Jesi mengusap air matanya berulang kali. Walau begitu, pipinya tetap basah karna aliran air matanya masih terus bertumpah ruah. Ia yang munfik itu begitu terguncang. selama ini, tidak ada yang mengganggunya seperti itu. jesi benar-benar takut, apa lagi, mengingat wajah jelek dan menyeramkan pria tadi. ini benar-benar seperti mimpi buruk bagi anak kecil penakut seperti jesi.
Mereka bertiga kini sudah ada didalam mobil dan sedang mengikuti mobil jonathan. untung saja, kedua teman jesi kembali tepat waktu. menyelamatkan anak kecil manja bernama jesi itu, dari kontaminasi p****************g yang mengerikan. mereka langsung menarik jesi menjauh, dan pergi dari tempat mengerikan itu.
arin melirik sekilas jesi melalui pantulan kaca spion mobilnya. "Sudahlah jesi, jangan menangis. Kau kan sudah aman!" ucap arin yang sedang fokus menyetir.
lisa pun ikut menoleh ke arah jesi. "Iya, harusnya kau hajar saja tadi pria itu! Atau lari kepada brother jo saja!" ucap lisa menyapu punggung jesi. Mencoba menenangkan temannya yang sangat manja itu. di antara mereka bertiga, jesilah yang paling manja dan tidak dewasa sama sekali.
Jesi mengusap air matanya kembali. jika anak kecil itu sudah menjatuhkan air matanya, memang akan sangat sulit sekali untuk mendiamkannya, "Dia menyentuh-nyentuhku! Aku tidak suka!" serunya dan ia semakin menangis mengingat kejadian itu. Untung saja kedua temannya tadi cepat datang dan segera melindungi jesi dari pria jelek itu. Dan mereka langsung mengikuti jonathan yang sudah beranjak.
mungkin, malam ini jesi akan mimpi buruk. atau mungkin tidak bisa tidur karena terbawa-bawa kejadian barusan. benar-benar pengalaman yang tidak mengenakkan bagi jesi. dan jesi bertekad bahwa ia tidak akan mau lagi masuk ke tempat hina itu. tidak akan pernah.
Trik 2 : mengikuti brother jo : gagal!
Mereka bertiga kembali tercengang saat mendapati jonathan malah masuk kesebuah hotel dengan wanita yang ia bawa. Mereka bertiga bergegas turun dan menghampiri receptionist.
"Selamat malam, saya ingin mengantar berkas kepada salah satu klien saya yang menginap di sini. Ponsel saya ketinggalan dan saya tidak bisa menghubungi beliau. Bisakah saya tahu dimana kamarnya?" Tanya arin berhadapan dengan receptionist. Sedangkan lisa tampak menenangkan jesi yang tetap menangis.
"Boleh saya tahu atas nama siapa?" Tanya wanita itu.
Arin tersenyum ramah. "Ah, atas nama taun jonathan marten bale." ucapnya.
Receptionist itu pun mencari nama yang di katakan arin. "Atas nama tuan jonathan marten bale, kamar 1012 nona." ucap wanita itu ramah. Arin langsung berterimakasih dan beranjak pergi.
Mereka menyuruh jesi menyelesaikan tugasnya sendiri. "kau harus menemui brother jo seorang diri, jesi. kami akan menunggu diluar." Sementara mereka berdua akan menunggu di tangga darurat dan duduk disana.
***
Jonathan yang dengan penuh nafsu menyecap bibir jalang yang ada dibawah kungkungannya pun seketika tersentak. Ia melepaskan pagutannya dan menajamkan pendengarannya. rasanya ia tidak salah dengar.
"brother joo!" Teriak jesi dari luar sana. Ia menggedor pintu itu dan menekan-nekan bel nya sambil berteriak histeris. Ia benar-benar sudah tidak tahan dan ingin menumpahkan segala ketakutannya pada jonathan. mencari tamengnya dan perlindungan di pelukan pria itu.
"Apa kau mendengar sesuatu?" Tanya jonathan yang beranjak dari sana dan mengelap bibirnya. ia benar-benar yakin bahwa kali ini ia tidak salah dengar. itu suara jesi. meneriaki namanya.
Wanita yang ia bawa itu pun ikut terduduk sambil mengusap bibirnya. "Sepertinya ada orang di luar." ucapnya menatap kearah pintu dan merapikan penampilannya yang sempat terlihat kurang baik.
Jonathan pun turun dari ranjang dan membuka pintu itu. Ia tersentak kaget bukan main melihat siapa yang ada di depannya.
"brother jooo!" teriak jesi histeris dan berlari kepelukan jonathan.
Jonathan tercengang seketika. Ia bisa mendengar suara tangis jesi dan tubuh wanita itu pun bergetar hebat. sejuta pertanyaan langsung mengitari pikiran jonathan. mengapa jesi ada disini? apa yang ia lakukan? ada apa dengannya? tetapi semua pertanyaan itu ia simpan terlebih dahulu. karena menenangkan adik kecilnya yang sedang menangis histeris adalah yang terpenting saat ini.
jonathan pun mengangkat kedua tangannya. memeluk adik kesayangannya dan mengusap punggung dan kepala wanita muda itu. sambil berucap bahwa semua akan baik-baik saja. berusaha menenangkan jesi yang menangis histeris dan memeluknya dengan sangat erat.
***
Jonathan telah menyuruh wanita yang ia kencani pergi. Dan saat ini ia bersama jesi, dengan jesi yang terus menangis di pelukannya. Untuk kesekian kalinya jesi menghentikan aktivitas seksualnya. Dan sudah beberapa kali, jonathan gagal ganti oli. mau bagaimana lagi, tidak mungkin ia membiarkan jesi begitu saja dan lebih mementingkan hasratnya yang sedang menggebu. adik kesayangannya adalah yang terpenting.
Jesi benar-benar takut saat pria yang ada di club tadi mengganggu nya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika kedua temannya tidak segera datang dan menolongnya. Dan ia menumpahkan ketakutannya dan seakan ingin mengadu kepada kakak tersayangnya itu. mencari perlindungannya dan kasih sayangnya yang akan menenangkan hati jesi yang riasu dan ketakutan.
"Ada apa, baby? Kenapa kau menangis hmm?" Tanya jonathan penuh kesabaran. Ia benar-benar bingung kenapa jesi ada dsini dan untuk apa. Namun ia harus mendiamkan adik kecilnya ini terlebih dahulu sebelum mengintrogasinya. Karna jesi terlihat begitu ketakutan dan bahkan tubuhnya bergetar. Ia sampai segugukan karna tangisnya.
Jesi mengusap air matanya yang tampak tak berkesudahan terus mengalir. "Aku.. aku mengikutimu." ucap jesi susah payah.
Jonathan tercengang seketika. "O..oke.. lalu?" tanyanya penasaran.
Jesi semakin menangis. "Aku.. aku diganggu oleh seorang pria disana. Huaaaa.."
Jonathan kembali memeluk jesi dan menenangkannya. "Sudah..sudah.. jangan menangis.." ucap jonathan menenagkan jesi. Ia mengusap punggung wanita itu berulang kali dan menenangkannya.
Apa dia mengikutiku ke club? Pantas saja tadi aku mendengar suaranya. Ku pikir aku bermimpi batin jonathan.
Jesi benar-benar merasa nyaman di pelukan jonathan. Ia benar-benar takut saat pria tadi mengganggunya. Tapi dia harus berpegang teguh pada misinya. Ia mengusap air matanya dan memberanikan dirinya. Ia menggurai pelukan itu dan menatap jonathan dengan mata sendunya.
"brother jo," ucapnya sambil menangis segugukan.
Jonathan menatapnya dengan iba. "Hmm.." jawab jonathan yang tak tega melihat wajah sembab adik kecilnya itu. Mata jesi merah, bibirnya melengkung kebawah dan terlihat terguncang. Mengikuti nalurinya, jonathan pun mengusapp kepala jesi dengan hangat.
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu!" ucap jesi serius sambil kemabli mengusap air matanya.
Jonathan menatapnya dengan penuh kasih. "apa itu?" tanya jonathan penuh pengertian.
"Aku menyukaimu!" seru jesi kemudian meneguk salivanya menatap jonathan serius. Nafasnya tertahan sendiri dengan apa yang ia katakan. Akhirnya kata-kata ini terucap dari bibirnya.
Jonathan tersenyum hangat. "Ya.. aku juga sangat menyukaimu, adik kecil." jawab jonathan mengusap kepala jesi.
"Aku menyukaimu bukan sebagai seorang kakak! Melainkan aku menyukaimu sebagai seorang pria!" ucap jesi tegas membuat d**a jonathan seketika mengembang