Chapter 1
BRIAN POV
Yang kuinginkan hanyalah Lucy Callista Walker meninggalkan ku.
Semuanya dimulai saat musim panas tahun 2007, sebelum sekolah dimulai.
Saat ayah mengatakan bahwa disinilah lingkungan tempat tinggal ku yang baru.
Aku mulai membuka jendela kaca mobil dan melihat sekitarnya sampai mataku beradu pandang dengan sepasang mata birunya.
"Akhirnya kita sudah sampai." Ayahku pun langsung turun dari mobil, disusul oleh ku, ibuku, dan kakakku.
"Wahh rumah kita sangat indah" Ujarku pada Mama yang menanyakan pendapatku tentang rumah baru kami.
"Bagaimana dengan kamarku Ma?" Tanya kakakku yang tak kalah antusias dariku.
"Tunggu sebentar sayang." Balas mama padaku dan kakakku.
Kakakku, Caroline Maekenzie Smith langsung menarik tangan mama untuk melihat ke dalam rumah baru kami.
Akhirnya Papa pun menyarankan agar aku dan papa menurunkan barang-barang sedangkan mama dan kakak bisa ke dapur dan bersiap-siap untuk membuat makan siang.
Aku pun mengiyakan saran papa, aku dan papa langsung menuju Van yang mengangkut barang- barang kami sedangkan kakak menggandeng tangan mama memasuki rumah baru kami.
Bagiku ini adalah awal dimana lebih dari setengah abad melakukan penghindaran dan ketidaknyamanan.
Saat itu tiba-tiba datang seorang anak perempuan sambil mengenalkan namanya.
"Hai, aku Lucy Callista Walker." Ujarnya tanpa pernah kutanyakan namanya.
"Hei, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Papa ku, Robert Julius Smith pada Lucy saat Lucy mulai mengangkat kotak berisi barang-barang kami.
"Tidakkah kalian butuh bantuan?" Tanya Lucy kembali kepada Papa ku, yang langsung ditolak oleh Papa.
"Tidak perlu, disini ada beberapa barang pecah belah." Jawab Papa yang menolak bantuan Lucy.
"Bagaimana dengan ini?" Tanya Lucy kembali pada Papa sambil mencoba mengangkat kotak yang lainnya.
"Tidak, tidak, tidak, itu tidak perlu." Ujar Papa sambil mengambil kotak yang sedang diangkat Lucy.
"Pulanglah ke rumah. Mungkin ibumu mencarimu." Ujar Papa kembali dengan maksud untuk mengusir Lucy pergi.
"Tidak, Mama ku tau aku sedang berada disini." Ujar Lucy yang menolak untuk pergi.
Aku pun melirik Papa yang terlihat kesal padanya.
Saat itu lah aku langsung menyadari bahwa gadis ini menyebalkan dan keras kepala dalam segala hal.
Aku pun berharap agar tidak terlibat dengannya apa pun yang terjadi.
"Terlalu ramai disini dengan 3 orang." Ujar Papa ku kembali mencoba mengusir Lucy pergi.
Namun Lucy mengatakan tidak keberatan dan mengajakku untuk mengangkat kotak lain yang terlihat berat bersama-sama.
Papa pun kembali menghalanginya dan menyuruhku pergi dengan alasan membantu Mama di dapur.
Awalnya aku tidak mengerti, namun setelah papa mengedipkan matanya, aku langsung paham dengan maksud Papa bahwa Lucy hanya akan pergi jika aku juga pergi.
Benar dugaan Papa, setelah aku meninggalkan Van, Lucy langsung mengikuti ku pergi.
Saat aku berlari, Lucy pun mengikuti ku berlari dan mencoba merangkul tanganku.
Aku pun mencoba menangkis tangannya. Namun sesuatu yang sangat tidak kuinginkan terjadi, akibat dari tarikan Lucy dan penolakanku, aku berakhir terjatuh, diikuti dengan Lucy yang terjatuh menimpa tubuhku dan mencium bibir ku.
Sulit dipercaya hal seperti itu terjadi di hidupku, apalagi dengan seorang gadis aneh yang baru kutemui seperti Lucy.
Ciuman pertamaku yang berharga direnggut oleh seorang gadis aneh.
Tidak, tidak, tidak. Itu bukan ciuman. Itu hanya benturan antara bibirku dan bibirnya yang sama sekali tidak kuinginkan.
Itulah yang kutanam pada diriku dan yang ingin kupercayai.
Aku melihat Mama ku yang keluar dan memanggil namaku, membuat aku langsung mendorong tubuh Lucy yang berada diatasku dan segera berlari menuju Mama dan melakukan hal paling pengecut yang pernah kulakukan selama 12 tahun dalam hidupku yaitu bersembunyi di balik badan M
ama.
Yah, jujur saja. Bagiku Lucy sangat menakutkan kan.
Saat ini aku sedang menuju ke sekolah baru ku dengan menggunakan sepeda kesayangan ku.
Dalam perjalanan aku hanya bisa berdoa dan berharap agar tidak pernah berjumpa dengan Lucy di sekolah.
Aku sempat memikirkan kemungkinan yang sangat kecil bahwa mungkin saja aku akan menjadi teman sekelas Lucy.
