenapa sih,kesel gue liat lo begini,letoy amat kayak terong ,gue mau Lo yang dulu!"pinta Sandra ,membuat Anya menautkan alis. "nggak bisalah,dulu gue singgel sekarang gue dah nikah,ngaco aja lo" "bukan,maksud gue,elo yang ceria dan galak,yang cetar membahana gitu"Sandra menarik kedua alisnya naik turun. "ck...gue nggak mood bercanda" kepalanya terjatuh bersandar meja. "menderita banget ya lo?" "banget ,San"Anya memejamkan matanya ,kepalanya tidak mampu ditegak kan lagi, sepertinya Anya kelelahan setelah begadang,pasti dia berpikir kemana Gaza pergi setiap malamnya,karna dia selalu merasa kesepian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN