Jonathan benar-benar tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar. Adik kecilnya yang dulu ia gendong, ia timang-timang dan ajak bermain, malah menyatakan perasaan yang tidak di duga olehnya. Ini diluar dugaan seorang jonathan. bagaimana bisa ia mendengar hal seperti itu dari jesi. jonathan yakin bahwa masa puber jesi sedang di mulai.
Jonathan mengusap rambut jesi dengan lembut dan tersenyum hangat. "Kau bicara apa sih? Sepertinya kau sudah mengantuk sampai kau bicara yang tidak-tidak." Ucap jonathan lembut.
Mata jesi kembali berkaca-kaca mendapat respon seperti itu dari jonathan. Ia merasa jonathan menolaknya secara tidak langsung dengan mengelak dari realita yang sedang terjadi. padahalkan, itu dari dalam hati jesi.
Jesi mendorong tubuh jonathan kemudian mengusap air matanya. Wajahnya ia tolehkan kearah lain. Dan ia menahan pilu yang sedang ia rasakan. "Aku sedang serius, tapi kau malah mengelak." gumam jesi menatap nanar ke suatu titik abstrak. "Jika memang kau tidak bisa memahami perasaanku, maafkan aku brother," jesi menatap jonathan dengan mata sendunya yang berkaca-kaca. "Aku lebih memilih tidak menjadi orang yang kau kenal sama sekali!"
Deg!
Hati jonathan sangat sakit mendengarnya. Adik yang selama ini ia jaga dan kasihi berkata seperti itu, ini benar-benar menyakitkan. "Kau dengar?! Kau bukan kakak ku lagi!" seru jesi kemudian berlari meninggalkan jonathan.
Jonathan dengan segera menetralisir isi otaknya dan langsung mengejar jesi. "Jesi! Ini sudah malam! Jangan pergi sendirian!" tegas jo menarik lengan jesi. Namun jesi langsung membrontak. "Lepaskan aku! Aku tidak mengenalmu! Kau bukan kakakku!" teriak jesi tegas.
Saat tangannya terlepas dari jangkauan jo, jesi langsung berlari menyusuri koridor hotel itu dan masuk ke area tangga darurat. Kedua temannya tersentak kaget melihat jesi yang langsung berlari turun kebawah sana.
"Jesi!" panggil mereka sambil berlari mengejar jesi yang turun dengan tergesa-gesa.
Trik 3 : menyatakan perasaan : gagal!
***
Pagi yang cerah saat mentari mulai menyapa. Jonathan yang menyantap sarapannya tanpa minat berulang kali mendesah. Pikirannya berulang kali memikirkan kejadian tadi malam. Dan ia tidak bisa tidur semalaman. Ucapan jesi terngiang di benaknya dan selalu menghantuinya. Apapun yang ia pikirkan, ujung-ujungnya pikirannya akan mengarah kepada adiknya itu.
"Ada apa, tuan? Anda seperti banyak masalah. Suara nafas anda bahkan bisa terdengar sampai ke dapur." ucap widora, wanita paruhbaya yang menjadi pelayan di kediaman jonathan.
Jonathan mengunyah makanannya perlahan. "Adik kecilku tampaknya sedang marah besar." ucap jo kemudian kembali mendesah. ia benar-benar resah memikirkan kejadian tadi malam. ia masih meyakini bahwa jesi hanya salah presepsi terhadap perasaannya sendiri. jesi belum bisa berpikir dewasa dan masih labil.
Widora malah tertawa mendengarnya membuat jonathan menautkan alisnya. "Bukankah itu urusan yang mudah? Tinggal bawa saja cokelat, donat atau apapun yang adikmu itu suka. Dia pasti langsung tertawa sumringah dan lupa kalau dia sedang marah." ucap widora enteng. Karna biasanya, seperti itulah jonathan menyogok jesi. memberikan apa yang menjadi kesukaan wanita itu, membuatnya tertawa bahagia dan melupakan kejadian yang lalu.
Jonathan menarik nafasnya. Benar juga pikirnya. "Kau benar juga." ucapnya sembari terkekeh pelan. Akhirnya ia bisa tertawa pagi ini.
***
Jonathan telah memesan sekotak donat berbagai rasa yang sangat disukai jesi. Dengan mantap, ia yakin bahwa adik kecilnya itu akan memaafkannya kali ini. Ia masih teringat betapa marahnya jesi kemarin malam. Dan kata-kata pedas dari bibir mungilnya itu sungguh membuat hati jonathan sakit.