Namun aku pun langsung tersadar dan mencoba untuk tidak membayangkan sesuatu yang mengerikan seperti itu.
Menjadi teman sekelas Lucy adalah sebuah mimpi buruk untuk ku.
Aku pun kembali berdoa dan berharap agar mimpi buruk itu tidak mungkin terjadi dan tidak pernah terlibat dengannya
Aku pun mengetahui bahwa doaku tidak terkabul dan harapanku hanya harapan kosong belaka. Saat aku memasuki kelas baruku, Lucy langsung menyambut ku dengan senyum cerahnya dan berlari kencang kearah ku lalu langsung memeluk ku erat.
Semua perhatian tertuju pada kami saat ini.
Lucy yang memeluk ku erat dan aku yang mencoba melepaskan pelukan Lucy.
Aku kembali mengingat kejadian mengerikan di depan rumah ku saat bibirku menabrak bibir Lucy.
Ingatan itu membuatku semakin berusaha untuk melepaskan pelukan Lucy dan segera menjauhinya.
Akhirnya aku pun merasa lega pelukan itu pun terlepas dan aku segera berlari menjauhi Lucy.
Namun sorakan dan tawa dari anak-anak lain di kelas membuatku merasa sangat malu.
Aku hanya bisa kembali berharap agar semua kejadian tadi yang telah dilihat oleh semua orang dapat terlupakan sesegera mungkin.
Namun harapanku kembali menjadi harapan kosong belaka.
Aku diejek terus menerus dan selalu dikaitkan dengan Lucy.
Beginilah ejekan-ejekan yang selalu kudengar 3 tahun ini dan akupun selalu menjawab hal yang sama.
"Hey Brian, dimana pacarmu?"
Lucy bukanlah pacarku dan itu hal yang tidak akan mungkin terjadi.
"Hey Brian, kenapa kalian tidak menikah saja setelah selesai sekolah?"
Menikah dengan Lucy adalah hal yang mustahil. Meskipun hanyalah Lucy seorang wanita yang tersisa di dunia ini, aku tidak akan pernah menikah dengan nya.
"Hey Brian, apakah kalian sudah berciuman?"
Berciuman dengan Lucy adalah hal yang paling kuhindari dalam hidupku.
"Brian, apakah kalian selalu pulang bersama-sama?"
Tidak, kami tidak pernah berjanji untuk pulang bersama-sama. Hanya saja Lucy yang selalu menunggu ku dan mengikuti ku.
3 tahun di sekolah itu dan dikota ini adalah bencana.
Akhirnya aku pun lulus dan menguatkan tekadku untuk pergi ke Sekolah Menengah yang agak jauh dari rumah dengan harapan agar aku tidak satu sekolah dengan Lucy, apalagi satu kelas kembali dengannya.
Aku pun berharap agar masa Sekolah menengahku kali ini jauh lebih tenang dan damai dari sebelumnya.
Tidak berjumpa dengan Lucy dan tidak pulang bersama dengannya menjadi keinginan terbesarku saat ini.
Namun aku pun kembali mengetahui bahwa yang terjadi adalah kebalikan dari harapanku.
Aku melihat Lucy berada di sekolahku dan tak lama kemudian kembali melihat Lucy duduk di belakang kursi ku.
Hal-hal yang terjadi dulu, perlahan-lahan mulai terjadi lagi.
Sebelum masa sekolah ku kembali menjadi momok dalam hidup ku, aku pun mengambil tindakan.
Aku membuat rencana yang akan membuat Lucy tidak akan mengikuti dan berada di sekitar ku lagi.
"Milly, Milly, tunggu" Aku pun memanggil dan berlari mengejar Milly Kylie Durant, siswi paling cantik dan terkenal di sekolah ku.
Tak lama Milly pun berhenti dan berbalik untuk menatap ku yang sedang berlari menuju kearah nya.
"Hai Brian. Ada apa kamu memanggilku?" Sapa Milly ramah padaku sambil menunjukkan senyum indah nya padaku.
"Aku ingin tau, apakah kamu ingin pergi ke Pasar Malam yang baru dibuka?"
"Wah Pasar Malam? Apakah kamu sedang mengajakku berkencan, Brian?" Tanya Milly padaku sambil tersipu malu.
"Hmmm yah. Aku sedang mengajakmu berkencan Milly. Apakah kamu bersedia menerima ajakan kencan ku?" Tanya ku pada Milly.
Milly memikirkan tawaran ku sejenak sebelum mengiyakan nya.
"Iya, iya Brian. Aku merasa sangat senang bisa berkencan denganmu." Ujar Milly padaku sambil mengajakku memasuki kelas bersamanya.
Dari belakang aku merasakan tatapan kemarahan Lucy padaku saat melihatku bersama dengan Milly.
Yahh, aku akan menyatakan perasaan ku pada Milly.
Aku memilih Milly sebagai kekasih ku bukan karena aku menyukainya, tapi karena aku tau dan semua orang tau bahwa Lucy sangat tidak menyukai Milly. Walaupun aku tidak tau mengapa.
Menurutku Milly baik, cantik, ramah, menyenangkan dan bersahabat.