Masalah pernyataan perasaan jesi, jonathan merasa mungkin adiknya itu keliru. Dan ia akan membicarakan ini baik-baik dengannya. Memberi pengertian dan mengajarinya agar jesi paham. Ya, seperti itu. Lagi pula, mungkin saja jesi salah mengartikan perasaanya. Karna perasaan nyaman berujung pada cinta merupakan hal yang wajar. Dan banyak orang yang salah pengertian akan hal ini
Jonathan membawa sogokannya yang berupa donat dan berjalan dengan mantap kerumah jesi. "Jesi.. my lill sist." panggil jonathan mengedarkan pandangannya kesekitar. Seorang pelayan tampak turun dari lantai dua. Ia berhenti sejenak dan menunjuk keatas dengan tatapan ngeri.
jonathan pun menghampirinya. "Ada apa?" tanya jonathan mengernyit bingung.
"Tampaknya nona jesi sedang datang tamu bulanan. Dia mengomel seharian dan mengurung diri di kamar." ucap pelayan wanita itu kemudian berlalu.
Jonathan menghelakan nafasnya. Pasti mood jesi sedang buruk saat ini maka hal itu terjadi. Kemudian jonathan menyusuri tangga menuju ke kamar jesi. "Jesi," panggilnya santai. "Baby, apa kau di dalam? Aku membawa sesuatu untukmu! Bukalah." ucap jonathan dari balik pintu, sambil menggedor kamar jesi. Ia ingin membuka daun pintu itu, namun jesi menguncinya dari dalam.
"Pergi! Aku tidak mau berbicara denganmu!" teriak jesi dari dalam sana membuat jonathan menarik nafas pasrah.
jonathan tersenyum kecil. ia melirik sejenak sogokan yang ada di tangannya. "Kau yakin? Aku membawa donat kesukaanmu. Ada rasa blueberry, cokelat, tiramisu-",
Cklek!
Jonathan tersenyum lega karna pintu itu terbuka. Namun perasaannya langsung berubah sakit saat melihat wajah jesi. Matanya bengkak dan wajahnya sembab. Rambutnya pun bergurai berantakan. Jonathan benar-benar tidak tega melihat jesi yang seperti itu. Sungguh, ia merasa sangat bersalah karna hal itu terjadi karena dirinya.
jesi menatap jonathan dengan tatapan yang begitu menusuk. membuat jonathan bisa merasakan bagaimana sakitnya melalui mata jesi. "Aku sudah bilang, aku tidak mau bertemu denganmu!" ucap jesi nanar.
Jonathan tersenyum kecut. Namun ia tetap menebalkan kesabarannya. Ia sadar bahwa yang sedang ia hadapi saat ini adalah gadis muda labil yang sedang merajuk. jadi dia harus ekstra sabar dan mendekatinya dengan baik-baik. "Baiklah, tapi aku membawa makanan kesukaanmu ini. Kau pasti suka." ucap jonathan menatap jesi penuh kasih sayang. Ia mengangkat kotak donatnya dengan semangat. Biasanya jesi akan merengek untuk di belikan donat ini. Ia yakin bahwa jesi akan senang dan mau berbaikan.
Jesi menatapnya tajam. "Apa kau tuli?"
Deg!
Jantung jonathan kembali berdentum keras dengan perkataan jesi. "Aku sudah bilang tidak ingin bertemu denganmu! Aku bukan adikmu! Aku membencimu! Membencimu! Membencimu!" teriak jesi berulang kali memukul d**a jonathan. Ia bahkan menepis kotak donat yang di bawa jonathan hingga makanan itu jatuh kelantai.
Blam!
Pintu kamar jesi ia tutup dengan keras. Jesi menangis segugukan dilantai. Hatinya sangat sakit. Kenapa jonathan tidak menghargai perasaannya. Harusnya jika memang ia di tolak, jonathan bisa mengatakannya langsung. Ia tidak suka saat jonathan berlaku seakan tidak terjadi apa-apa disini. Ia tidak suka jika jonathan terus menganggapnya anak kecil dan tidak melihat perasaannya. Ia tidak suka jika jonathan terus melihatnya sebagai seorang adik. Dia tidak mau! Tidak mau!
Sementara itu, jonathan menatap nanar pintu kamar jesi dengan mulut ternganga. Ia terkejut bukan main akan reaksi yang jesi berikan. Ia tidak pernah menyangka, hubungan kakak adik yang baik yang selama ini ia jalani bersama jesi kini rusak.